Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
86. Mencari jalan terbaik.


__ADS_3

"Masih terasa sakitnya San?" tanya Bang Anjar.


"Aaawwhh.. sakit sekali An.. nggak kuat aku. Mana obat pereda nyeri nya" pinta Bang Sanca.


"Aku panggil dokter ya..!!"


"Iyaaa.. cepat An.. Jangan sampai Fia kembali" kata Bang Sanca.


"Astaga pot.. kulitnya kemana-mana itu lho. Perut apa bak sampah sih" tegur Bang Anjar yang sedang menikmati durian di dalam kamar rawat Bang Sanca.


"Iyaaa.. dasar laki satu ini nggak bisa menikmati hidup" gerutu Bang Garin kemudian membereskan kulit durian.


:


"Kamu jahitnya bagaimana Ry?? Sakit sekali ini" kata Bang Sanca.


"Sabar Bang, sebentar lagi hilang sakitnya sudah saya suntik nih" jawab Bang Ryan.


Bang Sanca pun terdiam. Teringat olehnya Fia yang baru saja mendapat tindakan operasi tapi tidak sedikitpun istrinya itu mengeluh. Wajar jika Fia sesekali memercing merasakan sakit, tapi tidak pernah ia menggelinjang seperti dirinya saat ini.


Kamu perempuan dek, tapi nggak bertingkah seperti Abang. Maaf kalau Abang jahat, suka membuatmu menangis. Rasa sakit Abang ini nggak ada apa-apa nya sama yang kamu rasakan untuk melahirkan anak kita.


"Bang.. Abang kenapa?" tanya Fia karena kamar Bang Sanca sudah ramai.


"Ini.. bapak-bapak pada antri mau minta tanda tangan suamimu yang ganteng ini. Pada nge fans berat sama suamimu." sahut Bang Garin.


"Benar itu Bang?" tatapan Fia mendesak Bang Ryan karena tidak mungkin bapak-bapak itu mengatakan pada dirinya.


"Habis Abang suntik, biar nggak capek" jawab Bang Ryan.


"Siap-siap kalau kamu sudah sembuh Fi. Sekarang perawatan dulu..!!" ucap Bang Garin dengan santainya.


"Ya Tuhan.. itu mulut apa petasan banting" gumam Bang Anjar.


***


"Kita tidak saling mengenal Bang" jawab Ola.


"Apakah dalam kepercayaan kita ada yang namanya pacaran? Semua yang kita niatkan baik.. Insya Allah akan berakhir baik" kata Bang Ibra meyakinkan Ola.


"Ola bukanlah wanita yang sempurna bagi Abang. Ola adalah wanita yang tidak memiliki kehidupan yang jelas, bekas orang, juga sedang mengandung.. anak ini akan menjadi beban untuk Abang. Abang seorang tentara, carilah wanita yang baik budi dan berpendidikan.. bukan seperti Ola"


"Abang tidak mau mendengar ocehan mu yang tidak masuk akal itu..!! Cepatlah bersiap.. kita temui orang tua Abang" ajak Bang Ibra.


"Baaang..!! Jangaaan..!!"


"Abang tunggu di luar..!!"


...


Ola menunduk menahan tangisnya saat duduk berhadapan dengan mama Arnes dan Papa Zaldi. Tatapan Papa Zaldi begitu tajam menatap Bang Ibra dan Ola secara bergantian.

__ADS_1


"Tolong lamarkan Pa..!!"


Plaaaakk...


Emosi Papa Zaldi sungguh tersulut sampai menampar putra pertamanya dengan kencang.


"Apa-apaan ini Ibra?? Kemarin Ryan.. sekarang.. kamuu.....????" Papa Zaldi bersandar lemas di sofa. Nampaknya apa yang di rasakan Om Bayu kemarin juga ia rasakan saat ini.


"Aku hanya minta ijin pada papa untuk melamar Ola, setelah Ola melahirkan.. aku akan menikahinya" ucap Bang Ibra tegas.


"Lailaha Illallah.. dosa apa yang sudah aku perbuat sampai semua putraku tidak bisa menjaga wanita" Papa Zaldi mengusap dada bidangnya saking kagetnya.


"Aku sudah meminta ijin sama Papa dan Mama untuk menikahi Ola. Papa dan Mama mengijinkan atau tidak, aku akan tetap menikahi Ola"


Mama Arnes melihat Ola memegangi ujung baju olahraga Bang Ibra, Ola terlihat begitu gemetar dan takut. Hati seorang ibu tak bisa di bohongi. Ia pun memahami sifat putranya yang berwatak keras.


"Ola.. ayo sini ikut Mama..!!" ajak Mama Arnes kemudian mengulurkan tangannya.


