Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
96. Menyimpan amarah.


__ADS_3

Berko"Enak lah.." Bang Ibra menghabiskan sarapan yang di masak Ola untuknya. Nasi, telur ceplok dan sambal kecap.


Ola tersenyum melihat kesederhanaan suaminya. Selama bersama Bang Ibra, pria itu tidak pernah membuatnya repot. Makanan apapun yang ia masak selalu di habiskan tanpa sisa.


"Tambah lagi Bang?" tanya Ola.


"Cukup.. Abang mau lari pagi." jawab Bang Ibra.


"Nanti imunisasi jam berapa? Abang jemput pas jam nya aja ya. Pekerjaan Abang banyak sekali"


"Ola sendiri saja Bang."


"Panas dek. Nanti sama Abang saja" jawab Bang Ibra.


Mata Bang Ibra melirik Ola dari atas sampai ke bawah. Sungguh beberapa hari ini pikirannya begitu liar tidak bisa melepaskan Ola. Tak tau bagaimana bentuk badan Ola dulu. Yang jelas sekarang ia lebih menyukai Ola yang sangat sesuai dengan seleranya.


Usai sarapan, Bang Ibra berdiri dan masuk ke toilet. Ia memperhatikan wajahnya sendiri.


"Aku ganteng khan?? Ola hanya mencintaiku khan?" gumamnya terus bertanya dalam kecemasan. Ia membuka kancing seragamnya lalu menaikan kaos loreng nya. Sesekali badannya miring ke kanan dan ke kiri.


"Sudah oke belum sih?? Ola sudah pernah kena laki-laki lain. Aku harus berusaha keras biar dia klepek-klepek sama aku."


"Ngomong-ngomong.. Apa sebaiknya aku coba saja lah pemberian Bang Garin."


~


"Sakit perut Bang?" tanya Ola saat Bang Ibra belum berangkat kerja dan masih menghabiskan teh hangat di atas meja.


"Iya nih. Abang ijin saja tidak apel pagi ke Bang Sanca. Nanti baru masuk. Kerjaan Abang banyak sekali" jawab Bang Ibra beralasan. Ia meremas bungkus kecil di tangannya lalu menyimpannya dalam saku celana.


"Ya sudah Abang ganti pakaian terus istirahat di kamar" kata Ola.


//


Bang Ibra gelisah tatkala tubuhnya memanas dan menegang.


"Astagfirullah hal adzim.. obat apa sih ini. Badanku nggak karuan." gerutu nya kembali beralih posisi. AC sudah dalam posisi paling dingin tapi tetap tidak bisa menyelamatkan gemuruh yang berdegup kencang di dadanya.


"Ya Tuhan.. apa ini reaksi vitamin setan? Aku kepikiran Ola terus"


Masih dalam pikiran yang berseliweran tidak jelas, Ola masuk dan menidurkan baby Nasya di box bayi. Bang Ibra kembali memandangi Ola dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Aaahh.. Abaang..!! Abang nggak tidur?" begitu terkejutnya Ola saat Bang Ibra memeluk nya dari belakang dan mendekapnya erat.


"Nggak bisa tidur sayang. Temani Abang tidur ya..!!" sikap Bang Ibra mulai tak terkontrol lagi.


"Semalam khan sudah Bang" Ola lumayan takut melihat perubahan Bang Ibra sebab tatapan mata itu pernah berakhir menyakitinya.

__ADS_1


"Sebentar saja." Bang Ibra mengangkat Ola ke atas ranjang.


...


Sesekali Bang Ibra masih mengerjabkan matanya merasakan campur aduk mulai atas kepala hingga ujung kaki.


"Ibra.. kamu belum cek anggota yang mau aplosan? Laporannya mana?" Bang Sanca menegur kakak iparnya.


"Iya Bang, belum sempat. Saya minta waktu sebentar. Kepala saya puyeng" ucapnya jujur, matanya melihat jam tangan. Sebenarnya sekarang sudah waktunya mengantar Ola untuk imunisasi Nasya, tapi badannya sungguh tidak bisa di ajak kerjasama.


"Ya sudah, Abang tunggu ya..!!"


Bang Sanca mengambil bungkus kecil dari saku bajunya lalu menelannya sambil menenggak air mineral.


"Bang.. itu vitamin dari Bang Garin???" tanya Bang Ibra.


"Iya.. kamu tau??" Bang Sanca balik bertanya.


