
Bang Sanca menarik bahu pria itu dan memisahkannya dari Fia.
"Ijin Kapten. Selamat pagi..!!" sapa pria itu.
Bukan Anjar??? Siapa dia? beraninya peluk istri orang.
"Siapa kamu??? Kenapa peluk Fia??" bentak Bang Sanca tidak suka pada pria yang berada di hadapannya.
"Sabar Bang. Saya Ryan Bang. Aryan. Jangan emosi dulu Bang" jawab Ryan seketika menyilangkan tangan agar tidak terhantam Bang Sanca.
"Ryan??" Bang Sanca mengerutkan keningnya mengingat siapa pemilik nama Ryan.
"Ryan Abangnya Fia??" tanyanya kemudian.
"Siap..!!"
"Setan.. asal main peluk bini orang. Cari mati kamu???" tegur Bang Sanca duduk di bangku panjang depan koperasi.
Fia hanya bisa menatap sang suami dengan amarahnya yang perlahan mereda.
...
Fia kembali pada kegiatannya, tidak banyak percakapan diantara dirinya dan Bang Sanca karena waktu yang terbatas.
"Apa Abang dan Fia sedang bertengkar?" tanya Bang Ryan sambil menyantap soto ayam tak jauh dari SatDik.
"Bertengkar sih nggak, hanya adikmu masih belum sembuh dari salah paham. Apalagi posisi yang semua orang tidak tau hubungan Abang dan Fia malah semakin memperburuk hubungan kami" jawab Bang Sanca.
"Iya Bang. Itu yang sulit. Fia itu pernah disakiti sama alm Bang Dafa, Bang Anjar, Bang Diaz. Makanya sifatnya agak keras" kata Bang Ryan.
"Jangan bilang Diaz littingku juga"
"Hahaha.. iya Bang. Litting Abang" Bang Ryan tertawa geli melihat ekspresi kaget Bang Sanca.
"Yaa.. astaga.. banyak sekali mantannya. Kena kutuk apa sih gue dapat sisaan teman sendiri" gerutu Bang Sanca.
"Sisa sih sisa Bang.. tapi masih segel khan?"
"Tenang Bang, Bang Diaz hanya mampir saja walau membawa luka"
"Huusshh... jangan bahas ini lagi. Yang penting Fia sudah kena racun saya, nggak akan bisa berkutik lagi" kata Bang Sanca.
"Hmm Bang.. saya harap Abang tidak ceroboh dan bisa menjaga diri terutama sikap Abang dalam perbekalan misi ini. Papa dan Opa menyetujui Abang masuk kesatuan ini agar bisa menjaga Fia. Abang ingat itu khan, ini kesepakatan keluarga"
"Saya paham Ryan. Kamu tenang saja..!!" Bang Sanca menepuk bahu Ryan untuk menenangkan dengan senyumnya yang getir.
...
Bang Sanca menghampiri Fia di kantin. Hari ini kantin tampak sepi. Bang Sanca duduk membuka kakinya dan duduk di depan Fia. Gadis kecilnya itu sedang menangis sendirian. Di hadapannya ada secangkir kopi hitam. Tak tau sejak kapan Fia pandai minum kopi hitam.
"Masih sakit?"
Fia menggeleng dan menunduk tak ingin melihat wajah Bang Sanca.
"Kenapa Abang lakukan itu? Abang semakin mengunci Fia dan membatasi ruang gerak Fia"
"Kamu sudah tau jawabannya"
Bang Sanca menyerahkan seluruh ATM pada Fia.
"Ambilah dan jangan pernah kamu kembalikan lagi. Itu hakmu sebagai istri Abang"
"Fia ingin mencari anak Fia Bang, bukan untuk memulai hubungan lagi dengan Abang"
"Tak perlu di mulai, hubungan kita belum pernah selesai" jawab Bang Sanca lalu meletakan ATM itu karena Fia tak juga mengambilnya.
__ADS_1
"Kenapa Abang menyentuh Fia lagi. Fia tidak ingin kenal Abang, sekecil apapun itu.. Fia sudah meminta Abang untuk menjaga anak kita dan merelakan Fia. Kenapa Abang malah menghilangkannya. Kenapa Abang tidak menjaganya??????" tangis Fia begitu histeris.
Bang Sanca tidak tau lagi harus menjawab apa, El dan Fia begitu berharga baginya.
"Pak, masuk di dalam saja agar lebih leluasa. Kalau bapak dan ibu disini.. nanti ada yang tau" kata Bu kantin.
"Ibu tau kami sudah menikah?" tanya Bang Sanca.
"Iya pak, Pak Rinto sudah cerita" jawab Bu kantin.
:
"Mau sampai kapan kamu seperti ini. Tujuanmu kesini untuk mencari El khan? Kita cari sama-sama sayang. Tunggu kamu lulus uji, nggak sampai dua bulan.. kita cari El sama-sama" bujuk Bang Sanca.
