Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
8. Secepat inikah?


__ADS_3

"Bawa pria merepotkan ini ke ruang kesehatan..!!" perintah Dan Zaldi pada Lettu Anjar.


"Ijin Dan.. terlanjur sayang" ucapnya lirih.


"Lambe Lanang..!!!" gumam Dan Zaldi tak percaya.


...


"Bagaimana keadaanmu pot? Mana yang sakit?" tanya duda satu anak itu pada Bang Sanca.


"Sudah baikan" jawab Bang Sanca singkat.


"Kamu buat masalah apa black?" tanya Bang Anjar.


"Nidurin anak Komandan"


"Haaahh.. maksudmu Fia????" Bang Anjar membelalakkan mata karena tidak percaya.


"Nggak mungkin khan Fia yang mulai, pasti kamu. Jangan macam-macam kamu black..!!"


"Sudah terlanjur, mau bagaimana lagi..!!!"


Dan Zaldi yang berniat masuk ke ruang kesehatan jadi mengurungkan niatnya. Hatinya cemas dan gelisah memikirkan putrinya.


...


"Papa kenapa tanya gitu. Fia malu" tangis Fia semakin menjadi saat Papa Rinto menginterogasi mereka berdua.


Bang Sanca sungguh tidak menyangka akan separah ini hasilnya. Ucapan bisa menjadi senjata mematikan jika tidak berhati-hati menggunakan nya.


"Masalah ini harus di selesaikan Fia. Papa mendidikmu untuk menjadi anak sholehah nak. Bukan jadi wanita seperti ini"


"Fia tau batasnya pa. Fia tau mana yang baik dan mana yang buruk"


"Kalau kamu tau kenapa jadi seperti ini??????" bentak Papa Zaldi.


"Saya akan menikahinya sekarang juga" ucap tegas Bang Sanca.


"Jangan marahi Fia lagi"


-_-_-_-_-


Tangis Fia histeris saat keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka berdua. Opa Rinto membawanya jauh agar tidak terdengar jauh dari hingar bingar Batalyon mengingat usia Fia masih terlalu dini dan akan melanggar hukum kalau sampai terdengar pihak atas.


"Fia masih punya teman-teman Bang..!!"


"Kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan dek..!!" kata Bang Ibra menenangkan Fia.


Hati Bang Sanca sedih sekali melihatnya. Ia hanya sempat mengabari sang ibu jika dia akan menikahi seorang gadis dan akhirnya sang ibu bersedia datang dan memberikan restunya.


-_-_-_-_-


"Saya mohon maaf tidak bisa mendidik anak saya dengan baik" Ibu Bang Sanca melepas cincin yang berada di tangannya.


"Maaf saya tidak sempat membawa apapun untuk menantu saya" ucapnya penuh sesal.


"Bu.. boleh khan saya menikahi dia sekarang juga?" tanya Bang Sanca.


"Lakukan le. Jangan seperti...."


Bang Sanca bersandar pada paha ibunya.


"Demi Allah Bu, putramu ini belum menyentuhnya. Tapi ini memang pantas Sanca terima karena sudah melarikan anak gadis orang"


"Oalah le, nasibmu..! Pesan ibu jangan pernah menyakiti hati istrimu. Buang jauh nama Rhea. Sekarang Fia istrimu, ibu dari anak-anakmu nanti"


"Nggih Bu" Bang Sanca mencium kaki ibunya"


"Ndhuk.. Ibu minta maaf kalau Bang Sanca menyakiti hatimu. Bang Sancamu memang keras tapi dia tidak jahat.

__ADS_1


"Fia belum siap jadi istri Bu. Fia masih banyak kekurangan"


"Cah ayuu.. kasihan kamu ndhuk. Semua butuh belajar ndhuk"


//


"Saya terima nikahnya Dinasti Kana Zafia binti Erzaldi.........."


Kata Sah penuh syukur terdengar dari bibir para saksi dan keluarga. Fia tak kuasa menahan sedihnya, ia kembali menangis histeris dan tidak sadarkan diri dalam pelukan Ibu mertuanya.


:


Bang Sanca cemas mondar-mandir di dalam kamar pengantin di sebuah villa yang sudah keluarga sewa.


Papa Zaldi melihat kecemasan menantunya yang belum berani membantu Fia kecuali Mama Arnes dan Ibu Bang Sanca.


"San.. sini bantu istrimu. Fia ini istrimu" bujuk Ibu Bang Sanca saat Fia mulai sadar.


"Ijin Ibu.. Hmm.. ma.. Bisa saya minta waktu berdua dengan Fia?" tanyanya pada Mama Arnes.


Ibu dan Mama Arnes keluar kamar. Bang Sanca memandangi paras ayu sang istri yang memalingkan wajahnya.


"Dek..!!"


"Dek..!!" sapa Bang Sanca sekali lagi karena Fia tidak meresponnya.


"Apa sih Bang????"


"Lihat sini kalau Abang bicara..!!" pinta Bang Sanca.


"Apaaaa???"


"Yang baik kalau bicara sama suami..!!" katanya mengingatkan.


"Iya Bang. Apaa?" Fia memperbaiki tutur bahasanya.


"Kalau kamu berat menjalani ini semua. Kita belajar pacaran saja..!!" ajak Bang Sanca sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


...


