
"Sudah nih Bang. Anak Abang baik-baik saja"
"Alhamdulillah.." Bang Sanca mengusap wajahnya mengurai kelegaan.
"Kepalanya bagaimana Al? Saya takut ada masalah lagi mengingat ingatan Fia dulu pernah hilang sebagian"
"Aman Bang. Fia tidak sadar karena obat penenang, biar dia tidak merasakan begitu sakit.. bukan karena benturannya. Lagipula benturannya sedikit kok Bang. Tadi hanya syok saja sampai pingsan" kata dokter Alle.
"Gitu ya..!! Bisa di bawa pulang nggak nih?"
"Bisa Bang, tapi stop say hello sama jagoan ya..!!" pesan dokter Alle.
"Kalau Abang nggak bisa ya terpaksa di rawat saja, daripada Abang nyolong waktu" dokter Alle benar-benar terang-terangan bicara di hadapan Bang Sanca.
"Abang bawa pulang saja. Abang janji nggak akan macam-macam" janji Bang Sanca yang begitu diragukan dokter Alle.
"Baiklah Bang.. saya ijinkan pulang"
...
Opa Rinto berkacak pinggang di hadapan Bang Sanca melihat cucu kesayangannya sampai terhantam dalam keributan di sawah kompi. Fia masih setengah sadar sampai Bang Sanca yang harus menggendong nya masuk ke dalam kamar.
Masalah tidak berhenti sampai disitu saja. Bang Sanca sudah membuat para warga kehilangan pekerjaan karena semua aset tanah Kompi sudah di ambil alih Danki garang itu.
"Kamu apa nggak mikir, sudah mengambil tanah untuk mata pencaharian penduduk? Ada anak yang harus mereka beri makan" tegur Opa Rinto.
"Lalu apakah karena saya berseragam lalu saya tidak bisa melindungi keluarga saya?" jawab Bang Sanca.
Tak lama HT Bang Sanca berbunyi, ada info bahwa ada keributan di gerbang kesatrian.
"Mau apa lagi mereka?" gerutu Bang Sanca mulai kembali kesal.
"Astaga Sancaaa..!! Jangan terbawa emosi..!!" Opa Rinto cemas dengan kemarahan Bang Sanca yang meledak-ledak.
"Ibra.. ikuti Abangmu..!!"
__ADS_1
:
"Kalian menuntut hak anak kalian?? Saya bayar hasil kerja keras kalian dan uang sewa lahan. Tapi apa kalian pikir tindakan kalian itu benar??? Kalian pikirkan tentang anak kalian.. saya pun juga pikir tentang anak. Istri saya sedang hamil muda. Istri saya terhantam ulah kalian.. lalu bagaimana hitungannya sekarang??" bentak Bang Sanca seketika menghentikan keributan disana.
"Kalian anarkis, saya pun bisa anarkis. Kalau kalian bisa tenang, saya juga bisa jauh lebih tenang. Kita ini sudah beranjak tua, apa kita masih akan terus bertingkah seperti anak play group???"
"Tenang sedikit Bang, jangan bentak lagi..!! Mereka sudah paham" kata Bang Ibra mengingatkan.
"Sekarang kamu handle mereka..!! Abang mau lihat Fia, tadi Abang tinggal dia masih setengah sadar" pamit Bang Sanca.
...
Bang Sanca melihat Fia makan di suapi Oma Anye. Tak banyak makanan yang masuk di perut Fia.
"Makan yang banyak donk sayang, si dedek lapar tuh" kata Bang Sanca sambil memijat tengkuknya, agaknya rasa mual belum hilang dari dirinya.
Fia menggeleng karena sudah merasa kenyang.
"Sebenarnya kalian berdua darimana sampai malam?" tanya Oma Anye di saat jam sudah hampir pagi.
"Kebun terong..!!"
Jawab Fia dan Bang Sanca bersamaan tapi berbeda jawaban.
"Oohh.. makan lalapan di kebun terong" jawab Opa Rinto kini paham kesibukan kedua cucunya itu. Opa Rinto mengangguk-angguk membuat Fia dan Bang Sanca malu setengah mati.
"Apa kebersamaan di rumah masih kurang?" tanya Opa Rinto.
Karena sudah tertangkap basah akhirnya Bang Sanca dengan gentle mengungkapkan perasaan hatinya.
"Bukan masih kurang opa, hanya saja saya memang ingin memberi sensasi yang baru dan berbeda untuk Fia. Bukankah punya quality time bersama istri itu bagus Opa?"
"Yaaa.. benar juga katamu. Waktu berdua dengan istri itu sangat penting. Dibalik kesibukan mu yang padat dan rasa lelah Fia mengurus rumah tangga, menyisakan waktu untuk hubungan kalian itu sangat bagus" jawab Opa Rinto.
"Oya San. Nanti usai sarapan kamu dan Ibra pulang dulu ya. Opa mau bicara dengan kalian berempat..!!"
__ADS_1
***
Bang Ibra duduk bersebelahan dengan Ola, Bang Sanca duduk bersebelahan dengan Fia. Opa Rinto pun membuka percakapannya.
"Papa kalian baru sampai di rumah, tapi papa kalian sakit"
"Sakit apa Opa???" Fia langsung berjingkat dan bereaksi dengan ucapan Opa Rinto sampai Bang Sanca harus menahan tubuh Fia karena takut bayinya berguncang.
"Papa kalian rindu cucu nya, papa ingin El, Inces dan Nasya ikut bersama Papa dan Mama kalian. Apa boleh?" tanya Opa Rinto.
"Papa tidak bertanya pada kalian karena tau kalian pasti tidak akan mengijinkan nya."
Bang Sanca dan Bang Ibra terdiam dan berpikir sejenak. Dalam hati mereka pasti sangat sedih jauh dari anak kandung sendiri apalagi istri mereka yang telah melahirkan anak mereka dengan taruhan nyawa.
"Paling tidak selama kehamilanmu ini terasa lebih baik" sambung Opa Rinto.
"Saya tergantung istri Opa, kalau istri mengijinkan.. saya nggak masalah" jawab Bang Ibra.
"Saya juga begitu karena Fia yang melahirkan dan lebih dekat dengan anak. Saya tidak bisa memberi keputusan apapun. Ibunya yang berhak" Bang Sanca pun mengikuti keputusan Fia.
Fia dan Ola saling pandang. Seakan saling menguatkan satu sama lain. Mereka saling memandang perut yang sebentar lagi akan membuncit lalu mereka melirik suami mereka masing-masing dengan tatapan intimidasi.
Merasa Fia sudah menatapnya, Bang Sanca sudah mulai gelisah.
"Iya.. Abang yang salah sudah buat kamu hamil" Bang Sanca terpaksa mengaku salah daripada harus celaka.
"Lalu Abang??" tanya Ola melirik Bang Ibra.
.
.
.
.
__ADS_1