
Fia tidur usai Bang Sanca menyuntikkan obat. Bang Sanca mengusap perut datar istrinya yang sedang tidur di atas tanah beralaskan Ponco. Badannya tersandar lemas memikirkan bagaimana
"Saya minta maaf Bang. Saya sungguh tidak tau kalau Fia istri Abang. Yang saya tau, kami tau.. Fia bergabung bersama dinas murni untuk membantu kita" ucap Bang Juned.
"Sudahlah Jun. Jangan di bahas lagi. Sekarang pikiran Abang terpecah karena memikirkan Fia. Mana bisa Fia ikut misi ini dalam keadaan berbadan dua" Bang Sanca menghela nafasnya yang terasa berat.
"Fia pasti sengaja tidak mau bilang sama Abang karena ingin mencari anak kami yang hilang. Tapi bagaimana bisa Fia lolos segala test??"
"Fia pasti bersekongkol dengan orang dalam" kata Bang Garin.
"Saya yang merekomendasikan pada dokter bahwa Fia dalam keadaan baik. Saya tidak tahu kalau rengekan Fia kemarin sebenarnya hanya untuk menutupi kehamilannya" kata Bang Ryan.
"Astagfirullah.. habislah sudah aku ini" Bang Sanca mengacak-acak rambut cepaknya.
...
Fia terus menangis saat Bang Sanca memintanya pulang.
"Buat apa ilmu Fia kalau pada akhirnya Abang meminta Fia untuk pulang??"
"Tolong mengertilah sayang..!! Ada nyawa lain di dalam perutmu dan Abang tidak akan membiarkan hal buruk terjadi sama kamu dan si kecil" tak hentinya Bang Sanca membujuk Fia.
"Kamu pulang sama Garin ya..!!"
"El sudah ada di depan mata Bang. Kalau Fia pulang, kita harus mengulang perjuangan kita dari awal lagi" kata Fia.
"Ya Allah, kenapa aku di hadapkan dengan masalah seperti ini?" gumam Bang Sanca.
...
Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, Bang Sanca memutuskan Fia dengan caranya. Bang Sanca menitipkan tas Fia pada Juned dan Ryan sedangkan tasnya ada pada Garin. Ia sendiri menggendong Fia menggunakan tali agar tidak terlepas. Fia pun tidak bisa membantah lagi dengan apa yang sudah di putuskan suaminya.
Seolah tanpa lelah Bang Sanca naik dan turun bukit sambil menggendong Fia di punggung sambil mengawasi keadaan sekitar bahkan tawaran Bang Ryan untuk menggendong adiknya juga di tolaknya.
Hingga akhirnya tempat yang mereka incar sudah terlihat jelas. Kawasan tidak berpenduduk dan jauh dari keramaian kota. Hanya ada sekelompok orang yang tidak sepemikiran dengan hati para rakyat saja yang berada disana.
"Turunkan Fia Bang..!!" pinta Fia.
__ADS_1
"Jangan dek. Bahaya..!! Kamu harus tetap bersama Abang dan tidak boleh jauh dari Abang..!!!" perintah Bang Sanca.
"Fia janji.. anak Abang pasti baik-baik saja" bisik Fia dari belakang punggung Bang Sanca.
Setelah berpikir dan membolak-balik pikirannya.. Bang Sanca bersedia menurunkan Fia dari punggungnya.
"Tidak boleh jauh dari Abang..!! Kondisimu masih dalam pengawasan Abang. Dan nanti tolong kendalikan dirimu jika kamu melihat anakmu" pesan Bang Sanca panjang lebar.
Fia mengangguk menurut. Mereka pun bergerak sesuai posisinya.
:
Saat pergerakan sudah sampai di tempatnya, pasukan sudah maju bergerak. Fia melihat pria kecil yang wajahnya begitu mirip Bang Sanca. Siapapun yang melihat pasti akan tau jika bocah kecil gendut itu pastilah putra biologis dari Bang Sanca. Fia berlari menghampiri El kecil tak mempedulikan dirinya yang tengah dalam bahaya.
Begitu langkah itu sudah semakin dekat, Fia berhadapan langsung dengan Nelzi. Kepala pemberontak benalu emas.
"Kamu Zafia?? Istri Bang Naza?" tanya Nelzi menatap tajam Fia sambil menggendong baby El.
Tidak ada yang Fia pedulikan lagi selain Elcassa seorang. Rasa rindunya sebagai seorang ibu sudah mengiris perih batinnya. Hingga bayinya sebesar itu, tak pernah ia memeluknya.. bahkan ASI pun tidak ada yang masuk ke tubuhnya.
