
Bang Sanca menurunkan sandaran jok Fia. Ia segera turun dan berlari ke apotek membeli inhaler untuk Fia karena posisi mereka masih berada di lingkungan rumah sakit tentara.
Sekembalinya Bang Sanca dari apotek, dirinya mendapati Fia sudah tidak sadarkan diri.
"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah Fia.. sadar dek..!!" Bang Sanca membuka kerudung Fia dan melonggarkan segala hal yang menyesakan.
Setelah berbagai macam usaha dan memberi Fia inhaler.. si cantik Fia mulai tersadar, ia begitu takut melihat Bang Sanca yang menatapnya datar tanpa bicara apapun.
"Fia nggak pernah pergi sama Pak Jaya Bang..!!" kata Fia masih menyimpan rasa cemas.
"Abang tau, sudah.. jangan di bahas lagi. Sekarang kita pulang. Kamu istirahat saja di rumah" Bang Sanca segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Sejak Fia belum sadar tadi ia terus berfikir keras, apalagi membaca poin-poin penting dari ucapan Jaya pada istrinya. Bagaimana bisa Jaya mengatakan kalau Fia adalah gadis yang bisa 'dibawa' kemanapun.
Jaya itu dosen, Rhea juga dosen dan mereka bekerja di kampus yang sama. Apa mungkin Rhea yang membuat kekacauan ini? Bukankah sebelumnya Fia baik-baik saja menjadi mahasiswi di kampus itu.
...
Fia menangis masuk ke dalam rumah karena Bang Sanca hanya mengantarnya pulang dan langsung meninggalkan nya begitu saja.
Sebenarnya hati Bang Sanca tidak tega harus meninggalkan Fia dengan berbagai pikirannya, tapi ini adalah 'hukuman' agar Fia lebih mengerti arti sebuah keterbukaan dalam rumah tangga dan itu berbeda dengan alasan mengapa dirinya menyembunyikan segala hal tentang Rhea. Semua pasti akan ia ceritakan, tapi bukan untuk saat ini.
Maaf ya dek. Abang hanya ingin kamu sedikit belajar untuk menghargai hadirnya Abang dalam hidupmu. Sejak kamu menjadi istri Abang.. kamu sepenuhnya sudah tanggung jawab Abang.
:
buugghhhh.. baaagghhhh..
Bang Sanca memecahkan semua cctv kampus sejak ia memasuki gerbang kampus hingga dengan bebasnya ia menghajar Jaya di ruangannya. Bang Sanca juga mengancam siapapun yang akan mengabadikan apa yang ia lakukan.
"Sebelum kalian merekam tindakan saya.. pahami dulu duduk perkaranya. Jaya ini mengancam istri saya, memberinya nilai buruk dan tidak akan mau memberi nilai yang sesuai jika tidak melayani pria kurang ajar ini..!!" ucapan Bang Sanca langsung mengurungkan niat seisi ruangan. Bahkan rektor pun tidak berani berbuat banyak.
"Kalau ini terjadi pada keluarga anda atau saudara perempuan anda bagaimana??? Saya tidak terima karena pria setan ini mengganggu istri saya...!!!!"
"Tenang dulu pak.. Kita bicarakan baik-baik.." bujuk rektor.
:
Perdebatan lumayan alot karena Pak Jaya kurang kooperatif dalam menyampaikan informasi, belum lagi amarah Bang Sanca yang meledak-ledak seakan sulit untuk di bicarakan dengan kepala dingin.
Bang Sanca sudah memberikan bukti bahwa Fia adalah istri sahnya sejak beberapa bulan yang lalu dan seisi ruangan langsung terdiam karena pada kenyataannya di usia Fia yang masih begitu muda tapi mahasiswi itu sudah bersuami.
__ADS_1
"Saya mau tanya dan tolong kooperatif atau hanya dua pilihan yang akan kamu dapatkan jika kamu tidak mau menjawabnya. Pertama penjara, kedua mati di tangan saya" ancam Bang Sanca.
"Apa yang memberimu informasi adalah.. Rhea????"
...
"Bilang apa kamu sama Jaya????" tanya Bang Sanca pada Rhea.
Senyum Rhea langsung menghilang saat Bang Sanca menanyai hal di luar dugaannya.
"Apa maksud Abang?"
"Kamu bilang kalau Fia bukan perempuan baik-baik?? Dimana rasa malu mu saat 'menjual' Fia pada pria lain??" bentak Bang Sanca tak main-main.
Bang Dafa yang mendengar keributan itu segera melihat situasi yang terjadi. Ia memasang masker setengah wajah saat Bang Sanca juga memakainya.
"Aku nggak bilang apa-apa Bang" kata Rhea berkilah.
"Kenapa kamu bentak istriku San?" tanya Bang Dafa.
"Heeehh Dafa.. Saya ini ingin sekali menampar istrimu tapi saya tidak akan menangani istrimu. Saya minta tolong dengan sangat.. didik istrimu dengan benar. Kalau sampai ada apa-apa dengan Fia dan anakku. Nyawamu taruhannya..!!!"