"Latihanlah lebih giat agar bisa segera bertemu anakmu di perbatasan pulau atas" Bang Sanca menyerahkan ponselnya agar Fia bisa melihat sosok pria kecil dalam gendongan seorang wanita. Pria kecil itu tampak gendut putih dan terawat, wajahnya begitu mirip dengan Bang Sanca.
"Ini El?" tanya Fia masih tidak percaya.
"Iya.. anakmu sehat dan baik-baik saja di tangan Nelzi" jawab Bang Sanca.
Fia sesenggukan sampai lemas memandangi putra kecilnya. Usianya kini sudah tujuh bulan, pasti sang putra sudah bisa merangkak.
"Tunggu Mama sayang. Mama akan menjemputmu" tak sadar Fia bersandar lemas dalam pelukan Bang Sanca, tangis yang awalnya pelan kini berubah menjadi histeris dan meraung-raung, tangis seorang ibu yang begitu merindukan sang putra yang sama sekali belum pernah ia peluk di saat kelahirannya bahkan melihat wajahnya pun belum.
"Kuatkan hatimu, tangismu tidak akan mengembalikan putramu. Kamu harus tegar, mengambil anakmu di sarang komplotan itu bukanlah hal yang mudah" kata Bang Sanca.
Bang Sanca memeluk Fia, menguatkan batin seorang ibu yang sempat goyah.
"Mau malam nih, besok hari Sabtu. Jalan ke pantai yuk Neng bareng yang lain..!! Ada long weekend tuh, ada Esa juga. Abang tunggu kamu di kamar Abang nanti malam" ajak Bang Sanca.
"Fia nggak akan datang"
"Oohh.. nggak mau ya? kalau kamu nggak datang.. Abang bawa Celia atau Astri saja deh. Lumayan buat ganjal perut"
plaaaakk
"Coba saja kalau berani..!!" Fia langsung pergi meninggalkan Bang Sanca.
Melihat sikap Fia, Bang Sanca hanya tersenyum tipis, ia tau pasti dalam hati gadis kecilnya itu masih ada rasa yang sulit di akui.
Gengsi banget kamu dek, padahal semalam siapa yang paling keenakan. Lagaknya saja jaga jarak, tapi nggak mau lepasin Abang. Dasar Neng Popon. Kena sembur baru anteng kamu ya..!!.
-_-_-_-_-
Karena tamu villa di penginapan pinggir pantai itu di dominasi para pria, maka sudah di putuskan para wanita tidur di villa kecil.
Ada yang membuat api unggun dan memasak makan malam, ada yang bernyanyi sambil bermain gitar. Disana Bang Sanca meminta gitar itu lalu memetiknya dan melantunkan baris lagu yang membuat Fia melirik ke arah Bang Sanca.
Berdiriku disini hanya untukmu
Dan yakinkan ku untuk memilihmu
Dalam hati kecil ku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
Aku 'kan ada untuk dirimu
Dan bertahan untukmu
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
__ADS_1
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku
Dalam hati kecil ku inginkan kamu
Berharap untuk dapat bersamamu
:
Fia memainkan ponselnya seolah tak mendengar lantunan lagu dari Bang Sanca padahal setitik air mata lolos juga dari pelupuk matanya. Ingin bersama Esa tapi Esa sibuk dengan Bang Garin. Ia pun baru tau hari ini kalau Esa sedang hamil dan itu membuatnya sedikit iri.
Aku 'kan ada untuk dirimu
Dan bertahan untukmu
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku
Fia mulai tidak tahan. Tangannya gemetar, tangisnya seakan ingin meluncur deras dari pelupuk mata.
Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukku
Tertulis puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah pilihan hatiku...
Lagu itu akhirnya usai. Fia meninggalkan kerumunan dan memilih kembali ke penginapannya. Hatinya tak tahan membayangkan kisahnya bersama Bang Sanca.
"Saya pamit ya..!! Sakit perut..!!" kata Bang Sanca.
"Perut mana yang sakit Abaaang" ledek Bang Garin.
"Perut bawah. Usus sudah melintir" jawab Bang Sanca kesal sambil berjalan cepat menyusul Fia.
Bang Garin tertawa mendengarnya. Ia paham pasti Sanca sedang mengintai buruannya.
:
"Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau hatimu masih ada rasa sama Abang?"
"Bukan waktunya main perasaan Bang. Tujuan Fia hanya mencari El" jawab Fia.
"Oyaa?? Kamu pikir.. kamu mampu melakukan apapun sendiri untuk mencari El. Yakin kamu nggak butuh Abang??" Bang Sanca mulai gemas dan terbawa emosi.
"Fia nggak butuh Abang" ucap Fia gemas.
"Benar-benar keras kepala. Abang nggak mau seperti ini. Tapi Abang nggak punya pilihan lain. Kamu nggak bisa di ajak bicara baik-baik. Mau hancur ya sudah hancur sekalian. Resiko di tanggung belakang. Papa, Opa dan Abangmu.. urusanku..!!" Bang Sanca menyergap dan membekap mulut Fia lalu menyeretnya masuk ke dalam kamar dengan paksa.
.
.
__ADS_1
.
.