
"Ada apa sayang?" tanya Bang Ibra.
"Wulan lelah belanja sendiri. Kira-kira kalau Wulan belanja lagi apa Abang temani?" tanya Ola dengan suara yang begitu lembut.
Wulan menunduk tersenyum mendengarnya. Ia merasa Ola akan meminta suaminya untuk mengantarnya kemana-mana.
"Kalau begitu kamu saja yang belanja. Abang antar sepuasmu" Jawab Bang Ibra.
"Ola tanya.. Abang mau antar Wulan dan temani dia belanja?" pertanyaan Ola begitu halus tapi jelas sekali semua itu hanya bentuk sindiran telak untuk Wulan.
"Nggak.. Istri Abang itu kamu, bukan Wulan" Bang Ibra menatap mata Wulan dengan tajam.
...
"Kenapa aku harus ketemu perempuan seperti dia" terlihat sekali Bang Ibra yang begitu marah pada Wulan tapi ia masih berusaha menahan amarahnya.
"Abang tidak merasa ada yang janggal dengan Wulan? Cara Wulan melihat Abang itu seperti dia ingin memiliki Abang" kata Ola.
"Ngaco kamu. Nggak usah mikir macam-macam" jawab Bang Ibra.
"Ola nggak ngaco Bang. Jelas sekali dia ingin dekat dengan Abang. Selama dia disini jelas sekali Abang nggak nyaman. Abang membatasi pergerakan di dalam rumah sendiri. Ola merasa hidup seperti tahanan. Dia yang berkeliling seluruh rumah, menonton tv dimana pun dia suka, durasi mandi melebihi Ola" kata Ola mulai menjabarkan.
"Memangnya kalau dia suka kenapa? Abang nggak ada perasaan sama dia. Abang sudah menyarankan agar dia keluar sejak lama. Kamu saja yang tidak mau dengar" bentak Bang Ibra.
"Setiap membahas Wulan, Abang selalu kasar dan aneh? Apa sebenarnya Abang sangat mengenal Wulan??" tanya Ola.
"Cukup..!! Sudahi pembicaraan ini. Abang nggak mau ribut cuma gara-gara perempuan itu."
Ola rasanya ingin menangis mendengar bentakan demi bentakan yang Bang Ibra lontarkan tapi suaminya itu saat memang benar-benar marah, matanya pun membulat besar berkilat merah. Ola segera memeluk suaminya itu.
"Ya sudah, Ola nggak bahas dia lagi. Maaf ya Abang"
Bang Ibra ingin menepis tangan Ola tapi Ola terus mengeratkan pelukannya. Hati Bang Ibra pun seketika luluh.
"Kalau Abang bilang cukup.. jangan kamu tambah ucapan lagi. Abang berusaha keras tidak menyakiti hati dan badanmu"
Ola mendongak menatap mata Bang Ibra.
"Naahh.. manja seperti ini khan lebih cantik" Bang Ibra mengecup kening Ola, kecupan manis itu turun hingga ke bibir. Tangan Bang Ibra mulai nakal bergerilya.
Ola sedikit menjauhkan tangan Bang Ibra dari dirinya.
"Kita khan belum belanja Bang. Punya Abang sudah habis. Abang mau ke minimarket dulu?"
Bang Ibra membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Ya sudah nggak apa-apa. Kamu itu istri Abang, bukan simpanan Abang"
"Tapi Ola masih takut Bang"
Bang Ibra tak ingin mendengarnya lagi, dalam hati memang ada was-was tapi ia berusaha untuk tetap waspada.
***
Hari sudah subuh. Bang Sanca tersenyum getir saat Fia melihat Fia mengambil mukenanya. Berarti istrinya itu sudah dalam posisi aman. Obat yang di berikan dokter memang benar-benar bagus.
Usai sholat bersama Fia menunduk mencium punggung tangan suaminya. Saat itu juga Bang Sanca menarik Fia ke dalam pelukannya. Rasa rindu yang teramat sangat sungguh menyiksanya.
"Abang kangen banget dek" pelukan erat dari Bang Sanca sudah sangat menunjukan kerinduan yang teramat dalam. Bang Sanca sampai mencuri kecupan kecil di bibir Fia.
