Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
81. Bukan beban biasa.


__ADS_3

Bang Sanca meneliti baik-baik keadaan Fia sebelum menemui tamunya. Dalam hati Bang Sanca begitu cemas karena Fia sesekali masih merasakan mulas pada bagian perutnya tapi ia masih bersikap tenang agar Fia tidak terpengaruh kekhawatiran nya.


"Nggak apa-apa kok dek. Namanya juga beda jalan. Pasti sakitnya lebih terasa. Sabar ya dek..!!" bujuk Bang Sanca sembari menanyakan pada Bang Ryan.


:


"Abang masih peduli sama Fia?? Sebenarnya istri Abang itu Yuna atau Fia????"


"Bukan begitu sayang, oke lah kalau kamu nggak suka.. tapi ada sumpah Abang sebagai seorang dokter lho dek. Semua ini bagian dari profesi Abang" kata Bang Ryan.


"Abang bohong.. nggak Bang Sanca, Abang.. semua hanya memperhatikan Fia. Yuna ini istri Abang" ucap Yuna dengan kesal.


"Abang minta maaf. Abang nggak akan peduli lagi dengan Fia. Sudah ya..!! Sekarang kita jalan-jalan saja yuk" bujuk Bang Ryan agar Yuna tidak marah lagi tapi di dalam hatinya tetap tersimpan kecemasan karena istrinya itu begitu mencemburui Fia.


...


Bang Sanca melihat jam tangannya. Satu jam berlalu tapi belum juga ada jawaban dari Bang Ryan. Tamu pun sudah beranjak pulang. Bang Sanca juga memutuskan untuk pulang.


:


"Astagfirullah.. Lailaha Illallah.. kenapa kamu jadi begini dek." Bang Sanca panik melihat wajah pucat Fia. Akhirnya Bang Sanca tak menunggu kabar dari Bang Ryan lagi dan segera menghubungi Tante Mey.


:


"Aman San. Mau persalinan normal atau operasi.. semua akan seperti ini. Pahamilah memang Fia punya beberapa masalah dalam kehamilannya. Jadi jangan terlalu cemas lagi" kata Tante Mey.


"Alhamdulillah kalau begitu tan, jantung saya rasanya mau lepas lihat Fia sampai seperti itu."


Om Bayu tertawa lepas melihat wajah cemas Bang Sanca. Ia menyadari sebagai seorang pria akan hancur lebur melihat istri tercinta nya sampai mendapat masalah.


"Minum dulu. Rileks San. Fia baik-baik saja"


Tak lama Bang Ryan datang bersama Yuna. Istri Bang Ryan itu diam saja seolah tidak menganggap Bang Sanca ada, tapi Bang Sanca tak mempedulikan hal itu meskipun dirinya tau Yuna masih begitu membencinya.


"Maaf saya baru datang" ucap Bang Ryan merasa tidak enak.


"Kenapa harus minta maaf, yang harus Abang utamakan itu Yuna.. bukan Fia" jawab Yuna.


"Yuna.. ayah sudah ingatkan kamu berkali-kali tentang hal ini. Kamu dan Fia bukan musuh. Apa ayah mengajarimu jadi seorang pendendam??" tegur ayah Bayu.

__ADS_1


"Nggak yah.. maaf. Yuna hanya kesal setiap kali mengingat hal yang berhubungan dengan Bang Sanca. Apalagi Bang Sanca sampai menikah dengan Fia" ungkap Yuna dengan ketus.


"Abang mau bicara sama kamu sekarang. Empat mata..!!" pinta Bang Sanca tegas.


"Saya pinjam istrimu sebentar..!!" ucapnya pada Bang Ryan.


:


"Kalau kamu masih menyimpan sakit hati sama Abang.. Apa itu berarti kamu masih ada perasaan sama Abang?"


"Ada rasa pun Yuna tak bisa memiliki Abang. Lagipula hidup Yuna juga hampa.. Bang Ryan tidak mencintai Yuna. Hanya ada Fia di hati Bang Ryan" jawab Yuna tanpa menatap mata Bang Sanca.


"Apa hebatnya Fia?"


Tak ada yang tau Fia menguping dari balik pintu dapur sedangkan Bang Ryan mendengar dari garasi seluruh percakapan Bang Sanca dan Yuna.


"Fia memang hebat. Karena Fia adalah istri Abang. Dia yang sudah ikhlas bersanding dengan Abang dan melahirkan anak-anak Abang. Semoga kamu bisa mengerti Yuna." jawab Bang Sanca.


