
Pagi hari Bang Sanca membawakan seikat bunga mawar yang cantik untuk Fia. Bukan hal mudah menepis rasa sedihnya di hadapan sang istri.
"Assalamualaikum.. Selamat sore sayangku..!!" sapa Bang Sanca kemudian memberikan bunga tersebut pada Fia.
"Wa'alaikumsalam Bang" Fia mengambil bunga itu kemudian mencium punggung tangan Bang Sanca.
"Lama sekali Bang datangnya?"
"Abang khan kerja dek. Mau makan apa kamu kalau Abang nggak kerja?" Bang Sanca membelai rambut Fia kemudian ia menarik uang dari saku celananya.
"Nih.. Abang ada rejeki lebih. Doakan rejeki Abang lancar..!!"
"Abang kasih saja ke ibu. Fia nggak berhak terima ini" tolak Fia memundurkan uang yang Bang Sanca berikan.
Hati Bang Sanca kembali bersedih. Selama menikah dengan Fia.. istri cantiknya tidak pernah sekalipun melupakan ibunya. Bahkan sampai sakit seperti ini Fia masih sempat mengingat ibu padahal Fia pun tau berapa besar Bang Sanca memenuhi kebutuhan ibunya, juga jika ada bonus seperti ini.. dirinya pun paham berapa porsi yang pas untuk sang istri juga sang ibu.
"Ibu sudah dek. Itu semua untuk kamu"
"Tapi Bang.. Ini banyak sekali"
Bang Sanca memeluk Fia dengan erat. Sungguh tak ikhlas jika Fia harus melupakan semua kenangan bersamanya.
"Ambil semua.. habiskan sendiri..!!"
Asal kamu tau sayang. Lembaran uang ini tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan semua senyum mu. Apa yang sudah kita lalui.. terlalu berat untuk hilang begitu saja.
"Abang kenapa? Fia salah ya Bang?"
"Nggak apa-apa. Kamu nggak salah. Abang yang salah.. nggak bisa menjagamu dengan baik. Abang nggak becus jadi laki-laki." ucapnya membuat Fia bingung.
"Kamu cepat sehat ya dek.. Abang khan mau pindah tugas. Nanti kamu mau khan ikut Abang?"
"Iya Bang.. Fia ikut Abang, tapi apa boleh Fia melanjutkan kuliah Fia yang tinggal sebentar lagi?"
"Boleh.. Nanti Abang urus semuanya. Selesaikan kuliahmu baik-baik. Itu kebanggaan orang tuamu dan ilmu bermanfaat yang kamu dapatkan itu, nantinya akan kamu jadikan bekal untuk mendidik anakmu nanti" jawab Bang Sanca.
***
__ADS_1
Satu hari Fia keluar dari rumah sakit. Bang Sanca sudah mempersiapkan acara pernikahannya dengan Fia. Di lihatnya baju upacara kebesarannya yang dulu pernah ia impikan, ia kenakan bersama Rhea karena senakal-nakalnya dirinya dulu.. hanya ada Rhea dalam hatinya. Namun saat pertama ia bertemu sosok Fia dalam kesakitan batinnya, hanya gadis itu yang membalikan segalanya. Cinta bertahun-tahun ia bina bersama Rhea langsung hilang, pupus dan musnah setelah menghabiskan satu malam bersama Zafia.
Kini ia baru menyadari.. cinta yang sesungguhnya hanya bisa tercipta dalam suatu pernikahan yang sah, dan saat pertama kali ia menunaikan tugasnya sebagai seorang suami.. rasa cinta itu seutuhnya hanya untuk Zafia seorang.
"Kamu kenapa San? Bukannya kamu memang suaminya Fia. Apa kamu masih ada rasa sama Rhea?" goda Bang Garin.
"Huusstt.. apa sih kamu ini. Jangan suka menggiring opini. Terserah kamu percaya atau tidak, Fia satu-satunya wanita yang ada di hatiku.. bahkan Rhea tidak ada seujung kuku di bandingkan Fia" jawab Bang Sanca.
"Ehemmmm.." Bang Anjar masuk ke kamar mess Bang Sanca.
"Bagiku Rhea yang tercantik dan terbaik. Kau paham??" sela Bang Anjar.
"Kalian jangan begitu.. Esa tiada duanya" kata Bang Garin.
"Kalau Wina si penyanyi cafe???" tanya Bang Anjar.
"Jelaas Wina.. " jawab ketiga pria itu bersamaan.
