Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
87. Besarnya rasa cinta.


__ADS_3

"Siap salah Dan..!!"


"Jangan sampai kamu buka mulut tentang keributan di club malam itu. Saya nggak mau istri saya banyak mikir dan ingin dia fokus pada anak kami saja" kata Bang Sanca.


"Siap..!!"


Kejadian keributan di cafe itu terjadi karena Om Raiz mabuk dan terlibat perkelahian dengan anggota angkatan lain yang di picu oleh masalah wanita. Saat pemilik cafe datang dan ingin melerai, keributan itu semakin menjadi.


Tepat Bang Sanca sampai disana bersama beberapa orang anggota nya, anggota lain yang sedang berkelahi dengan Bang Raiz tak sengaja menusuk Bang Sanca dengan pecahan botol sebanyak dua kali hingga perut Danki itu sobek dan mengeluarkan banyak darah.


Om Hega dan Om Indra begitu salut dengan ketenangan Danki mereka untuk meminimalisir darah semakin deras keluar bahkan sanggup mengontrol kesadarannya dengan baik.


Tak lama Fia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangis baby Rara yang menginginkan ASI.


"Kami ijin meninggalkan tempat Dan..!!"


"Oke.. silakan. Terima kasih ya..!!"


"Siap..!!"


***


Sampai di kontrakan, Ola masih terombang-ambing memikirkan kejadian hari ini. Hatinya resah, gelisah, takut semua berkumpul menjadi satu. Ia kembali mengingat kejadian di kamar bersama Bang Ibra tadi pagi. Saat perutnya terasa kencang, Bang Ibra membawanya ke dalam kamar. Pria itu membuka kerudungnya dan memijati badannya. Penolakannya pun tak berarti.


flashback on..


"Jangan Bang.. Ini salah..!!" tolak Ola.


"Abang tau, sudah..!! Jangan banyak pikiran..!!!" Bang Ibra mengalungkan kedua tangan Ola di belakang lehernya, tangannya tak berhenti memijat punggung Ola.


"Enak dek?"


Ola mengangguk pasrah, seketika tegang di perutnya menghilang seolah bayinya itu paham jika pria itu mencintai nya.


Tanpa sadar kedua pasang mata mereka saling menatap. Bang Ibra melihat wajah sendu Ola, tatapan mata yang haus kasih sayang dan perhatian. Perlahan tapi pasti, bibir Bang Ibra menyentuh lembut bibir Ola. Ia memahami gemetar dari respon Ola untuknya, Bang Ibra pun terus melanjutkan 'perhatiannya' untuk Ola.


Biar surga dan neraka ku, aku yang menanggungnya Ola. Aku tau apa yang aku lakukan, dan setelah ini.. biar aku yang menanggung semua bebanmu.


Bang Ibra mengunci kedua tangan Ola, terdengar isak tangis dan wajah kecewa disana, wanita itu berusaha menolak Bang Ibra.


"Ola bukan wanita seperti itu Bang"


"Bisakah kamu tidak menyamakan Abang dengan pria yang ada di sekitarmu? Laki-laki memang semua sama. Mereka punya ***** yang sulit untuk di kendalikan, tapi tolong.. Abang bukan pria yang mudah mengobral janji manis. Kenangan Abang bersama mantan Abang, sudah terkubur bersama kepergiannya.. Takdirmu, takdir Abang di masa lalu.. buanglah jauh-jauh. Kita yang masih hidup di dunia, jalani saja takdirNya. Abang menerima dirimu apa adanya. Lahir batin Abang ikhlas akan menyayangimu"


Bang Ibra dan Ola saling berpelukan di atas ranjang, tangis pedih Ola membuat Bang Ibra ikut menitikan air mata. Di belai nya dengan lembut punggung Ola, entah apa yang ia rasakan saat ini.. semua berjalan begitu saja.


"Bumilku.." gumamnya pelan. Bang Ibra pahami reaksi bumil yang memeluknya dengan erat. Merasakan gerak tubuh Ola, Bang Ibra tau.. si cantik Ola sungguh membutuhkan belai hangat seorang pria.

__ADS_1


"Percayalah takdir Tuhan. Ikhlaskan semua dek..!!" dengan sadar.. Bang Ibra memberikannya meskipun ia harus berjuang keras menahan diri demi bumil cantiknya.


flashback off..


"Kenapa? Ayo masuk..!!" ajak Bang Ibra.


"Bang.. masih ada waktu untuk mengubah keputusan Abang" kata Ola.


"Kamu ini kenapa? Sebentar begini, sebentar begitu.. Laki-laki itu tidak semuanya buaya, Abang golongan tokek.. puas kamu..!!"


