
Tengah hari bolong Bang Sanca baru terbangun dari tidurnya, entah bagaimana harus menjabarkan perasaannya. Setiap berhadapan dengan bumil, ia tidak bisa menahan diri dan jadi lepas kendali. Si bumil terlihat begitu menggoda mengacaukan kewarasan otaknya. Benar yang suka di katakan rekan sejawatnya wanita hamil itu dua kali lipat lebih menggoda.
Tapi disana Bang Sanca juga pusing tujuh keliling bingung bagaimana harus mengatakan segala situasi yang tidak baik ini pada Fia.
"Apa Abang harus jujur padamu atau Abang sembunyikan masalah ini dari kamu? Abang takut kamu kepikiran. Abang takut akan keselamatan mu dan anak kita" gumam Bang Sanca sambil membelai rambut Fia.
"Abang cemas masalah kelompok benalu emas?" tanya Fia.
"Fia sudah tau Bang. Abang jangan cemaskan Fia. Fia bisa menjaga diri"
Bang Sanca menoleh mendengar pengakuan Fia. Tak tau sejak kapan Fia membuka matanya.
"Fia nggak bisa tidur Bang. Sejak semalam Abang gelisah dan Fia mencoba mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saat Abang tidur.. Fia membuka ponsel Abang dan tau kalau Fia sedang di incar kelompok *******."
"Kamu nggak takut???? Makanya kamu jangan kemana-mana ya..!! Abang cemas sekali memikirkan kamu" kali ini Bang Sanca tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
Fia pun setengah bangkit dan menarik Bang Sanca agar bisa memeluknya. Mereka berdua berbaring di atas ranjang.
"Nggak, ada Abang yang akan selalu ada di samping Fia" jawabnya tegas meskipun sebenarnya ia sangat takut.
"Apa kamu akan baik-baik saja dan bersama si kecilku ini? Abang takut dek. Benar-benar takut" Bang Sanca bersembunyi di dada Fia. Rasa sesak sungguh menyiksa batinnya. Ia menahan tangisnya dan berusaha kuat.
"Segera urus segara perkuliahan Fia Bang. Abang berundinglah dengan pihak kampus agar Fia bisa kuliah tanpa tatap muka" pinta Fia membujuk Bang Sanca dan memberikan solusi nya.
"Siap laksanakan.." jawabnya menyetujui ide Fia.
***
Hari-hari pun berlalu. Demi keamanan keluarga, Bang Sanca menarik diri dari hingar bingar kehidupan asrama dan membawa Fia kembali pada orang tuanya, segala keputusan telah di bicarakan bersama hingga akhirnya keluarga menyetujui nama Fia belum resmi naik menjadi istri sah Bang Sanca. Tapi demi kebaikan semua. Bang Sanca mengadakan acara syukuran tertutup sembari mengenalkan sosok sang istri di hadapan umum. Bukan hal mudah bagi Bang Sanca yang begitu ingin menaikan status Fia. Tak jarang terjadi bersitegang antara mertua dan menantu.
"Kalau saya sudah hilang kewarasan, saya akan bawa Fia pergi karena itu adalah hak saya sebagai suaminya. Tapi saya tetap mengamankan Fia di rumah papa satu bulan ini. Apa belum cukup pa?? Saya sudah menahan diri untuk tidak terlalu banyak interaksi dengan Fia. Papa pikir saya nggak stress menghadapi ini semua" emosi Bang Sanca sudah memuncak.
"Sabar Bang.. sabar..!!" Bang Ibra mendekap adik iparnya yang sudah tak karuan.
"Kalian semua duduk. Ini ada acara syukuran.. nggak baik kalau harus di warnai keributan kalian..!!" perintah Opa Rinto.
"Kalau tau akan sekacau ini, saya tidak akan meninggalkan kalian. Umur kalian saja yang tua tapi tidak bisa mengendalikan emosi..!!!!" tegur Opa Rinto.
Tubuh Bang Sanca sampai gemetar. Ia menahan diri agar tidak kembali meluapkan emosinya.
"Maaf pa, Sanca.. ini salah saya" kata Papa Zaldi.
"Nanti malam kamu bawa istrimu ke mess. Seperti permintaanmu tadi. Bicaralah kalian berdua, yang tenang. Opa yang tanggung jawab" Opa Rinto meminta Bang Sanca segera menemani Fia sampai acara selesai.
"Dan kamu Zaldi. Papa sudah bilang, kamu dan Sanca itu sama-sama keras. Ini bukan masa mu lagi sekencang itu menghadapi dunia. Biarkan menantumu melaksanakan semua kewajibannya. Ikhlaskan, lepaskan, percayakan. Putrimu sudah berada di tangan pria yang tepat"
__ADS_1
"Astagfirullah pa, Sanca pasti stress sekali" Papa Zaldi mengusap wajahnya.
//
"Nanti pulang sama Abang ke mess ya?" bisik Bang Sanca.
