
"Apa bedanya gue sama lu? Coba kalau nggak ada masalah kemarin dan El nggak di tangan perempuan itu.. pasti baru jarak sebulan lu sudah hamilin Fia lagi. Dasar garangan..!!"
"Gariiiiinn..!!!!"
"Allahu Akbar.. pergi nggak lu, gue nggak mau anak gue mirip lu" Bang Sanca sampai mengelus dada melihat kelakuan Bang Garin.
Bang Garin seketika terdiam karena Bang Sanca sudah benar-benar emosi.
***
"Awas.. lantainya licin..!! Abang pel dulu..!!"
"Kok pecah Bang?????" tanya Fia melihat vas bunga kesayangan nya pecah berhamburan.
"Nanti Abang ganti. Mau berapa vas bunganya??" bujuk Bang Sanca was-was.
"Nggak ada yang motif begitu lagi Bang. Itu Bang Ibra yang belikan" Fia sudah berusaha keras menahan tangisnya, tapi akhirnya tangis itu pun tumpah juga.
"Maaf.. Abang nggak sengaja. Semalam kesenggol. Bang Garin sama Esa ribut gara-gara itu perempuan" kata Bang Sanca.
"Makanya.. pikir donk kalau mau berulah. Kalau sampai Abang berbuat seperti itu di belakang Fia.. Habis lah Abang Fia cincang"
"Siap salah Bu Danki.. Tidak berani macam-macam" jawab Bang Sanca tegas.
"Vas nya Bang..!!"
"Sabar.. Nanti Abang carikan gantinya" Bang Sanca mengecup kening Fia mencoba melunakkan hati sang pujaan hati.
-_-_-_-_-
Karena kekisruhan ini terjadi di area kekuasaan Bang Sanca.. maka Bang Sanca membawa semua pihak terkait ke ruangannya termasuk Bang Garin yang menjadi tersangka. Pembicaraan lumayan alot sampai Fia yang terlalu sensitif ikut terpancing emosi.
Bang Sanca bersiap angkat bicara tapi Fia sudah bersuara lebih dahulu.
"Apakah suami-suami kami yang notabene berseragam ini begitu menarik perhatianmu? Apakah kau pikir kantong mereka cukup tebal untuk kau ambil. Ini adalah ruangan suami saya.. jadi saya yang akan bersuara disini" ucap tegas Fia membuat Bang Sanca seketika menutup bibirnya rapat.
"Kalau memang suami saya tergoda denganmu.. ambilah.. marah saya hanya sebuah reaksi, tapi perlu kamu tau. Seragam itu hanya penutup tubuh di balik profesinya.. selebihnya dia hanya pria biasa. Jika kau mengira kantongnya sebegitu tebal.. mungkin saja benar, tapi maaf.. seluruh apa yang ada pada suami-suami kami.. kami yang menguasai. Jadi.. apa yang ingin kau ambil??"
Bang Sanca mengambil air mineral di hadapannya lalu meneguknya hingga habis hampir setengah botol. Fia begitu tegas di hadapan wanita yang di anggapnya parasit dan pengganggu itu.
"Urusan saya dengan Pak Garin" jawab Zefa.
"Setiap hal yang menyangkut keributan di wilayah ini adalah hak kami pemiliknya untuk menyelesaikan" ucap Bang Sanca membentengi Fia.
__ADS_1
"Kalian yang salah terka sudah mencelakai istri saya yang juga adalah Ini Komandan Kompi"
Zefa menunduk bingung karena benar ulahnya semalam sudah mencelakai Fia.
"Karena mereka orang luar, kita lapor polisi saja..!! Mereka sudah melakukan tindakan pemerasan dan penipuan" kata Fia.
"Saya menipu dari mana? Pak Garin memang melakukan pelecehan terhadap saya" Zefa tetap bersikeras pada pendirianya.
"Oya... Kalau di tubuhmu berbekas dan di tubuh Pak Garin berbekas, itu artinya suka sama suka. Tapi bekas di tubuh Pak Garin lebih banyak.. jadi.. siapa di sini yang memulai lebih dulu???" tanya Fia pada logika pertamanya.
"Barang-barang Pak Garin hilang, setelah itu kau meminta tebusan setelah Bang Garin ucapkan alamat rumah suami saya.. apa tujuanmu?? Kamu bisa saya perkarakan karena menjebak suami saya juga" Fia berdiri dari duduknya dan berucap lantang.
Tubuh Zefa mulai gentar. Ia takut berhadapan dengan Fia.
"Saa.. saya hanya mencari makan karena ingin cepat pulang ke Jawa.
"Kamu tidak usah pulang..!! Biar saya yang pulang. Saya tidak mau dekat dengan pria ini lagi." kata Esa dengan marahnya.
