Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
61. Hampir berantakan.


__ADS_3

"Perutnya kamu apakan? kenapa nggak kelihatan?" bisik Bang Sanca saat mereka berdua melewati karpet merah di acara pedang pora.


"Ya pakai penutup Bang. Biar bajunya rapi" jawab Fia.


Hampir Bang Sanca menghentikan langkahnya tapi Opa Rinto memelototi dari jauh agar mereka berdua bisa menyelesaikan prosesi dengan baik dan benar.


Langkah tegap nan gagah, langkah kecil nan anggun.. mengiringi sepasang pengantin itu. Tiba di penghujung pelaminan.. rasa haru, cinta, sayang, rindu.. bergelayut menjadi satu. Saat pedang terhunus di satu titik.. Bang Sanca melepas baret kebanggaan nya, Ia memegang kedua bahu Fia dan menatapnya sesaat.


"Jiwa ragaku hanya akan mencintaimu dalam hidup dan mati ku, dunia dan surgaku wahai ciptaan Allah yang begitu cantik Dinasti Kana Zafia. Sungguh aku tergoda paras cantik dan tubuh indahmu, tapi aku berusaha menegakkan dan menjaga imanku. Aku menghalalkanmu untuk melindungi mu dalam ikatan pernikahan yang sah. Semoga Allah meridhoi.. menjadikan kita sebagai keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah di jalanNya.. Aamiin..!!"


Bunga bertaburan dari atas tirai.. asap menutupi keduanya.. Bang Sanca menarik Fia ke dalam pelukannya.


"Kuhadiahi kamu cinta dan sayang Abang.. semoga kamu bahagia di ulang tahunmu yang ke sembilan belas, red_Shanca wifes. I love you" Bang Sanca menyambar bibir manis Fia, jujur ia terlena dan tergoda, tersiksa menahan rasa. Pagutan panas ia lepaskan, senyum indah mengembang tatkala balasan tak kalah panas ia rasakan dari bidadari cantiknya membuatnya tak kuat.


"Ehemmm.. Nanti di lanjut lagi" tegur Papa Zaldi saat asap perlahan mulai habis.


Penonton begitu riuh karena tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan pengantin di dalam lingkaran sana.


Bang Sanca melepas paggutannya, ia masih bingung. Sambil merapikan diri tersenyum salah tingkah, denyut jantungnya belum normal, pikirannya masih melayang di awang-awang. Dengan cepat ia menarik nafasnya dan kembali pada mode gagah dan garang khas Kapten Sanca.


...


Satu persatu rangkaian acara sudah di laksanakan.


Bang Sanca berjongkok di hadapan Fia lalu melepas high heels istrinya dan menggantinya dengan sandal bulu bermotif macan.


"Masa Dia pakai ini Bang?" tanya Fia.


"Siapa yang mau angkat kalau kamu pingsan. Abang juga sudah ganteng begini. Mana penyanyinya cantik-cantik, masa Abang nggak tampil.. sayang donk gagahnya" cerocosnya langsung mendapat lirikan tajam sang istri.


Di panggung sudah berdiri Bang Garin yang sedang menyanyikan lagu-lagu cinta. Esa tersipu malu saat Bang Garin menyanyikan lagu bagai sebuah rayuan gombal untuknya. Suara membahana memekakan telinga.


Fia yang usil pura-pura sesak dan memegangi perutnya bersandar pada kursinya.


"Aahh.. aduuhh.. perut Fia sakit Bang..!!"


Seketika Bang Sanca kaget bukan main.


"Ryan.. Ryan dimana???" teriaknya karena panik.


blaapp..


Lampu gedung mati seketika. Percikan api terlihat sedikit menyambar sound sistem.


"Fiaa..!!"

__ADS_1


bruugghhh..


"Fiaaaa....!!!!!" teriak Bang Sanca.


Tak lama lampu kembali menyala.


"Pooott.. toloong..!!!!"


Bang Sanca menoleh ke sekitarnya.


"Astagfirullah hal adzim.. Gariiinn..!!!" secepatnya para anggota menolong Bang Garin yang tertimpa sound sistem karena kakinya tersangkut kabel mic.


"Abaang.. " Esa tak bisa berbuat apapun karena sahabat Fia itu sedang menggendong bayinya.


...


"Makanya kalau masih panik tuh nggak usah banyak gaya" tegur Fia melirik Bang Sanca yang masih dalam mode panik.


