
Wajah Bang Sanca begitu pucat, berkali-kali ia pun hampir tumbang jika Opa Rinto tidak menguatkannya. Tak hentinya Fia berteriak histeris membuat hatinya begitu sakit dan terpukul.
"San..!! Sadar San.. Kamu harus kuat. Fia sudah seperti itu, Kamu jangan lemah juga le" kata Opa Rinto sembari menghapus air mata Bang Sanca. Opa Rinto menarik nafas panjang melihat pria di hadapannya itu begitu mencintai cucu perempuannya.
Papa Zaldi hanya bisa terdiam dalam dekapan Mama Arnes. Mendengar teriakan Fia membuat batinnya pun ikut terpukul sama seperti menantunya. Disana Bang Ibra mengasuh keponakan satu-satunya sambil menghubungi seseorang di seberang sana.
"Kamu ke rumah sakit dek. Bantuin Abang urus keponakan. Mau minta tolong yang lain nggak enak. Mana popoknya El miring" bisik Bang Ibra sambil melirik Bang Sanca.
"Lama sekali Opa. Apa saja yang di lakukan dokter itu di dalam sana???" Bang Sanca mulai kesal. Kepalanya begitu berat. Perutnya melilit karena panik.
Bang Ryan keluar dari ruangan. Secepatnya Bang Sanca menghampiri kakak iparnya.
"Bagaimana Fia?? Anakku bagaimana??"
"Fia mengalami trauma Bang. Abang harus sabar, Fia takut menatap kami semua.. tapi sekarang Fia sudah lumayan tenang." jawab Bang Ryan.
"Anakku??"
"Tolong sebisa mungkin Abang jangan panik. Paniknya Abang hanya akan buat Fia jadi stress. Begini Bang.. Abang tau khan kehamilan Fia memang rentan? Saat ini yang terjadi pada Fia adalah abortus imminens atau ancaman keguguran, tapi ancaman ini masih bisa di selamatkan"
"Alhamdulillah.." Bang Sanca mengusap wajahnya berucap syukur.
"Saya harap.. Abang bisa menjaganya baik-baik dan kalau bisa.. ini yang terakhir ya Bang. Ada banyak faktor yang kurang mendukung kesehatan Fia. Sudah pas kok Bang, dapat Ibra.. dapat princess juga, cewek tuh Bang. Saingan genit mamanya" senyum Bang Ryan menyimpan sejuta perasaan.
"Tapi ada yang harus Abang ketahui.. benturan di kepala Fia lumayan keras, dia tidak bisa sepenuhnya mengingat kenangan kalian. Memory nya hilang sebagian, juga ingatannya terbolak balik bagai puzzle yang berhamburan. Yang sabar ya Bang. Mudah-mudahan kita semua, terutama Abang bisa melewati semua cobaan ini..!!"
"Astagfirullah hal adzim.. apa Fia bisa mengingatku?" tanya Bang Sanca dalam ketidak siapan batinnya. Ingin rasanya ia berteriak kencang saat hatinya tak sanggup lagi merasakan semua kepedihan.
"Abang lihat saja nanti dan juga sosok Bang Raiz"
"Siapa dia? Kesatuan mana dia???" tanya Bang Sanca pilu.
"Duduk dulu..!! Kita bicarakan semua bersama-sama" ajak Papa Zaldi.
...
Perlahan Bang Sanca membuka pintu kamar rawat Fia. Istrinya itu sedang duduk manis sambil menyantap donat yang Mama Arnes bawa.
"Sudah bangun sayang?" sengaja Bang Sanca menyapanya dengan lebih lembut, ia ingin tau apakah Fia mengingatnya atau tidak.
"Sudah Bang. Apa Bang Raiz sudah pergi?" tanya Fia.
"Sudah.. Abang sudah mengusirnya jauh-jauh" jawab Fia sambil tersenyum.
"Apa Abang mau menikahi Fia? Sepertinya Fia hamil deh Bang" tanya Fia sudah hampir menangis.
"Papa bisa menghajar Fia kalau ternyata Fia beneran hamil. Soalnya lihat nih.. perut Fia kok besar ya" Fia menunjukan perutnya yang sedikit menyembul pada Bang Sanca.
__ADS_1
"Masa sih, kamu ingat nggak kita lakukan dimana?" pancing Bang Sanca.
"Lagian takut amat kamu dek. Hamil khan ada bapaknya"
"Di cafe rumah panggung" jawab Fia.
"Ngawur aja kamu. imajinasimu ketinggian. Kamu pengen kita lakukan disana??" tegur Bang Sanca memelototi Fia. Perlahan wajah Bang Sanca pun mulai santai kembali.
"Kita melakukannya di hotel tepi pantai. Kamu nggak menyesal khan?"
Fia terdiam, wajahnya penuh dengan tekanan yang amat berat.
"Harusnya Fia yang tanya. Fia bukan gadis baik-baik"
Perasaan Bang Sanca langsung tertusuk nyeri. Saat ini menjelaskan apapun tidak akan masuk dalam pikiran Fia.
"Abang yang salah sudah memaksamu. Bukan kamu yang tidak baik, tapi Abang. Abang minta maaf ya..!!"
"Abang serius?? Mau lamar Fia??" tanya Fia.
"Serius donk..!! Nggak usah lamaran.. kita langsung nikah" jawab Bang Sanca serius.
