Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
104. The power of Fia.


__ADS_3

Tolong bijak dalam mencerna cerita fiksi..!! Ini sebatas cerita karangan yang tidak menutup kemungkinan terjadi di sekitar kita. Tinggalkan komentar yang baik. Mood Nara juga berasal dari komentar indah pembaca semua. Komentar boleh, asalkan kita tidak saling menyakiti 🥰🙏.


🌹🌹🌹


Ola masih enggan berbicara pada Bang Ibra hingga Fia harus turun tangan mendamaikan Abang dan kakak iparnya itu.


"Mbak Ola, jujur Fia tidak tau siapa Wulan. Yang Fia tau hanya almarhumah Mbak Rinka. Maaf karena Bang Ibra telat menceritakan masalah Wulan, Fia tau ini tidak bisa di benarkan tapi Fia yakin niat Abang sebenarnya hanya tidak ingin membuat Mbak Ola sakit sakit hati"


Ola memeluk Fia. Masih ada sisa tangisnya disana. Jelas sekali wajah Bang Ibra masih cemas ketakutan.


"Kamu lihat itu, kemarin masalah Yuna saja sudah buat Abang hampir mati di buatnya. Kamu lagi malah buat masalah. Bagaimana ceritanya sampai Wulan pegang kamu?" tegur Bang Sanca di teras depan.


"Kalau sudah ngambang mana sempat mikir sih Bang. Yang saya tau enaknya aja. Sekarang rasanya saya ini geli sendiri."


"Dasar cari mati lu, tapi lumayan lah.. bisa ngerasain yang beda" ledek Bang Sanca.


"Aduuhh Bang.. tobat.. kapok bener saya Bang" Jawab Bang Ibra.


Bang Sanca tertawa geli melihat ekspresi Bang Ibra yang begitu cemas. Tapi kemudian tawa itu terhenti, perut Bang Sanca terasa sebuah,. kembung dan tidak nyaman.


"Kenapa Bang?" tanya Bang Ibra menyadari perubahan wajah Bang Sanca.


"Nggak.. nggak apa-apa" secepatnya Bang Sanca menyambar rokok dan menyulutnya.


"Haduuuhh.. rasane rokokmu kok nggak enak??" protes Bang Sanca.


"Tadi Hega belikan saya yang menthol Bang, ya sudah lah sekali-kali ganti suasana" jawab Bang Ibra.


"Hhkkkk.." Bang Sanca seketika berlari pulang melewati pembatas rumah mereka


:


"Muntah? Kenapa?? Tadi Abang nggak apa-apa" kata Fia.


"Kamu lihat saja dulu. Siapa tau Abang sakit"


"Ibuuuu.. bapak Buu.." teriak bibi dari dalam rumah. Fia pun berlari di susul Bang Ibra.


:


"Tolong belikan pasta gigi rasa melon. Hari ini rasanya Abang nggak mood ada segala sesuatu sama hal hal yang berbau mint, menthol"


"Lah kenapa Bang? Kalau Abang pusing, pakai mint bisa hilang" kata Bang Ibra.


"Hhkk.." Bang Sanca kembali berlari ke kamar mandi.


"Astaga.. Ada apa sih ini. Kenapa pada sakit begini???"


...


"Ubi, bengkoang????" tanya Bang Ibra.


"Coba saja dulu.. siapa tau berhasil..!! Besok Oma sama Oma berangkat sebelum subuh me tempat kalian" jawab Opa Rinto.

__ADS_1


"Iya Opa"


...


Hari menjelang tengah malam, Om Hega dan Om Indra baru memberikan pesanan Danki dan Bang Ibra segera menyiapkan untuk iparnya.


:


"Kalian berdua tidur sana. Lihat ini sudah jam setengah dua belas malam. Tengah malam begini kenapa masih rujakan, cabai tujuh lagi.. sakit perut kalian nanti" tegur Bang Sanca yang sudah sehat setelah menghabiskan beberapa potong ubi dan bengkoang.


