
"Dulu.. saat Abang dinas di tempat ini selama enam bulan. Abang pernah bermalam sama Mbak Yuna. Itu benar?" tanya Fia.
"Iya benar.. Abang juga sudah mengakuinya. Apa ada masalah lagi?" Bang Sanca mulai cemas dengan pertanyaan Fia.
"Minta maaf lah dengan Mbak Yuna sebagai bentuk tanggung jawab Abang. Masa lalu memang tidak bisa di ubah, tapi bukan berarti masa depan tidak ternodai dengan masa lalu khan Bang"
Bang Sanca mengusap dadanya. Dirinya merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam hal ini.
"Sebenarnya apa yang kamu dengar? Kita selesaikan masalah ini. Jangan biarkan masalah yang tidak pasti semakin berlarut-larut. Kita punya rumah tangga sendiri" Bang Sanca menghampiri Fia dan menggenggam tangan istrinya.
"Malam itu.. bukankah Abang dan Mbak Yuna mabuk. Abang dan Mbak Yuna melakukannya"
"Astagfirullah hal adzim.. jadi itu yang kamu dengar? Dari siapa? Yuna??" tanya Bang Sanca masih menahan diri.
Papa Zaldi ingin sekali marah mendengar hal ini. Tapi ia pun memahami.. hal ini adalah ranah pribadi anak dan menantunya. Ia percaya Bang Sanca mampu menyelesaikan nya.
Fia mengangguk. Bang Sanca pun segera memeluknya.
"Ini resiko yang harus Abang terima dari tingkah blangsak Abang di masa lalu. Terima kasih kamu sudah sangat bersabar dan tidak marah. Abang salut sama kamu"
Beberapa waktu.. Fia melepaskan tangisnya di pelukan Bang Sanca.
"Bisa Abang jelaskan semuanya?" tanya Bang Sanca sembari membelai rambut panjang Fia yang berwarna cokelat.
"Iya.."
__ADS_1
"Malam itu, Abang dan Garin mengajak Yuna jalan-jalan. Kami bermalam di puncak gunung dan membawa dua tenda. Kenapa ada dua tenda?? Itu karena tidak mungkin Abang satu tenda bersama Yuna. Malam itu setelah Abang, Garin dan Yuna makan malam.. kami sudah terlalu lelah. Terus terang Abang minum.. Taulah kamu kalau udara dingin, kami belum bisa meninggalkan sikap bengal.. sadar salah tapi belum terarah. Yuna mengalami hipotermia.." Bang Sanca menatap mata Fia kemudian membawanya duduk. Ia memperdengarkan penjelasannya agar bisa di dengar semua orang dan agar semua masalah ini segera usai.
"Di sana Abang dan Garin kebingungan. Bagaimanapun kami ini laki-laki. Pada saat itu yang lebih dekat dengan Yuna adalah Abang karena status Abang dan Yuna memang pacaran di belakang Rhea. Untuk menyelamatkan Yuna.. Abang masuk ke dalam tenda dan menghangatkannya skin to skin."
Fia menitikan air mata. Antara kuat dan tidak kuat ia mendengarnya. Dada Fia terasa sesak, ia memegangi lengan Bang Sanca.
"Masih kuat? Abang belum selesai cerita"
"Fia kuat Bang"
Bang Sanca pun tersenyum pedih harus membuka cerita yang tidak ingin ia ungkapkan. Tapi rumah tangganya lebih penting dari segalanya. Bang Sanca mengusap perut Fia, di sana ada calon buah hatinya yang pastinya begitu ia sayangi.
