Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
76. Berbagi kasih dengan mu.


__ADS_3

Intinya jangan sok suci di novel Nara. Slow bacanya, nikmati alurnya. Surga neraka urusan Yang Maha Kuasa. Percayakan semua pada author nya


🌹🌹🌹


"Astagfirullah hal adzim.. Yuna..!!!!!!" Om Bayu menunduk memegangi kepalanya. Matanya memerah menahan marah. Tante Mey mengusap punggung Om Bayu agar suaminya itu tidak semakin murka.


Om Bayu teringat masa lalunya yang hitam kelam bersama Mey istrinya. Ia pernah melakukan kesalahan fatal yang akhirnya membuat Mey hamil.


"Dadaku sakit ma"


Tante Mey menyandarkan suaminya di sofa. Di usapnya dengan lembut rambut Om Bayu lalu memberinya minum teh hangat di hadapannya. Yuna syok dan takut melihat papanya sampai seperti itu. Ia berlutut di belakang Bang Ryan yang tadinya juga berlutut memegangi kedua lutut Om Bayu.


Bang Ryan memeriksa kondisi Om Bayu.


"Nggak apa-apa Tante. Om Bayu memang kaget"


"Apa ini hukuman buatku Ma? Aku juga pernah menyakitimu. Tak bisa menjagamu dengan baik" ucap Om Bayu penuh sesal.


"Anak ku sampai menerima hukuman nya"


Sesak terasa dalam hati Om Bayu sampai untuk bersilat lidah dengan Papa Zaldi pun ia sudah tidak mampu.


"Kalau kamu tidak menginginkan putri saya. Saya pasrah. Dia memang tidak layak di perjuangkan."


"Saya kesini untuk meminang Yuna untuk menjadi istri saya" pinta Bang Ryan pada Om Bayu.


"Bawa Yuna pergi dari hadapanku..!!" suara Om Bayu terdengar berat.


"Yaaahh.." Tante Mey ketakutan melihat suaminya itu memercing kesakitan meremas dadanya.


"Bay.. maaf..!! Aku yang salah tidak bisa mendidik anakku dengan baik" Papa Zaldi ikut kelabakan melihat reaksi littingnya di luar dugaannya.


"Yuna anak perempuan titipan dari Nindy. Kenapa kecerobohan ku dulu bisa sampai Yuna yang menanggungnya. Aku pantas mati Zal..!!" ucap sesal Om Bayu.


"Bangun Bay.. aku yang salah. Yuna menantuku. Aku akan menjaganya dengan baik. Yang kuat kamu Bayu.. Apa kamu nggak pengen lihat cucumu..!!!"


"Ya Allah Tuhan.. ampuni aku" Om Bayu begitu syok sampai tak sadarkan diri.


"Ayaaaahh..!!!" pekik Yuna sampai ambruk lemas di lantai.


"Aduuhh pa. Gimana ini" Bang Ryan yang biasanya bersikap tenang kini ikut menjadi panik.


"Tolong Yuna dulu..!! Kasihan anakmu itu Ry" kata Bang Sanca memberi arahan di saat semuanya terserang kepanikan.


"Bang.. Fia pusing. Sesak sekali disini Bang" ucapnya terhuyung ke arah Bang Sanca.


"Lahdalaahh.. Iki piye. Semrawut kabeh" Bang Sanca mengambil inhaler nya lalu memberikan pada Fia.


"Kamu jangan ikut panik. Pikir itu anak Kapten Sanca, bukan anaknya Ryan"


...


Bang Ryan merawat calon mertuanya di rumah. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat kegaduhan ini.

__ADS_1


"Boleh Om??" tanya Bang Ryan.


"Kalau semakin lama.. nanti perut Yuna semakin besar" Niat untuk menikahinya tahun depan mendadak berubah karena Yuna pun mendadak mengatakan padanya bahwa beberapa hari ini gadis itu sudah telat datang bulan. Sebagai seorang dokter, sangat mudah baginya menentukan kebenaran ucapan Yuna.


Om Bayu memejamkan matanya, rasanya dunia ini seakan runtuh. Hidup dan mati terasa putus sambung baginya. Tapi yang di katakan Ryan benar adanya. Perut Yuna akan semakin besar.


"Ayah merestui. Cepat lakukan..!!"


-_-_-_-_-_-


Malam itu Yuna sudah sah menjadi nyonya Ryan meskipun namanya masih menggantung dalam kedinasan. Ayah Bayu menikahkan sendiri putrinya di hadapan penghulu.


"Bang.. Fia pengen buat acara kumpul anggota donk" kata Fia.


Mata Bang Sanca melotot. Bisa-bisanya di saat seperti ini Fia menginginkan acara kumpul anggota.


"Ini lagi di acaranya Ryan lho dek. Nanti saja urus anggotamu itu..!!" tegur Bang Sanca heran.


