Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
82. Tanggung jawab.


__ADS_3

"Abang mau bicara"


"Apa Bang?"


"Semalam kamu mengigau tentang Yuna. Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Bang Sanca dengan lembut.


"Hmm.. boleh Fia tanya sesuatu? tapi Abang jangan marah ya sama Fia" kata Fia.


"Boleh.. tanya apa?" Bang Sanca memasang wajah penasaran padahal ia sudah tau perkara apa yang akan di tanyakan Fia.


"El itu, anak Bang Ibra atau.. anak Abang sama mbak Yuna?" tanya Fia berhati-hati.


"Ehm.. Dia nggak bermaksud apa-apa. Fia juga sayang kok sama El"


"Abang tau.. iya memang benar, El anak Abang.. anak kandung Abang bersama wanita yang paling Abang sayangi" jawab Bang Sanca seketika menyentak hati Fia.


"Maa..maaf Fia melupakannya Bang" terdengar suara Fia bergetar. Jelas sekali ia menahan tangisnya yang terasa begitu menyesakan batin. Rasanya ia tak sanggup membayangkan kebersamaan Bang Sanca dan Mbak Yuna. Terbayang dalam benaknya bagaimana pria gagah itu memperlakukan dirinya penuh cinta. Rasanya tak rela jika sentuhan itu terbagi untuk wanita lain.


"El adalah anak Abang sama kamu. Kamu belum bisa mengingatnya?" akhirnya Bang Sanca mengatakannya karena tidak tega melihat keadaan Fia.


"Fiaa.. nggak bisa ingat. Kenapa ini Bang?"


"Keadaan mu masih dalam masa pemulihan dek. Nanti kamu pasti akan mengingatnya." Bang Sanca mengangkat Fia masuk ke dalam kamar lalu menurunkan di atas ranjang.


"Tunggu sebentar lagi. Sampai kondisi tubuhmu lebih kuat baru Abang akan mengajakmu mengingatnya"


"Iya Bang" Fia tersenyum meskipun hatinya terasa sedih.


***


Bang Ibra menangis di pusara Rinka. Tak terbayangkan ia harus kehilangan gadis yang begitu ia cintai.


"Secepat itukah kamu tinggalkan Abang? Kenapa kamu menyerah dengan perjuangan cinta kita? Kenapa Tuhan mengambilmu dariku?" tangis Bang Ibra semakin menjadi hingga rasanya pedih dan sesak bergelayut di dalam mobil dadanya.


Setelah hatinya sedikit lega, Bang Ibra pergi meninggalkan lokasi pemakaman.


...


Bang Ibra memarkir mobilnya di sebuah mushola. Dari dalam mobil ia melihat seorang wanita membawa tas besar sedang duduk merenung sendirian dengan perutnya yang sudah membesar.


Hal yang sempat mengusik hatinya itu ia tepis untuk meluangkan waktu sejenak mengadu pada Tuhan.


:


Usai sholat, Bang Ibra memakai sepatunya.. tapi pikirannya kembali terusik saat wanita itu menghapus air matanya.


"Maaf mbak, suaminya mana ya? Mbak mau kemana? Kenapa mbak sendirian?"


"Oohh.. maaf pak" wanita itu sepertinya tidak nyaman saat Bang Ibra bertanya padanya, terlihat dari cara wanita itu menghindar.


Langkah wanita itu begitu berat, apalagi tas besar di tangannya semakin menghambat langkahnya. Satu langkah, dua langkah.. sampai akhirnya wanita itu terjatuh.


Bang Ibra berlari menghampiri.


"Maaf mbak, saya tidak bilang saya ini orang baik.. tapi percayalah saya tidak berniat jahat" Bang Ibra mengambil tas di tangan wanita itu lalu membantu wanita itu masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


:


"Jadi begitu ceritanya pak. Maaf saya jadi curhat kata wanita itu merasa tidak enak.


"Apa ibu mertuamu tidak punya hati sampai mengatakan hal seperti itu. Di dunia ini tidak ada istri pembawa sial. Kepergian suamimu adalah takdir Allah" kata Bang Ibra menenangkan wanita itu.


"Sekarang kamu mau kemana La?"


"Nggak tau pak. Saya nggak punya arah tujuan. Tidak ada tempat yang bisa saya tuju" jawab jujur Violeta.


"Kamu sudah makan?" tanya Bang Ibra.


Ola hanya diam saja tak berani mengangkat kepala bahkan untuk menjawab pria baik di hadapannya. Ia hanya memegang botol air mineral yang di belikan Bang Ibra.


"Kebetulan saya juga lapar sekali, kita makan siang dulu..!!" ajak Ibra beralasan padahal dirinya baru saja makan setelah pergi dari makam Rinka.


:


"Jangan makan sambil menangis. Kalau kamu terus bersedih, hati anakmu akan ikut sakit. Anakmu sudah lapar. Masa makan saja masih harus di ganggu mamanya." kata Bang Ibra sambil menyerahkan selembar tisu untuk Ola.