"Suamimu ini memang bejat dek. Tapi sumpah dalam hati kecil tidak pernah Abang langgar. Abang juga terlahir dari seorang wanita. Abang tidak akan menyentuh hal yang satu itu jika wanita tersebut belum Abang halalkan. Niat Abang hanya untuk menyelamatkan Yuna. Perasaan nakal pria memang ada, tapi tidak ada niat Abang untuk menyentuh Yuna. Terlalu banyak minum membuat kepala Abang sakit. Abang tertidur sampai pagi. Saat bangun itu lah tragedi itu terjadi. Yuna terus menuntut Abang sampai Abang bingung harus berbuat apa. Dia mengira Abang sudah melakukannya. Di saat itu pula Abang mengakui kalau Abang sudah punya Rhea. Amarahnya semakin memuncak, dan perasaan marah Yuna terbawa hingga sekarang. Bisa di bilang, Abang ini mempermainkannya"
"Abang sedang mabuk. Mana Abang ingat apa yang Abang lakukan"
"Abang hanya memeluknya, menyingkirkan semua rasa, dalam satu selimut.. sampai pagi. Garin berjaga di sana. Kamu mau Abang panggilkan Garin.. dia bisa jadi saksi Abang"
"Tidak perlu Bang. Jangan libatkan orang luar lagi. Cerita Bang Sanca benar dan semua cukup sampai disini..!!" Bang Ryan menengahi semuanya. Kini semua pandangan tertuju padanya. Ia pun balik menatap mata Fia yang masih basah oleh air mata.
"Bang Sanca jujur dek. Posisi itu memang salah.. tapi kalau Abang jadi Bang Sanca mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Membawa wanita keluar rumah itu tanggung jawabnya sangat besar.. situasi seperti itu juga tanggung jawab Bang Sanca."
"Ya.. itu benar. Abang setuju." sambar Bang Ibra.
"Baik-baiklah kamu sama Bang Sanca. Kamu hebat.. bisa menahan perasaan sedihmu" kata Bang Ryan.
__ADS_1
"Abang tau darimana kalau Bang Sanca jujur?" tanya Fia masih dengan sifat polosnya yang sulit dihilangkan.
"Ya karena Abang dan Yuna.............." Bang Ryan melirik keluarganya satu persatu yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Akan menikah" ucapnya kemudian menyunggingkan senyum.
"Yang benar saja kau Ry.. Adikmu ini nggak bisa di kasih pernyataan mengambang.. Ujung-ujungnya Abang lagi yang tanggung" gerutu Bang Sanca yang sudah paham duduk persoalannya.
Bang Ryan tersenyum kecil kemudian menghampiri Fia dan berbisik di telinga adiknya yang masih berada dalam pelukan Bang Sanca.
"Abang tau karena Abang sudah titip keponakanmu sama Yuna dan Abang tau kalau Abang satu-satunya papa untuk keponakanmu"
"Iiisshh.. Abang keterlaluan. Kenapa lah Abang seperti itu?" tanya Fia.
"Kita punya jalan hidup masing-masing. Abang ingin kamu bahagia lahir batin bersama suamimu. Abang Sanca adalah suami dan imam terbaik untukmu. Masa lalu biarlah menjadi cerita yang hanya bisa di kenang dan tidak untuk di ulang. Jika Abang berani mengakui bisa mencintaimu hanya dengan 'perjalanan satu malam', maka itu juga yang sedang Abang alami sekarang. Hati Abang sudah tertambat pada Yuna"
"Abang minta maaf.. Abang salah. Yang ada dalam hati dan pikiran Abang hanya untuk menjaga perasaanmu. Mana Abang tega menyampaikan hal seperti ini sama kamu. Lihat saja.. baru dengar sepotong saja kamu sudah tertekan.. sering sekali pingsan. Kamu pikir bagaimana perasaan Abang menghadapimu? Kuat nggak kuat, takut, cemas" ucap Bang Sanca.
Papa Zaldi menepuk dahinya menggeleng bingung merasakan putra putrinya. Sesaat lagi ia pun harus senam jantung karena harus menghadapi amarah Bayu karena perbuatan putra keduanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf kalau mungkin ada beberapa typo. Next akan Nara perbaiki. Nara sudah mengusahakan yang terbaik agar tetap bs up setiap hari dalam kesibukan Nara. Harap maklum kakak.🥰🙏