Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
58. Pernyataan Fia.


__ADS_3

"Uugghh.. sakitnya..!!" meskipun mengeluh sakit tapi Bang Sanca tetap berjalan mencari Fia. Tabung infusnya ia kantongi kesana kemari.


Benar saja. Fia sedang berpelukan dengan seorang pria yang terus mengusap punggungnya. Darahnya langsung mendidih tanpa melihat jelas siapa orangnya.


Begitu sudah sampai di depan mata, Bang Sanca baru menyadari yang dilihatnya ternyata adalah Papa Zaldi. Ia menggaruk kepalanya salah tingkah sedangkan Bang Garin tertawa terbahak karena sudah puas mengerjai littingnya yang begitu pencemburu itu.


"Sudah kuat bangun San??" tanya Papa Zaldi yang tidak tau apa-apa.


"Saya merasa mual sekali pa" Bang Sanca berpegangan pada sisi meja di sampingnya.


"Duduk dulu San. Kalau kamu pingsan, kita semua kerepotan. Badan besar pakai pingsan segala" kata Papa Zaldi.


Bang Sanca meremas perutnya yang terasa di aduk-aduk seperti adonan jenang.


Fia tersenyum lembut.


"Sini Bang.. duduk sama Fia..!!"


Bang Sanca menoleh, dua pasang mata itu saling bertatapan. Fia tampak lebih tenang dan teduh. Tanpa banyak melawan.. Bang Sanca mengikuti ajakan Fia.


"Kamu sudah nggak sakit lagi dek?" tanyanya heran bercampur cemas.


"Fia sudah baik-baik saja. Maaf ya Bang. Fia sudah merepotkan Abang. Pasti Abang kepikiran dengan sikap Fia. Lain kali Fia akan bicarakan apapun, hal sekecil apapun sama Abang. Fia harap Abang juga mau lebih terbuka sama Fia" jawab Fia.


Bang Sanca menarik Fia ke dalam pelukannya.


"Iya.. pasti dek. Maafin Abang juga yang sampai saat ini belum bisa membahagiakan kamu"


"Fia bahagia kok Bang.. Sama si princess kita ini.. hadiah paling indah dari Abang" jawab Fia sambil mengusap perutnya.


"Princess saja?? Dia nggak kamu ingat??" tanya Bang Sanca sembari menunjuk El yang berjalan kesana kemari bersama Bang Ibra.


"El?? Kenapa dengan El??"


Bang Sanca tidak ingin melanjutkan pertanyaannya lagi. Fia bisa mengingat kehamilannya saja sudah cukup membuatnya bahagia. Membiarkan semua berjalan apa adanya hingga suatu saat nanti Fia bisa mengingat semua kenangan bersamanya.


"Apa Fia salah Bang?" tanya Fia.


"Nggak.. kamu nggak salah"


"Tapi.. Fia merasa sangat menyayangi El melebihi apapun. Padahal dia anak Bang Ibra" jawab Fia dengan polosnya.


"Yaaa.. yaa.. dia memang anakku, patungan sama Bang Garin, menetas dari perut Bang Anjar dan bibitnya seserahan dari Bang Sanca" ucap Bang Ibra pasrah kemudian menggendong keponakannya.

__ADS_1


"Kita cari mama yuk El..!!"


"Yaa papa" jawab El semakin mengiris hati Bang Sanca sebab panggilan papa itu kini tidak hanya untuk dirinya seorang.


El beralih mendekat pada Papa Zaldi saat melihat Daddy-nya.


"Daddy.. mau es krim" pinta El pada Papa Zaldi meskipun ocehannya belum bisa dimengerti semua orang karena usianya baru satu tahun.


"Ayoo.. kita jalan-jalan sama Mami. Disini banyak adegan orang dewasa. Nanti matanya Abang tercemar" Papa Zaldi mengajak El pergi dari sana.


:


Bang Sanca memeluk Fia dari belakang. Tangannya sibuk mengusap perut buncit Fia. Ia sangat merindukan sosok istrinya yang polos, ceria tanpa beban seperti dulu.


"Princess nya Abang baik-baik saja khan dek? Masih sering kram nggak?"


"Dia sehat Bang. Kram nya sudah berkurang dan tidak sesering kemarin" jawab jujur Fia yang kemudian ikut menggenggam tangan Bang Sanca.


"Alhamdulillah.. Abang lega dengarnya dek. Sehat-sehat terus ya kamu sama si princess. Jantung Abang rasanya mau lepas lihat kamu seperti kemarin" begitu posesifnya Bang Sanca sampai mendudukkan Fia di pangkuannya pun juga perlahan.


"Kamu banyak makan ya dek. Lihatlah matamu itu cekung dan menghitam. Banyak pikiran.. kurang vitamin"


"Hmm.. Fia pengen di suapin Abang"


"Siap.. ayo makan sama Abang. Abang suapi" kata Bang Sanca kemudian mengambil ponselnya, memberi pesan singkat pada Bang Ibra.


