Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
92. Senam jantung.


__ADS_3

( Jangan di samakan dengan sewajarnya kehidupan militer. Pahamilah ini hanya cerita fiksi belaka ).


🌹🌹🌹


Baru setengah 'perjalanan' Bang Sanca mendekati Fia, inces cantik Bang Sanca terbangun dari tidurnya membuat Bang Sanca harus menyudahi rasa rindunya karena Fia sudah gelisah mendengar tangis putrinya. Bang Sanca pun tidak ingin memaksakan diri karena tau dirinya yang bersalah sudah berusaha mencuri waktu kebersamaan mereka. Harus dirinya terima pula resiko kerinduan yang tidak tersalurkan.


"Maaf ya Bang..!!"


"Nggak apa-apa dek" bibir Bang Sanca memang tersenyum tapi senyum itu tidak bisa membohongi Fia jika suaminya itu menyimpan gurat wajah kecewa. Apalagi saat Bang Sanca menyambar rokoknya dan memilih keluar kamar untuk sekedar menenangkan diri.


Fia merasa tidak enak tapi dirinya yang belum 'sembuh' tidak mungkin bisa meladeni suaminya itu.


Sabar ya Bang. Fia akan berusaha keras agar bisa cepat sembuh. Lagipula Abang sendiri juga belum sembuh.


***


Satu Minggu berlalu.


Bang Sanca mengawasi kegiatan lapangan karena dirinya sedang berada dalam masa pemulihan. Tapi bukan Bang Sanca namanya kalau tidak banyak bergerak, tindakannya selalu sesuai dengan perintah nya.


"Info hari ini ada latgab untuk dua kubu kompi Bang. Sudah tiga tahun kompi tidak melaksanakan latgab. Jadi harus gabung dengan kompi Bang Garin" kata Bang Ibra memberi informasi.


"Kamu naikan kesiapan kita. Cepat laksanakan..!! Lebih cepat lebih baik. Jangan bertele-tele..!!" perintah Bang Sanca.


"Jangan lupa share di anggota kita..!!"


"Siap Bang..!!"


-_-_-_-_-


Fia terlihat murung tapi berusaha menampakan senyumnya di hadapan Bang Sanca. Ia tetap menyiapkan segala kebutuhan sang suami yang mendadak akan berangkat latgab. Sesekali sembari mengajak baby inces mengobrol, Fia menghapus air matanya.


"Abang cuma sebentar kok. Nanti kalau Abang pulang, kita lihat daerah sekitar sini..!!" bujuk Bang Sanca.


"Iya Bang. Nggak apa-apa kok." jawab Fia.


"Bekas sayatannya sudah nggak sakit lagi khan?" tanya Bang Sanca memastikan kondisi istrinya.


"Jarak dari sini ke tempat latihan hanya dua jam. Kalau ada apa-apa pasti Abang pulang..Ya mudah-mudahan nggak akan pernah ada apa-apa selama Abang kerja"


"Aamiin.. iya Bang"


//


Ola menyiapkan segala kebutuhan Bang Ibra. Senyum bahagia Bang Ibra pun terpancar dari rona wajahnya. Kini sudah ada yang memperhatikan dirinya, menyiapkan makan bahkan ada yang dirinya akan berkeluh kesah.


"Setelah Abang kembali dari latihan.. kita langsung nikah. Lumayan dek.. Abang nggak kepikiran pengen nempel kamu terus" ucap jujur Bang Ibra.


"Abang kok gitu sih. Ola khan malu" jawab Ola salah tingkah.


"Malu sama siapa?" Bang Ibra perlahan menutup pintu kamarnya lalu mendorong Ola menepi di dinding.


"Bang..!!" Ola menelan salivanya dengan kasar. Tangannya mulai gemetar.


"Jangan dulu Bang.. Ola nggak siap"

__ADS_1


"Abang tau.. diamlah..!! Abang hanya mau mengambil anak cicak di kerudung mu" bisik Bang Ibra sembari mengambil cicak di kerudung Ola.


"Hwaaa...." pekik Ola berjingkat tanpa sadar memeluk Bang Ibra dengan kencang. Ola tak sadar kalau dia yang telah memulai pelukan itu.


"Kelihatannya kamu sehat sekali dek. Peluk Abang terus ini apa pengen di inreyen dulu?" tegur Bang Ibra menggoda Ola. Secepatnya Ola melepaskan pelukan nya dengan masih salah tingkah.


Bang Ibra mencubit gemas dagu Ola.


"Nggak usah cemas begitu. Nanti kalau sudah waktunya pasti Abang kasih kok"


"Abaang..!!" Ola menutupi wajahnya saking malunya.


***


Pagi ini Ola dan Fia baru mengantar suami mereka untuk berangkat latihan gabungan. Kesiapan di lapangan memang sangat di perlukan untuk bekal kesigapan mereka di medan perang jika sewaktu-waktu negara membutuhkan mereka akan siap dalam hal fisik dan mental.


***


Satu minggu berlalu dalam medan latihan, Bang Sanca merebahkan dirinya di rumput nan luas di bawah sebatang pohon yang rindang. Angin sepoi-sepoi menerbangkan angannya yang tengah merindukan anak dan istri tercinta.


Bang Sanca memejamkan matanya, pikirannya berkelana membayangkan cantiknya wajah Fia. Rasa sakit, lelah, remuk, panas dan hujan tak dirasa.


Abang kangen dek. Masih ada tiga minggu lagi Abang disini. Sabar ya sayang..!! Doakan saja Abang cepat pulang.


...


Di tempat lain Bang Ibra sudah masuk ke alam mimpi karena terlalu lelah.


