Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
59. Cemburunya Kapten Sanca ( 2 ).


__ADS_3

"Jangaan Abaaang..!!" refleks Fia bangkit dari duduknya meraih tangan Bang Sanca.


"Aaarrghh.." Fia terpekik memegangi perutnya yang menegang.


"Ya Allah, bisakah kamu hati-hati sedikit. Kandunganmu nggak sebaik El" ucap Bang Sanca.


"Abaang tolong..!! Sakit"


Mau tidak mau Bang Sanca mengalahkan egonya demi Fia dan sang buah hati dalam kandungan.


Bang Sanca meraih tangan Fia dan menunda dulu niatnya untuk menemui Bang Ryan. Keselamatan Fia dan bayinya jauh lebih penting di atas segalanya.


"Jangan bertengkar dengan Bang Ryan" pinta Fia tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Hmm.. istirahatlah..!! Besok resepsi. Jangan sampai kamu kelelahan" kata Bang Sanca. Ia naik ke atas ranjang menemani Fia agar istrinya itu segera tidur.


:


Bang Sanca tidak sabar menghadapi bungkamnya Ryan. Saking tidak sabarnya Bang Sanca sampai melayangkan tangannya berniat menghajar Bang Ryan tapi tangan Ryan sempat menangkisnya.


"Jawab pertanyaan saya Ryan. Apa tujuanmu sampai Papa Zaldi tidak tau sepenuhnya soal Fia dan Raiz. Kamu khan tau semua itu pelanggaran berat. Lalu apa maksud dari kata-kata mu untuk Fia???"


"Maaf Bang. Saya harus kerja" pamit Ryan.


"Jangan katakan kamu ada hati dengan Fia" ucap Bang Sanca terus terang.


"Kami tidak ada hubungan darah. Wajar kalau saya ada hati dengan Fia............."


buugghhh....


Bang Sanca menghajar Bang Ryan tanpa perlawanan.


"B*****t.. ternyata kau ini gunting dalam lipatan. Fia itu istriku Ry..!! Sampai ada sesuatu dengan Fia, kau akan berurusan denganku..!!!"


"Astagfirullah hal adzim.. ada apa ini Bang????" Bang Ibra menarik kedua bahu Bang Sanca untuk memisahkan perkelahian itu.


"Raiz itu masih saudara saya Bang. Anak dari Tante Inggrid yang di sembunyikan keluarga karena mengejar karirnya" jawab Bang Ryan.

__ADS_1


"Apaa?????" Bang Sanca benar-benar bingung tak bisa menerka banyaknya rahasia dalam keluarga Fia.


"Jangan mempersulit ku Ryan..! Fia adalah tanggung jawabku sekarang..!!"


:


"Kau ini sebenarnya membela siapa Ryan??? Kalau tidak ada efek jera untuk Raiz.. dia bisa saja mengganggu Fia di kemudian hari"


"Saya hidup di bawah tekanan dan tanggung jawab Bang. Keluarga Papa Zaldi sudah membesarkan dan mendidik saya tanpa membeda-bedakan status. Tapi disana saya punya keluarga yang mengalir di darah saya. Saya hanya mencoba bersikap netral Bang... melindungi Fia dengan cara saya.. juga 'menghukum' Raiz dengan ringan.. memindahkan dia sejauh-jauhnya agar tidak mengganggu Fia. Setelah itu Fia di bawa ke dokter untuk di bantu hypnoterapy.. untuk melupakan hal yang terburuk dan paling buruk dalam hidup Fia. Perlahan.. Fia sudah jauh lebih tenang. Tidak mengenal Raiz lagi dalam hidupnya." jawab Bang Ryan.


"Apa yang di lakukan Raiz sampai Fia seperti itu??" mata Bang Sanca berkilat tajam. Matanya tajam menahan amarah meledak di dalam dada.


"Jangan mendesak ku Bang. Hanya sampai sini saja aku bisa menceritakan semuanya. Hatiku juga sakit sekali rasanya. Bagaimanapun sejak kecil aku sudah bersamanya. Kalau Abang memang mencintainya.. seharusnya Abang bisa menerima apa adanya Fia"


"Apa maksudmu Ry?? Apa Raiz sudah menodai Fia???" bentak Bang Ibra. Kini hatinya sebagai Abang kandung Fia remuk dan hancur berkeping. Tangisnya pecah.. baru bertahun-tahun Ryan baru mengungkapkan hal sebesar ini dan yang dia dan keluarganya tau adalah, Fia mengalami penganiayaan karena saat di bawa ke rumah sakit.. tubuhnya lebam. Dari pihak keluarga Raiz pun datang berkunjung secara baik-baik ke rumah Papa Zaldi dan meminta maaf atas perbuatan Raiz yang kelewat batas. Saat itu Bang Raiz baru dua bulan penempatan dinas. Keluarganya memohon agar Bang Raiz di ampuni karena dia satu-satunya tulang punggung keluarga.


