
"Allahu Akbar dek.. piye to iki???" Bang Sanca menghampiri Fia yang sedang menggelinjang dan memercing kesakitan tak beda jauh dengan Ola.
"Ide ne sopo deekk..?????"
"Ya berdua Bang" jawab Fia.
"Kamu ini lebih tua. Kenapa bisa satu pemikiran sama Fia??" tegur Bang Ibra.
"Ya maksudnya itu.. madu alam lebih baik Bang. Tanpa campuran, pewarna ataupun bahan tambahan lain."
"Terus ranting tipis itu kalian injak berdua??? Bukan main..!!!!!!" tegur keras Bang Sanca melihat kecerobohan Fia dan Ola.
"Sekarang kalau sudah keseleo begini bagaimana?? Masih untung kalian berdua nggak patah tulang" suara Bang Sanca semakin meninggi.
"Lain kali kalian jangan ngobrol berdua, Abang cemas masih ada ide lain dalam kepala kalian" kata Bang Ibra sambil menatap mata Fia dan Ola.
"Hmm.. jangan di dekatkan sama Esa. Trio cempluk ini bisa bikin repot apalagi ada dukungan moral dari Garin. Hancurlah sudah" awan Bang Sanca.
...
"Jangan nangis. Ini khan ulahmu sendiri" Bang Sanca menegur Fia yang tidak bisa diam saat ia mengurutnya.
"Tapi Fia dapat sarang tawonnya Bang"
"Jangan bicarakan sarang tawon itu lagi. Hidup yang mudah pun kamu buat susah" gemas sekali rasanya hati Bang Sanca merasakan ulah istri kecilnya.
"Maaf..!! Jangan marah lagi..!!"
~
"Tapi nggak usah nekat kalau nggak tau caranya. Lihat itu wajahmu jadi bengkak. Kamu kira ambil sarang tawon itu nggak pakai teknik? Abang saja masih pikir dua kali mau lihat sarang di atas sana. Kamu malah sok tau betul asal panjat"
"Ola pernah ambil sarangnya Bang" kata Ola.
"Di mana?" tanya Bang Ibra.
"Di atas pintu, yang lebahnya hitam" jawab Ola dengan polosnya.
"Itu nggak menyengaatt sayangkuuuu.. Kalau yang tadi kamu ambil sarangnya, itu menyengat. Bisa bengkak cintakuuuu.. Abang sengat juga kamu ya??" ingin sekali rasanya Bang Ibra menjitak istrinya itu.
"Bang.. Abang marah ya sama Ola?" Ola menggoyang lengan Bang Ibra.
"Nggak.."
"Kenapa wajahnya begitu?" tanya Ola.
"Begitu bagaimana sih sayang. Wajah Abang ya begini ini"
***
__ADS_1
Bang Sanca dan Bang Ibra tiba dalam undangan Danki sebelah di Kompinya. Karena mendengar acara syukuran tentu saja mereka memakai baju koko. Sesampainya di sana ternyata banyak petinggi menggunakan seragam lengkap termasuk Bang Garin sendiri.
Bang Sanca dan Bang Ibra tak bisa menyembunyikan rasa malunya saat berhadapan dengan para pejabat tinggi disana karena sudah terlanjur salah kostum.
"Aseem.. piye iki?" gumam Bang Sanca.
"Kita hadapi saja Bang. Sudah terlanjur" bisik Bang Ibra.
~
"Selamat siang.. Ijin..!!" Bang Sanca dan Bang Ibra menegakan badannya di hadapan para petinggi.
Tatapan mata para petinggi semua tertuju pada Bang Sanca dan Bang Ibra membuat kedua pria itu keki bukan main.
"Ya sudah ayo kita mulai saja..!!" ajak salah seorang pejabat.
"Silakan di mulai.. Kapten Sanca dan Lettu Ibra.
Bang Sanca dan Bang Ibra nyaris pingsan karena tak tau apa yang harus mereka lakukan disana. Tatapan para pejabat semakin membuat nyawa mereka nyaris melayang di detik-detik terakhir namun kemudian Bang Garin berdiri dan menyodorkan selembar kertas untuk Bang Sanca.
Tolong beri sambutan dan doa di acara ini. Ini acara untuk membuka peternakan kantor sebagai peningkatan bahan pangan di kalangan anggota.
