Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
50. Salah lagii..!!


__ADS_3

Bang Sanca dan kedua sahabatnya berdiri dari posisinya, mereka baru saja push up melaksanakan hukuman dari Dan Zaldi.


"Makanya punya mulut itu di jaga sekalipun hanya untuk menghindari pertengkaran, masalah ataupun entahlah bagaimana caramu menyebutnya" kata Dan Zaldi.


"Siap salah Dan..!!" jawab ketiga perwira tersebut.


...


"Abang hanya duduk-duduk saja dek. Nggak nyanyi, nggak macam-macam juga. Garin sama Anjar yang nyanyi" Bang Sanca mengikuti langkah Fia.


"Terserah Abang mau bilang apa. Fia malas dengar alasan Abang"


Cckk.. mati konyol aku kalau sudah begini.


"Neeng.. pelan jalannya..!! Ya sudah lah, Abang salah, semuanya memang Abang yang salah. Sudah ya marahnya" Bang Sanca mengikuti langkah Fia, di seberang sana. Bang Garin dan Bang Anjar pun tak kalah kebingungan meminta maaf pada istri masing-masing.


"Maafin Abang donk yank.. Abang cuma nyanyi" kata Bang Garin.


"Tapi Abang nyawer khan?" tanya Esa.


"Iya.. tapi di modalin Sanca dua ribuan kali sepuluh lembar" jawab Bang Garin sejujur jujurnya.


Lirikan Fia langsung mengarah pada Bang Sanca.


"Gariiinn..!!!! Aku belum baikan nih. Jangan buat keributan lagi kenapa sih??" gumam Bang Sanca.


"Cuma dua puluh ribu dek. Yang merah khan kamu bawa semua" Bang Sanca benar-benar mati kutu dan cemas saat tau wajah Fia sudah tidak bersahabat.


"Aaaahhh.. bodo amat. Fia meninggalkan Bang Sanca yang sudah tak tau bagaimana lagi cara membujuknya.


"Aaiisshh.. Bikin masalah aja Rin. Pusing gue" gerutu Bang Sanca kemudian berjalan cepat kembali menyusul Fia.


"Abang ini memang racun ya..!! Apa Abang merasa masih bujangan sampai harus punya nyawer begitu??" tegur Esa.


"Nggak dek.. Idenya dari Anjar, uangnya dari Sanca.. Nah Abang yang nyawer" kata Bang Garin seketika mendapat tatapan maut dari semuanya. Fia pun sampai menghentikan langkahnya.


"Hebat ya om-om ini..!!!!" lirik Fia.


"Pulaaaang..!!!!!"

__ADS_1


...


Sore itu Bang Anjar sedang mengelap kaca rumahnya dengan kemoceng, Bang Garin menyapu halaman rumah sedangkan Bang Sanca mengepel teras rumah.


"Ini semua gara-gara kau. Sekarang mana ada aku terlihat gagah" gerutu Bang Anjar.


"Kau khan tau istri kita itu Intel. Bertemu wanita saja sudah bikin runyam, apalagi sampai ketauan nyawer" sambung Bang Sanca.


"Kalian ini benar-benar ya. Kita itu berdosa bersama. Yang jadi masalah besar itu bini lu San. Bini gue mah anteng" jawab Bang Garin.


"Kalau nyawa lu pengen selamet, jangan coba-coba bawa Fia. Ini saja hukuman gue belum selesai. Apa kau mau coba rasa kena labrakannya Fia??? gue jamin rambut cepakmu itu langsung rontok"


"Apa sebut nama Fia???" teriak Fia dari dalam rumah.


"Apa kubilang.. diam..!!!!" Bang Sanca cemas tak ingin ribut lagi dengan Fia. Bukan karena takut istri, tapi dirinya lebih menjaga agar dirinya tidak ribut dengan istri kecilnya.


...


Malam ini Fia masih jengkel sekali melihat wajah Bang Sanca. Tak tau kenapa wajah tampan suaminya malah membuat perasaannya terganggu.


"Abang nggak ada ide rubah tatanan rambut atau ubah settingan wajah?" ucap Fia ketus.


"Fia mau lihat Abang pakai kumis"


"Lah kamu khan nggak suka Abang pakai kumis? Katamu Abang seperti lele?" jawab Bang Sanca.


