
Bang Sanca marah besar saat dirinya di halangi bertemu dengan Fia hingga akhirnya keluarga mengadakan rapat dadakan.
"Kita hormati dulu keputusan. Memaksakan diri pada seseorang yang sedang dalam keadaan labil tidak akan menyelesaikan masalah. Beri Fia waktu sampai kami bisa membujuknya kembali" kata Opa Rinto.
"Ini apa?? Fia menulis permintaan cerai, saya nggak mau" Bang Sanca membanting map yang di bawa Papa Zaldi.
"Keputusan cerai ada di tangan pria. Selama kamu tidak mengucapkan kata terkutuk itu.. Fia masih tetap menjadi istrimu" jawab Papa Zaldi.
Kaki Bang Sanca terasa lemas, ia tak bisa merasakan tubuhnya lagi.
"Saya tidak ingin ada kata pisah. Tidak akan pernah kata-kata itu terlepas dari mulut saya"
Para pria disana sangat tau bagaimana perasaan Bang Sanca saat ini. Remuk sehancur hancurnya hati. Tangis pun tak bisa mengobati luka hatinya.
...
Dari balik celah gorden, Bang Sanca mengintip Fia yang sedang mengompres dadanya yang mulai membengkak. Mungkin saat ini produksi ASI milik Fia mulai banyak, tapi sayang semuanya tidak bisa di berikan pada bayi mungilnya. Fia menghapus air matanya.
"Kamu dimana nak? Mama rindu. Seperti apa wajahmu? Maafkan mama yang belum sempat membelaimu" ucapnya penuh sendu.
Bang Sanca pun tak bisa menyembunyikan perasaannya. Hatinya ikut terasa getir mendengar tangis pilu istrinya. Berat sekali memenuhi permintaan sang 'gadis' yang begitu ia cintai. Sementara waktu menjalani hari masing-masing dan mengintrospeksi diri agar sama-sama bisa berpikir jernih.
***
"Kalau belum sanggup latihan fisik yang berat jangan di paksa Fi, kamu masih belum sehat. Sayangi dirimu" kata Bang Juned. Lettu Junaidi yang di perintahkan membantu untuk membimbing Fia kurang lebih tiga setengah bulan ini.
"Tidak apa-apa Bang. Fia baik-baik saja dan mampu ikut kegiatan" jawab Fia.
"Kenapa kamu tidak mencoba jadi tentara wanita saja. Kamu khan masih muda. Apa kecelakaan yang kamu alami sangat fatal? karena saya lihat kamu tidak cidera apapun"
"Saya hanya ingin membantu di belakang layar Bang. Tidak berambisi menjadi tentara"
"Oke, kalau kamu merasa mampu. Nanti bergabunglah kembali bersama Astri dan Celia. Tidak ada lagi rekan seperjuangan perempuan kecuali mereka" perintah Bang Juned.
"Siap Abang"
"Oiya.. ada dua pelatih baru dari pusat. Kata rekan saya, salah satu diantara beliau lumayan angker. Maklumlah kalau kedua kapten masih jomblo, bawaannya suka aneh. Karena nggak ada hiburan"
Fia mengangguk saja mendengarnya, ia tidak ingin mementingkan hal kecil dan remeh seperti itu. Fokusnya hanya latihan dan pendidikan saja.
...
Para anggota apel siang berpanas-panasan. Di sebelah kanan ada barisan siswa baru termasuk Fia di dalamnya yang hanya merupakan 'siswa titipan'.
Dua orang pelatih baru datang ke tengah lapangan dengan gagah dan terlihat sangar memakai kacamata hitam. Fia sungguh tidak menyangka Kapten yang di maksud Bang Juned adalah 'mantan suami' menurut dirinya. Beberapa arahan dan pertemuan singkat mereka sudah di dengar para siswa.
Kapten Tohpati Sanca Trengginas menatap tajam ke arah Fia namun si cantik Zafia seolah tidak peduli.
__ADS_1
"Heii kamu yang pendek sendiri. Dalam rangka apa komandan bisa memasukan siswa pendek seperti kamu??" tegur Bang Sanca membuat Bang Garin harus menahan tawa sekuatnya.
"Siswa pendek begini hanya akan menyusahkan rekan lainnya"
"Ijin Abang.. Ini rekomendasi dari Markas. Titipan khusus" bisik Bang Juned.
"Ijin Pelatih.. saya siswa cadangan" jawab Fia mengikuti aturan yang berlaku.
"Kamu itu ibarat sumpel bom. Kalau tidak ada penutup.. isinya buyar kemana-mana. Kamu ada disini berarti harus menyimpan rahasia sekeras-kerasnya" ledek Bang Sanca dengan cuek.
Fia gemas sekali mendengar ledekan Bang Sanca yang tidak pernah berkata baik memuji dirinya.
...
"Ijin Bang, apa sedari tadi Abang tidak terlalu keras pada siswa bernama Zafia itu?" tanya Bang Juned.
Seketika Bang Garin merangkulnya Bang Juned.
"Hhsstt.. kau jangan banyak tanya dan jangan banyak ikut campur urusan Sanca. Khusus siswa bernama Fia itu.. lebih baik kamu datar saja daripada nantinya kamu kena mental"
"Bukan begitu Bang. Gadis itu lembut sekali tapi harus ikut kegiatan sekeras ini. Saya nggak tega Bang" jawab Bang Juned.
