Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
38. Di kunci dulu.


__ADS_3

Fia berlari dan menangis meninggalkan Bang Sanca yang menahan rasa tak karuan sendirian.


"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah. Rasanya harus seperti ini. Bagaimana harus ku selesaikan masalah ini. Semua terasa buntu bagiku" gumam Bang Sanca sambil mengusap dadanya. Ia mengambil sebatang rokok sebagai pelampiasan rasa yang tidak tersalurkan.


...


Astri dan Celia melihat Fia menghapus air matanya.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Kapten Sanca?" tanya Astri.


"Nggak ada, sama saja seperti kalian mbak. Hanya antara pelatih dan siswanya" jawab Fia.


Astri dan Celia kembali bertatap seolah tak percaya dengan ucapan Fia. Ada yang aneh dari seorang Fia. Gadis dewasa bagi mereka namun dengan umur yang masih sangat muda, jauh di bawah Astri dan Celia.


"Tapi tatapan Pak Sanca padamu jelas beda Fi.. seperti tatapan seorang pria yang sangat mencintai wanitanya" kata Celia.


"Aku rasa juga begitu. Kau tau.. kalau ada yang mencintaiku sampai seperti itu, aku tidak akan pernah meninggalkannya" sambung Astri.


"Menjadi pasangan abdi negara itu tidak mudah mbak. Harus kuat mental saat pasangan kita berdinas, juga harus tabah jika masa lalunya menimbulkan dampak di masa depan" jawab Fia sendu.


Hati Bang Sanca begitu sakit saat mendengar ungkapan isi hati Fia. Sungguh semua yang terjadi di luar kendalinya. Apa yang di lakukannya dulu sudah menjerat Nelzi bahkan berhasil membunuh suaminya sebagai kepala pemberontak dan tanpa di sadari membuat Nelzi kehilangan bayi yang sedang di kandungnya, jika Bang Sanca tidak salah terka.. usia kandungan Nelzi kurang lebih sudah empat bulan.


Yang menjadi persoalan besar adalah, Nelzi mengira dirinya berhubungan badan dengan istri kedua kepala pemberontak dan akhirnya terjadi kehamilan. Padahal saat itu Bang Sanca memberinya obat dan mengorek informasi dimana keberadaan pemberontak. Peristiwa itu menjadikan dendam pada diri Nelzi yang kini mengambil alih mengepalai komplotannya.


"Mudah-mudahan aku juga dapat pasangan abdi negara, tapi aku nggak mau pasangannya seperti Kapten Sanca.. menakutkan sekali, orangnya dingin, pasti dia lelaki yang jauh dari kata kasih sayang" celetuk Celia lagi.


Fia tersenyum mendengar ocehan Celia. Tiba-tiba ia merindukan saat bersama dengan Bang Sanca tapi ia segera menepisnya kala mengingat masa lalu pria yang ingin ia buang jauh-jauh.


***


Hari-hari telah berlalu begitu cepat. Kali ini Bang Sanca harus berpapasan lagi dengan Fia yang sedang memakai sepatunya usai dari mushola usai sholat isya. Perasaannya begitu rindu tapi apa daya. Ia tidak mungkin memaksakan diri agar Fia mau menatapnya. Enam bulan lamanya ia menahan rindu hingga rasanya sekujur tubuhnya terasa meriang. Jika perasaan rindunya tiba-tiba datang.. hanya pada Tuhan ia mengadu dan mencurahkan segala isi hatinya agar perasaan sang istri bisa segera kembali melunak.


Bang Sanca lewat di hadapan Fia yang seakan tak peduli lagi dengannya. Sambil berjalan melintas dihadapan Fia, Bang Sanca terus berpikir mencari akal bagaimana caranya agar Fia mau kembali bicara dengannya.


Perlahan tapi pasti, Bang Sanca menghentikan langkahnya berpegangan pada dinding, kemudian memegangi dadanya yang seakan terasa sesak.


Fia menoleh ke sekeliling memastikan apa tidak ada orang lagi disana yang Bisa membantu Bang Sanca. Tapi ternyata tidak ada siapapun disana. Lama kelamaan Fia melihat Bang Sanca semakin kesakitan.


"Bang.. Abaaaanngg..!!!!! Abang kenapa?" pekik Fia ketakutan dan cemas.

__ADS_1


"Tolong bawa Abang ke kamar. Abang nggak kuat jalan dek" pinta Bang Sanca.


"Iya Bang" Fia yang panik segera memapah Bang Sanca yang notabene sangat gagah hingga membuatnya tenggelam dalam rangkulan Bang Sanca.


Ada wangi maskulin yang mengganggu penciuman Fia. Rasa berdesir membuatnya salah tingkah. Ia menoleh memastikan keadaan Bang Sanca. Tak sengaja keduanya pun saling beradu pandang.


"Aarrgghh.. sakit sekali..!!" Bang Sanca memercing mulai beraking lagi saat mereka bertatap mata. Fia pun mengalihkan pandangan dan sekuatnya memapah Bang Sanca sampai ke dalam kamar messnya.


