Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
29. Zafia ku.


__ADS_3

Rhea histeris di pemakaman Bang Dafa. Fia hanya terdiam mengingat kenangannya bersama pria yang pernah ada di hatinya selama empat tahun lamanya. Ibu Bang Dafa menenangkan Rhea, dulu ibu Bang Dafa juga tak begitu menginginkan Fia yang masih anak-anak itu.


Bang Sanca menghampiri Fia setelah acara pemakaman itu selesai. Fia menghindari Bang Sanca, ia sangat memahami maksud Bang Sanca atas percakapannya dengan Rhea tadi tapi entah kenapa disisi lain ada perasaan yang mengganjal jika ia terus mengingatnya, hatinya akan semakin sakit.


"Tunggu dek..!! Kita pulang sama-sama" ajak Bang Sanca.


"Fia pulang sama Bang Ibra" tolak Fia.


"Ibra di tugaskan kawal. Hanya Abang yang bisa pulang sama kamu"


"Fia bisa naik taksi. Pulanglah sama mbak Rhea" kata Fia. Sungguh kata itu tidak ingin ia ucapkan tapi ada perasaan yang sungguh tidak bisa ia tahan.


"Istri Abang kamu.. bukan Rhea"


"Tapi perhatian itu tidak pernah pudar khan Bang? Abang tetap mencemaskan Rhea.. dan itu menyakiti hati Fia" ucap jujur Fia lalu meninggalkan Bang Sanca menjauh dari kerumunan meskipun langkahnya masih belum stabil.


Bang Sanca tidak ingin menambahi beban Fia. Ia mengikuti langkah Fia lalu menghadang langkahnya. Satu kecupan mendarat manis di kening Fia.


"Kalau ribuan maaf tak bisa melegakan batinmu. Lakukan apapun asalkan beban di hatimu berkurang. Abang hanya ingin menjadi sebaik-baiknya manusia tapi Abang yang tidak sempurna ini masih saja menyakiti hatimu" Bang Sanca menarik tangan Fia agar bisa memukulnya.


Fia langsung menangis. Ia langsung menampar pipi Bang Sanca, tangan lembutnya yang tidak memiliki banyak tenaga itu memukuli dada Bang Sanca sekuat tenaga hingga akhirnya Fia kelelahan dan memeluk Bang Sanca menumpahkan seluruh tangis yang begitu terasa sakit di hatinya.


"Fia sadar diri Bang, tak bisa bersaing dengan tujuh tahun kebersamaan Abang"


"Dan Rhea tidak bisa mengalahkan satu hari malam panjang yang membuat Abang begitu mencintaimu. Kamu tidak pernah tau bagaimana Abang begitu tersiksa menahan rindu karena sudah tergila-gila sama kamu. Mantan tetaplah mantan apapun alasannya.. sedangkan kamu jantung kehidupanku, deru nafasku, denyut nadiku. Teman seperjuangan Abang menuju surgaNya" Bang Sanca membawa Fia ke dalam mobil untuk menenangkannya.


:


Mereka berdua duduk di dalam mobil. Bang Sanca menurunkan jok mobil agar Fia bisa lebih rileks.


"Abang hanya merasa bersalah, karena Abang.. Dafa gugur dalam medan perang dan kamu pasti pahami itu tapi lebih daripada itu.. hati Abang terasa sakit tak sanggup membayangkan jika Abang yang harus pulang nama, apa yang akan terjadi padamu dan anak kita. Anggara.. bayi itu sudah tidak tau lagi siapa papanya. Beban ini terasa begitu berat Abang rasakan. Sehatlah kamu dan bayi kita, Abang nggak mau apa-apa. Hanya ingin kamu dan Juno sehat.. itu sudah cukup"


Mereka berdua saling berpegangan tangan dan berusaha memahami satu sama lain.

__ADS_1


"Abang tetap harus di hukum" kata Fia.


"Siap sayang..!!"


"Siap salah..!!"


"Laksanakan sesuai perintah..!!" jawab Bang Sanca.


"Puasin Fia............." pintanya sesenggukan.


"Siap boss.. kita balik sekarang..!!" jawab Bang Sanca tersenyum sumringah.


"Puasin Fia makan bakso" ralat Fia saat wajah Bang Sanca sudah berubah mengkhawatirkan.


