Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
23. Tegang.


__ADS_3


Tohpati Sanca Trengginas.


🌹🌹🌹


Fia semakin sesak tak sanggup bicara apapun. Rasa sakit yang menderanya sungguh luar biasa. Inhaler yang ia gunakan tidak cukup efektif untuk mengurangi asma yang dirasakan sang calon ibu kesayangan Kapten Sanca Trengginas.


"Ayo deekk.. Berusaha lah untuk sadar. Buka matamu..!!" Bang Sanca panik luar biasa. Ia pun memutuskan membawa Fia ke rumah sakit.


...


Rhea dan Bang Dafa ikut bersama Bang Sanca dan Fia karena mereka merasa bersalah sudah membuat Fia jadi seperti ini.


"Terus sekarang kamu hamil, itu anak siapa Rhe?" bentak Bang Dafa pada Rhea sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Ini anak Abang, saat aku sudah merasa nyaman.. aku tidak berhubungan lagi dengan Pak Jaya Bang" jawab Rhea menangis kencang.


"Kalian diaaamm..!!!!!! Saya tidak mau tau apapun tentang kalian. Tapi kalian akan terima akibatnya kalau sampai terjadi sesuatu pada Fia dan anakku" ucap Bang Sanca penuh ancaman.


Bang Dafa dan Rhea langsung terdiam. Amarah Bang Sanca sudah mencapai level tingkat neraka.


...


Bang Andri menangani Fia di ruang IGD RST. Bang Sanca hanya mondar mandir gelisah menemani Fia yang masih terbaring lemah. Matanya setengah terbuka tak tau menahan rasa yang entah bagaimana.


"Sejauh ini bayimu sehat San. Sudah memasuki usia empat bulan. Hanya karena istrimu punya penyakit bawaan, maka segalanya terlihat begitu sulit" kata Bang Andri.


"Saya harus bagaimana Bang? Apa perlu pengobatan smpai Jakarta?" tanya Bang Sanca dalam kepanikan.


"Nggak perlu San. Istrimu hanya butuh terapi udara yang segar. Jangan banyak polusi. Kalau kamu merokok juga harus di kurangi. Itu juga sangat mempengaruhi" pesan dokter Andri.


"Siap Bang.. jawabnya cepat meskipun itu sangat sulit karena Bang Sanca adalah perokok berat.


"Sudah kelihatan gajahnya nih San.. " dokter Richard memberi suatu kabar pada Bang Sanca.


"Maksudnya?"


"Jagoanmu itu benar si Juno, bukan si Jeni"


Mata Bang Sanca berbinar terang namun penuh rasa haru.


"Maksudnya saya punya jagoan?"

__ADS_1


"Iyaaa.. Ada lawan main bola"


"Alhamdulillah.." Bang Sanca bersujud penuh syukur.


"Senang sekali dapat jagoan San" sapa Bang Andri.


"Anak laki kebanggaan, kalau perempuan kesayangan bagiku" jawab Bang Sanca.


Perlahan tapi pasti.. Fia semakin tenang. Obat sudah masuk ke dalam urat nadinya. Bang Sanca menemani Fia sampai istrinya bisa di pindahkan di ruang perawatan.


...


Bang Sanca bersitegang dengan papa Zaldi karena mertuanya itu menganggap Bang Sanca tidak becus menjaga Fia. Papa Zaldi tidak percaya sedikit pun Fia dalam penjagaan Bang Zaldi.


"Kalian diam semua..!! Kalau bibir kalian tetap bicara tanpa arah tujuan, kapan semua ini akan selesai?? Otot kalian pun tak akan bisa menyelesaikan masalah" tegur Opa Rinto.


Bang Sanca mengibaskan tangannya dengan kasar saat Ibra mencoba menenangkan dirinya. Tak tahan dengan perasaan dan pikirannya yang sudah berantakan tak karuan.. Bang Sanca memilih keluar dari ruang rawat Fia. Papa Zaldi pun duduk membanting diri di sofa dengan kasar.


"Kamu lihat itu Sanca. Sifatnya tak ubahnya seperti dirimu..!! kaku, pencemburu, mudah terbakar emosi dan yang pasti sikap dingin kalian itu nggak ada obat" Opa Rinto tak habis pikir dengan tingkah Papa Zaldi dan Bang Sanca.


