
Pelan tapi pasti Fia bisa menyanyikan mars dan hymne dengan benar. Bang Sanca tersenyum dengan usaha Fia yang takut jika dirinya membatalkan janji untuk menikahinya.
"Oke.. sekarang Bu Anjar, Bu Garin dan Bu Sanca bisa melanjutkan ke Danyon untuk mendapatkan pengesahan dan selamat menempuh hidup baru untuk Nyonya sekalian..!!" kata Bu Zaldi.
"Siap ibu. Terima kasih"
:
"Kita jadi duel nggak Bang?" tanya Fia dengan polosnya.
Bang Sanca sampai nyengir dan bingung karena disana masih ada Bang Anjar dan Bang Garin.
"Pulang sono..!! Bini nantangin, sayang kalau nggak di ladenin" ledek Bang Garin.
***
Fia menatap rumah barunya. Rumah yang berhadapan dengan rumahnya yang dulu. Kini rumahnya pun terletak di tengah, di antara rumah Bang Anjar dan Bang Garin.
"Bang.. apakah hidup kita setelah ini akan tenang?" tanya Fia menoleh meminta jawaban yang kemungkinan besar Bang Sanca tak tau jawabannya.
"Insya Allah dek. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tapi tetap segalanya Allah yang menentukan. Abang pun menginginkan segalanya damai tanpa ada halangan suatu apapun" jawab Bang Sanca.
"Ya sudah ayo kita masuk, bersihkan rumah..!! Dari kemarin kamu nantang duel terus khan?"
:
Fia cemberut karena ternyata Bang Sanca malah mengajaknya bercinta dan sekarang suaminya itu malah tidur pulas tanpa mengerjakan apapun seperti ajakan awalnya tadi.
tok..tok..tok..
Fia segera bangkit dan mengintip siapa yang datang ke rumahnya tengah hari bolong begini.
:
"Ada es batu nggak? Panas sekali di luar" tanya Bang Ibra.
"Ada Bang"
"Ada camilan nggak? Abang lapar" tanya Bang Ryan.
"Makanan sekalian Fi. Abang malas keluar" sambung Bang Ibra.
"Bilang saja Abang mau minta makan. Ribet amat" jawab Fia.
"Abang mana Fi? Kok nggak kelihatan dari tadi"
"Ada Bang, kecapekan" ucap Fia tanpa sadar, wajahnya pun bersemu lemas.
__ADS_1
"Nah lhoo.. habis di apa-in kamu sama Abang?" tanya Bang Ryan sembari menginterogasi adiknya yang lugu.
"Nggak di apa-apakan Bang. Yaa.. biasa Bang" jawab Fia salah tingkah malah semakin mengundang tawa kedua Abangnya yang usil itu.
Tak lama Bang Anjar datang.
"San.. pinjam kursi donk..!!"
Berikutnya menyusul Bang Garin datang juga.
"San.. punya paku nggak??" teriaknya melengking.
"Eehh.. ada kalian. Bikin rujak yuk..!!"
:
Suara berisik membuat Bang Sanca terbangun dari tidurnya dan mendatangi suara berisik di luar sana.
"Kalian ini memang tamu paling kurang ajar. Sudah menghabiskan isi kulkas ku, sekarang malah buat berisik di rumahku" tegur Bang Sanca.
"Waahh.. ini dia yang punya rumah. Baru datang sudah ribut, ayo sini gabung..!! Ada rujak buah nih" kata Bang Garin menawari.
Bang Sanca langsung duduk dan menyandarkan kepala Fia yang sedang tidur pada pahanya. Melihat buah segar di nampan, tiba-tiba Bang Sanca tergiur.. rasa buah mangga yang masam begitu menggodanya.
Apa begini rasanya ngidam? Nggak bisa di tahan. Buah mangga ini jadi enak sekali.
Lima belas menit mengobrol tak ada yang menyadari ratusan atau mungkin ribuan semut menyerbu kepala Fia sampai Rhea berteriak.
"Ya Allah Abang.. itu rambut Fia semut semua"
Bang Sanca menunduk melihat semut merah menyerang rambut Fia.
"Astagfirullah.." saking kagetnya, Bang Sanca menarik kakinya hingga kepala Fia terbentur lantai.
dduugghh..
"Awwwhhh.." pekik Fia.
"Hhaaaaaaaaaaa" teriakan Fia karena semut itu menyakiti wajahnya.
"Fiaa..!!!!"
:
"Maaf dek.. Abang nggak sengaja" kata Bang Sanca meminta maaf.
Wajah Fia bentol dan memerah bengkak karena di gigit semut.
__ADS_1
"Kenapa Abang makan rujak di atas kepala Fia?????" Fia memprotes keras kelakuan Bang Sanca.
"Maaf donk sayang..!! Abang nggak sengaja, khan cuma semut"
"Cuma semut???"
plaaakk..
"Ini juga cuma pukulan kecil di lengan Abang" ucap Fia padahal dirinya memukul Bang Sanca sekencangnya.
"Ini sakit Bang..!!"
"Maaf to sayang. Ora sengojo.. tenan. Yo moso to mas mu iki arep gawe ciloko"
"Aaarrghh.. Fia nggak mau tau alasan Abang. Jengkel sekali Fia lihat Abang" pekik Fia. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat.
tok.. tok..tok..
"Abang kasih salep ya dek.." bujuk Bang Sanca.
"Abang pakai saja di wajah Abang. Fia nggak mau, lagi pula itu salep kutu air" kata Fia.
"Haaahh.." Bang Sanca langsung melihat salep yang ia bawa dan ternyata benar, yang sedang ia bawa adalah salep kutu air.
"Aduuhh.. ini punya siapa sih? Mau kuhajar model bagaimana lagi nih? Buat malu saja. Seumur hidup mana pernah aku kutu air" gerutunya.
...
Fia melihat Bang Sanca tidur di sofa. Badannya menggigil karena tidak memakai selimut. Fia mencondongkan badannya sampai wajahnya dan wajah Bang Sanca saling beradu.
"Itu hukuman karena buat wajah Fia bentol. Kalau Fia nggak cantik lagi.. pasti Abang berniat cari perempuan lain" gumam Fia yang masih kesal dengan Bang Sanca.
Tiba-tiba mata Bang Sanca terbuka lebar.
"Kebiasaan.. negatif thinking teruuuss." tegur Bang Sanca.
"Abaaang.. kenapa bangun?"
.
.
.
.
Bab pendek. Lanjut nanti lagi ya 🥰🙏
__ADS_1