"Ya sudah yuk.. Aku sudah kenyang" kata Ola kemudian berdiri dan membawa cobek ke belakang.


"Kenapa laki-laki selalu melarang kita padahal kita nggak melarang mereka hisap rokok hampir dua pax sehari" jawab Fia.


"Iya sih. Nggak adil ya khan"


"Padahal kita sama-sama punya misi nantang malaikat maut, mereka minta sesak napas.. kita minta maag kronis" lanjut Fia.


"Fiaaaa.. stop memanasi suasana..!!" tegur Bang Ibra.


"Tauu nih, punya istri sebiji aja, angel tenan tuturane. Bisa di sayang nggak kamu?" Bang Sanca pun ikut mengomeli Fia.


"Ayo tidur dek. Abang sudah ngantuk nih. Nurutin ngambek mu nggak ada habisnya" kata Bang Ibra.


"Ola pulang nanti dulu Bang" Ola seolah sengaja mengulur waktu.


"Pulang atau Abang panggul. Kalau minta di panggul berarti kamu harus terima akibatnya..!!" ancam Bang Ibra


Mendengar itu akhirnya Ola berjalan pulang membawa wajah cemberutnya.


"Eeehh yang ini ikutan manyun. Mau Abang panggul juga? Kalau si Badrun kalap.. bingung sendiri kamu nanti" Bang Sanca mengikuti langkah Fia sampai ikut masuk ke kamar mandi. Disana Fia masih terus bungkam hingga mereka berdua selesai membersihkan diri.


"Oohh.. ceritanya nantang nih?? Okeee.. Gaaasss..!!!!" Bang Sanca memanggul Fia dan membawanya ke dalam kamar dan menguncinya rapat untuk membalas dendam.


***


Rumah ramai sekali karena Opa Rinto dan Mama Anye datang. Pagi ini Bang Sanca kembali mual. Ia melirik si kecil Rara dalam gendongan istrinya. Si inces itu baru berusia enam bulan dan membayangkan Nasya yang berumur lima setengah bulan.


Nggak lah, jangan dulu. Horor sekali. Dari jaman papa sampai Sanca masa nggak ada yang beres masalah anak.


"Kenapa Pa?" tegur Oma Anye.


"Nggak ada Ma" senyum Opa Rinto menutupi kegundahan hatinya.


"Nggak ada dalam sejarah.. keturunan Rama Satria yang gagal. Kenapa aku harus ikut pusing" gumamnya lirih.


"Apa Pa?" tanya Oma Anye yang masih sempat mendengar gumaman suaminya.


"Nggak ada apa-apa Mama ku yang cantik" goda Opa Rinto yang selalu menyayangi Oma Anye, kulit yang sudah mulai keriput tak pernah mengurangi rasa cintanya untuk wanita pertama keturunan Rama Satria ( Di Ujung Peluru ).


...


Pukul sembilan pagi, Bang Sanca berdampingan dengan Fia sedangkan Bang Ibra berdampingan dengan Ola. Mereka berdua sebagai yang paling di tuakan di kompi menyambut Letkol Mawir beserta rombongan karena esok akan ada Panglima menilik secara khusus kinerja prajurit di daerah penjagaan 'terpencil'.

__ADS_1


Setelah beberapa sambutan dan arahan, kini para anggota berkumpul sesuai pembahasan kerja sedangkan istri Letkol Mawir yang sudah terbiasa terdengar 'gaungnya' menegur Fia dan Ola secara terang-terangan.


"Ibu Sanca dan Ibu Ibra, apa ibu berdua sedang melakukan kesalahan sampai wajah ibu-ibu ini jadi pucat."


Fia dan Ola seketika tegang mendengarnya meskipun mereka berdua berusaha keras menutupi ketegangan mereka.