"Tidak Ibra.. Aku yakin tidak terjadi apapun pada Fia. Mungkin hanya penganiayaan yang dilakukan Raiz." kata Bang Sanca.


"Tapi sebelum pengobatan itu Fia takut sekali dengan pria berkulit gelap Bang. Aku yakin Fia pernah melihat aneh-aneh" Bang Ibra semakin stress memikirkan adik perempuan satu-satunya itu.


"Lihat itu mungkin, tapi aku yang pertama.. adikmu itu hanya terkena racunku saja" dengan berat hati Bang Sanca terpaksa mengakui agar masalah ini segera selesai. Saat pertama di rumah ibunya memang setengah mati ia kesulitan 'menangani' Fia.. tapi pengalaman pertama baginya itu membuatnya tenang dan bangga karena dirinya yang pertama kali membongkar brangkas istri kecilnya itu. Selesai atau tidak selesai saat itu ia sudah menandai dan meninggalkan jejak pecahnya status Fia bahkan di kali kedua pun Fia masih meninggalkan tanda.


"Iya.. Fia hanya milik saya. Mana mungkin saya bohong tentang hal seperti ini" jawab Bang Sanca. Jengkel tetap merajai hatinya tapi terbersit rasa tenang karena Raiz tidak sampai menodai istrinya.. dan dirinya tetap berniat menyelesaikan perkara penganiayaan itu.


Ketiga pria yang sedang bersitegang disana, duduk bersamaan. Ada nafas kelegaan di wajah mereka.


"Selanjutnya.. biar saya yang tangani semua. Kalau hatimu tidak sanggup karena menyangkut dua keluarga.. Biar saya yang lakukan, Fia adalah hak saya sepenuhnya" ucap Bang Sanca.


"Saya ikut keputusan Abang" jawab Bang Ibra.


"Saya pasrah.. saya akan netral saja" sambung Bang Ryan.


"Waaahh... ada apa nih rame-rame. C*unya mana?" tanya Bang Garin yang tiba-tiba muncul sambil menggigit es krim di tangannya.


"Lihat kamu saja sudah pahit getir pot" jawab Bang Sanca.


Pembicaraan ketiga pria itu harus terputus karena Bang Garin memecah ketegangan di antara mereka.

__ADS_1


...


Malam harinya, keluarga berkumpul untuk acara esok hari.


Fia sedang berada di dalam kamar setelah mendapat riasan ringan. Meskipun dirinya menyadari sudah menikah dengan Bang Sanca.. tapi keluarga memutuskan untuk mengikuti prosesi agar Fia bisa merasakan kurang lebihnya menjadi pengantin Jawa.


Bang Ryan masuk ke dalam 'adik perempuan'nya itu.


"Haaii.. cantiknya Abang"


"Eehh Abang. Nggak gabung sama yang lain?" tanya Fia.


"Nanti saja. Abang lagi pengen lihat wajah si kecil Abang yang cantik" jawabnya menyimpan rasa haru.


"Bang Ryan.. Abang ikhlas khan kalau Fia menikah dengan pria pilihan Fia?"


Senyum Bang Ryan terlihat menyimpan seribu luka dalam hati.


Dari luar kamar Fia.. degub jantung Bang Sanca bergemuruh kencang memergoki Ryan dan Fia berdua di dalam kamar.


"Abang ikhlas dek, apapun Abang lakukan demi kamu. Asal kamu bahagia.. semua sudah cukup bagiku. Raga dan hatimu memang tidak akan pernah bisa Abang miliki.. biarkan Abang mencintaimu dengan cara Abang. Bahagialah kamu bersama pria pilihanmu. Senyum mu bahagianya Abang"


Bang Sanca bersandar lemas mendengar semuanya. Hatinya terasa pedih, tak tau saat ini apakah ia pantas mencemburui pria seperti Ryan.


"Terima kasih atas semua cinta dan kasih Abang untuk Fia. Tapi Fia sangat mencintai Bang Sanca. Semoga setelah ini Abang mendapatkan jodoh yang terbaik. Fia tidak sebaik yang Abang kira"


"Aamiin.. terima kasih banyak adik Abang yang paling cantik" Bang Ryan memaksakan senyum di hadapan Fia.


"Boleh Abang mencium mu? Tanda sayang Abang sama kamu"


deg..


Kini hati Bang Sanca rasanya panas terbakar, cemburunya bergejolak tak tentu arah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2