
Pelakor tidak mau, cerita seperti ini sangat buruk. Pembaca maunya apa? 😌.
🌹🌹🌹
Nafas Fia tersengal setelah ikut olahraga lari bersama dinas. Ia benar-benar tidak kuat mengikuti olahraga lari dan segala apapun yang berhubungan dengan jalur pernafasan.
"Pelatih.. tolong. Fia tidak kuat lari..!!" pekik Celia.
Seketika Bang Sanca menoleh melihat Fia berpegangan pada sebatang pohon dan meremas dadanya.
"Ya Allah dek, kenapa kamu tidak menyayangi tubuhmu sendiri??" Bang Sanca mengangkat Fia masuk ke ruang kesehatan. Astri dan Celia saling pandang melihat ekspresi Kapten Sanca yang seolah seperti memberikan perlakuan khusus untuk Fia.
:
"Hwaaaaa.. Kenapa Abang dekat-dekat sama Fia???? Fia bisa lapor ke atasan Abang" ancam Fia yang terengah-engah sambil menutupi dadanya. Sepersekian detik kemudian Fia menghajar Bang Sanca habis-habisan tanpa ada perlawanan dari lelaki yang saat ini paling Fia benci.
"Abang nggak macam-macam dek" Bang Sanca mundur karena Fia saat tatapan mata tak sepaham datang padanya.
"Kita sudah pisah Bang, bisa-bisanya Abang pegang-pegang Fia" pekik Fia sungguh marah melihat Bang Sanca.
"Ilmu dari mana itu Ya Allah..????? Jangan ngawur dek..!!" Bang Sanca berusaha menyergap Fia tapi harus ia akui istrinya itu sangat lincah.
"Fiaa.. Bang Sanca????" Bang Juned langsung memisahkan Fia dan Bang Sanca. Bang Juned menatap tajam mata Bang Sanca, ia tak menyangka pria segarang itu terobsesi ingin memiliki Fia sampai hampir melakukan tindakan asusila.
"Kenapa Abang tega sama perempuan?" bentak Bang Juned sembari menarik tangan Fia agar berlindung di belakangnya.
"Nggak usah sok tau kamu Juned. Tinggalkan tempat ini..!!" perintah Bang Sanca.
"Nggak Bang, Abang sudah bertindak keterlaluan. Ini pelanggaran Bang..!!" tolak Bang Juned.
Bang Garin berlari masuk ke ruang kesehatan dan melihat keributan yang terjadi di sana.
"Juned, sudah.. jangan banyak komentar..!!" Bang Garin menarik Bang Juned agar menjauh dari littingnya yang sudah terbakar amarah itu.
:
Bang Garin sudah gemas karena tak bisa menghentikan emosi Juned tapi ia juga tidak bisa membocorkan rahasia apapun mengenai alasan Fia bisa masuk menjadi salah satu siswa disana juga tentang pernikahannya dengan Bang Sanca yang terbilang rawan.
"Ya kalau memang Bang Sanca tidak ada hubungan apapun dengan Fia, aku bisa melaporkan tindakan kurang ajar Bang Sanca." ucap keras Bang Juned.
"Juned.. tolong kamu dengar kata-kata Abang Simpan apapun yang kamu tau dan tidak usah sampai pihak atas ikut campur dalam urusan ini. Kamu bukan tukang ghibah yang suka mengumbar masalah orang lain khan?" kata Bang Garin
"Tapi Bang.. Ini keterlaluan..!!"
"Biar Abang sebagai jaminannya, semua akan baik-baik saja" Bang Garin berusaha keras meyakinkan Juned.
***
Bang Juned mengambilkan Fia air minum, sejak kejadian itu.. ia menjadi posesif terhadap Fia tapi ia sendiri tidak pernah tau ada sepasang mata yang terus mengawasinya.
__ADS_1
"B*****t si Juned. Sekarang dia berani terang-terangan memepet Fia. Mau cari mati dia rupanya" gumam Bang Sanca.
Kapten Sanca melangkah pasti namun kali ini langkahnya terhenti saat merasakan gemuruh di dadanya mulai menyakitinya. Bang Garin yang memergokinya segera membawa Bang Sanca menjauh dari lokasi itu.
...
"Kamu nggak apa-apa pot? Jangan memaksa. Istirahat sana..!!" kata Bang Garin.
"Tenanglah, kembalilah bekerja.. aku nggak apa-apa" jawab Bang Sanca.
Bang Sanca mengambil rokoknya tapi Bang Garin melarangnya.
"Jangan terlalu banyak pot, kurangi sedikit..!! tubuhmu bisa hancur. Fia dan El sangat membutuhkanmu. Sejak kejadian itu kamu tidak bisa mengontrol dirimu. Ayo bangkit..!!"
"Badanku sakit sekali. Aku nggak kuat, kepalaku sakit"
"Yang sakit hatimu. Jangan kamu siksa tubuhmu. Fia itu syok, cemburu dan belum bisa menerima 'sampingan' profesi karena kamu pun kurang penjelasan yang mengakibatkan sampai tidak sengajanya anakmu hilang. Sekarang tugasmu harus pintar mengambil hati Fia kembali. Jelaskan padanya baik-baik. Hilangkan sifat kaku dan dinginmu. Membuka hati di hadapan istri tidak pernah salah" kata Bang Garin.
Bang Sanca menelaah setiap perkataan Bang Garin.
