
Mata Bang Sanca terus mengawasi Bang Ryan yang sedang mengikat sepatunya. Tiba-tiba Fia bersandar di perut sixpack Bang Sanca yang sedang berdiri di sampingnya.
"Kenapa dek? Capek?" tanya Bang Sanca jauh lebih lembut karena Fia sudah mau berdekatan dengannya.
"Rasanya sesak Bang. Punggung Fia sakit" jawab jujur Fia.
"Masih kuat nggak? Kalau nggak kuat kita ke hotel saja" ajak Bang Sanca.
"Fia mau disini. Kalau Fia di hotel, Abang bebas nyawer itu perempuan" kata Fia melirik Bang Sanca dengan kesal.
"Lailaha Illallah.. wong wedhok iki nek ora ngajak geger memang ora lego kok" gumam Bang Sanca.
"Abang tanya nih ya.. Kartu ATM sama Duit Abang siapa yang bawa?"
"Fia.. "
"Dari hasil Abang kerja di luar.. siapa yang pegang??" tanya Bang Sanca lagi.
"Fia juga Bang"
"Naah itu tau. Terus uang mana yang Abang pakai nyawer to sayangku??" ingin rasanya Bang Sanca menjitak si cantiknya itu.
"Kalau pun Abang ada uang lebih paling hanya untuk pantas-pantas muka dan beli rokok"
Fia ingin tertawa mendengar ocehan suaminya, memang benar rejeki apapun yang Bang Sanca punya akan selalu mengalir.
"Abang mau hitung-hitungan sama Fia" tanya Fia melembutkan suaranya.
"Nggak lah, mana bisa Abang berdebat sama kamu. Kalah telak lah Abang" jawab Bang Sanca.
"Ya sudah.. sana Abang nyanyi sama perempuan itu. Fia percaya kok sama Abang" kata Fia.
"Bener nih?? Kalau Abang bawa uang ini ke panggung bagaimana?? Dua puluh lima juta nih dek. Sama satu kunci motor matic" Bang Sanca mengeluarkan uang dan kunci dari balik saku seragam upacaranya.
"Jalan aja kesana Bang, nggak apa-apa kok. Abang khan pilih dia. Jadi nanti malam nggak usah ci luk baa silaturahmi sama inces" kata Fia kemudian bersandar pada kursinya sambil menghabiskan air minum di hadapannya.
"Kita main sama Papa Ryan aja ya dek" ucapnya menggoda Bang Sanca sambil mengusap perutnya.
"Wes.. angel. Kalau urusannya sudah pusar bisa keliyengan ini" gumam Bang Sanca kemudian meletakkan uang dan kunci motor matic di atas meja.
"Ini punyamu semua. Awas saja kamu kalau sampai berani bertingkah sama Ryan. Abang hajar betul kamu..!!" Bang Sanca meninggalkan Fia dengan rasa kesalnya.
"Laaahh.. dia yang panas-panasi.. dia juga yang ngambek" kata Bang Anjar pelan.
"Cemburunya tingkat dewa tapi nggak mau ngaku itu suamimu"
__ADS_1
Fia memegang dadanya sembari mengatur nafasnya. Sebenarnya ia benar-benar lelah dan sakit.
:
Acara telah selesai. Wina si penyanyi cafe itu melirik Fia dengan tatapan sinis. Dari tempatnya, Bang Sanca bisa melihat gurat wajah tidak suka itu. Meskipun ia menjauh dari Fia tapi matanya terus mengawasi sang istri.
Bang Sanca begitu lega karena Wina berlalu hanya dengan melirik Fia saja. Ia berpamitan pada rekannya untuk menemui sang istri.
"Ke hotel sekarang? Jangan terlalu capek, disini ada semua keluarga mu" aja Bang Sanca karena tidak ingin Fia terlalu lelah.
Fia mengangguk. Mereka pun meninggalkan tempat setelah berpamitan dan berkoordinasi dengan keluarga.
:
Sebenarnya dirinya tidak pernah mempermasalahkan soal resepsi karena ia pernah mengadakan syukuran pernikahan dulu. Tapi karena hanya kalangan terbatas yang tau mereka sudah menikah, maka ada saja satu dua isu yang mencuat.
Mobil sudah sampai di halaman depan lobby. Bang Sanca segera turun dan membuka kan pintu untuk istri tercinta. Usia pernikahan mereka memang sudah dua tahun, tapi rasa sayang Bang Sanca untuk Fia tak pernah memudar bahkan semakin bertambah.
Bang Sanca mengulurkan tangannya, Fia pun meraihnya. Siapa sangka Bang Sanca malah menggendong Fia tak peduli dengan orang yang berada di sekitar nya.
"Turunkan Fia Bang. Maluu..!!"