"Inces Abang nih yang pengen"


Mendengar incesnya yang menginginkan sesuatu pasti akan membuat Bang Sanca lemah iman.


"Mau buat acara apa? Dimana?" tanya Bang Sanca mulai melunak.


"Mau berenang Bang"


"Nggak.. Nggak mau Abang kalau ada acara renang segala. Kamu nggak bisa renang" tolak Bang Sanca.


"Inces Abang lho yang minta" ucap Fia lagi.


"Jangan ngomel kenapa sih Bang. Anaknya khan jadi sedih"


"Ya salam.. Dengar nggak dek? mamamu ini pintar sekali buat papa bingung. Kamu besok jangan sekongkol ya..!!" Bang Sanca berbisik di depan perut Fia lalu menciumnya. Usai meluapkan seluruh rasa gemasnya.. Bang Sanca menatap mata Fia.


"Kalau dalam waktu dekat ini belum bisa dek. Dua bulan ini Abang sibuk sekali. Nanti Abang cari waktu luang ya untuk buat kegiatan bersama di luar dinas. Sementara kamu buat acara sama ibu-ibu yang lain seperti biasa dulu..!!"


***


Fia ikut menggoreng ayam bersama ibu-ibu yang lain. Hari ini usia kehamilan Fia sudah masuk tujuh bulan. Baru kali ini juga Bang Sanca mengabulkan permintaan Fia untuk berkumpul bersama para anggota karena faktor kesibukan dan acara itu akan terus berlanjut sampai Fia sendiri yang menyudahi acara gabungan para istri pendamping prajurit dengan dinas.


"Biar saya saja bu yang menggoreng" kata Bu Cipto seorang sesepuh di kompi.


"Nggak apa-apa Bu. Saya juga nggak ada kerjaan kok." jawab Fia sambil menyeka peluh di dahinya.


Dari jauh Bang Sanca melihat Fia yang sibuk menggoreng ayam bumbu lengkuas di depan penggorengan besar.


"Kamu handle dulu Den.. saya mau temui istri saya dulu" Bang Sanca menyerahkan rangkaian kegiatan hari ini pada Bang Deni.


"Siap Bang"


Bang Sanca sudah berlari menghampiri Fia.


"Kamu bukannya Abang suruh tunggu di ruangan saja..!! Minimal di bawah tenda. Matahari terik sekali. Meskipun kamu tidak kepanasan di bawah pohon tapi kamu nggak bisa udara panas"

__ADS_1


Belum sampai mulutnya tertutup, Fia sudah lemas dalam pelukan Bang Sanca.


"Innalilahi.. dek..!! Tuh khan.. bandel sih"


"Deni.. Hubungi Ryan..!!" Dengan cekatan bang Sanca menidurkan Fia di atas meja.


...


"Jangan terlalu panik Bang. Fia hanya lemas, masih sadar nih" kata Bang Ryan mengingatkan.


Wajah Bang Sanca begitu pucat melihat Fia jatuh menubruk nya. Setiap Fia lemas selalu saja ada drama yang membuat kompi dan sekitarnya menjadi sibuk dan ribut karena kepanikan Danki.


"Den.. tutup semua tenda, kamu hias, pasang blower, saya nggak mau Fia sampai lemas lagi gara-gara kepanasan. Bisa- bisa saya yang pingsan karena jantung nggak pernah aman"


"Siap Bang..!!"


"Piye mbak Fia.. aman..??" tanya Letda Deni pada Bang Ryan.


"Aman bro.. santai.. Kerjakan saja yang di minta Abang"


-_-_-_-_-


Malam ini ada pembacaan doa tujuh bulanan kehamilan Fia. Bang Sanca dengan senang hati menuruti setiap permintaan sang istri.


Doa-doa sudah di panjatkan. Fia duduk menggeliat tidak nyaman.


"Abang ambilkan kursi ya dek? Jangan duduk di bawah"


"Disini saja Bang, kalau duduk di kursi.. kaki Fia pegal. Fia hanya pengen bersandar saja."


Tanpa mempedulikan apapun, Bang Sanca memijati punggung Fia. Ia paham betul istrinya sekarang mudah lelah karena kehamilan Fia sudah sangat besar, berbeda dengan kehamilan El dulu.


"Aduuhh Bang.. perut Fia kencang"


"Kenapa dek?? Abang panggilkan Ryan ya..!!" ucap Bang Sanca mulai kambuh lagi kepanikannya.


Fia mencegah Bang Sanca agar tidak mengambil ponselnya.


"Nggak usah Bang, ini rasa kram biasa saja. Bang Ryan sedang bingung sama ngidamnya Mbak Yuna yang rewel."


"Tapi dek..!!"


"Sudahlah Bang.. Fia baik-baik saja"


"Hmm.. Abang..!! Fia pengen sesuatu dari Abang??" Fia kembali memeluk lengan Bang Sanca sembari bersandar disana.


"Apa sayang?"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2