"Olaaa.. kita nikah ya dek..!!" Bang Ibra mengigau memanggil nama Ola. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini sampai tidak sadar mendekap dan menciumi tangan Bang Garin yang sedang duduk di sampingnya.


"Jangan donk sayang. Kamu minta apa? Abang sayang kamu dek. Nggak tahan pengen cepat nikah" rengek Bang Ibra yang ternyata bisa selemah itu di hadapan 'wanitanya'


"Ya sudah Bang..!! Tapi Ola mau Abang belikan kambing untuk mas kawin" kata Bang Garin mendayu-dayu menggoda Bang Ibra.


"Jangankan kambing, sapi juga Abang belikan buatmu Ola..!! Kita kawin ya bee.. cantiknya Bang Ibra" jawab Bang Ibra.


Bang Garin tersenyum jahat, sudah merasa menang bisa mengerjai juniornya itu.


Om Hega dan Om Indra sudah menahan tawanya mati-matian tapi akhirnya tawanya pecah juga hingga membuat Bang Ibra kaget dan terbangun.


"Kita kawin yuk Bang..!!" ledek Bang Garin.


"Astaga Bang.. kesambet di mana Abang ini bisa ajakin aku kawin" gerutu Bang Ibra yang tidak memahami apapun.


"Geli saya Bang..!!"


***


Hari semakin siang, peluh sudah membasahi badan. Suasana cukup tegang. Bang Sanca menyiapkan anak buahnya untuk pemahaman pengoperasian meriam. Seluruh anggota memperhatikan arahannya dengan baik. Disisi lain Bang Ibra dan Bang Garin pun ikut mempraktekkan arahan Bang Sanca sembari mengatur kelompoknya.


"Kita arahkan dulu ke tujuan..!!" Bang Sanca mendemonstrasikan instruksikan arahannya tadi.


boooommm...


Bang Garin tergeletak tidur di atas tanah usai meriam dalam kelompoknya meletus. Bang Sanca, Bang Ibra dan Bang Ozan kaget bukan main. Mereka berlarian dan panik menghampiri Bang Garin. Dengan cepat sesuai prosedur lapangan yang berlaku.. Bang Sanca memeriksa kondisi Bang Garin.

__ADS_1


"Tanduuu..!! Cepat bawa tandu kesini..!! Dankimu kena tindakan human error"


Anak buah Bang Sanca membawa tandu dan langsung memindahkan Bang Garin secara perlahan ke atas tandu.


"Naaahh.. ini namanya mendalami peran. Menangani situasi darurat" kata Bang Garin tiba-tiba duduk membuat rekannya kaget setengah mati dan tidak sengaja membanting dirinya ke atas tanah.


bruugghhh..


"Aduuuuuhh..!!!" pekiknya kesakitan.


"Bagaimana kalian ini. Masa saya di banting??"


"Siap salah Dan..!!!"


"Allahu Akbar.. Gariiiiin..!!!!! Apa-apaan sih kamu?? Kenapa onar begini????" tegur Bang Sanca.


"Ini simulasi penyelamatan korban perang San. Bukan korban perasaan.. Baper amat sih jadi orang" jawab Bang Garin.


"Eeehh.. kita nggak koordinasi masalah ini ya. Mana ada kamu buat hal konyol seperti ini tanpa briefing lebih dulu..!!!!" ucap Bang Sanca semakin keras.


"Ini refleks San. Lihat saja reaksi prajurit. Tanggap khan..!!"


Bang Sanca yang sudah lelah apalagi tengah hari bolong, kepalanya yang terpapar panas matahari semakin membuatnya darah tinggi. Memijat pelipisnya pun tak mengurangi rasa peningnya.


"Mana pistol kalian?? biar saya letuskan sekalian peluru ke jantungnya." entah perintah itu serius atau bercanda tapi wajah Bang Sanca tidak menunjukan kalau dirinya sedang tidak main-main.


"Kau tau atau tidak bermain di situasi seperti ini sangat bahaya Garin...!!!!! Darimana meriam busung itu kamu dapatkan????"


"Iihh.. khawatir amat. Mulai ada rasa Yee??" goda Bang Garin tak ambil pusing dengan marahnya Bang Sanca.


"Astagfirullah hal adzim.. Iya ada rasa. Rasa-rasanya gue pengen ngegampar jidat lu itu.


"Ya Allah.. Nenek moyangnya siapa sih ini yang ngutuk gue?" Bang Sanca mengusap dadanya lalu menyambar kain di atas tandu lalu membuangnya dengan kasar.


"Bungkus dia. Simpan di gudang logistik..!!!" Bentak Bang Sanca benar-benar murka.


"Sabar Bang.. Ayo ngopi dulu..!! Nggak usah di ladeni.. Abang khan tau bagaimana Bang Garin. Bercandanya sudah tingkat profesor Bang" bujuk Bang Ibra sembari menarik tangan Bang Sanca menjauh dari lokasi.


"Perhatian untuk semuanya. Kesigapan itu penting. Di manapun kalian berada.. Baper itu di larang. Ini di lapangan bukan di ranjang" ucap Bang Garin penuh wibawa.


"Wooo.. ngajak gelut tenan kowe yooo..!!" Bang Sanca sudah bersiap untuk menghajar Bang Garin.


"Abaaang..!!" Bang Ibra menyergap Bang Sanca.


"Daann..!!!!" Om Hega ikut cemas namun tidak bisa menyembunyikan tawa gelinya.


"Ini contohnya ya. Komandan yang sudah terlalu lelah jadi gampang baper. Sekarang istirahat semua. Latihan kita lanjutkan besok..!!" perintah Bang Garin.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2