Abang harus bagaimana lagi membujukmu dek? Kamu marah sekali tanpa Abang bisa menjelaskan apapun sama kamu. Setiap Abang mendekatimu, kamu menjauh seperti tidak pernah mengenal Abang. Secepat itukah cintamu mati untuk Abang?.
Bang Garin mengambil rokok Bang Sanca kemudian menggantinya dengan minuman jahe hangat.
"Tahan sedikit rasa sakitmu. Berjuanglah untuk Fia dan El. Aku tau kamu lelah, juga rindu. Nanti malam aku akan buat kegiatan lapangan.. manfaatkan waktu sebaik mungkin.. bujuklah Fia..!!"
"Tumben kau bisa bicara seperti itu. Kau salah makan?"
"Hehehehe.. aku juga mau jadi bapak. Was-was ku juga sepertimu dulu" Bang Garin menggaruk kepalanya. Tak lama Esa datang dengan perut sedikit membuncit.
"Haaahh.. B******n juga kau rupanya" ledek Bang Sanca sambil sedikit menyorong kursi agar Esa bisa duduk di samping Bang Garin.
"Esa juga sudah kunikahi, tapi kau tau sendiri.. karena kita terlalu sering buat masalah, pengajuan nikah itu selalu di pending. Aku sudah nggak kuat jadi jomblo. Akhirnya yaa......"
"Sialan kau ini. Lemah juga kau ya sama wanita" ledek Bang Sanca sambil menggeleng kepala.
Bang Garin mencium pipi Esa di depan mata Bang Sanca membuatnya iri dan ngilu setengah mati apalagi saat Esa bermanja pada sahabatnya itu langsung mengingatkan sifat manja Fia padanya dulu.
"Saya ke mess duluan ya..!!" pamit Bang Sanca tidak mau mengganggu.
"Mau mimpiin Fia. Lagi kangen" jawabnya jujur.
-_-_-_-_-
Karena status Fia adalah siswa khusus, maka negara memutuskan untuk Fia mengikuti latihan dan uji coba di luar. Satu minggu ini pun Bang Sanca menahan diri dan perasaannya mati-matian. Ia tau Fia selalu menolak perhatian yang Juned berikan, tapi panasnya di dalam hati juga tak bisa ia tahan.
...
Malam ini adalah latihan beladiri. Bang Garin dan Bang Juned sudah memberikan contoh pada seluruh anggota dan para siswa. Kini Bang Sanca melakukan tahapan gerakan penyerangan pada Bang Garin.
__ADS_1
"Naahh.. begitu contohnya. Ada yang mau mencoba?" tanya Bang Sanca.
"Ijin.. saya pelatih..!!" Fia mengangkat tangannya menantang Kapten Sanca.
"Silakan..!!" jawab Kapten Sanca dengan tegas.
Tanpa basa-basi Fia menyerang Bang Sanca. Awal mula yang sesuai tekniknya, kini berubah menjadi ngawur tak terarah.
"Kamu harus di hukum karena tidak sesuai teknik..!!" ucap tegas Bang Sanca menegur Fia lalu 'mengamankan' Fia keluar ruangan.
Bang Garin dan Bang Juned dengan sigap menghandle kegiatan di dalam ruangan.
...
Dengan begitu emosinya Fia meluapkan amarahnya sampai berteriak kesal mengungkapkan seluruh perasaannya.
"Abang nggak pernah menduakanmu. Bahkan setelah kita menikah, chating itu hanya Garin yang menyambungnya setelah Abang menyapa membuka percakapan" kata Bang Sanca menjelaskan.
"Sudahlah Bang, kita sudah berpisah. Hiduplah Abang dengan segala rahasia yang Abang punya" Fia menepis tangan Bang Sanca.
Secepatnya Bang Sanca mendekap Fia dari belakang.
"Kenapa sulit sekali menaklukkan hatimu. Benarkah di hatimu sudah tidak ada Abang lagi??"
"Fia benci Abang, tidak ada lagi hati untuk pria yang tega mengkhianati sebuah hubungan." jawab Fia sekuatnya melepaskan diri dari Bang Sanca.
Bang Sanca menarik tangan Fia lalu memeluknya, kedua mata itu saling bertatapan.
"Benarkah sebenci itu? Tapi tatapan matamu tidak begitu sayang..!!" Bang Sanca mengecup sekilas bibir Fia. Di dalam kamar milik Bang Sanca, seakan pria itu terlupa dan terlena dengan suasana.
"Kamu masih milik Abang, tak sepatah katapun Abang ucapkan kata pisah"
Fia meneteskan air mata, Bang Sanca menghapusnya kemudian mengecup bibir Fia kembali mengungkapkan segala perasaan.
"Abang setengah mati rindu kamu" Bang Sanca meraba keindahan lekuk tubuh Fia yang membuatnya tergoda.
Bang Sanca mematikan lampu kamarnya. Lalu membawa Fia ke atas ranjang. Satu persatu ia membuka pakaiannya. Satu kecupan manis, indah dan berbalas ia rasakan. Nalurinya sebagai seorang pria mencuat melambung tinggi ke angkasa.
Tapi saat Bang Sanca mulai tidak tahan lagi. Fia menarik diri.
"Fia nggak bisa Bang. Kita sudah pisah" ucap Fia membuat Bang Sanca kembali berantakan karena Fia menolaknya.
.
.
.
.
__ADS_1