
Semakin slow respon. Oke.. Nara juga slow kakak 🥰😘🙏🙏
🌹🌹🌹
Bang Sanca tertidur sembari menggendong baby Rara dengan kain. Wajah lelahnya tidak dapat membohongi Fia. Sampai ketukan pintu di depan rumah tidak di dengarnya.
Fia bergegas membuka pintu rumahnya. Di lihatnya Om Hega berdiri di depan pintu.
"Selamat malam ibu.. Ijin.. Danki ada di tempat?" tanya Om Hega secara formal.
"Iya om.. ada, ada apa ya Om?"
"Ijin ibu, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan dengan Danki.."
Fia masih terpaku karena Bang Sanca baru saja tidur.
"Ada apa Heg?" tanya Bang Sanca. Om Hega melihat Dankinya yang gagah itu sedang menggendong putri kesayangan nya dengan kain.
"Ijin........"
***
"Abaang.. ??" Ola kaget melihat Bang Ibra sudah ada di depan pintu membawa stroller untuk bayinya. Pakaiannya saja masih pakaian olahraga, mungkin Bang Ibra belum sempat berganti pakaian olahraga.
"Ini apa lagi Bang?? Simpan lah uang Abang. Ola sudah terlalu banyak merepotkan Abang" kata Ola merasa tidak enak.
"Abang nggak pernah merasa di repotkan." jawab Bang Ibra.
"Eehh.. bau apa ini? Kamu masak dek??"
"Ya ampun Abang.. Ola masak"
"Pelan dek.. jangan lari..!!" Bang Ibra cemas karena Ola sedikit berlari mengecek masakannya yang sedikit berbau hangus.
:
"Enak kok. Ini nggak gosong dek.. tapi meresap" kata Bang Ibra.
Ola membuatkan Bang Ibra rendang daging dan kentang. Entah bagaimana caranya membalas budi pria yang beberapa hari ini selalu membantunya. Mulai dari pakaian untuknya, barang untuk persiapan kelahiran putrinya, tempat tinggal yang nyaman, sampai uang pun semua di penuhi Bang Ibra.
"Nanti di bawa ke mess ya Bang..!! Bisa Abang makan sama teman Abang disana..!!"
"Mana ada yang berani minta sama Abang kalau Abang nggak nawarin" gumam Bang Ibra.
"Iihh.. jangan pelit kenapa sih Bang..!! Kalau kurang Ola buat lagi untuk Abang" ucap Ola mengingatkan Bang Ibra.
"Oya Bang.. maaf ya.. jangan marah ya Bang. Sekarang pangkat Abang apa ya?"
Bang Ibra tersenyum.
"Kenapa? Apa kamu mau makan pangkat Abang? Mau Abang tamtama sekalipun.. Abang sanggup belikan kamu mobil" jawab Bang Ibra.
__ADS_1
"Buu...kan itu maksud Ola Bang. Hanya jaga-jaga saja. Ola takut salah sebut"
"Semua tentara itu sama saja dek. Pimpinan tanpa anggota juga tidak akan jadi pimpinan, anggota tanpa pimpinan juga tidak akan bisa bekerja.. semua sudah berjalan sesuai porsinya" Bang Ibra melanjutkan kembali acara makannya.
"Oohh.. berarti kalau di umur Abang ini. Kemungkinan besar Abang Pratu ya" ucap Ola dengan wajah polosnya.
"Uhuuukk.." Bang Ibra sampai tersedak mendengar ocehan Ola, ia pun segera menenggak air minum di hadapannya.
"Iya.. kira-kira begitu." jawab nya singkat.
Astaga Ola.. Nggak mungkin khan Abang bilang kalau Abang ini Lettu junior.
...
Ola memegangi perutnya berpegangan pada dinding ruang tamu. Perutnya tiba-tiba mengencang.
"Ada apa dek?" tanya Bang Ibra yang baru kembali dari kamar mandi.
"Kencang sekali perut Ola Bang." jawab Ola.
"HPL masih lama khan dek. Baru delapan bulan kandunganmu"
"Iya Bang, tapi rasanya perut Ola seperti di tekan kencang" ucap jujur Ola.
"Di tekan bagaimana maksudnya? Kalau bilang itu yang jelas dek. Mana bisa Abang bantu kalau omongnya setengah-setengah." Bang Ibra bernada sedikit keras karena panik melihat Ola.
Ola salah tingkah, ia malu luar biasa.. mana bisa ia mengatakan pada pria yang bukan siapa-siapa nya apalagi pria itu baru saja di kenalnya dan ternyata Bang Ibra memahami hal itu.