"Heehh cablak.. jangan kencang-kencang. Kalau bini kita tau.. habislah kita" Bang Sanca melongok melihat apakah ada ketiga wanita ajaib disana.
"Dekorasi sudah mau selesai Bang. Mereka butuh keputusan Abang untuk finishing"
"Kamu saja yang tangani. Terserah kamu lah ingin dekorasi seperti apa." kata Bang Sanca.
"Beneran Bang??" tanya Fia tidak percaya.
"Beneran. Sudah sana..!! lanjutkan cek dekorasi nya. Abang masih rundingan acara pedang pora" jawab Bang Sanca mengalihkan perhatian Fia.
Fia pun tersenyum manis dan meninggalkan ketiga pria yang masih berdiri disana.
"San.. Fia jauh lebih tenang. Lebih dewasa dan kalem" kata Bang Anjar memperhatikan sosok Fia yang sekarang.
"Iya, dia lebih dewasa di dalam kepolosan nya. Selamanya dia akan tetap menjadi gadisku yang berharga" jawab Bang Sanca.
"Heehh.. aku sudah mengundang Wina dalam acara pernikahan mu besok. Lihat nih.. dia mau datang" Bang Garin menunjukan pesan singkatnya pada Bang Anjar dan Bang Sanca.
"Kau sudah gila ya???? Kita sudah nikah,. bukan bujangan lagi. Kalau sudah begini.. bukan hanya aku dan Anjar yang mati konyol. Kau pun bisa mati sia-sia pot..!!!!" tegur Bang Sanca.
__ADS_1
"Adduuhh.. bagaimana ini. Aku lupa kalau aku sudah nggak bujangan lagi" Bang Garin mulai panik.
"Sumpah.. bodoh kali kau ini" Bang Anjar sudah jengkel melihat tampang Bang Garin.
"Norak lu. Besok selesaikan masalah yang lu buat. Pokoknya misi gue cuma mau kawin. Titik..!!!!!" jawab Bang Sanca.
...
Fia membawakan segelas teh hangat untuk Bang Sanca di taman halaman rumahnya. Di sana Bang Sanca banyak terdiam memikirkan banyak hal.
"Bang.. Belakang ini, kenapa ya kepala Fia sering sakit? Fia juga nggak bisa mengingat dengan jelas tentang beberapa hal" ucap jujur Fia.
"Misalnya apa? Kamu hanya terlalu banyak pikiran. Kurang istirahat" kata Bang Sanca sembari menyeruput tehnya.
"Fia ragu.. apakah kita benar-benar pernah melakukan dosa itu? Jika itu benar.. Fia takut sekali melihat diri Fia. Kenapa sampai bisa Fia menyerahkan diri tanpa punya rasa malu.. Dan.. Fia bukanlah wanita yang patut di perjuangkan meskipun Fia ingin sekali Abang menghalalkan Fia"
"Jangan bebani hati dan pikiranmu dengan hal seperti itu. Kita sudah dewasa untuk menanggapi hubungan antara laki-laki dan perempuan.
"Iya Bang, tapi tidak seharusnya kita melakukannya. Fia takut dan menyesalinya. Apakah benar Fia seceroboh itu?" tanya Fia.
"Kita memang melakukannya, tapi Abang melakukannya denganmu bukan tanpa alasan dan Abang bertanggung jawab penuh atas hal itu. Abang menggauli mu sebagai istri Abang, bukan hanya sekedar pemuas na*su belaka. Abang sudah menikahimu" jawaban Bang Sanca yang tidak sabar membuat Fia semakin tidak paham, kepalanya sakit tidak bisa mengingat apapun karena di paksa dan terpaksa mengingat sesuatu yang hilang dari memori nya.
"Fia nggak bisa mengingatnya Bang. Kepala Fia sakit sekali" Fia sudah tidak kuat lagi mengingatnya.
"Ya sudah, jangan di paksa. Kita bicara lain kali saja" bujuk Bang Sanca mengalah karena tidak tega melihat Fia kesakitan.
Abang harus bagaimana lagi dek? Sebenarnya apa yang kamu ingat dan siapa yang ada dalam pikiran mu sekarang.
Dalam dada Bang Sanca sudah sesak ingin menangis. Tapi tangis pun tak akan semudah itu mengembalikan ingatan Fia. Amarah pada bapaknya tak akan menyelesaikan masalah. Jika tak mengingat Fia begitu membutuhkan dirinya, mungkin saat ini Bang Sanca sudah menghabisi nyawa pria yang sudah membuatnya ada di dunia itu.
.
.
.
.
__ADS_1