
"Kalau lahir normal pasti besar ini San. Ini saja bobotnya 2,6 kilogram" kata Papa Zaldi sambil mengintip baby Rara di inkubator.
"Iya pa, saya pikir juga begitu. Besok Fia sudah boleh pulang. Papa masih lama khan disini?" tanya Bang Sanca.
"Nggak bisa lama San. Papa banyak kegiatan" jawab Papa Zaldi.
"El di tinggal saja ya pa. Saya kangen pengen main sama El" kata Bang Sanca.
"Fia belum sembuh San. Pasca persalinan ini Fia butuh banyak istirahat dan perhatian. Kalau El disini.. kamu nggak konsentrasi lho" alasan Papa Zaldi padahal dirinya sudah tidak sanggup berpisah dari cucu pertamanya itu. Sehari-hari Papa Zaldi bermain dengan El dan itu membuat jiwa mudanya kembali bangkit.
"Ya sudah pa, lagipula Fia belum sepenuhnya ingat El. Fia menyayangi El tapi tidak bisa berbuat banyak karena yang diingatnya.. El adalah anak Ibra. Jika kita memaksakan ingatan Fia kembali, itu akan mengobrak abrik usaha kita dari awal"
"Kamu benar San. Sekarang kamu sabar dulu ya. Nanti ada saatnya kamu berkumpul kembali dengan anak dan istri mu" kata Papa Zaldi.
:
"Begini Bang?" tanya Bang Ibra yang membantu mencetak nama untuk anak kedua Bang Sanca.
"Iya sudah benar" jawab Bang Sanca kemudian menyerahkan kertas yang baru di cetak itu pada Bang Ibra lagi.
Nimas Ayu Sedah Kamaratih.
Bang Ibra membacanya berulang kali.
"Fia sudah punya dua anak. Ryan sebentar lagi. Aku kapan? Lama-lama pengen juga nih punya anak" gumamnya.
"Papii.." sapa El sambil berlarian menghampirinya.
"Lho.. kenapa El sendiri mana Daddy?" tanya Bang Ibra.
"Daddy di kamar mama Fia sama Papa. Mama sakit" kata El menunjukan wajah sedihnya.
"Oohh.. Mama nggak sakit, hanya capek aja pengen tidur. El sama papi besok malam ikut pulang ke Jawa ya..!!" ajak Bang Ibra.
"Iya papi"
Bang Ibra menyimpan senyumnya. Ia mengingat mantan kekasihnya Rinka. Kekasih yang ia cintai itu sudah kembali berpulang dua minggu yang lalu. Ia menyeka air matanya. Berkas pengajuan nikah yang sudah hampir selesai akhirnya harus pupus di tengah jalan.
"Papi sedih?" tanya El.
"Nggak sayang. Papi nggak sedih.. khan ada El yang temani papi"
...
Perlahan Fia sudah bisa berjalan meskipun langkahnya tertatih. Fia pun memeluk Bang Sanca menyudahi latihannya sore ini.
"Sudah cukup. Jahitan masih basah. Nyeri Abang lihatnya" kata Bang Sanca.
"Sudah nggak sesakit kemarin Bang. Ini Fia sudah bisa tahan sakitnya" jawab Fia.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. besok di rumah jangan kambuh-kambuhan ya sakitnya. Sehat selalu Neng geulis" nafas lega Bang Sanca ikut melegakan hati semua orang, pasalnya sejak tiga hari yang lalu tiada hari tanpa ketegangan dan amukan dari Kapten Sanca.
"Abang.. Fia mau pingsan..!!" Fia yang jahil mulai menggoda suaminya yang mudah panik.
"Neng.. aaahhh.. Jangan main-main lah." tegur Bang Sanca memelototi Fia.
Semuanya pun tertawa melihat wajah tegang Bang Sanca.
"Habis ini Fia hamil lagi ya Bang" goda Fia lagi.
"Huusshh.. ampun dah itu mulut. Kita ikut program pemerintah. Dua anak cukup" kata Bang Sanca.
"Iya dek.. jangan ngomong aneh-aneh. Dua saja sudah cukup" imbuh Papa Zaldi.
"Iya.. iya.. takut amat sih. Masih lama juga khan Pa. Anak Fia juga masih satu"
"Hmm.. oke.. Nanti Rata sudah besar, sudah sekolah.. baru kita pikir program anak lagi" jawab Bang Sanca agar Fia tidak terlalu membahas soal anak lagi.
"Kamu ini apa nggak sakit.. anak baru lahir kemarin kok sudah nagih lagi." gerutu Bang Sanca.