"Ealaaahh.. Abang kira mau ajak hok yaa.. hok yaa" Bang Sanca tersandar menghela nafas panjang.


-_-_-_-_-


Bang Sanca meminta ijin sepihak pada Bang Hisam. Danyon sampai kebakaran jenggot menghadapi kelakuan Bang Sanca.


Fia pun tak bisa disalahkan. Istrinya itu sudah berusaha keras untuk tidak cemburu, tapi sekali lagi ini adalah perasaan alami dari seorang istri apalagi Fia tengah mengandung.


...


Bang Anjar menenangkan Rhea. Di rumahnya masih terus berdatangan pelayat dan petinggi.


"Kamu tau kemana Sanca?" tanya Bang Garin karena petinggi juga mencari pria yang baru saja menjadi kapten itu.


"Mana kutahu. Aku sibuk sama Rhea, nggak sempat pikir Sanca" jawab Bang Anjar.


"Kurang ajar betul dia, kita kena lirik atasan" kata Bang Garin.


"Biarkan saja. Resiko kita tanggung belakangan. Aku yakin dia pasti sedang mati-matian membujuk Fia karena kebodohannya sendiri. Kita khan sudah paham sifat Sanca. Tapi kamu lihat, saat bersama Fia.. Sanca seperti orang gila. Bisa menangis dan seemosional itu. Beda saat Sanca bersama Rhea, Adel, Suci, Fatma, Diza. Semua kaku dan datar saja. Hanya dengan Fia saja, kekasih Sanca yang paling muda.. tapi begitu ia sayang mengalahkan rasa sayangnya untuk Rhea"

__ADS_1


"Kamu benar An.. Fia benar-benar menutup batin Sanca untuk wanita lain. Dulu saat Rhea selingkuh.. Sanca masih memberinya hati, tapi kemungkinan besar perasaan itu sudah mati apalagi saat Rhea main gila dan hamil dengan Dafa.. hatinya tidak bisa mentoleransi lagi. Jadi Fia ini kartu matinya Sanca" ucap Bang Garin.


"Bang Dafaaa.." pekik Rhea di dalam kamarnya. Refleks Bang Anjar berlari masuk melihat keadaan Rhea.


...


Di atas kafe panggung. Bang Sanca menyandarkan Fia agar duduk bersandar padanya. Semangkok bakso yang sudah di pesan belum juga tersentuh pemintanya. Bang Sanca kembali kelabakan saat Fia mulai diam lagi.


"Abang suapin ya..!!" Bang Sanca mengambil sesendok bakso yang sudah hampir dingin itu tapi Fia menolaknya, ia paham keadaan hati istrinya yang sedang benar-benar terluka, melow berubah-ubah. Pasti kemarahan istrinya itu belumlah cukup puas melegakan rasa cemburunya.


"Kalau Abang mementingkan Rhea, sekarang Abang tidak akan ada disini untuk menjagamu. Kontak fisik dengan Rhea tidak lantas membuat Abang jatuh hati sama dia. Masa lalu cukup hanya menjadi masa lalu, tidak untuk di ulang. Kamu yang terakhir.."


"Aaaa'..." Fia membuka mulutnya. Perutnya sudah keroncongan. Rasa lapar mengalahkan rasa marahnya. Bang Sanca ingin tertawa tapi ia berusaha keras menahannya agar istrinya tidak marah lagi.


Tanpa bicara Bang Sanca menyuapi Fia. Bang Sanca tersenyum, tak terbayangkan olehnya bisa menikahi gadis yang usianya terpaut sepuluh tahun di bawahnya. Seorang om-om mencintai gadis kecil yang lain daripada yang lain. Ia bagaikan mencintai seorang putri raja yang begitu sulit di taklukkan. Jika dulu Rhea akan mudah percaya ucapannya, tapi tidak dengan Fia. Satu gadis kecil bisa membuatnya kocar-kacir terbayang hingga pelupuk mata dan mengobrak Abrik batinnya. Sungguh Zafia adalah istri kesayangannya.


"Bang..!!"


"Hmm"


"Ngamar yuk..!!"


"Ehemmmm.. tumben ngajakin Abang, biasanya Abang yang paksa" kata Bang Sanca.


Fia memainkan jemarinya dengan gusar.


"Ya sudah cepat habiskan makananmu. Mau ngamar dimana?" bisik Bang Sanca.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2