"Berapa usia kandungan mu?"


"Menuju delapan bulan Bang"


"Dua bulan lagi ya?" Bang Ibra terpaku melihat perut besar Ola. Tak terbayang olehnya wanita ini harus terusir dari rumah mertuanya karena di anggap pembawa sial bagi keluarga. Tak tau mengapa hatinya begitu sedih, tak tega. Jiwa kebapakannya muncul.


"Kamu ikut Abang ya..!!!"


"Tapi Bang.. Ola nggak mau merepotkan Abang"


...


"Minum dulu..!!" Bang Ibra menusuk sedotan ke susu kotak khusus ibu hamil lalu menyodorkan pada Ola.


"Ola kenyang Bang"


Seketika tangis Ola pecah membuat Bang Ibra kelabakan di buatnya.


"Kenapa? Kamu nggak suka rasanya? Apa ada yang sakit?"


Ola menggeleng sedih.


"Lalu apa? Ada yang salah dari Abang?"


Ola hanya menangis. Bibir nya terasa kelu sulit mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.


Bang Ibra melihat baik-baik wajah Ola, ada bekas luka yang baru kering di sudut bibirnya. Tak sabar melihat hal itu Bang Ibra beralih duduk di samping Ola dan menarik tangannya. Di bukanya lengan baju Ola hingga sebatas siku. Banyak luka dan lebam di tangan Ola, entah kenapa Bang Ibra berani sedikit menyingkap kerudung Ola.


"Apa yang mereka buat sama kamu??" tanya Bang Ibra.


"Tidak ada Bang"


"Kamu mau bohong?? Kalau kamu tidak mau berjuang untuk dirimu.. berjuanglah demi anakmu..!!" bentak Bang Ibra.


Seketika tanpa sadar Ola memeluk Bang Ibra. Pria yang bahkan baru saja ia kenal. Ia tak paham apa yang membuat dirinya begitu menurut pada pria itu.

__ADS_1


"Jangan Bang. Mereka tetap orang tua dari ayah anak yang Ola kandung. Apapun yang mereka lakukan. Ola ikhlaskan" jawab Ola di pelukan Bang Ibra.


"Apa almarhum suamimu juga berbuat hal seperti ini?" tanya Bang Ibra.


Ola seakan tak sanggup menjawabnya, tapi tangis Ola sudah menjawab segalanya.


"Ya Allah.. hati Abang yang sakit Olaa"


...


Bang Ibra mengutus anak buahnya untuk mencari rumah kontrakan di belakang Batalyon. Tepat saat itu Gio mendapat rumah kontrakan tidak jauh dari Batalyon. Bahkan Bang Ibra bisa melompati pagar Batalyon untuk sampai ke rumah kontrakan Ola.


"Kamu tinggal disini. Keluargamu tidak akan ada yang tau kamu ada disini. Kalau ada apa-apa.. Abang bisa kesini menemui mu" kata Bang Ibra.


"Abang.. Ola nggak bisa membalas kebaikan Abang"


"Abang nggak minta kamu membalasnya. Abang ikhlas" jawab Bang Ibra dengan santainya.


"Sekarang kamu mandi dan istirahatlah dulu. Besok pagi Abang jemput."


"Kemana Bang?" tanya Ola.


"Sudah.. ikut saja. Kamu berani khan di rumah sendiri?"


"Iya Bang.. berani" jawabnya sembari menundukkan pandangan.


Bang Ibra pun ikut mengalihkan pandangan dengan salah tingkah.


Duuhh.. kenapa jadi jedag jedug begini. Kenapa juga mataku ini nggak bosan lihat Ola.


"Ehmm.. mandi lah dulu. Abang tunggu. Hati-hati"


***


Bang Sanca menggendong si kecil Rara. melihat putri kecilnya itu meminum ASI dengan cepat dari botol membuatnya tersenyum geli.


"Waahh kurang ya? Mama bobok tuh dek." kata Bang Sanca.


Mungkin karena masih merasa lapar, Rara menangis dan membuat Bang Sanca kelabakan. Ia mendekati Fia dan menidurkan Rara di samping mamanya. Perlahan tangan itu membuka kancing baju Fia.. tapi kemudian ia mengacak rambut cepaknya.


"Yank.. bangun..!! Dedek minta ASI mamanya tuh" Bang Sanca sedikit menepuk lengan Fia. Mama Rara itu pun menggeliat, tak sadar memamerkan dirinya pada Bang Sanca.


"Aduuhh.. cepat kasih ke Rara. Kalau kelamaan papanya nih yang mau"


Fia pun membuka matanya.


"Abang nih.. Bisa nggak sih nggak mikir macam-macam" tegur Fia.


"Nggak bisa lah.. bawaan orok kasetnya di setel kencang" jawab Bang Sanca sembari menyambar rokoknya keluar kamar daripada pikirannya terus bekerja keras.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2