"Jangan main-main dek..!! Abang nggak suka bercanda mu itu..!! Kamu serius atau bohong??? Abang panggilkan ambulans ya??"


Para tamu undangan tertawa melihat kepanikan Bang Sanca apalagi Bang Garin yang sedang di obati keningnya karena tertimpa sound sistem.


"Fia nggak apa-apa. Sana nyanyi di panggung terus nyawer dua puluh ribu" ucap Fia.


"Sudah to dek.. jangan marah terus. Abang cuma bercanda lho tadi" Bang Sanca memegangi tangan Fia.


"Heehh cablak.. sudah buat huru hara di acaraku, masih tebar fitnah, apa coba maunya" tegur Bang Sanca.


"Mau lihat lu susah. Hahaha.."


"Dasar teman durhaka lu..!!"


Tak lama ada seorang wanita berdiri di hadapan Fia dan Bang Sanca. Ia tersenyum manis di hadapan suami Fia itu.


"Selamat atas pernikahanmu ya Bang..!!" kata wanita itu kemudian mencium pipi kanan dan kiri Bang Sanca tanpa sempat Bang Sanca menghindarinya.


Bang Sanca melirik Fia, cemas istrinya akan marah karena sikap Wina.. penyanyi cafe yang sering ia goda dulu. Ternyata dugaan Bang Sanca salah.. Fia tetap santai seolah tak peduli sambil menyantap buah-buahan segar di hadapannya.


"Naik yuk Bang..!! Nyanyi seperti dulu" ajak Wina kemudian meraba kantong Bang Sanca seperti mencari sesuatu. Tangan Bang Sanca pun menepisnya.


"Aku di sawer berapa Bang..!!"


"Uhuuukk.." Bang Garin tersedak cemas karena tak menyangka Wina akan seberani itu di hadapan Bang Sanca padahal ini adalah acara pernikahan sahabatnya itu.


"Pinjam suaminya ya mbak. Mau nostalgia nih" kata Wina tanpa rasa sungkan.

__ADS_1


"Silakan mbak.. bawa aja" senyum Fia begitu tulus dan manis.


"Bang Ryan.. tolong ambilkan Fia minum donk..!!" ucapnya manja pada Bang Ryan membuat Bang Sanca panas mendidih.


Bang Ryan yang tidak tau apa-apa pun segera mengambilkan Fia air minum.


"Ini dek.."


"Abang.. nanti tolong bilang ke resepsionis hotel ya. Fia capek sekali.. nggak mau di ganggu dan pengen tidur sendiri. Kamar pengantin nya bagus sekali lho Bang." kata Fia dengan wajah cerianya.


"Garin.. selesaikan perkara yang kamu buat..!!" perintah Bang Sanca.


"Kalian yang bagian sound sistem.. tolong kalau bisa makhluk satu ini di timpa bass..!!"


Para anggota menunduk menahan tawanya karena tidak berani menatap langsung ekspresi wajah cemas Kapten Garin dan wajah waspada siaga satu Kapten Sanca.


Bang Garin segera menarik tangan Wina menjauh dan mendapat lirikan mematikan dari Esa. Seketika Bang Garin melepaskan tangan Wina. Posisinya kini serba salah sampai Bang Anjar tertawa lepas.


"Makanya jangan celamitan"


"Oohh.. itu wanita impian dalam bayangan Abang??" tegur Rhea. Tawa Bang Anjar hilang seketika.


"Ma**us lu..!!" gumam Bang Sanca dengan puasnya karena tidak susah sendirian.


Tau dirinya hanya menjadi bahan tameng Fia, Bang Ryan tersenyum tipis sambil mengusap pipi Fia.


"Eeheem..!!" Bang Sanca berdehem menegur Bang Ryan.


"Sampai kapan Abang terus mencemburui ku?" tanya Bang Ryan.


"Minimal sampai Fia tidak bergelayut manja lagi padamu" jawab jujur Bang Sanca.


"Kapan Fia bergelayut manja?? Abang saja yang terlalu cemburuan"


"Abang orangnya santai."


Bang Sanca masih berdiri dengan gayanya yang sok cool dan gengsi mengakui bahwa dirinya masih benar-benar cemburu.


Bang Ryan sedikit membungkuk, refleks badan Bang Sanca menghalangi gerak Bang Ryan.


"Apa sih Bang.. sensi aja. Tali sepatuku lepas nih. Posesif amat ya jadi laki" kata Bang Ryan tersenyum geli menggeleng merasakan sikap Bang Sanca.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2