"Allahu Akbar.. jangan di minum Bang..!! Obat jahanam itu..!!! Saya sudah mau mati ini.." Bang Ibra sampai tidak tau lagi bagaimana caranya menetralkan tubuhnya dari 'racun' kiriman Bang Garin.


"Yang benar saja. Berapa jam reaksinya???"


"Tiga puluh menit" jawab Bang Ibra.


...


"Uuuhh.. panasnya..!!!!" Bang Sanca mengusap dadanya, ia sudah hampir muntah minum tiga kotak susu.


"Abang mana tau lah. Yang penting khan susu." jawab Bang Sanca.


"Lebih baik Abang pulang. Cari selamat di rumah..!!" saran Bang Ibra.


"Astagaaa.. apa sih maunya Garin???" gerutu Bang Sanca.


...


Ada seulas nafas kelegaan dari Bang Sanca namun seakan masih ada rasa yang tertinggal, yang tak bisa ia uraikan bagaimana rasanya. Tubuh lemas tak bertenaga. Hanya selesai tidak selesai yang ia rasakan saat ini.


"Tolong ambilkan ponsel Abang. Hubungi Garin..!!"


"Ada apa Bang??" tanya Fia cemas. Ia masih mengancingkan pakaiannya lalu bergegas menyerahkan ponsel Bang Sanca.


~


"Lu mau buat gue mangkat.. haaahh????"


"Wuuiisshh.. berarti reaksinya jelek donk. Kalau begitu gue jangan coba minum itu pil neraka" jawab Bang Garin.

__ADS_1


"Jadi maksudnya lu nggak pernah pakai pil ini??? lu ngumpanin gue sama Ibra jadi kelinci percobaan????" bentak Bang Sanca.


"Jangan salah tangkap bro, maksud gue baik..!!"


"Baik pala lu..!!! Dua kali gue buyar tandangin istri gara-gara lu..!!!" ucap Bang Sanca keceplosan.


"Makanya.. apa-apa tuh Bismillah dulu..!!" jawab Bang Garin dengan tawa renyahnya lalu mematikan panggilan telepon Bang Sanca secara sepihak.


"Setaaaaannnn..!!!!" Bang Sanca membanting ponsel saking kesalnya.


-_-_-_-_-


Usai apel sore ada sebuah mobil memasuki kawasan Kompi. Beberapa orang turun lalu berjalan masuk ke ruang Danton sesuai arahan penjagaan pos depan.


"Masuk..!!" perintah Bang Ibra disana.


Terlihat dua orang yang nampaknya familiar di mata Bang Ibra sampai beberapa saat kemudian ia menyadari siapa tamu yang datang ke ruangannya.


"Silahkan duduk..!!" perintah Bang Ibra masih formal dan sopan.


"Ada yang bisa saya bantu??"


"Ternyata selingkuhan mantan menantu saya itu berpangkat ya. Pantas dia memilih mu daripada dengan anak ku" sindir ibu almarhum mantan suami Ola.


"Ada kepentingan apa? Jika tidak ada sesuatu yang penting silakan keluar. Saya sedang sibuk" jawab Bang Ibra.


"Saya ingin menemui Nyonya Ibra dan meminta perhiasan mas kawin dari anak saya Basri." kata Ibu Bang Basri.


"Berapa totalnya?" tanya Bang Ibra.


"Empat juta lima ratus ribu rupiah dan saya dengan kesepakatan keluarga.. saya ingin Ola menandatangani surat agar sampai kapanpun dia tidak meminta nama keluarga di anak haramnya" jawab ibu Bang Basri dengan sombongnya.


Bang Ibra tersenyum sinis.


"Mahar empat juta lima ratus ribu saja di ributkan, malah sekarang mau di minta." Bang Ibra membuka laci nakas lalu mengambil uang cash yang sengaja ia hitung di hadapan mantan mertua istrinya.


"Ini lima juta rupiah, silakan saja di ambil sisanya untuk beli es teh di luar, terus terang disini saya hanya minum softdrink, tapi berhubung melihat usia anda yang sebentar lagi hampir tertimbun di tanah, jadi terpaksa tidak sediakan minum apapun.. khawatir alergi"


Wajah mantan mertua Ola seketika berubah kesal dan marah.


"Oiya.. satu lagi..!! Kalian tenang saja. Ola itu istri saya dan Nasya adalah putri saya. Anda tidak perlu cemas mereka akan mencari anda karena Oma Opa Nasya itu bangsa manusia. Bukan golongan sundel bolong.. Terima kasih"


Tak ayal jawaban Bang Ibra membuat mantan mertua Ola itu murka setengah mati.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2