Ola menatap mata Bang Ibra meminta perlindungan, tapi Bang Ibra seolah mengatakan agar dirinya ikut dengan Mama Arnes. Akhirnya.. Ola menerima uluran tangan Mama Arnes dan mengikuti langkah mamanya.


:


"Jadi.. begitu ceritanya ma"


"Gadis cantik.. malang benar nasibmu nak. Nanti Mama coba bicara sama Papa ya. Jangan takut, Papa nggak galak kok.. papa hanya kaget saja. Bang Ibra memang orangnya keras, tapi percayalah dia nggak pernah kasar sama perempuan" kata Mama Arnes.


"Anak cantik.. kapan nih lahirnya? Oma tungguin ya..!!"


"Saya ini mama mu cantik.. Biasakan panggil Mama"


"Iya.. maa"


Mama Arnes memeluk Ola, tangan Ola masih begitu dingin.. tangisnya yang sesenggukan benar-benar menunjukkan kerapuhan batinnya.


"Kasih mama alamat mantan mertuamu ya"


"Buat apa ma?"


"Ada beberapa hal yang mau mama urus..!"


Ola mengangguk.


"Sayang.. percayalah.. kamu akan mendapatkan hak mu kembali" kata Mama Arnes.


...


"Kenapa tidak bilang dari tadi, kamu ini berbelit sekali. Jadi papa tidak perlu tekanan batin dan mengira kamu menghamili nya saat masih ada hubungan dengan almarhumah Rinka"


"Maaf, aku nggak berpikir sampai kesitu pa. Aku hanya mau minta ijin saja kalau aku akan menikah" jawab Bang Ibra.


"Papa akan usut semua. Kamu tenang saja Ola. Anak itu.. adalah bagian dari keluarga ini. Siapapun yang berniat mengusiknya, akan berhadapan dengan Daddy nya"

__ADS_1


Seketika Ola bersujud di kaki Papa Zaldi dan Mama Arnes.


"Terima kasih, terima kasih banyak keluarga ini mau menerima kehadiran saya yang hina ini. Beribu maaf saya ucapkan karena telah masuk dalam keluarga ini"


Papa Zaldi dan Mama Arnes sampai kebingungan karena calon menantunya itu tidak mau melepaskan tangannya dari kaki mereka.


"Olaa.. jangan begitu dek..!! Abang mengajakmu kesini bukan untuk menangis" Bang Ibra membantu Ola untuk duduk kembali.


"Kenapa hatimu ini lemah sekali" tegur Bang Ibra.


Baru saja membantu Ola untuk duduk, wanita itu tersandar sesak di dada bidang Bang Ibra.


"Maa.. mamaa.. bagaimana ini ma?" pekik panik Bang Ibra.


"Bawa ke kamarmu dulu..!!"


"Jangan ma..!!"


"Bawaa..!! Makanya jadi laki itu jangan acak-acakan.!!" tegur Papa Zaldi.


:


Mama Arnes menyuapi air jahe hangat dan manis untuk Ola, terlihat sekali bagaimana tertekannya bumil pilihan putra kesayangannya. Bagi Papa Zaldi dan Mama Arnes.. siapapun jodoh putra putri mereka bukanlah masalah dan mereka tidak akan mencampuri urusan pribadi putra putrinya. Bagi mereka, kenyamanan dan kebahagiaan putra putrinya adalah prioritas utama.


Perlahan mata Ola terbuka, di kamar itu ada bau maskulin pria, pakaian bergantungan di belakang pintu kamar, foto masa sekolah dan segala hal yang berhubungan dengan lelaki ada di kamar itu.


"Maa.. mama.. Ola takut ada patung kuntilanak" Ola terpekik kaget sampai Mama menoleh ke arah yang di lihat. Bang Ibra pun menoleh ke arah itu.


"Astagaa.. itu rocker.. gimana sih kamu dek.." jengkel sekali rasanya saat tokoh idolanya di sebut kuntilanak oleh calon istrinya itu. Tapi tetap perhatian untuk Ola tak pernah berkurang, ia mengusap perut Ola. Ajaibnya perut Ola yang menegang itu seketika langsung normal kembali.


"Biar Ola tidur disini.. hamil besar rawan sekali tinggal sendiri. Kalau ada Mama dan Papa, bisa bantu kamu jaga Ola" kata Papa Zaldi.


"Pa.. sebaiknya Ola di kontrakan saja." ucap Ola.


Papa Zaldi langsung mengerti maksud dari wanita pilihan putranya.


"Biar aku yang bolak-balik cek keadaan Ola" kata Bang Ibra menyanggupi.


***


"Ijin Dan.. ada surat panggilan dari DanPom mengenai kasus Praka Raiz dan penusukan Komandan" kata Om Hega.


"Hhsstt.. pelankan suaramu. Istri saya bisa dengar..!!" tegur Bang Sanca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2