"Halaah kamu. Ini cuma masalah kecil"


:


Hati Bang Sanca benar-benar lega saat Fia sudah mau makan. Fia makan dengan lahap sampai mau tambah hingga dua kali.


"Weeehh.. anak papa makannya banyak. Dua hari lagi papa ajak jalan-jalan ya..!!" gumam Bang Sanca sambil mengusap perut Fia.


"Bang.. sebenarnya......." suara Fia tercekat. Ia ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Apa dek?? bilang saja"


"Hmm.. Bang Raiz..... nanti anak buah Abang di perbatasan" ucap Fia membuat hati Bang Sanca seketika meradang.


"Apaa???? kenapa kamu baru bilang??" tanya Bang Sanca.


"Fia nggak mau mengingatnya Bang. Dia itu......"

__ADS_1


Bang Sanca meletakan piring yang sudah kosong di atas nakas lalu mengambilkan minum untuk Fia agar istrinya lebih tenang.


"Cerita pelan-pelan.. Abang tidak akan marah lagi. Kamu harus bisa melawan semua rasa takutmu. Kamu nggak sendirian dek. Ada Abang..!!"


"Fia berteman dengan Bang Raiz lewat aplikasi pencari jodoh. Saat itu Fia masih ada hubungan dengan Bang Anjar dan Bang Dafa. Bagi Fia.. pertemanan antara laki-laki dan perempuan itu sama saja, tapi ternyata tidak untuk Bang Raiz" Fia mulai menangis saat mengingat semuanya.


Bang Sanca mendengarkan dengan baik dan mencocokan cerita apakah pernyataan Fia sama dengan apa yang Papa Zaldi ceritakan kemarin.


"Bang Raiz mencari Fia di sekolah. Lalu mengajak Fia jalan-jalan, disana Fia di ajak bertemu dengan teman-teman nya di sebuah tempat karaoke. Disana Fia hanya menjadi bahan ledekan karena Fia hanya anak SMP. Mereka mengatai Fia penggemar om-om. Di antara temannya ada yang bertanya apakah Fia bisa di bawa pergi. Bang Raiz tidak membela Fia dan malah ikut menertawai hal yang saat itu tidak Fia mengerti. Bang Raiz mengatakan boleh" air mata Fia berlelehan, suaranya tercekat.


"Lalu?" Bang Sanca semakin penasaran karena cerita dari Papa Zaldi ada sedikit perbedaan dengan cerita Fia.


"Bang Raiz menyerahkan Fia pada temannya. Saat itu Fia menolak.. hal itu membuat Bang Raiz marah lalu membawa Fia ke suatu tempat. dan........"


"Apa??? Dia berusaha memperkosamu??????" tanpa sadar Bang Sanca kembali terpancing emosi.


"Fia nggak tau Bang..!! Fia nggak bisa mengingatnya. Fia hanya ingat Bang Ryan mengangkat Fia lalu memakaikan jaketnya. Hanya ada satu kata yang Fia ingat saat itu. 'Jika hal ini membuatmu trauma seumur hidup, dan jika tidak ada pria yang menyayangi apa adanya dirimu.. biar Abang yang menjagamu dan mencintaimu seumur hidup Abang sebagai penebus dosa di masa lalu' " jawab Fia.


"Ryan bilang begitu??? Bukankah Ryan itu Abangmu???" tanya Bang Sanca.


"Bang Ryan bukan Abang kandung Fia. Bang Ryan itu anak dari pria yang papa bunuh karena menyakiti mama"


"Astagfirullah hal adzim.. cobaan apalagi ini Tuhan. Jadi selama ini kamu bukan berpelukan dengan Abangmu sendiri???" tanya Bang Sanca menegaskan.


"Percayalah Bang.. antara Fia dan Bang Ryan hanya sebatas kakak adik. Tidak lebih" kata Fia berusaha menenangkan Bang Sanca.


"Tidak ada hubungan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Kamu terlalu naif menyimpulkan semua keadaan" ucap tegas Bang Sanca.


"Tapi sekarang Fia menikah dengan Abang. Cinta Fia hanya untuk Abang. Tolong jangan berpikir macam-macam sama Bang Ryan"


Berarti Fia sendiri tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, dengan kata lain hanya Ryan yang tau keadaannya saat itu. Jika Ryan tau.. kenapa dia tidak mengatakannya padahal aku mati-matian mencari Raiz. Apa benar papa sudah paham semua ini? Dan kenapa Raiz bisa lepas kalau dia melakukan pelanggaran?.


"Baang.. Abang sudah janji untuk tidak marah" Fia menatap mata Bang Sanca.


"Kamu istirahat disini ya. Jangan terlalu capek. Abang mau keluar sebentar..!!"


"Jangan temui Bang Ryan untuk bertanya apapun" pinta Fia.


"Kamu istri Abang atau istri Ryan?? Kenapa membelanya???" tanya Bang Sanca mulai tidak suka dengan semua pembelaan Fia untuk Ryan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2