
"Video cara menangani kecelakaan darurat Bang" jawab Fia santai.
"Oohh.. Abang kira.."
"Apa??" tanya Fia.
"Nggak.. sini Abang lihat ponselnya. Mau cek info" Bang Sanca melirik Arnes sekilas lalu mengecek riwayat ponselnya. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Fia pun berpaling menghadap dinding dan segera tidur. Kini Bang Sanca yang gelisah sendiri, cemas kalau Fia sampai melihat hal yang tidak wajar. Tapi tidak mungkin istrinya itu tau password ponselnya untuk hal tertentu.
"Syukurlah aman.." gumamnya. Bang Sanca melirik istrinya yang sudah tidur nyenyak.
Seperti biasa saat Fia sudah tidur, Bang Sanca memeluk Fia dari belakang.
"Abang sudah berusaha sabar dek. Berapa lama lagi Abang harus bersabar?" Bang Sanca sudah gelisah. Sebenarnya belakangan ini hatinya mulai tidak kuat berhadapan dengan Fia. Semakin hari penampilan istri kecilnya semakin dewasa dan menggoda. Usianya memang baru tujuh belas tahun tapi lekukannya membuat jantungnya jumpalitan tak karuan.
"Abang butuh kamu..!!" pelan tapi pasti Bang Sanca mengecup tengkuk Fia. Tangannya yang kaku tak berani banyak mengontrol situasi.
Sadar dirinya sudah tak mampu lagi, Bang Sanca menyudahi pelukannya dan mengambil rokok dari laci nakasnya. Di dalam kamar itu ia merokok. Perlahan hatinya sedikit tenang dan emosinya mereda. Badannya yang terasa remuk pun perlahan menghilang.
Sampai kapan aku begini? Bagaimana anak dan istriku nanti?
...
Papa Zaldi melihat mata cekung Bang Sanca. Tak biasa cukup malam menantunya itu mengantar Fia pulang.
"Kalian darimana?" tanya Papa Zaldi.
"Dari mess pa"
"Kamu jangan ceroboh Sanca. Fia bisa jadi omongan orang kalau ada yang lihat" tegur Papa Zaldi.
"Saya sudah cek seluruh kondisi sebelum membawa Fia pa." jawab Bang Sanca.
Papa Zaldi melihat gelagat Bang Sanca yang sedikit berbeda.
"Ikut Papa..!!"
:
"Nggak pa"
"Jangan bohong.. darimana kamu dapat g***a itu??" tanya Papa Zaldi.
"Saat tugas beberapa bulan yang lalu pa, saat baru menikahi Fia" jawab jujur Bang Sanca karena tidak mungkin membohongi mertuanya lagi.
"Astagfirullah Sanca.."
"Terus selama ini bagaimana caramu mengendalikan diri??????" Papa Zaldi cemas sekali melihat menantunya yang mulai menggigil.
Butuh waktu sekitar tiga tahun bagi Papa Zaldi untuk terlepas dari benda laknat itu.
"Saya bisa mengendalikan diri dari salah satunya pa. Tapi untuk yang satunya saya kesulitan" jawab jujur Bang Sanca.
"Apa jenisnya??"
"........
...
Papa Zaldi merasa sedih sekali melihat perjuangan Sanca selama lima bulan ini. Pria itu pasti sendirian tanpa arahan, mengobati dirinya sendiri. Papa Zaldi teringat saat dirinya merasa begitu rendah diri menghadapi semua orang terutama Arnes istrinya.
"Papa bukan musuhmu Zal. Katakan apa yang ingin kamu katakan, lepaskan semua..!!" perintahnya pada Bang Sanca.. karena di saat seperti ini perasaan seorang pria akan jauh lebih jujur.
"Aku sangat membenci ayahku, pria yang hanya bisa menyakiti hati ibuku demi perempuan lain. Aku melihat tangis ibu yang begitu pilu, tapi saat itu tanganku sangat kecil untuk menghajar ayahku. Disaat aku sudah dewasa, aku tak bisa menghajarnya karena ibu menghalangiku dan masih berharap ayah akan mencintainya lagi. Aku benci pengkhianatan" ucap Bang Sanca tak lepas dari tetesan air mata.
__ADS_1
Papa Zaldi begitu prihatin karena hati Bang Sanca hanya penuh dengan kebencian.
"Papa paham San. Oke.. lupakan itu semua. Buang jauh segala perasaan bencimu. Sekarang kamu punya papa yang mendukungmu. Papa yang akan terus ada di sampingmu. Papa yang selalu bersedia menampung keluh kesahmu. Kamu juga sudah punya Fia, istri yang mendampingimu dan membutuhkan mu. Ayo berjuang San.. Nanti akan ada masanya kamu dan Fia bahagia bersama anak kalian"
Bang Sanca begitu mengerang kesakitan.
"Sakiiiit..!!!" pekiknya semakin menyayat hati.
Bayangan Fia silih berganti.
"Kamu cantik sekali sayang" ucapnya pada papa Zaldi.
"Hadeeehh.. mulai berkhayal dia.
Bang Sanca bersiul tak jelas, meracau dengan tingkah playboy kesetanan.
"Sayaangnya Abaang..!! Abang kangen nih" tapi kemudian ia kembali mengerang kesakitan.