"Kalau ketahuan orang gimana Bang?" tanya Fia.
"Abang bawa istri, nggak bawa selingkuhan" jawab Bang Sanca.
Fia pun tersenyum menunduk dan mengangguk mengiyakan ajakan suaminya. Satu bulan ini sang istri tidak mencari 'perkara' dengannya dan bersikap jauh lebih manis dan mulai satu bulan ini sikap Fia begitu tenang dan dewasa.
"Fia, bagaimana kandunganmu?" tanya Rhea yang juga berada disana atas ajakan Bang Anjar.
"Alhamdulillah sehat mbak, menjelang tujuh bulan malah baru terlihat perutnya. Sekarang mulai begah mbak" jawab Fia.
"Aku dulu juga begitu. Gerakan si baby mulai kencang. Punggung mulai pegal" kata Rhea.
"Iya mbak, mulai susah gerak" jawab jujur Fia.
Disana Bang Sanca, Bang Garin dan Bang Anjar bicara bertiga meninggalkan dua wanita yang belakangan ini mulai akrab.
"Kemana kamu bawa Rhea?" tanya Bang Garin.
"Rumah kontrakan tepat di belakang Batalyon. Rhea masih belum ikhlas soal kepergian Dafa dan masih sering mengunjungi makam.
"Itu dia masalahnya. Hampir setiap hari aku antar jemput Syakila dari rumah kontrakan Rhea. Malah kadang bibi tinggal di rumah mereka dan jadilah aku tidur sendirian di rumah asrama"
"Sebentar lagi masa Iddah Rhea selesai. Kamu nggak ada niat untuk lebih dekat sama dia?" tanya Bang Sanca.
"Jauh dari harapan ku San. Rhea berhak bahagia. Lagipula ini terlalu cepat. Biar semua jalan apa adanya dulu. Kita ikuti saja skenario Tuhan" jawab Bang Anjar yang sebenarnya mulai sedikit berharap karena Syakila sudah meminta seorang mama.
"Kau jangan bohong. Kita punya mata tidak buta, sesama playboy kita harus saling dukung" kata Bang Garin.
"Matamu... aku sudah tobat." Bang Sanca menepak jidat Bang Garin yang asal bicara
"Nggak ada lagi wanita seperti Fia.. titik no debat."
"Idiiihh.. bucin. Bisa bucin dia An" kata Bang Garin.
Tak lama Fia datang bersama Rhea. Fia memegangi perutnya yang besar, langkahnya terlihat begitu berat.
"Kamu kenapa?" Bang Sanca langsung berdiri dan mengarahkan Fia untuk duduk.
"Nggak kuat Bang, perut Fia nggak enak" ucapnya ngos-ngosan.
__ADS_1
"Kekenyangan Bang"
"Duuhh kamu ini buat jantung copot aja. Makan sedikit-sedikit khan bisa" tegur Bang Sanca.
"Bang Anjar.. bisa tolong antar aku pulang? Anggara sudah capek Bang" pinta Rhea pada Bang Anjar.
"Ayo..!!"
"Saya balik duluan ya, antar mamanya.. Anggara" ucapnya pada yang lain.
"Yooo.."
Bang Sanca hanya mengacungkan jempol karena fokus mengurus Fia yang nampak begah.
Berhubung acara sudah di tutup, Bang Sanca pun mengajak Fia untuk kembali ke mess dan membiarkan para remaja begadang di hari malam Sabtu.
...
Bang Sanca baru kembali ke mess lagi setelah berpamitan pada para anggotanya. Karena tidak membawa baju tidur, Fia memakai kemeja Bang Sanca yang pasti sangat kebesaran saat di kenakan.
"Waduh.. iwak asin nantang kucing" gumamnya sambil menyelimuti Fia dengan selimut motif Ariel si putri duyung kesayangan Fia dan akhirnya selimut itu sebagai teman tidur Bang Sanca selama satu setengah bulan ini dan selama itu pula dirinya sama sekali belum menyentuh istrinya.
Susah payah Bang Sanca menelan salivanya. Selimut yang tadinya sudah terpasang dengan benar sekarang malah ia singkap. Naluri nya sebagai seorang pria tidak bisa di bohongi. Rasanya sudah tak tahan lagi ingin menyalurkan rasa rindunya. Tangannya membelai kaki Fia yang halus dengan lembut.
"Abaang.." mata Fia seketika terbuka saat melihat Bang Sanca sudah bertelanjang dada.
:
tok..tok..tok..
"San.. Sancaa..!!!!!"
"Aduuhh.. mau apalagi itu si Garin?" gumam Bang Sanca.
"Sancaaa..!!!"
"Aku lagi bikin laporan apel malam.. besok saja, Aku sibuk..!!" jawab Bang Sanca.
"Hwuuu.. Sempruull.. Ora sopan Karo jomblo" Bang Garin menendang pintu kamar Bang Sanca dengan kesal.
.
.
.
__ADS_1
.