"Dulu.. dulu Yuna sangat mencintai Abang, sangat mencintai mu. Abang laki-laki pertama yang Yuna cintai. Semua itu membekas di dalam hati Yuna Bang. Perlakuan Abang yang lembut dan kata Abang yang manis. Semua membuat Yuna sakit Bang.!"


"Yuna.. kenapa kamu jadi seperti ini lagi, bukankah waktu itu kamu sudah ikhlas? Kenapa sekarang kamu ungkit lagi masalah yang sudah berlalu. Abang yang salah Yuna, tolong kasihanilah Fia, kasihani Ryan..!!" ucap Bang Sanca semakin lama semakin terpancing emosi. Ia begitu takut masalah ini akan semakin berlarut-larut karena ia paham hati wanita yang begitu sakit akan sulit untuk di sembuhkan.


"Abang.. cukup..!! Abang duduk dulu dan jangan bersuara keras lagi..!!"


Melihat Fia datang, membuat Bang Sanca begitu terkejut.


"Kamu kenapa ada disini dek?"


Fia tidak menyahut pertanyaan Bang Sanca, pandanganya hanya terfokus pada Yuna. Fia mengusap perut Yuna.


"Adek masih marah ya sama Om Sanca. Nanti biar Tante Fia jewer ya Om Sanca nya. Om Sanca sayang sama Tante Fia karena sudah takdirnya begitu." kata Fia menyadarkan Yuna secara halus.


"Papa Ryan sayang sekali lho sama Mama Yuna. Adek bilang ya sama Mama, jangan marah lagi. Kasihan papa Ryan sedih mikir mama"


Begitu mendengar ucapan Fia, emosi Yuna langsung mereda, sungguh hatinya lega seperti sudah ada yang membelanya.


"Aku benci lihat wajah Bang Sanca" ucap Yuna.


"Iya mbak.. nanti wajah Bang Sanca Fia karungin deh. Nggak ada tampan-tampannya tapi tampil terus jadi tersangka" imbuh Fia.

__ADS_1


"Ngidam yang nggak estetik.." omel Bang Sanca kemudian menyulut rokoknya.


"Jangan lah Bang.. Ada ibu hamil nih" tegur Fia.


***


Pagi ini Papa, Mama Bang Ibra dan El kembali ke Jawa. Hati Fia terasa kosong dan pedih tapi ia belum memahami mengapa hatinya terasa kosong. Air mata mengalir tanpa bisa ia tolak. Hanya saja saat melihat Bang Sanca menciumi wajah El sampai menahan air matanya sungguh membuat hatinya begitu sakit.


"Baik-baik ya nak. Jangan nakal sama Daddy, Mami, dan Papi..!!" ucap Bang Sanca.


"Iya pa" jawab El membuat terngiang nyaring di telinga Fia. Ia tidak ikut mengantar keluarganya hingga ke bandara karena fisiknya yang belum begitu kuat.


Aku baru menyadari El memanggil Bang Sanca 'Papa' dan El selalu memanggilku 'Mama'. Sebenarnya.. El itu putraku atau Bang Ibra?


-_-_-_-_-


"Jangan kamu pikirkan kalau semua membuat kepalamu sakit. Kamu sayang sama El saja sudah lebih dari cukup. Suatu saat kamu akan paham." kata Bang Sanca.


Fia mengangguk menurut. Ia memilih menurut ucapan Bang Sanca. Tapi dalam pikiran nya terus menerka hingga tertidur di sofa ruang tamu.


:


Bang Sanca menidurkan inces kecilnya di tengah ranjang karena sekarang Fia tidur di tepi dan ia memilih tidur di bawah kaki Fia hingga posisi tidur mereka menjadi huruf L.


"Tunggu dulu ya sayang.. Papa mau bawa mama kesini. Mama ketiduran di sofa tuh" gumamnya pada putrinya.


Bang Sanca mengecup kening Fia kemudian bersiap mengangkatnya tapi terdengar suara kecil Fia yang sedang mengigau.


"Apa El anak Abang sama Mbak Yuna"


"Astagfirullah.. kamu ini bagaimana sih dek. Jelas kita patungan buatnya tapi yang kamu ingat malah Yuna" gerutu Bang Sanca dengan wajah sedihnya.


"Besok kamu harus mengingat semuanya dek. Mudah-mudahan reaksi mu masih bisa Abang kendalikan. El butuh kasih sayang mu dek"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2