"Apa suami ibu berdua ini tidak bisa membelikan make up?. Pucat sekali." sindir Ibu Mawir.


"Mohon Ijin ibu. Suami-suami kami tidak pernah lalai memberikan nafkah apapun pada kami. Mungkin pemilihan warna make up kami berdua kurang sesuai. Ijin arahan ibu..!!" tanya Fia sembari menahan diri mengingat status suaminya. Di kompi memang Bang Sanca adalah atasan tapi posisi Bang Sanca saat berhadapan dengan Letkol Mawir adalah bawahan.


"Sebentar lagi saya mau lihat hasil kerja keras di bawah kepemimpinan Ibu Sanca dan ibu Ibra..!!" jawab istri Letkol Mawir.


"Baik Ibu.. Siap"


...


"Mahal sekali.. ini pemborosan. Apa tidak ada yang lebih murah tapi hasilnya bagus?" gerutu Ibu Mawir.


Ibu Mawir beserta anggotanya terus mencecar Fia karena menganggap Fia terlalu muda untuk mengemban jabatan sebagai Ibu Danki.


"Ijin Ibu.. menciptakan taman dadakan dengan bunga tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit" jawab Fia berhati-hati.


"Memangnya keuangan Kompi Bu Sanca berapa? Kenapa tidak bisa di gunakan untuk penyambutan?"


"Mohon Ijin Ibu Mawir.. saya rasa, saya tidak paham dengan jalan pikiran ibu. Tadi ibu mengatakan ada pemborosan keuangan di bagian pembelian bunga. Jaman sekarang tidak ada bahan dan barang yang murah. Saya rasa juga ada kekeliruan jika ibu menginginkan penyambutan dengan jalan yang akan ibu injak tadi dengan hamparan kelopak bunga dengan harga kisaran satu atau dua juta. Uang segitu hanya bisa untuk menutup makam ibu" ucap Fia begitu jelas dan sangat menusuk hati Bu Mawir.


"Jaga bicara anda Ibu Sanca..!!!" ucap keras Bu Mawir seketika membuat perut Ola kram hingga ibu pengurus ranting yang lain membantunya menjauh dari Bu Mawir dan seorang lagi meminta pada anggota remaja untuk melapor pada Dan Ibra.


"Keuangan Kompi kami adalah ranah pribadi kami. Ibu tidak berhak bertanya soal itu, ini sudah melenceng dari yang seharusnya." imbuh Fia.


"Benar-benar tidak tau aturan. Bagaimana cara Kapten Sanca mendidik mu..?????" Bu Mawir geram, ia memegang kedua bahu Fia hingga mengguncang bahu istri Kapten Sanca. Bentakan itu terdengar hingga telinga Bang Sanca.


Seketika Fia merasakan perutnya di remas kuat, dadanya sesak. Bang Sanca meninggalkan tamunya dan berlari menghampiri Fia.


"Ijin Ibu, apa ada trouble dari istri saya?" tanya Bang Sanca sembari memisahkan Bu Mawir dari Fia.


"Seharusnya Pak Sanca bisa mengajari istri bapak ini sopan santun yang sesuai jika berhadapan dengan atasan. Istri Bapak yang masih anak-anak ini sudah menyinggung saya. Dasar tidak bisa di arahkan..!!" jawabnya sembari membenahi sanggul cepolnya yang berantakan.


"Benarkah begitu? Sebagai suaminya.. saya yang lebih memahami istri saya luar dalam. Saya rasa tidak mungkin istri saya melewati batas jika tidak ada sesuatu yang terjadi" Bang Sanca masih berusaha tenang menjawabnya


"Ada apa ma?" tanya Letkol Mawir.


"Anggota mu ini pa..!! Tangani dia..!!" perintah Ibu Mawir dengan sinis.


:


"Ola.. Kamu kenapa dek??" Bang Ibra kaget melihat Ola hampir pingsan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2