"Dek.. sekarang hanya ada Abang sama kamu. Abang tau apa yang terjadi di antara kita mungkin tidak selayaknya, tidak pantas untuk di lakukan. Kamu mau panggil tetangga? Mereka taunya kita ini suami istri. Posisimu sulit dek. Kalau Abang laki-laki, kuat saja dengar ocehan tetangga. Abang hanya nggak tahan kalau tau kamu jadi bahan gunjingan orang" ucap jujur Bang Ibra.
Ola pun akhirnya mengalah, ia berjinjit dan berbisik di telinga Bang Ibra.
Tak buang banyak waktu, Bang Ibra mengangkat Ola ke dalam kamar dan menguncinya rapat.
***
Fia berjalan pelan menuju sebuah ruangan di rumah sakit di dampingi Om Hega dan Om Indra. Sesekali Fia mengusap air matanya.
Setelah berdiri di depan pintu kamar, Fia kembali menghapus air matanya dan berusaha tegar. Fia membuka pintu kamar. Di lihatnya Bang Sanca sedang terpejam dengan tangan tertancap jarum infus di temani Bang Anjar dan Bang Garin yang sedang menghubungi seseorang.
"Bang..!!"
Bang Sanca membuka matanya.
"Aduuuhh.. kesini bawa si inces lagi"
"Kenapa jadi begini sih Bang?" akhirnya Fia tidak bisa membendung air matanya.
"Alaah.. cuma tergores sedikit. Ini Abang juga baik-baik saja" kata Bang Sanca menenangkan hati Fia.
"Sekarang dimana Om Raiz?" tanya Fia.
__ADS_1
"Nanti Abang urus Raiz. Dia masih di tangani pihak POM" jawab Bang Garin.
"Sebenarnya ada apa sih Bang? Abang kenapa bisa ribut sama Om Raiz dan warga sipil??" Fia tak sabar lagi mendengar dari mulut Bang Sanca sebab karena kejadian semalam, suaminya itu sampai tertusuk dan terlibat perkelahian di sebuah club malam.
"Sandal Sanca tertukar di toilet, makanya sampai ribut" ucap Bang Garin asal bicara.
Fia diam saja karena pasti ada hal di balik pekerjaan suaminya yang tidak bisa sembarang di ungkap. Tapi masih ada sedikit rasa syukur sebab Tuhan masih berbaik hati menyelamatkan nyawa Bang Sanca.
"Fia mau ngintip donk Bang..!!" Fia sedikit menyingkap selimut Bang Sanca.
"Jangan donk, nanti kelihatan Anjar sama Garin" goda Bang Sanca nakal sembari menarik kembali selimutnya karena ia sedang bertelanjang dada.
"Fia mau intip luka Abang, bukan intip yang lain" kata Fia memasang wajah kesal.
"Intip yang lain juga nggak apa-apa dek. Nggak usah di intip juga pasti Abang buka kalau mama inces yang minta"
Fia menyentil bibir Bang Sanca yang nakal, bisa-bisanya banyak orang seperti ini.. Bang Sanca berucap nakal.
"Awww.. sakit ayank.."
"Itu masih pakai jari Bang, apa mau coba pakai sandal??" ancam Fia.
"Pakai bibir aja" ucap Bang Sanca dengan manjanya.
"Abaaang..!!!!"
***
Ola menangis menutupi wajahnya. Bang Ibra mengusap wajahnya dengan gusar. Sebelah tangannya mengusap perut besar Ola. Jantungnya masih berdegub kencang melebihi ambang batas normal.
"Nggak ada yang tau dek.. Hanya ada kita berdua disini"
"Tuhan tau Bang" jawab Ola.
"Abang kembalilah bekerja, Ola ingin sendiri..!!"
"Abang nggak akan tinggalin kamu. Mungkin sekarang memang kontraksi palsu. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba perutmu kontraksi sungguhan waktu nggak ada Abang"
"Ola bukan siapa-siapa Abang, Ola hanya perempuan yang hanya bisa jadi beban Abang" tangis Ola semakin menjadi.
"Jangan berpikir begitu. Kamu bukan beban untuk Abang."
"Abang tidak mengenal Ola. Pertemuan belum ada seumur jagung.. belum bisa Abang katakan bukan beban" jawab Ola.
"Kita bertemu di tempat yang indah. Di rumah Allah, Kalau kamu mengijinkan.. bolehkah Abang jadi Papinya putri kecilmu..!!" ucap Bang Ibra sungguh-sungguh.
"Baaang..!!!"
.
.
__ADS_1
.
.