Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
13. Lalu harus bagaimana?


__ADS_3

"Kamu yang terlalu ribet. Kamu khan bisa bilang Abang sudah punya istri."


"Nanti ketahuan donk Bang kalau Fia sudah menikah"


"Memangnya dia tau kalau kamu istri Abang? Pakai akalmu neng..!!"


"Terus kalau ad perempuan yang suka sama Abang.. Abang mau bilang apa?"


"Kamu lihat nggak ini di jari manis Abang ada cincin. Mata mereka pasti tau, laki-laki yang sudah pakai cincin pasti ada yang memiliki" jawab Bang Sanca. Fia baru berhenti mengajak Bang Sanca berdebat setelah mengatakannya.


"Abang sudah bilang, bagi Abang pernikahan itu bukan permainan. Apa itu belum cukup?? Yang begitu bukan selera Abang"


"Terus.. selera Abang yang bagaimana??" Fia duduk mendekati Bang Sanca. Bahunya menyenggol lengan Bang Sanca penuh godaan setan.


Bang Sanca tersenyum kemudian menariknya kembali.


"Rahasia..." jawab Bang Sanca kemudian memantau informasi di ponselnya.


"Iihh.. Abang"


"Dek, mana berkas data dirimu..!!" pinta Bang Sanca. Beberapa hari yang lalu surat dari KUA sudah resmi keluar dan Bang Sanca pun berniat menaikan status Fia dalam hukum militer. Selama ini tidak ada yang tau tentang hubungan yang terjalin antara dirinya dan Fia. Yang para anggota ketahui adalah Bang Sanca bertugas sebagai ajudan pribadi Dan Zaldi.


"Mau apa Bang?"


"Abang mau coba naikan namamu jadi istri Abang"


"Lho.. bukannya belum bisa ya Bang karena Fia belum banyak memenuhi syarat" jawab Fia heran.


"Iya dek. Tapi sampai kapan kita mau kucing-kucingan seperti ini. Abang ini laki-laki, takut ada lupanya dan......"


"Apa Bang??"


"Sudahlah.. mana berkasnya, percayakan sama Abang. Mudah-mudahan semua baik-baik saja"


"Bang.. tidak malukah Abang punya istri anak-anak seperti Fia?" tanya Fia.


"Apa perlu berkali-kali Abang perjelas. Ini terakhir kali Abang ucapkan. Sudah jodohnya kita di pertemukan. Tidak pernah Abang sesali dan Abang sangat bersyukur sudah di pertemukan dengan makhluk ciptaan Tuhan seindah kamu" jawab Bang Sanca.


Fia tersenyum ringan dan segera mengambil berkasnya.


***


"Nggak bisa San. Paling tidak usia delapan belas tahun lah. Itu minimal dalam aturan kita. Tujuh belas tahun itu bisa apa? Dasar organisasi saja mungkin belum mampu. Lagipula kenapa seleramu itu harus yang di umur segitu sih San" tegur Danyon.


"Tolong lah Bang. Masa iya Abang mau halangi orang mau beribadah" kata Bang Sanca.


"Saya nggak masalah San. Tapi kalau markas pusat tau, kau pun bisa habis" jawab Bang Hisam selaku Danyonnya.


"Aduuhh.. atau jangan-jangan kamu sudah nyicil ya San?" tanya Danyon memastikan.


Bang Sanca terdiam belum bisa menjawab pertanyaan dari Komandannya itu.

__ADS_1


...


Dari pagi hingga jam pulang kerja, Bang Sanca di pusingkan dengan masalah ini. Ia menyendiri, tak enak makan dan terus memikirkan Fia. Selama empat bulan ini dirinya keluar masuk hotel tanpa melakukan apapun. Bukannya ia tidak menginginkan hal itu, tapi ia tidak ingin ceroboh menyakiti Fia meskipun sah saja ia melakukannya.


"Duuuh Fiaa.. Abang harus bagaimana dek. Masa iya Abang harus hamili kamu dulu biar di acc pengajuan nikahnya. ya Abang nggak mau dek. Abang maunya kita lakukan itu suka sama suka. Kamu ikhlas melayani kebutuhan Abang dan Abang memberimu rasa sayang"


//


Di ujung gang menuju rumah Papa Zaldi, Bang Sanca melihat Anjar menghentikan langkah Fia.


"Demi Allah sejak dulu hingga saat ini, Abang hanya mencintaimu Fia. Kamu khan sudah Abang beritau alasannya kenapa Abang menikahi ibunya Syakila" kata Bang Anjar meraih tangan Fia.


"Fia sudah tau Bang. Tapi Fia sudah ada yang punya, dan lagi. Ibu Abang tidak bisa menerima kehadiran Fia"


"Kapan ibu bilang begitu. Ibu suka sama kamu. Kamu hanya menolak Abang karena Abang seorang duda khan?" Bang Anjar frustasi sampai memegang erat pergelangan tangan pria.


"Lepas pot..!!" Bang Sanca menarik Fia ke belakang punggungnya.


"Apa gunanya menakuti perempuan? Fia sudah tidak mau lagi sama kamu. Jangan paksa dia"


"Kamu khan tau sejak dia masih SMP pun aku sudah jatuh hati padanya San"


"Tapi dia sudah milik orang lain" kata Bang Sanca menegaskan.


Bang Anjar terhenyak dan menatap kedua bola mata Bang Sanca.