"Ini bukan salah Sanca. Dia juga tidak tau mantannya, istri si Dafa akan berbuat seperti ini. Apa kamu tidak lihat bagaimana Sanca menangisi Fia sampai seperti itu? Wajahnya sangat pucat panik memikirkan Fia, tingkahnya seperti orang gila mengancam petugas kesehatan agar Fia di berikan perawatan terbaik sampai perawat takut dengan amukan menantumu itu"


Papa Zaldi terdiam sampai Mama Arnes memberinya minum agar suaminya lebih tenang.


"Putrimu aman bersama Sanca. Kamu jangan pernah ragukan itu Zal. Hilangkan rasa keras hatimu. Fia akan baik-baik saja" kata Opa Rinto.


...


Papa Zaldi mengambil duduk di samping Bang Sanca. Menantunya itu langsung membuka bungkus rokok dan menyodorkan pada papa Zaldi tanpa bicara.


"Maafin papa" ucapnya sambil menyulut rokoknya.


Bang Sanca pun kembali menyulut rokok padahal rokok yang di hisapnya baru saja habis.


"Papa cemas anak perempuan papa. Tolong ingat pa, anak perempuan papa itu istri saya. Mungkin cinta saya tidak seluas papa mencintainya, tapi saya pun rela menyerahkan nyawa saya asalkan putri papa bahagia. Jika mulut ini tidak bisa di percaya.. Biar Allah saja yang menilai seberapa besar rasa sayang saya untuk Fia" jawab Bang Sanca. Tubuhnya terasa remuk tapi ia menahan sekuatnya.


"Di dalam tubuhnya sudah saya titipkan bagian dari diri saya. Mana mungkin saya tidak memiliki hati padanya pa"


"Papa yang salah San. Papa terlalu takut, rasanya memiliki anak perempuan sungguh luar biasa. Kalau anakmu ini perempuan.. kamu pasti akan merasakannya Dan" kata papa Zaldi.


"Sayangnya cucu papa jagoan. Lumayan bisa buat tambahan personel markas pa" Jawab Bang Sanca.


"Waduuhh.. menang banyak kamu San" rasanya Papa Zaldi bahagia mendengar akan mendapat cucu laki-laki. Terbayang saat dirinya dulu mendapat Ibra. Tak pernah melihat perut Arnes besar. Hanya beberapa jam saja mengabadikan perut besar itu dalam ingatannya.

__ADS_1


"Jangan ragukan aku pa. Aku ini playboy insyaf" jawab Bang Sanca lebih santai.


"Moncong lele.. wanita simpananmu masih bejibun San" ledek Papa Zaldi.


"Kalau papa nggak gampang ngadu sih aku nggak bakalan ribut sama Fia" ucap Bang Sanca memasang wajah memelas.


"Tergantung upeti lah San. Jaman sekarang nggak ada yang gratis"


"Siaapp..!!!!" jawab Bang Sanca garang.


-_-_-_-_-


Fia masih saja melow mengingat peristiwa tadi. Ia masih merasa malu. Hatinya terasa sakit. Pantas banyak orang di sekitarnya sering memandangnya dengan tatapan aneh.


"Abang sudah clear kan semuanya.. Karena hal ini rata-rata sudah banyak yang tau kalau kamu istri Abang. Tidak apa-apa khan? Ini semua buat statusmu terjaga dan tidak akan ada yang berani bermain-main lagi denganmu, Abang pun lebih tenang" kata Bang Sanca.


"Fia nggak mau tinggal di asrama. Malu Bang kalau banyak yang tau Fia hamil"


"Malu kenapa? Kamu khan hamil sama Abang. Nggak akan ada yang berani ganggu kamu. Kalau ada yang berani biar Abang tindak saat itu juga" ucap tegas Bang Sanca.


Fia hanya merengek saja membuat Bang Sanca kebingungan dan hanya menggoyangkan lengan Bang Sanca.


"Opo to ndhuk, Abang nggak tau maumu.?"


"Layar di singkap. Sumur di tutup Bang" jawab Fia.


"Aaahh.. elaah.. mulai lagi" Bang Sanca mulai frustasi menghadapi tebakan bumil.


"Layar di singkap.. Sumur di tutup.. " Bang Sanca mengulang permintaan Fia namun sesaat kemudian matanya berbinar terang. Tangannya mencolek dagu Fia.


"Halaah.. mau minta aja malu-malu"


"Siapa yang mau minta. Abang geer aja" Fia memalingkan wajahnya.


"Laahh.. terus????"


"Abang ini nggak peka lhoo.."


Bang Sanca menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat kembali dapat kata sandi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2