"Astagaaa.. Sanca..!!!!!!"
...
"Fiaa..!!!" Bang Sanca mulai mengigau memanggil nama Fia.
Papa Zaldi menegur Garin dan Dafa karena mereka tidak ikut melaporkan keadaan Sanca sesuai keadaan yang terjadi di lapangan.
"Kalian lihat Sanca sekarang. Lima bulan ketergantungan obat. Dalam penyembuhan kalau Sanca tidak kuat, dia bisa mati konyol" bentak Papa Zaldi.
"Paling bodoh lagi. Tidak ada tembusan untuk menaikan berita ini sampai ke atas. Sanca sekarang terancam sebagai pecandu aktif dan bukan karena kecelakaan kerja. Paham kalian???"
"Siap salah..!!" jawab Bang Garin dan Bang Dafa.
"Mana obatku b*****t..!!!" umpat Bang Sanca dengan mata berkilat marah.
"Ya Allah, Fia mana kuat" gumam Papa Zaldi pelan sambil mengelus dada Bang Sanca yang masih di kuasai amarah.
Apa dulu aku semengerikan ini? Jangan sampai Sanca menyakiti putriku. Nggak.. Jangan Sanca. Sebelum kamu sembuh. Kamu jangan sampai menghamili putriku.
...
Papa Zaldi memberi oksigen pada Bang Sanca yang sudah tidak tahan merasakan sakitnya. Satu tandon berukuran 2500 liter baru bisa menyadarkan pria yang beberapa hari lagi akan naik pangkat menjadi Kapten.
//
"Kalau lima tahun Sanca baru terlepas dari barang haram tersebut apa kamu baru akan mengijinkan Sanca dan Fia punya anak?" Opa Rinto menegur Papa Zaldi di ruangan khusus Komandan.
"Yang benar saja. Istighfar kamu..!! Kamu pikir pakai kepalamu itu. Kalau papa memintamu hal yang sama.. kamu terima atau tidak? Sanca sudah menikah dengan Fia. Menikah tidak hanya sekedar sah dan hidup bersama saja Zal. Ada hal juga yang tidak boleh kamu abaikan"
Tanpa mereka sadari ada sosok yang mendengar percakapan mereka.
***
Upacara kenaikan pangkat sudah di laksanakan. Tidak ada hal yang terlalu menonjol karena sesuai kesepakatan bersama, uang tersebut hanya akan di pergunakan syukuran dan membuat panggung kecil yang diisi oleh anggota sendiri.
Bang Sanca baru mengganti pakaiannya yang basah. Tak ada yang menemaninya di acara upacara tersebut karena statusnya masih bujangan.
Tak lama pandangan mereka tertuju pada sosok gadis cantik yang membawa mic berwarna hot pink. Begitu juga Bang Sanca, menatap paras Zafia yang penuh pesona.
*Ademe Angin Dalu dadi saksi bisu*
*Duwe Ku Mung Roso Tresno*
*Duwe Ku Mung Roso Sayang*
*Nganti nyawaku ninggalke rogo*
__ADS_1
*Rosoku ora ilang*
*Tresno neng jero dodo*
*Seng tak jaluk imbangono*
*Masio aku ra sugeh bondo*
*Moh yen digawae loro*
*Sak pedote nafasku mung kowe seng tak tunggu*
*Ora ono liyane seng neng atiku*
*Sak oncat e nyawaku ora ngaleh tresnaku*
*Ademe angin dalu dadi saksi bisu*
Bang Sanca menunduk menyembunyikan senyum tampannya yang sungguh memikat hati Fia.
"Ijin Komandan.." Bang Sanca menegakan dadanya meminta ijin pada para senior. Ia berjalan menghampiri Fia.
Danyon bertepuk tangan karena Kapten Sanca membalas suara merdu putri Komandan Markas.
Dengarkanlah aku
Cerita hatiku, cerita tentangmu
Aku mau ikhlas, ikhlas menyayangimu, tutuplah matamu
Cukup aku dan Tuhan yang tahu
Aku telah berjanji menyayangimu lahir dan batinku
Aku telah berjanji mendampingimu lahir dan batinku
Andai engkau tahu, 'ku siap mati untukmu, jiwa dan ragaku
Cukup aku dan Tuhan yang tahu
Aku telah berjanji menyayangimu lahir dan batinku
Aku telah berjanji mendampingimu lahir dan batinku
Aku telah berjanji menyayangimu lahir dan batinku
Aku telah berjanji mendampingimu lahir dan batinku
Andai engkau tahu, 'ku siap mati untukmu
Senyum Danyon berubah menjadi heran.
"Apa gadis tujuh belas tahun yang di maksud Sanca itu adalah Zafia putri Dan Zaldi? Kalau itu benar.. Berani sekali nyalinya??" batin Danyon.
"Garin.. apa putri Komandan Markas dan Sanca ada hubungan?" tanya Danyon pada Kapten Garin.
"Ijin Bang, setau saya iya" jawab Bang Garin.
"Waduuuhh.. terus kenapa tuh Sanca minta nikah. Jangan-jangan anak Pak Zaldi sudah di sembur.. tekduung..!!" gumam Danyon cemas.
.
.
.
__ADS_1
.