"Fia nggak mau lihat wajah Abang yang itu, Fia terbayang-bayang senyum Abang yang gemas waktu gangguin cewek itu" wajah Fia sudah penuh dengan bayangan yang tidak-tidak. Fia menegakkan dagunya dengan angkuh dan memalingkan wajahnya menghindari Bang Sanca.


"Naah khan.. kenapa makhluk namanya perempuan suka sekali cari perkara. Buat apa Abang senyum gemas nggak jelas sama mereka? Yang ada Abang nih gemas lihat tingkahmu" kata Bang Sanca.


"Dua puluh ribu Abang habiskan untuk nyawer. Duit yang nggak sampai ke istri tapi malah Abang sampaikan ke wanita lain"


"Lailaha Illallah.. dua puluh ribu saja bikin petaka. Bagaimana kalau dua juta lepas. Mungkin sekarang rambut Abang ini sudah kamu babat habis." gerutu Bang Sanca sambil mengacak rambutnya.


"Jangankan rambut atas semua rambut Abang Fia babat kalau Abang berani bertingkah seperti itu lagi..!!" ancam Fia sambil berlalu meninggalkan Bang Sanca.


***


Tiga hari telah berlalu. Wajah Bang Sanca terlihat kusut dan kusam. Ia memijat tengkuknya yang terasa berat. Sejak kemarin perutnya pun perutnya kembung dan tidak nyaman. Fia masih tetap mendiamkannya membuatnya begitu frustasi. Melihat wajah littingnya murung, Bang Anjar menenteng gagang sapu pada pundaknya.

__ADS_1


"Kusut amat wajahmu, nggak dapat jatah dari Fia lu yee" ledek Bang Anjar.


"Cckk.. jangan bahas itu lah, malas gue. Apalagi dari tadi gue kena semprot Bang Hisam terus. Makin puyeng aja" ucapnya kesal. Di hisapnya rokok kuat-kuat, pekerjaannya jadi semrawut sampai dirinya tidak bisa menyelesaikan tugas dengan benar.


Tanpa rasa bersalah, Bang Garin melintas di hadapan dua pria galau itu sambil menyeret daun kelapa kering lalu berdiri tepat di hadapan Bang Sanca.


"Pasti bini masih ngambek yaaa..!!!" wajah Bang Garin terlihat seperti sedang mengejek.


"Sudah baikan lu??" tanya Bang Sanca kesal.


Seketika Bang Garin duduk lemas di atas rumput.


"Hhhh.. jangankan baikan, tiap malam gue tidur di tikar"


"Nanti malam kita tidur di barak aja yuk sama bujangan..!! hitung-hitung flashback masa muda kita" ajak Bang Anjar.


"Visi Misi kita apa? Nggak mungkin khan kita tiba-tiba masuk barak. Kudu ada ijin Bang Hisam lah pot. Ketahuan donk kalau kita lagi ribut sama bini" tolak Bang Sanca tidak setuju.


"Tapi di rumah pun kita di sia-sia. Mereka tidak butuh kita lagi. Kita ini suami yang teraniaya dan sudah di telantarkaaan..!!!!" jawab Bang Garin menggebu bagai menyerukan kemerdekaan saking jengkelnya.


"Ayo kita bersatu memberi pelajaran sama istri.. karena bersatu kita teguh.. bercerai itu pantang..!!"


"Kalau kau berani.. sok atuh masuk barak..!! aku mah pikir-pikir ulang" kata Bang Anjar yang mulai berubah pikiran.


"Istrimu baru lahiran. Lha aku momong istri hamil, mana rewel beneer. Kalau sampai ada apa-apa, aku juga yang repot" Bang Sanca benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran Garin.


Bang Sanca memercing kesakitan begitu merasakan perutnya yang terasa melilit menekan ulu hati.


"Aarrgghh.. tolong bantu aku..!!!!"


"Ya Tuhan kami.. kenapa lagi kau ini..????" Bang Garin membantu suami Fia itu untuk berdiri.


"Aku mual sekali.." rasanya Bang Sanca tak tahan lagi merasakan tubuhnya yang tiba-tiba drop.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2