"Abang yang salah. Abang terlalu perhatian dengan Fia. Dulu mana pernah Abang memperhatikanku seperti itu. Hanya Bang Dafa yang menemaniku.. di saat aku sendirian, di saat aku butuh perhatian" teriak Rhea tak terkendali.
"Apa itu belum cukup mbak Rhea. Dia lebih memilih mbak yang jauh segalanya di bandingkan Fia. Mbak yang lebih dewasa. Daripada Fia yang hanya lulusan SMA, yang bodoh dan tidak berilmu" jawab Fia.
"Maafin Abang dek" Bang Dafa sungguh merasa bersalah. Tatapan itu masih sarat akan cinta untuk gadis yang pernah ia sayangi selama empat tahun.
"Semua hanya tinggal kenangan Bang. Jika memang bukan jodohnya mau bilang apa. Abang sudah sama mbak Rhea, Fia sudah bahagia dengan Bang Sanca" jawab Fia sambil berusaha meraih lengan Bang Sanca.
"Apa salah Fia sampai Mbak Rhea tega berbuat seperti itu?" tanya Fia.
"Karena Bang Sanca tidak adil padaku. Aku mati-matian mencintainya, tapi Abang tidak pernah mengungkapkan sayangnya padaku" teriak Rhea masih tidak terima.
Fia terhuyung mendengarnya, merasakan amarah Rhea karena merasa tidak di cintai Bang Sanca.
"Dulu aku mencintaimu Rhea, mencintai dengan caraku. Tapi detik kamu katakan kamu sudah memiliki ayah dari anakmu, jujur.. cinta itu telah mati bersamaan dengan penolakanmu. Sekarang.. Aku sudah memiliki kehidupan sendiri, jadi tolong jangan kamu ungkit masa lalu kita" jawab tegas Bang Sanca sambil mendekap erat tubuh Fia kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
:
Bang Sanca menghapus air mata Fia. Tangan itu mengusap perut Fia dengan sayang.
__ADS_1
"Sudah donk neng nangisnya. Kalau kamu sesak, kasihan si Juno"
"Mbak Rhea masih cinta sama Abang. Dia masih menuntut dan kesal karena Abang tidak perhatian sama dia" jawab Fia.
"Dafa dan Anjar juga masih mencintaimu. Apa Abang juga nggak merasakan sakitnya?"
"Tapi Fia nggak cinta sama Bang Dafa atau Bang Anjar lagi" ucap Fia tak ingin Bang Sanca menyentuh dan membujuknya.
"Begitupun dengan Abang. Tidak ada cinta lagi untuk Rhea. Memang Abang tidak memperlakukan dia dengan spesial karena dia hanya seorang kekasih saja. Tidak lebih dari itu dan jujur dalam hati Abang mengatakan kalau ada hal-hal dalam diri Rhea yang belum pas di hati Abang" jawab Bang Sanca sambil memeluk erat tubuh Fia.
"Lalu kenapa Abang melakukan semua sama Fia?" tanyanya dengan sedih.
"Maaf dek, saat bersamamu. Abang main perasaan sama kamu. Seperti ada ikatan batin yang mengarahkan kalau kamu memang jodoh Abang dan lagi.. Abang sudah ngebet banget pengen buat si Juno sama kamu" jawab jujur Bang Sanca.
"Iihh.. Kurang ajar betul Abang. Ular mesum" kata Fia jengkel setelah mendengar pengakuan sang suami.
"Sekarang jangan marah lagi. Abang sayangnya sama kamu" Bang Sanca mengusap perut Fia yang kini makin terasa ia raba.
Fia tersenyum kecil, ada yang berdesir dalam dadanya saat Bang Sanca memeluknya dari belakang.
"Waktu pertemuan kita hanya singkat saja Bang. Apa yang membuat Abang yakin untuk memilih Fia? Fia tau saat masih menjadi kekasih Mbak Rhea, pacar Abang juga Serda tentara, pramugari, perawat......"
"Lho.. kamu tau darimana dek????" Bang Sanca berjingkat mengarahkan badan Fia agar saling berhadapan dengannya.
"Abang nggak tau ya, Fia Khan suka di kasih uang sama papa karena Fia ini hacker. Suka di perbantukan di markas buat bantu om-om buka sandi" jawab Fia dengan santai.
"Mati aku..!!!!" Bang Sanca terbaring lemas menepuk dahinya.
"Kamu belajar sama siapa dek?"
"Ya otodidak aja Bang. Fia mau di sekolahkan mama di sekolah khusus tapi Papa nggak perbolehkan. Hanya saja satu setengah tahun ini Fia nggak lagi diikutkan di markas karena alasan yang Fia nggak tau"
"Ya sudah. Lebih baik kamu diam di rumah, jadi istri Abang yang manis" kata Bang Sanca kemudian bangkit dan mengecup bibir Fia.
Alasan apa dek? semoga tidak bahaya buatmu dan anak kita.
.
.
.
__ADS_1
.