Dalam hati Bang Sanca sudah mengumpat tak karuan karena di hadapkan pada masalah ini tanpa briefing sama sekali. Bang Sanca baru mengingat tentang program perencanaan kesejahteraan anggota di bidang peternakan.
Garin membodohiku. Kapasitas ku apa disini????.
~
//
"Heeehh kurang ajar.. kenapa kamu dadakan minta hal seperti ini? Aku nggak siap Gar..!! Lagi pula acara untuk kegiatan ini masih minggu depan di agendakan di kompiku..!!" protes Bang Sanca masih menyimpan kesal.
"Saya juga rasanya mau mati kebingungan nggak tau harus bagaimana waktu bicara di depan para pejabat. Mati kutu saya Bang" lanjut Bang Ibra.
"Kalian inii.. masalah kecil saja di besar-besarkan. Buktinya kalian bisa menyelesaikan dengan baik. Hmm.. satu lagi.. kegiatan di kompimu sudah di tiadakan karena kita sudah membahas rencana kerja disini" jawab Bang Garin.
Bang Sanca sampai terdiam seribu bahasa. Sudah pasti jika masalah debat mulut ia akan kalah telak. Bagaimana pun ia adalah pria sejati yang malas berdebat dan lebih banyak bertindak untuk menyelesaikan persoalan.
Lihat saja kau Garin.. nanti jika ada acara pertemuan dengan pejabat di kantor Markas. Kau akan tau rasanya kesal.
...
Esa, Ola dan Fia mengobrol Regina istri Lettu Marwan. Mereka berempat menyantap asinan sayur yang mereka buat. Regina istri Lettu Marwan sedang hamil besar sama seperti Esa.
"Rasanya pedas sekali mbak Esa" kata Regina tapi mulutnya tidak berhenti makan.
"Aku lagi doyan pedas. Anak ku perempuan Fi, jadi mungkin lebih doyan pedas" jawab Esa.
"Iya lho Sa, ini pedas sekali." Fia mengambil minum lalu menenggaknya sampai habis.
__ADS_1
Esa terus mengunyah tanpa peduli tanggapan teman-temannya.
"Sebentar ya, aku mau ambil tisue dulu"
Baru beberapa langkah berjalan. Kaki Esa basah.
"Eeehh.. apa aku menumpahkan sesuatu?" tanya Esa bingung.
"Esaa.. jangan-jangan itu ketuban?" tanya Ola.
"Hwaaa.. aku takuuut" Esa pun berteriak panik.
"Esaa.. jangan paniiiikk...!!" teriakan Fia yang ternyata tertular panik terdengar sampai ke empat bapak-bapak yang sedang mengobrol di teras rumah Bang Garin.
"Ono opo pot??" Bang Sanca berjingkat dari duduknya.
~
"Sebentar dek.. Jangan panik..!!" Bang Garin mondar-mandir di rumahnya mengangkut pakaian Esa ke dalam mobil. Tangannya dingin, wajahnya tegang bukan main.
"Heeh bodong, yang harusnya jangan panik itu kamu" tegur Bang Sanca.
"Aku ini suami siaga. Mana ada suami siaga panik" jawabnya tegas tapi entahlah dengan pikirannya.
Bang Garin membimbing langkah Esa sedangkan putranya bersama Lettu Marwan.
"Gar.. aku antar saja ya..!! Kamu di belakang. Kasihan Esa" bagaimana pun juga Bang Sanca tetap memiliki jiwa empati terhadap sahabatnya.
"Oke.."
Bang Sanca pun membuka pintu mobil untuk Fia lalu dirinya segera berlari masuk ke dalam mobil Bang Garin.
Baru saja Bang Sanca menyalakan starter mobilnya, Bang Garin sudah melaju dengan kencang menggunakan motor.
"Lhooo.. jiangkriiiiikk.. piye to kok bojone di tinggal????"
"Ibra.. itu si Garin kemana?"
"Naahh itu dia Bang. Belum sempat saya bicara, Bang Garin sudah melesat. Mungkin panik Bang" jawab Bang Ibra.
"Astagfirullah.. mumet akuuu..!!!" Bang Sanca mengusap wajahnya kebingungan sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1