Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
47. Dasar buaya..!!.


__ADS_3

"Abang nggak tidur?" Fia mundur menghindari Bang Sanca tapi suaminya itu jelas tak melepaskannya begitu saja.


"Abang nggak tidur. Apalagi dengar suaramu yang berisik itu" jawab Bang Sanca.


"Lain kali kalau kamu suruh tidur di luar lagiiiii......."


Wajah Fia sudah cemas memikirkan yang tidak-tidak. Ia takut kalau sang suami akan mencari hiburan di luar sana.


"Abang nggak mau belikan makananmu yang pakai kata sandi..!!" ancam Bang Sanca.


"Abaaang..iiihhh..!! Khan Abang yang mulai duluan..!! Kenapa Fia yang kena imbasnya???" protes Fia.


"Uluuuhh.. si Eneng sayangnya Abang kalau ngambek manis bener dahh aahh" Bang Sanca menarik kedua tangan Fia agar tertelungkup di atas badannya.


Fia langsung menurut dengan manjanya beralih dalam dekapan Bang Sanca.


"Abang.. main ke rumah mama yuk. Fia kangen sama El..!!"


"Papa keluar kota sama Mama, bawa El sama bibi" kata Bang Sanca.


"Yaaaa.. Fia kangen El. Kenapa nggak bilang-bilang sih Bang kalau mau bawa El?" protes Fia.


"Sudah bilang sama Abang kemarin. Papa mama pengen kamu fokus dengan kehamilannya adek El. Kamu butuh banyak istirahat" jawab Bang Sanca.


Fia langsung sesenggukan karena merindukan putra kecilnya.


"Jalan-jalan ke pantai yuk. Mumpung besok hari Sabtu..!! Pacaran kita, seperti orang-orang jatuh cinta" ajak Bang Sanca mengalihkan pikiran Fia.


"Ajak mbak Rhea sama Esa juga Bang..!!"


"Nggak bisa. Rhea ribet sama anaknya. Anaknya Esa juga masih kecil sekali. Masa di bawa perjalanan jauh" kata Bang Sanca.


"Ya sudah, kamu diam yang manis disini.. Abang siapkan dulu keperluan kita. Ibu Komandan terima jadi saja"


...


Dalam perjalanan, Bang Sanca terus melirik perut Fia dalam usia kandungan dua bulan.. tujuh minggu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sebentar lagi akan masuk delapan minggu. Kali ini perut Fia jauh lebih menyembul daripada saat kehamilan baby El.


"Kalau capek tidur saja..!!"


"Fia lihat pemandangan Bang. Jalan menuju pantai sangat berkelok-kelok tapi indah sekali untuk di lalui." kata Fia.


"Seperti perjalanan hidup kita dek, tidak mungkin segalanya berjalan lurus.. terkadang kita harus berbelok agar bisa mencapai tujuan dengan selamat dari pada berjalan lurus tapi harus terjungkal dan kita jatuh semua" ucap Bang Sanca kemudian mengusap perut Fia.


"Si dedek cepat besar. Abang malah nggak pernah menyangka anak kita akan datang dalam keadaan seperti ini"

__ADS_1


Fia mengangguk dan ikut mengusap perutnya.


"Abang di pindah tugaskan ke Utara negara. Sialnya.. Anjar dan Garin pun menguasai wilayah yang tidak jauh dari tempat kita, karena pengamanan di sana kurang" kata Bang Sanca tiba-tiba.


"Lalu yang menjabat disini siapa Bang?" tanya Fia.


"Kedua Abangmu"


"Kamu takut ikut Abang pindah tugas?"


"Nggak Bang. Fia hanya takut pisah dari El" jawab Fia mulai merasakan aura kesedihan akan hal itu.


"El ikut dengan kita, karena kita orang tuanya.. dan mendidik anak itu hukumnya wajib. Berani berbuat, berani bertanggung jawab apapun.. dalam hal sekecil-kecilnya."


...


Mobil Bang Sanca sudah sampai di pantai. Jarak pantai dari rumah memang cukup jauh sekitar tiga jam perjalanan. Namun sepertinya rasa lelah Fia terbayar dengan pemandangan indah di hadapannya.


Fia segera membuka pintunya dan berlari menuju bibir pantai.


"Yaa Salam.. pelan-pelan dek. Perut mu ada isinya dek..!!!" teriak Bang Sanca kelabakan melihat Fia berlari ke arah bibir pantai sampai ia pun harus menyusulnya karena cemas.