Saat ini hati Fia pun sedang gundah. Dimana rasa tidak teganya begitu besar melihat sang suami yang sudah sepenuh hati menjaganya. Jemari lentik Fia bermain-main kecil di dada bidang Bang Sanca.
"Buka puasa yuk Bang..!!" ajak Fia.
Bang Sanca masih sibuk dengan fantasinya tapi bukan berarti ia tidak mendengar ajakan istri tercinta.
"Bang..!!" Fia mengusap pipi Bang Sanca dengan lembut. Sikap manja Fia semakin membuat Bang Sanca tidak tahan.
"Kalau ada apa-apa, Abang pasti merasa bersalah banget dek. Abang takut sekali. Sebelum kebablasan.. jangan ganggu Abang sayang..!!" pinta Bang Sanca sembari menyentuh pipi Fia dengan punggung jarinya. Disana Fia membimbing tangan Bang Sanca untuk membuka mukenanya.
"Fia ikhlas Bang."
...
Bang Ibra dan Bang Sanca tidur berdua menutupi wajah masing-masing dengan topi rimba di bawah sebatang pohon besar. Kedua komandan itu benar-benar lelah tak sanggup merasakan badannya lagi.
Fia melihat suaminya begitu begitu nyenyak, tidur tanpa beban di wajahnya. Ada beribu wajah kelegaan terpancar dalam tidurnya.
"Enak ya Bang tidurnya?"
"Bang Sanca kenapa Fi?" tanya Ola.
"Nggak apa-apa Mbak. Ini tidur bisa barengan begini ya"
"Baru kerja keras Fi. Maklumi saja" bisik Ola. Kedua wanita itu tertawa geli tapi kemudian segera pergi sebelum suami mereka terbangun.
...
Fia dan Ola mengerjakan tugas mereka berdua bersama beberapa ibu pengurus ranting. Kompi mereka akan mendapat peninjauan kerja dari atasan di bulan depan.
"Ijin ibu, kita menyambut pihak atas secara resmi atau lebih kekeluargaan?" tanya Bu Salman.
__ADS_1
"Ibu Letkol Mawir meminta acara formal, tapi nanti saat ada acara bersama panglima baru.. beliau meminta acara lebih kekeluargaan" jawab Fia.
"Baik Bu, ijin arahan ibu..!!"
"Ooohh iya.. begini..........."
:
Ponsel Fia berdering, ada panggilan telepon masuk dari Ibu Letkol Mawir. Fia pun segera menjawabnya.
"Siap salah Ibu.. Siap..!!"
Wajah Fia terlihat kusut namun sesaat kemudian ia menatap para anggota nya.
"Ibu tidak berkenan dengan konsep kerja yang kita buat" kata Fia.
"Ijin ibu, bukannya Ibu Mawir sendiri yang minta, kalau boleh tau.. salahnya dimana Bu?" tanya Bu Salman.
"Salahnya ada di perhitungkan biaya pengeluaran nya" jawab Fia.
Bu Salman melihat lagi hasil kerja team nya tapi tidak merasa ada yang janggal dengan hasil kerjanya.
"Ini tidak salah Bu. Ijin arahan ibu..!!"
"Kita terlalu banyak memakai anggaran dana 'perserikatan istri'. Mereka menganggap semua pengeluaran kita itu fiktif hingga nanti saat beliau datang.. beliau akan mengkaji ulang semuanya."
"Ya Allah, yang sabar ya Bu. Padahal ini permintaan beliau. Jaman sekarang mana ada bahan dan barang yang murah" gerutu Bu Salman.
Fia mengembangkan senyum di hadapan anggotanya agar tidak ada yang tegang disana meskipun hatinya sendiri pun saat ini sedang tidak baik-baik saja.
***
Akhir bulan berikutnya.
Ola membuka pintu rumah dengan cepat dan berlari masuk ke kamar mandi. Kerongkongan nya terasa getir dan pahit. Bang Ibra pun menyusul Ola masuk ke dalam kamar mandi.
"Dua hari ini kamu hanya tidur dua jam. Abang juga menyambut atasan tapi tidak sok kuat sepertimu" tegur Bang Ibra.
"Ayo Abang kerokin di kamar..!!"
.
.
.
__ADS_1
.