Rapat keluarga besar dibuka. Di dengarkan oleh seluruh anggota keluarga tentang pernikahan yang begitu mendadak ini.


Keluarga mengijinkan Bang Sanca untuk 'bersama' dengan Fia asal jangan sampai memiliki momongan dulu mengingat usia Fia masih terlalu muda sekaligus bisa saja mendapat masalah hukum.


"Saya tidak masalah, asalkan yang menjalani baik-baik saja" kata Ibu Bang Sanca.


"Saya harap jangan ada salah paham ya Bu Halimah.. Bukannya tidak boleh. Hanya di tunda saja" kata Papa Zaldi.


"Bagaimana Sanca?"


"Insya Allah saya siap..!! Nggak ada masalah" jawab Bang Sanca.


"Kamu jangan asal bilang siap. Fia baru melenggang kamu sudah terjengkang" kata Opa Rinto.


Bang Sanca menunduk menyembunyikan senyumnya. Beda dengan Fia yang berwajah datar saja hanya ikut duduk disana seolah sebagai korban terparah padahal ia ikut andil juga dalam kekacauan ini.


-_-_-_-


Bang Sanca merokok jauh dari keluarga. Ibu Bang Sanca tua putranya sedang memendam gelisah.


"Kamu nyesal le?"


"Nggak Bu. Sama sekali nggak menyesal dan nggak ada keraguan sedikitpun" jawab Bang Sanca tegas.


"Lalu kenapa kamu seperti ini? Ingat Rhea?"


"Rhea sudah nggak ada di hatiku lagi sejak dia mengakui sudah mengandung anak Dafa. Aku hanya mencemaskan Fia, takut dia nggak kuat dan macam-macam di belakangku" jawab Bang Sanca.


Ibu tersenyum mendengar jawaban putranya.

__ADS_1


"Ibu rasa Fia bukan gadis seperti itu nak. Bimbinglah dia sesuai janjimu pada kedua orang tuanya. Kamu suka sama Fia?"


Bang Sanca menunduk. Tapi ia tersenyum penuh tanda tanya.


...


Disisi lain ada Papa Zaldi yang sungguh menangis. Hatinya belum ikhlas melepaskan sang putri. Segalanya terlalu cepat, penuh pertimbangan sisi baik dan buruknya.


"Benarkah Sanca belum menyentuh putriku ma?" tanyanya pada Mama Arnes.


"Hanya Tuhan dan mereka yang tau pa" jawab Mama Arnes.


"Apakah Tuhan tidak bisa menyembuhkan hatiku sedikit saja. Papa sungguh tidak tahan membayangkan putri kita sudah di nodai pria lain. Tanganku ini menghajar putri kesayanganku.. rasanya sakit sekali ma. Sama saat papa menyakitimu"


"Jangan di ingat lagi masa itu pa. Mungkin sudah jalannya putri kita seperti ini. Allah pasti mendengar doa papa. Tak pernah papa menyakiti wanita. Maka putri papa akan baik-baik saja di tangan Sanca"


***


Selasa pagi semua sudah kembali pada kegiatan normal. Setelah ijin tidak berdinas selama dua hari, Bang Sanca terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apapun.


"Waduuhh.. ATM ini belum aku berikan untuk Fia" gumamnya usai apel pagi.


Berkali kali ia menghubungi gadis yang sudah menjadi istrinya itu namun belum juga ada jawaban.


"Kemana sih si beo. Aku mau berangkat tugas nih" gerutunya lagi. Tak lama panggilan telepon terangkat juga.


F : Hallo.. apa??


S : Assalamualaikum... Yang baik kalau jawab panggilan orang.


F : Wa'alaikumsalam. Apa Bang?"


S : Cepat jalan ke samping koperasi Batalyon. Jangan lama-lama. Sepuluh menit harus sudah sampai disini. Abang mau berangkat dinas.


//


Bang Sanca menyerahkan ATM nya pada Fia.


"Itu buat kamu semua. Gaji Abang, remunerasi Abang, sama... ya nanti kamu tau sendiri lah"


Mata Fia berkaca-kaca menerima pemberian Bang Sanca dan pria itu mengira apa yang di berinya pada Fia masih kurang.


"Kalau Abang ada rejeki pasti Abang tambahi uang jajanmu" kata Bang Sanca.


"Fia... nggak tau caranya ambil di ATM bang" jawab Fia.


"Astagaaa.. ya sudah sini Abang ajari..!!" Bang Sanca mengajari Fia caranya menggunakan mesin ATM.


:


Terlihat Fia sudah paham caranya memakai mesin ATM.


"Sekarang kamu ambil uang untuk kamu sendiri" perintah Bang Sanca.


Fia mengambil nominal lima puluh ribu dari mesin itu.


"Laahh kenapa hanya lima puluh ribu?"


"Karena setiap hari uang jajan Fia lima puluh ribu" jawab Fia.


Bang Sanca memencet nominal uang satu juta rupiah disana lalu menyerahkannya pada Fia.


"Nih habiskan..!! Tapi ingat, nggak boleh beli barang yang nggak berguna. Hargai setiap tetes keringat, hasil kerja keras suamimu. Lelah Abang bekerja untuk anak istri" kata Bang Sanca.


"Bang.. Kapan Fia hamil?"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2