-_-_-_-_-
Bang Ibra bersandar di kursi taman rumah sakit sambil merokok. Entah sudah berapa banyak yang di hisapnya tapi bayangan Rinka tak bisa hilang dari pikirannya.
"Abang tidak tau apakah Abang pantas mengatakannya, tapi waktu akan mengajarkan mu untuk melupakan semua. Ikhlaskan dia.. Rinka sudah tenang di sisiNya" Bang Sanca memberi Bang Ibra sebotol minuman.
"Terus terang tidak, tapi melepaskan gadis yang begitu baik pernah.. dan itu adalah penyesalan" jawab Bang Sanca.
"Siapa? Yuna??" tebak Bang Ibra.
Bang Sanca hanya tersenyum seolah membenarkan pertanyaan kakak iparnya barusan.
"Itu dulu. Hanya masa lalu. Sekarang dan untuk selamanya.. wanita yang terbaik hanya adikmu saja, Abang bisa nangis darah kalau kehilangan dia" ucap Bang Sanca serius.
"Iya Bang. Saya percaya itu"
***
"Kenapa antingnya warna ungu sih Bang. Modelnya begini lagi" protes Fia saat melihat anting emas yang di belikan Bang Sanca untuk baby Rara.
"Nggak apa-apa. Bagus ini dek. Biar kaya penyanyi dangdut gitu" kata Bang Sanca dengan bangganya.
"Astagfirullah Bang..!! Terus apa itu di kantong warna kuning?" tanya Fia.
"Baju renang buat Rara. B****i kerang warna merah" jawab Bang Sanca.
"Abaang.. Abang ngayal apa sih??? Anak masih baru lahir kok sudah di belikan b****i motif kerang????"
"Daripada Abang nyawer perempuan.. nanti kamu ngamuk lagi" kata Bang Sanca.
__ADS_1
Fia yang kesal melepas sandalnya lalu menghantamkan berkali kali ke lengan Bang Sanca.
"Aawwhh.. sakit dek. Abang salah apa to???"
...
Fia dan Bang Sanca melewati gerbang kesatrian kompi, di sepanjang jalan itu sudah di sambut banyaknya balon warna ungu dan pink, tak lupa banyak sekali bunga dari berbagai kenalan Bang Sanca.
"Bang.. ini meriah sekali. Ini semua untuk Fia?" tanya Fia masih melihat sekeliling kompi.
"Iya, di situ tertulis.. 'Selamat atas kelahiran baby Inces.. Nimas Ayu Sedah Kamaratih, putri Nyonya Zafia .T. Sanca Trengginas', Istri Abang khan hanya kamu. Apa ada yang lain?"
"Fia satu-satunya khan Bang? Yang paling cantik"
Bang Sanca mencolek dagu Fia.
"Maafkan Abang sayang.. sekarang cinta Abang sudah terbagi untuk gadis lain.. kamu jangan marah ya, jangan cemburu buta"
"Fia baru melahirkan Bang.. Bisa-bisanya Abang bilang begitu..!!!!!!" tangan Fia begitu enteng memukuli lengan Bang Sanca.
"Eehh.. anakmu nanti bangun lho." Bang Sanca melindungi si kecil Rara dalam pelukannya.
"Kalau Abang nggak sayang Rara, siapa mau sayangi putriku ini. Ya jelas papanya yang paling sayang. Anak cantik begini.. Abang nggak mau anak Abang ini di ganggu laki-laki lain"
"Makanya.. bilang apa-apa itu yang benar. Biar yang dengar nggak salah paham"
Om Hega dan Om Indra menahan tawanya mendengar keributan Danki dan istrinya di bangku belakang.
Mobil sudah sampai di depan kediaman Danki. Bang Sanca turun dan membukakan pintu mobil untuk Fia sambil menggendong si kecil Rara.
"Pegang pinggang Abang dek..!!" tangan Bang Sanca tetap merangkul dan berjalan perlahan bersama Fia.
"Abang.. masih terasa nih nyerinya"
"Sabar dek.. Luka yang kering baru bagian luar, bagian dalam belum. Nanti kamu tidur sama dedek ya. Abang temui tamu dulu. Nggak enak mereka sudah datang"
Fia mengangguk pelan.
"Aduuhh Bang, perut Fia rasanya seperti di remas"
"Ya sudah ayo cepat masuk. Abang cek di dalam. Kamu belum bisa kerjakan apapun terlalu lama nih dek" ucap Bang Sanca tetap siaga.
.
.
.
.
__ADS_1