"Dek.. tenang dulu..!! Kita cari solusinya sama-sama. Abang nggak merasa melakukannya dek" Bang Garin masih berharap Esa mau memaafkan nya.
"Saya minta maaf. Saya ngaku salah" pekik Zefa ketakutan.
"Semuanya harus di proses oleh hukum yang berlaku." ucap tegas Fia.
Beberapa orang POM membawa dua orang tamu Danki untuk di adili oleh pihak terkait.
"Aahh.. aduh Bang.. Fia sesak"
"Waduuuhh.." Bang Sanca langsung mendekap Fia yang sudah lemas dan tumbang. Terkadang Fia tampak tegas tapi disisi lain ia tidak bisa menyembunyikan sisi lemahnya sebagai wanita.
"Atur nafasmu dek.. Pelan-pelan..!! Kamu hebat sayang" satu kecupan manis mendarat di bibir Fia.
"Abang lihat itu, Bang Sanca bisa sesayang itu sama Fia. Kenapa Abang sampai menduakan Esa??" Esa menyambar tasnya lalu keluar membawa bayinya.
"Kau ini.. bisa tidak kalau bermesraan nya di rumah saja? Kau kira dunia ini milikmu sendiri??" ucap kesal Bang Garin melihat perlakuan manis Bang Sanca.
"Ya terserah aku. Ini khan istriku. Mana pernah aku bermain api sepertimu. Aku tidak mau mati muda karena rindu itu berat"
Bang Garin dan Bang Anjar ternganga karena seorang Sanca yang kaku dan dingin bisa mengucapkan kata seperti itu.
"Sialan..!!"
...
__ADS_1
Bang Sanca duduk berdua dengan Bang Ryan. Belum ada pembicaraan berarti di antara keduanya, setiap melihat Ryan hanya hawa panas yang bapak satu anak itu rasakan.
"Ini obat Abang" Bang Ryan menyerahkan sebungkus obat untuk Bang Sanca.
"Kamu tau obat Abang sudah mau habis besok?" tanya Bang Sanca tak percaya Ryan sampai melakukan hal itu untuk nya.
"Iya Bang. Tapi Abang harap maklum. Obat ini modifikasi. Mau tidak mau Abang harus menahan efeknya yang membuatnya sedikit sakit dan kehilangan kendali. Abang khan tau sulit sekali mendapatkan suplai barang itu disini" jawab Bang Ryan.
"Apa maksudnya disini Abang akan menyakiti Fia??"
"Kalau Abang tidak lepas kontrol.. semua akan baik-baik saja. Kalau terasa tidak kuat dengan sakitnya, sebaiknya Abang bawa tidur saja. Setelah bangun tidur Abang akan lebih sehat. Hindari keributan dengan Fia Bang. Fia tetap dalam pengawasan dokter." kata Bang Ryan memberikan arahannya sebagai seorang dokter.
"Abang paham" Bang Sanca menyunggingkan senyum meskipun rasanya enggan sekali melakukan nya. Entah rasanya melihat Ryan itu merupakan suatu amarah dan siksaan tersendiri baginya.
Suara langkah kaki terdengar menuju ke arahnya. Secepatnya Bang Sanca menyembunyikan bungkus obat itu ke dalam saku celananya.
"Itu apa Bang?" tanya Fia yang sempat melihat Bang Sanca memasukkan bungkusan ke saku celananya.
"Vitamin dari Ryan. Kegiatan disini terlalu padat untuk Abang. Ini buat jaga-jaga saja. Jangan sampai Abang terlalu lelah." jawab Bang Sanca berusaha logis.
"Oohh.."
"Oiya Bang. Kemarin ibu-ibu disini ajak Fia makan-makan di luar. Fia boleh ikut Bang?"
"Makan-makan dimana? Abang kok nggak di ajak?" tanya Bang Sanca.
"Ini acara ibu-ibu Bang. Abang golongan ibu-ibu?"
"Maksudnya Abang juga mau awasi kamu" jawab Bang Sanca.
"Ada Om Raiz sama Om Hega Bang"
"Lhoo.. kenapa ada mereka? Dua orang itu khan mudi sama ajudan Abang. Mana ada Raiz lagi.. Abang ikut" ucap Bang Sanca tanpa di minta.
Wajah Bang Sanca bersungut masam.. Ia mengecek ponselnya tak ada laporan dari kedua orang tersebut jika sang istri memintanya untuk menemani.
Raiz.. Ryan.. keduanya membuat emosiku tidak stabil. Banyak sekali mantan istriku ini. Jengah sekali aku.
"Jadi gimana Bang? Boleh nggak?"
.
.
__ADS_1
.
.