"Apa kamu orangnya?? Apa kamu yang membuat Fia berpaling dariku San???"


"Kalau iya kenapa An.. Jika Allah berkehendak demikian.. tidak ada yang salah" jawab Bang Anjar.


"Kamu keterlaluan pot. Kamu tau sejak dulu aku sangat mencintai Fia lebih dari apapun" Bang Anjar yang tidak terima terus melayangkan pukulan ke arah Bang Sanca.


"Dinasti Kana Zafia ada tidak bisa kamu ambil lagi Anjar. Seutuhnya.. Dia milik Lettu Sanca" ucap Bang Sanca tegas.


Bang Anjar pergi meninggalkan Fia dan Bang Sanca dengan luka hati yang teramat dalam. Ia tidak percaya ibunya menolak kehadiran Fia.


"B*****t.. berani kau sentuh istriku, kupatahkan tulang lehermu..!!" umpat Bang Sanca geram sambil memegangi perutnya yang terhantam Bang Anjar.


"Sakit ya Bang.. Kita pulang yuk..!!" ajak Fia sambil ikut mengusap perut Bang Sanca.


...


"Kamu sering ketemu Anjar di belakang Abang???" tanya Bang Sanca.


"Nggak Bang.." jawab Fia sambil mengompres perut Bang Sanca di kamar messnya.


Kali ini Bang Sanca tidak mau pulang ke rumah dan terpaksa ia kembali ke mess agar papa mertuanya tidak banyak bertanya.


Penolakan dari Danyon membuat kepalanya sakit, pusing tujuh keliling. Empat bulan pernikahan belum terjadi apapun lagi sejak malam itu. Menahan perasaan bukan hal yang mudah. Hidup bersama wanita pastilah membuatnya begitu tergoda apalagi dirinya pernah melakukannya dengan Fia meskipun belum sempurna.


"Abang terlalu ribet. Kenapa Abang nggak bilang kalau Fia istri Abang. Pakai dini akal Abang..!!" ucap Fia meniru gaya bahasa Bang Sanca kemarin.

__ADS_1


"Ini perempuan benar-benar cari hal ya..!!" gumam Bang Sanca.


"Lagipula Abang ini lama sekali, Sampai sekarang Fia belum juga hamil"


jdeeerrr....


"Kamu kira buat anak itu sekali diaduk-aduk, di pulung langsung jadi??? Itu si eneng Mumun harus silaturahmi sama kang Badrun buat koordinasi. Kalau setuju, rapatnya cocok baru jadi anak. Aaarrghh.. Abang banting juga nih" rasanya dada Bang Sanca sudah geregetan menghadapi Fia yang setiap kali selalu menagihnya bagai seorang deptcolector.


"Terus kapan kita ke dokter?" tanya Fia lagi semakin membuat Bang Sanca sakit kepala.


"Buat apa deek??"


"Abang jangan buat Fia jengkel ya. Mana bisa hamil tanpa dokter" jawab Fia dengan wajah sok pintarnya.


"Aduuhh Tuhan.. Rasanya aku mah mati" gumamnya lirih sambil mengusap dadanya.


"Kamu bisa diam dulu nggak dek. Kalau nggak.. Abang sembur disini juga kamu ya..!!"


...


Bang Sanca tidur pulas di ranjang kecilnya bersama Fia disebelahnya. Keadaan mess di Jum'at sore sudah sangat sepi karena banyak anggota yang keluar kesatrian.


Fia yang tidak bisa tidur sudah bosan dengan televisi yang menyala, melihat Drakor pun malas. Ia mengambil ponsel Bang Sanca di samping nakas.


Dengan mudah ia melihat isinya. Tak ada yang mencurigakan dan tak banyak nomer ponsel wanita di dalamnya. Semua nomer yang ada hanya untuk hal penting saja. Fia tersipu malu melihat nama My sexy wife_Mamanya si junior.


"Panjang amat Bang namanya. Ada yang lebih panjang lagi nggak?" gumamnya.


Fia melihat isi fotonya. Ada file yang tidak bisa ia buka dan hanya ada caption umpatan disana.. mantan_menyakitkan.


Jempolnya men scroll ke bawah, ada caption istriku, belahan jiwaku, kesayanganku, Mama junior dan masih banyak lagi. Senyumnya semakin mengembang saat melihat kesemuanya adalah foto dirinya.


"Ini video apa ya.. " gumam Fia.


:


Fia melirik dan mengintip Bang Sanca yang benar-benar kelelahan dan tidur pulas. Fia membawa ponsel Bang Sanca bersembunyi di bawah bantalnya, ia beralih lagi masuk ke dalam selimut, kemudian beralih lagi ke sisi tembok.


"Ya Allah dek, ngapain aja sih kamu. Kasurnya kecil nih. Abang capek sekali, pengen tidur sebentar" gumam Bang Sanca dengan suara malas khas orang sedang tidur.


"Uusshh.. Abang tidur saja. Fia nonton video Abang ya..!!" kata Fia.


"Iya.. jangan kemana-mana. Kecilkan suara ponselnya. Apalah kamu ini, jam segini Mend***h" ucap Bang Sanca tanpa sadar.


Sesaat kemudian mata Bang Sanca terbuka lebar. Matanya masih memerah.


"Kamu lihat video apa??" tanyanya panik karena menyadari sesuatu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2