"Jadi benar kamu istri Bang Naza." ucap Nelzi sekali lagi membuyarkan segala yang ada dalam pikiran Fia.
"Iya, saya istri Naza" jawab Fia tegas.
Nelzi tersenyum licik lalu menciumi wajah El dengan sayang sampai bayi tertawa girang.
"Suamimu itu akan menjadi milikku sekarang karena itu harga yang pantas untuk perbuatanmu yang sudah mengakibatkan anak dan suamiku hilang. Asal kau tau.. bayiku itu adalah anak dari suamimu"
"Kamu salah paham Nelzi. Suamiku memang pernah berbuat salah padamu tapi dia tidak pernah menyentuhmu dan lagi kesalahanku.. aku sendiri yang akan membayarnya" ucap Fia dengan tegas.
Tawa Nelzi tertawa licik. Ia tak terima meskipun dulu Bang Sanca pernah menjelaskan padanya. Rasa suka Nelzi pada Bang Sanca bukan hal main-main sebab setiap perkataan Bang Sanca sangat menyentuh hatinya hingga ia terobsesi ingin memiliki pria itu seutuhnya.
"Kau kesini juga ingin mengambil putramu khan? lawan aku.Satu banding satu, jika kamu bisa mengalahkanku. Akan kuberikan anak ini padamu" kata Nelzi pada Fia.
"Aku terima tantanganmu" jawab Fia.
"Jangaaan deekk...!!!!" teriak Bang Sanca sembari meladeni musuh yang terus menghalanginya.
__ADS_1
Belum selesai keterkejutan Bang Sanca. Fia sudah berhadapan dengan Nelzi. Keduanya begitu kuat, tangkas dan hebat. Tangkisan dan pukulan saling berbalas. Konsentrasi Fia terpecah saat tiba-tiba si kecil El menangis kencang karena ketakutan melihat 'keributan' di hadapannya.
Saat Fia sedang lengah, Nelzi menghantam Fia hingga Fia terpental. Secepatnya Nelzi menggendong dan membawa lari baby El.
"Tunggu Nelziii..!!" Fia sekuatnya berdiri dan meletuskan tembakan ke udara untuk memberi peringatan.
Bang Sanca sudah cemas saja saat Fia sudah tidak bisa mengendalikan diri melihat El kembali dalam dekapan Nelzi. Dengan cemas Bang Sanca menghilangkan satu persatu bodyguard mjlik Nelzi. Disana Nelzi yang licik mengacungkan pistol ke arah Fia.
"Allahu Akbar.. Fiaaaaaa..!!!!" Bang Sanca secepatnya berlari menghalangi letusan tembakan dengan tubuhnya.
doooorrr...
"Abaaang..!!!!!" pekik Fia terkejut melihat Bang Sanca terkena letusan peluru yang mengenai dadanya. Fia sesak hingga sulit mengartikan ia sedang berada dalam keadaan nyata ataukah hanya mimpi.
"Eghh.." Bang Sanca terpejam sesaat kemudian membalas tembakan Nelzi dan mengenai kaki wanita itu hingga tanpa sengaja El terlepas dari gendongan nya. Tangis kencang dari pria kecil itu menggugah nalurinya sebagai seorang ayah. Bang Sanca segera mengambil El. Putra kecilnya itu meronta dalam pelukannya karena bagi El, ayahnya itu adalah orang asing. Tangisnya begitu berat jauh dari 'sang ibu'.
"Jangan bawa anakku..!! Hanya dia yang aku punya darimu...!!!!!!" teriak Nelzi menginginkan El kembali.
Para anggotanya bersiap menembak tapi Nelzi menghalanginya.
"Ini urusanku. Pergi sejauh mungkin selamatkan diri kalian..!!!" perintah Nelzi pada anak buahnya.
Beberapa anggota ada yang masih setia dan tinggal di tempat dan sebagian lagi melarikan diri untuk menyelamatkan diri.
"Kembalikan anakku..!!!!" tangis Nelzi meraung-raung.
Fia segera menghampiri Bang Sanca dan meraih El ke dalam gendongannya.
"Ini Mama sayang.. jangan nangis jagoan Mama" bujuk Fia, ajaibnya seketika itu tangis baby El berhenti. Moment itu membuat Bang Sanca juga ikut haru terbawa suasana. Hingga tanpa mereka sadari...
"Awaaaasss...!!!!!" teriak Bang Garin yang baru saja merapikan musuhnya.
Bang Sanca menoleh melihat Nelzi berlari menerjang ke arahnya dan Fia.
.
.
__ADS_1
.
.