Fia tersenyum merasakan reaksi sang suami yang menurutnya berlebihan. Jelas sekali wajah suaminya berubah waspada.


"Mau tenang bagaimana? Kamu tau sendiri kandunganmu ini rawan. Hati-hatilah kamu jaganya. Dia bernyawa, ingin nyaman di perut mamanya. Abang nggak bisa setiap kali melihatmu. Tolong bantu Abang jaga dia, Abang sayang sekali anak-anak Abang" kata Bang Sanca.


"Iya Bang, maaf..!! Tapi Fia juga bisa mengontrolnya. Dia baik-baik saja kok"


:


Fia dan Bang Sanca sudah basah terkena air laut. Tadinya Bang Sanca tidak ingin berdekatan dengan air laut tapi Fia yang semakin menjauh ke tengah malah semakin membuatnya khawatir.


"Dek.. ayo naik..!! Ini muara lho. Kalau ada buaya. Kamu nggak bisa lari"


"Disini nggak ada buaya Bang" kata Fia.


"Kamu bisa baca nggak..!! Itu ada papan apa? Tertulis apa disana?" tunjuk Bang Sanca pada papan di tepi muara.


"AWAS..!! BUAYA MUARA JIKA AIR PASANG"


Bibir Fia seakan kelu tak mampu berkata-kata, apalagi di belakangnya matanya melihat ada yang mengapung melintasi punggung Bang Sanca.


"Paa.. paiiitt.. paaiiiit.. paaaiiitt" ucapnya lirih terbata-bata saking takutnya. Wajahnya memucat seperti tembok.


"Apa dek??" tanya Bang Sanca kemudian menoleh.

__ADS_1


"Astagfirullah.. buaya..!!" pekiknya.


"To.. long" maksud Fia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat dan tak mau bekerja sama. Ingin rasanya menangis kencang tapi tangisnya pun tak bisa keluar.


"Mati kita dek, siapa di antara kita yang di seret duluan??" Bang Sanca memasang wajah ketakutan sambil menatap batang pohon yang mirip dengan moncong hewan amfibi itu.


"Fia minta maaf Bang. Fia banyak salah sama Abang" ucapnya lirih menciumi punggung tangan Bang Sanca.


"Kamu buat salah apa sama Abang?" tanya Bang Sanca.


"Fia diam-diam suka ambil uang di dompet Abang buat beli cireng"


"Oya.. apalagi?? Buayanya sudah dekat itu" Bang Sanca semakin gemas mengerjai sang istri.


"Fia beli nomer baru untuk cari tau kelakuan Abang kalau kita lagi LDR"


"Mantaap.. Apalagi? Waktumu untuk di gampar sudah semakin dekat"


"Kalau Abang habis mandi, Fia suka ngintip perut Abang yang kotak-kotak. Apalagi kalau Abang pakai handuk dan sarung.. pengen Fia tarik. Maaf Fia nabung dosa." ucapnya sambil menangis memegangi kedua bahu Bang Sanca.


"Bagus..!! Untung kamu nggak bintitan. Itu semua dosa besar" bentak Bang Sanca sengaja membuat Fia semakin ketakutan.


"Abang jangan marah terus. Fia khan sudah minta maaf" kata Fia.


"Cuma gara-gara semut aja marahnya ampuuuunn.. Sekarang biar kamu tau rasanya di terkam buaya" ucap Bang Sanca bernada keras di sela leher Fia, tapi sesaat kemudian dirinya tertawa terbahak melihat ekspresi wajah istri kecilnya.


"Ojo nesuan to dek. Di sayang wae khan penak"


"Ayo naik. disini bahaya..!!" nafas Bang Sanca memburu, ia mencium sela leher itu hingga bibirnya.


Fia yang sudah takut setengah mati tak berani banyak membantah, ia memilih menurut saja.


"Balas..!!" pinta Bang Sanca mengarahkan Fia agar bisa memanjakannya juga.


Fia pun membalas keinginan suaminya, tak peduli dengan matahari yang akan bersembunyi. Gelap rimbun pohon dan tingginya karang membuat Bang Sanca terlena sesaat.


"Sudah gelap, ke mobil yuk.. Ganti baju..!!" ajaknya sambil menatap mata Fia dengan dalam.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2