"Abang gendong istri sendiri, nggak gendong istri orang" jawab Bang Sanca dengan santai.
...
Bang Sanca mengeringkan rambutnya usai mandi. Sudah beberapa lama Fia hanya duduk termenung di depan meja rias.
"Tadi Abang ajak mandi nggak mau, kenapa sekarang malah diam begini?"
"Rasanya Fia masih belum percaya sudah jadi pengantin Bang. Pakai riasan seperti ini, berjalan berdua dengan Abang melewati karpet merah itu. Ternyata begini rasanya jadi istri seorang Kapten Sanca" jawabnya menahan rasa haru.
Masih memakai handuknya, Bang Sanca duduk di tepi ranjang. Ia membuka satu persatu hiasan di kepala Fia lalu membuka jilbabnya. Tangan Bang Sanca menarik ikat rambut Fia yang seketika mengurai rambut panjang nan indah berwarna sembur coklat.
"Abang melindungimu di bawah ijab qobul dan Abang melindungi harga dirimu di mata orang-orang agar mereka tau siapa istri Sanca" tangan Bang Sanca membuka pakaian kebaya Fia. Di ciumnya bahu sang istri yang bersih dan mulus. Hari memang sudah malam tapi wangi tubuh Fia masih segar, aroma itu menjalar menggelitik insting pemburu nya. Apa yang di mintanya pada Ryan tadi siang sebenarnya hanya sekedar antara rasa penasaran dan basa basi karena dalam pandangan matanya.. Fia teramat luar biasa, tapi sungguh kini gairahnya merangkak naik.
Bang Sanca menahan dirinya. Dimana malam pengantin itu adalah malam satu-satunya tapi anak dan istrinya lebih berharga dari segalanya. Bang Sanca berdiri dan mencari pakaiannya di dalam tas.
"Kenapa Bang?" tanya Fia.
"Nggak apa-apa.. cepat mandi dan tidurlah. Ini sudah malam" jawab Bang Sanca dengan lembut.
Fia menarik handuk Bang Sanca dan hampir terlepas di hadapannya. Bang Sanca cukup kaget karena dirinya pun sedang perang batin.
"Dek, kamu tau khan bagaimana kalau Abang tidak bisa menahan diri. Kamu sama Abang taruhannya" Bang Sanca berusaha keras menahan hasrattnya.
__ADS_1
"Abang ini laki-laki. Sebisanya Abang menahan diri tetap saja tidak bisa di percaya. Kalau Abang paksa.. kamu nggak akan kuat"
"Fia tau Bang.." Fia membuka handuk Bang Sanca. Bang Sanca malah memejamkan mata seakan tak sanggup lagi menolak perlakuan sang istri padanya. Tangannya membelai rambut Fia lalu memegangi rambut Fia yang mengganggu.
"egh.." Bang Sanca menggigit bibirnya merasakan ketegangan merajai seluruh tubuhnya. De**han Bang Sanca terlepas begitu saja. Fia sungguh pandai menaikan b***"inya.
"Kamu ini keterlaluan dek. Sekarang Abang harus bagaimana?"
Fia menarik dirinya dan mendongak menatap wajah Bang Sanca.
"Selesaikan lah Bang. Bisa nggak?"
"Hari ini kamu nakal sekali dek.. Kamu harus di hukum biar kapok..!!" Bang Sanca membimbing Fia berbaring di atas ranjang. Awalnya Bang Sanca hanya ingin menyatukan dua bibir dan pada akhirnya.. khilafnya Bang Sanca sampai menyatukan diri.
***
"Hahahaha.. Aman Bang..!! Nggak usah panik. Fia itu cukup pintar membentengi diri" kata Bang Ryan saat Bang Sanca menghubunginya.
"Tapi dia mual terus Ry, badannya juga lemas. Bahaya nggak??" tanya Bang Sanca yang sebenarnya sangat cemas tapi memang berniat bulat memanasi Ryan disana.
"Semua tindakan pasti ada resikonya Bang. Fia hanya terlalu lelah. Nanti juga reda sendiri Bang" jawab Bang Ryan.
"Ngomong-ngomong nih pasti karena Abang terlalu semangat" tegur Bang Ryan secara halus. Ia mengatakannya karena memang ia seorang tenaga medis.
"Istri cantik begini, mana seksi banget Ry.. siapa yang tahan. Naluri setanku kelimpungan" ucap jujur Bang Sanca.
Bang Ryan menarik senyum pahit getir.
"Siap Bang..!!"
M****s lu Ry, panas..panas dah lu.
Senyum licik Bang Sanca tersirat di wajahnya.
"Baang..!!" sapa Fia dari dalam toilet.
"Kenapa sayang? Ada masalah?"
.
.
.
.
__ADS_1