"Tidak malu kah Abang dekat dengan janda?" tanya Ola.


"Yang penting perempuan"


"Ini bukan anak Abang"


Bang Ibra menoleh menatap Ola.


"Ya terus kenapa? Bayi itu nggak salah. Dia tetap suci.. kamu jangan mempersulit dirimu dengan semua pikiran konyol mu. Tidak ada yang mau jadi seorang janda apalagi sampai mengandung seperti ini? Apa yang perlu di sesali? Mulai sekarang jangan ada kata tidak bermutu seperti itu. Tekankan dalam batinmu.. ada Abang di hidupmu.. dan kamu hanya milik Abang. Titik..!!!!" Bang Ibra meninggalkan Ola ke arah belakang rumah, ia kembali mengontrol keadaan rumah agar tidak terjadi sesuatu yang berbahaya saat ia tinggalkan kembali ke mess malam nanti.


Ola terpaku namun ada seulas senyum menghias wajah cantiknya.


***


plaaaakk.. buugghhh..


Sekuat-kuatnya Bang Sanca berdiri, luka yang seharusnya sudah mengering kembali terluka karena hantaman Wadan.


"Bodoh sekali kamu. Apa anggota mu tidak bisa di tertibkan sampai tengah malam kelayapan dan ribut dengan anggota lain, yang lebih parah malah baku hantam dengan warga sipil. Apa saja kerjamu Sanca????" bentak Wadan.


"Siap salah Dan..!!"


"Turun kamu ke Jawa.. masuk pelosok daerah bersama anggotamu yang terlibat di TKP. Jaga pesisir sampai kewaspadaan mu muncul..!!"


"Siap laksanakan Dan..!!" jawab Bang Sanca harus ikhlas menerima keputusan komandan.


...


"Kamu sama aku pindah, bawa Hega dan Indra juga??" kata Bang Garin menegaskan.


"Iya pot, sudahlah jangan banyak bicara. Semua ini resiko kita." jawab Bang Sanca sudah pasrah.


"Aduuhh sakit Ry, pelan sedikit...!!"


"Ini pelan Bang.." Bang Ryan terpaksa harus menjahit ulang luka Bang Sanca.


"Bagaimana ini? Packing harus cepat, mana luka ku semakin parah" gumam Bang Sanca.

__ADS_1


"Ada obat kuat nggak Ry??" tanya Bang Sanca.


"Inii... kuat apa maksudnya Bang?" pikiran Bang Ryan berkelana kemana-mana.


"Ya kuat angkat barang to Ryan..!!! Abang nggak mikir begituan. Terasa berkurang sakitnya saja sudah syukur" jawab Bang Sanca.


"Oohh.. kirain Bang"


"Ada Bang.. tapi dosisnya saya kurangi ya. Paham khan Abang?" lirik Bang Ryan.


"Iyaa.. sudahlah cepat resepkan..!!"


...


"Pindah lagi ya Bang? Ada apa?" tanya Fia kaget saat mendengar berita dari Bang Sanca.


"Abang kena kasus dek" jawab Bang Sanca akhirnya mengakui masalah yang sedang ia hadapi saat ini.


"Mantanmu itu ribut di cafe dan sekarang Abang di mutasi karena di anggap lalai mengarahkan anak buah"


"Bukannya Abang yang kena tusuk?" tanya Fia.


"Kok kamu tau??" Bang Sanca sampai melotot sebab ia benar-benar merahasiakan semua ini dari Fia. Sungguh ia tidak ingin Fia kepikiran masalah ini.


"Bang Garin cerita kemarin" jawab Fia.


"Astagfirullah.. asem tenan si Garin. Lambe codhot.. Abang saja yang suamimu masih pikir-pikir dulu mau cerita, kenapa malah dia yang berkoar kencang seperti toa masjid???" gerutu Bang Sanca.


"Biar saja lah Bang, yang penting sekarang Abang sudah baik-baik saja. Apapun yang terjadi, Fia bangga sama Abang karena selama menjadi Danki disini.. Abang tidak pernah lepas tangan dan selalu merangkul anggota Abang dengan baik." Fia menyandarkan Bang Sanca di perutnya, di belainya rambut cepak suaminya itu.


"Fia ini istri Abang.. lain kali, jangan di pendam semua rasa sedih Abang."


"Iya sayang, maafin Abang ya..!!"


"Sekarang mana yang sakit?" tanya Fia.


"Nggak ada Neng"


"Abang bohong lagi? Kata Bang Garin luka Abang terbuka lagi?"


"Ya Tuhan.. Gariiiiinn.. bisa nggak sih mulutnya saja yang di jahit" gerutu Bang Sanca saking kesalnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2