:


Mereka berdua sudah di dalam kamar. Bang Sanca segera mengunci pintu kamarnya dengan rapat.


"Abang nggak sakit?" tanya Fia terkejut saat Bang Sanca tiba-tiba menguncinya di sudut tembok.


"Apa hanya saat Abang sakit saja baru kamu mau bicara sama Abang? Kalau itu memang maumu. Abang rela bersakit-sakit asalkan kamu mau bicara lagi sama Abang" jawab Bang Sanca.


"Fia sudah terlalu sakit hati. Abang terlalu banyak menyimpan rahasia. Apa buktinya kalau Abang nggak menyentuh Nelzi. Fia masih menyimpan percakapan itu Bang.. percakapan saat meminta Abang bertanggung jawab atas kehamilannya" ucap Fia memberontak dalam dekapan Bang Sanca.


"Apa masuk logikamu, di kehamilanya yang berusia empat bulan, Abang baru bertemu dengannya selama tiga bulan. Abang hanya sekedar bercakap-cakap dan belum pernah bertemu. Sialnya Abang saat bertemu malah mendapat kabar seperti ini sampai tragedi itu pecah" Bang Sanca berusaha menjelaskan.


"Abang bohong..!!!" Fia meronta dan akhirnya malah terjadi perkelahian sengit.


"Fia mau keluar.. Fia sudah kirim surat cerai kita"


"Abaang..!!! Fia nggak mau" teriaknya saat Bang Sanca sudah tidak bisa mengendalikan diri.


"Kamu masih istriku Fia. Abang masih berhak memintanya" bentak Bang Sanca sudah tidak tahan lagi. Apalagi Fia yang banyak melawan terasa menjadi tantangan tersendiri baginya.


"Diam.. kamu ini sulit sekali di ajak ibadah" Bang Sanca melucutii pakaian Fia lalu mengecup sekilas bibir manis itu agar sang istri tenang dalam dekapannya.


"Fia nggak mau Bang. Fia mohon" ucapnya lirih.


"Bisakah kamu tenang dulu. Kamu terima jadi saja. Biar Abang yang kerja keras" Sunyi.. senyap.. gelap, Bang Sanca menyalurkan hasrattnya yang sudah hampir tujuh bulan ia pendam.


"Aawwhh Abaang" Bang Sanca secepatnya membungkam bibir Fia.


:


Fia terisak pelan dan sudah semakin tenang. Lama kelamaan ia menurut dan pasrah karena tidak bisa melawan tenaga Bang Sanca. Tangannya mengusap dan merapikan rambut Fia yang berantakan.

__ADS_1


"Sakit??" tanya Bang Sanca.


Fia mengangguk lalu menyembunyikan wajahnya di perut Bang Sanca yang setengah duduk.


"Salahmu.. di penakne kok angel." Bang Sanca menghisap rokoknya di dalam kamar hingga asapnya mengepul di dalam kamar masih merasakan sisa nikmatnya surga dunia.


"Fia nggak kuat Bang"


Bang Sanca segera berdiri, mematikan batang rokoknya lalu membuka jendela kamar dan kembali lagi ke ranjang.


Fia meneguk salivanya melihat Bang Sanca dari atas sampai bawah.


"Lihat apa kamu?" tegur Bang Sanca yang paham gelagat Fia yang langsung menghadap dinding menghindarinya.


"Egh.. nggak Bang." jawab Fia salah tingkah.


"Bilang saja kalau mau lagi" bisik Bang Sanca dengan nakal menggoda Fia memamerkan jantannya dirinya sebagai suami.


"Nggak Bang.. nggak.. sudah cukup..!!!!!" Fia bergidik ngeri menghadapi suaminya yang tidak mungkin cukup satu.


:


Bang Sanca menutupi tubuh Fia, sebenarnya Bang Sanca merasa cemas dan kasihan harus melakukan semua ini secara paksa, Fia sampai menangis meminta ampun.. dirinya bukan tidak memikirkan resiko yang bisa saja terjadi tapi tak ada cara lain untuk mempertahankan Fia.


"Maaf dek.. Abang sampai emosi menghadapimu. Ini jalan terakhir agar kita semakin terikat. Bukan hanya suami saja yang harus di kunci, tapi Abang pun harus mengunci istri. Ojo nakal cah ayu. Milik Om Sanca tidak bisa di ganggu gugat. Abang akan membuatmu ketagihan sampai tak bisa berkutik"


***


Usai apel untuk acara Jum'at pagi. Bang Sanca melihat Fia berpelukan dengan seorang pria di depan koperasi SatDik. Seketika darahnya naik dan emosi jiwa tak bisa di bendung lagi apalagi Fia begitu erat mendekapnya.


"Dari belakang mirip Anjar. Apa iya Anjar kesini??" gumam Bang Sanca sambil menghampiri Fia dan pria itu.


"Waahh.. Anjar.. kurang ajar" Bang Sanca mempercepat langkahnya.


"Kenapa wajahmu pucat, siapa yang mengganggumu? Bilang sama Abang..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2