"Terima kasih ya Bang" Fia memeluk Bang Sanca dengan erat tanpa ia sadari ada yang menangis dalam hatinya. Bang Sanca menghapus air matanya.
"Sama-sama cantikku"
...
braaaaakk...
"Kawin lagiii???? Apa maksudmu???" Papa Zaldi sampai menggebrak meja dan emosi saat Bang Sanca mengucapkan niat untuk kawin lagi.
"Saya mau nikah ulang sama Fia Pa. Lagipula kami belum pernah menaikan acara resminya ke publik dan kemarin itu khan hanya syukuran antar anggota saja. Itung-itung ini juga untuk menyenangkan Fia" kata Bang Sanca dengan tenang. Ia sudah tak punya tenaga lagi untuk berdebat. Sekuatnya ia tidak marah-marah dan mengontrol emosinya. Sudah beberapa lama ini ia tidak mengkonsumsi obat-obatan petaka itu membuatnya harus berjuang setengah mati untuk bisa bertahan.
"Oohh.. papa kira kamu mau kawin lagi. Sudah emosi aja Papa San..!!" Papa Zaldi kembali duduk tenang setelah mendengar jawaban Bang Sanca.
"Ya sudah kalau itu maumu, lakukan saja. Papa hanya bisa mendoakan dan mengikuti alurnya. Terus terang Papa kepikiran keadaan Fia"
"Insya Allah saya akan jaga Fia baik-baik pa" jawab Bang Sanca tapi raut wajah Bang Sanca memercing, tangannya pun meremas dadanya dengan kuat.
"Saann.. kamu baik-baik saja??" tanya Opa Rinto.
Belum sampai menjawabnya, Bang Sanca sudah ambruk. Tubuhnya menghantam lantai dengan keras.
"Sancaaa..!! Astaga.. kalau dia yang tumbang habislah kita angkatnya. Badan tinggi besar begini" gumam Papa Zaldi.
:
__ADS_1
"Laki-laki juga bisa stress pa. Mungkin Abang terlalu lelah sampai seperti ini" kata Bang Ryan.
"Kamu mikir apa le, ayo di pikir sama-sama..!! Jangan kamu simpan sendiri bebanmu" mau tak mau Papa Zaldi cemas juga dengan keadaan menantunya itu.
"Ini tanggung jawab saya pa. Saya akan selesaikan semua" jawab Bang Sanca lirih. Rasanya begitu menderita merasakan semua ini sendirian. Ia masih terkunci obat laknat itu, tak bisa melakukan apapun untuk sang ibu karena cinta sang ibu begitu besar untuk bapaknya belum lagi keadaan Fia saat membuatnya semakin hancur lebur.
"Saya minta maaf atas semua perlakuan bapak saya" ucap sesal Bang Sanca yang pasti menahan rasa malu dan sakit hatinya.
"Yang penting lain kali kamu bisa lebih menjaga Fia. Papa minta tolong Dan..!!" kata Papa Zaldi.
Tak lama Fia terbangun dan kaget melihat Papa Zaldi, Opa Rinto dan Bang Ryan di kamar rawatnya.
"Paa.. pa_paa" Fia takut sekali melihat Papa Zaldi berada di kamarnya. Apalagi saat melihat Bang Sanca bersandar lemas di sofa, hatinya semakin cemas.
"Papa pukul Bang Sanca?"
"Nggak.. Memangnya kenapa?" tanya Papa Zaldi.
"Baangg.. Abang bilang nggak sama Papa?" wajah Fia yang nampak terkekan membuat Bang Sanca pusing tujuh keliling. Ingin diam seribu bahasa tapi Fia tidak memahami keadaannya sendiri.
"Nanti Abang bilang" jawab Bang Sanca.
"Ada apa?" Papa Zaldi mulai waspada dan cemas.
Sekuatnya Bang Sanca memposisikan duduknya dengan benar. Tak ada yang bisa memahami bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.. sakit itu hanya Tuhan dan dirinya yang tau. Tak terasa setitik air matanya menetes ketika dirinya harus mengulang lembar kisah cintanya bersama Fia.
"Ijin Komandan.. Jika cinta saya pada putri komandan bisa di buktikan, bolehkah saya menikahi putri Komandan. Mungkin cinta saya tidak sebesar cinta komandan tapi.. akan saya sayangi dan akan saya perlakuan Zafia sebaik-baiknya seorang wanita. Bila mulut bisa berdusta.. saya pastikan hari saya tiada dusta"
Papa Zaldi mulai mengerti keadaannya. Ayah Fia itu tersenyum tersenyum getir.
"Jika memang seperti itu niat baikmu. Bawalah Zafia. Saya percayakan dia padamu sepenuhnya"
Tangis Bang Sanca pecah. Dirinya benar-benar tidak sanggup merasakan situasi yang bagaikan mimpi buruk baginya. Ia kembali di sandarkan untuk di tenangkan.
"Abang kenapa Bang?" tanya Fia pada Bang Ryan yang sedang menangani Bang Sanca.
"Kekasih hatimu ini terlalu senang bisa menikahi gadis cantik seperti mu" jawab Bang Ryan sembari mengurus Bang Sanca.
Ya Allah Fia. Cepatlah sadar dek. Lihat suamimu sampai seperti orang gila tidak sanggup menghadapimu. Abang janji akan mencarikan dokter terbaik untukmu, gadis cantikku.. si kecil adik kesayangan Abang.
.
.
.
.
__ADS_1