Bang Sanca menghembuskan asap rokok dari bibirnya.
"Abang hanya pesan satu hal dari kamu. Jangan kau otak atik barang milik Abang, atau Abang pastikan kau bonyok sampai beda alam"
...
Malam harinya Bang Sanca, Bang Garin dan Bang Juned nongkrong di warung nasi goreng depan Kesatuan Pendidikan Intel - SatDikIntel ( anggap saja begitu ). Tak lama ada Fia, Astri dan Celia pergi ke warung itu. Di sana sudah ramai pelatih bujangan dan para tentara jomblo sok ganteng.
"Eehh.. ada Neng Fia. Duduk disini Neng, di samping Abang.. daripada di samber buaya darat tak tau diri, katanya cinta tapi gengsi" ledek Bang Garin tapi jelas menyindir.
Bang Sanca menyeruput kopinya tanpa memandang Fia tapi kaki itu menginjak kaki Bang Garin sekuatnya. Bang Garin hanya nyengir kuda melirik Bang Sanca yang pastinya merasa tidak senang jika dirinya menggoda wanita kesayangan sahabatnya itu.
"Kalian bertiga ini perempuan. Lain kali kalau mau keluar malam harus lapor piketan di tambah piket pelatih yang bertugas pada hari itu" Bang Sanca menegur Fia, Celia dan Astri.
"Siap pelatih.." jawab Astri dan Celia tanpa jawaban dari Fia yang sedari tadi hanya diam saja.
Bang Sanca melirik Fia yang sedang memesan nasi goreng. Ada rasa rindu yang tak terlukiskan pada si cantik Zafia. Tiga setengah bulan lamanya dirinya baru bisa melihat wanita yang begitu mengena di hatinya. Ingin sekali rasanya memeluk Fia dan meluapkan rasa rindunya, tapi melihat ekspresi Fia padanya sudah pasti gadisnya itu masih belum bisa memaafkan dirinya.
Tiba-tiba dari piketan ada yang menghubungi ponsel Fia karena ketiga siswa wanita itu ternyata kabur. Bang Sanca pun mengambil alih telepon itu.
"Mereka bertiga ada bersama saya. Saya sendiri yang akan menangani..!!"
"Siap Dan..!!" jawab anggota piketan.
Bang Sanca menatap ketiga wanita di hadapannya. Tapi tatapan tajam tetap tertuju pada Fia.
__ADS_1
"Siapa yang mengijinkan kamu bawa ponsel ini?? Mau kamu anak pejabat sekalipun.. ponsel tetap di larang demi keamanan. Ponselmu ini saya sita" tegur keras Bang Sanca pada Fia lalu memasukan ponsel itu ke saku bajunya.
"Habiskan makanan kalian dan segera kembali ke mess. Tidak baik ada tiga tikus di sarang kucing. Bisa habis kalian di terkam kucing lapar" perintah tegas Bang Sanca.
***
Pagi ini ada kegiatan menembak. Bang Sanca mengajari Astri yang belum begitu pintar memegang senjata, berbeda dengan Fia yang lebih fasih menggunakan alat tersebut.
Bang Sanca meluruskan lengan Astri, dengan lembut dan sangat dekat.
"Kamu harus fokus pada tujuanmu. Jika kamu sudah yakin.. lepaskan pelatuknya.. ambil tujuanmu..!!!"
Bang Garin pun dengan sengaja mendekati Fia.
"Abang bantu dek..!!" Bang Garin melakukan apa yang Bang Sanca lakukan pada Astri.
"Lihat depan dan tembak..!!"
Tangan Fia gemetar tak sanggup membidik apa tujuannya. Hatinya penuh sesak mengingat bayinya yang hingga kini entah dimana.
Konsentrasi Bang Sanca terpecah.
"Kamu gantian latih yang lain. Kosongkan tempat ini. Saya mau tangani siswa khusus ini..!!"
Bang Garin dan yang lain segera mengosongkan tempat dan di ruangan tertutup itu hanya ada Bang Sanca dan Fia.
"Kamu belum bisa menembak dengan benar. Sini biar saya ajari" ucap Bang Sanca masih penuh wibawa selayaknya seorang pelatih pada siswanya.
Fia menjaga jarak dengan Bang Sanca. Ada rasa canggung dari keduanya setelah tiga setengah bulan lamanya tidak ada kontak. Bang Sanca berdiri tepat di belakang Fia.
"Kalau tidak kuat, lepaskan bebanmu. Tuhan tidak tidur..!!"
Bang Sanca membimbing tangan Fia yang masih gemetar. Pipi Fia perlahan basah dengan air mata.
"Fia meminta Abang menyelamatkannya, bukan malah menghilangkannya.. Fia benci Abang..!!"
Fia berlari meninggalkan Bang Sanca yang masih terpaku sendiri.
"Maafin Abang dek, Sampai saat ini Abang tidak pernah lelah mencari El, seperti kamu yang mengasah diri untuk mencari El. Kamu jangan cemas dek.. Abang siap menggantikan semua ini dengan darah asalkan kamu bisa memeluk putramu lagi"
.
.
.
.
__ADS_1