Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
28. Tertampar.


__ADS_3

Jika tidak suka masalah di novel Nara. silakan skip. Tolong dengan hormat.. skip.. dan tolong di pahami.. cerita belum usai..!! Jika takut dengan konflik \= tidak cocok dengan cerita Nara.


🌹🌹🌹


Bang Sanca begitu kaget hingga rasa jantungnya akan terlepas dari raga.


Ia melepas pelukannya untuk Rhea dengan panik. Fia dengan tenang menghampiri keduanya lalu memeluk Rhea.


"Ayo sama-sama Fia ke rumah sakit"


Rhea mengangguk sambil terus memeluk Fia.


"Kenapa San?" tanya Bang Anjar yang ikut mendengar suara kasak kusuk.


"Rhea mau melahirkan" jawab Bang Sanca tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.


//


Sepanjang jalan Fia mengusap perut Rhea. Dari kaca dalam, Bang Sanca melirik Fia dengan rasa cemas bukan main. Bang Anjar tak bisa berbuat lebih kecuali mengemudikan mobil dengan benar.


Mati aku kalau Fia ngamuk. Aku benar-benar nggak sengaja. Aku hanya nggak tega lihat perempuan kesakitan.


//


Setelah sampai di rumah sakit Bang Sanca langsung menggendong Rhea sampai ke ruang UGD agar di teruskan ke ruang persalinan tanpa mengingat Fia yang perlahan turun dari mobil.


Bang Anjar mengulurkan tangannya karena mobil Bang Sanca memang tipe mobil tinggi.


"Kalau ada apa-apa Abang yang tanggung jawab..!!" Bang Anjar tidak tega karena perut Fia kini sudah semakin nampak membesar, tidak seperti sebelumnya.


Di dekat ruang persalinan, Bang Sanca sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi keluarga Rhea dan masih belum melihat Fia.


"Duduk disini.. Obatmu dimana? Abang beli minum dulu" kata Bang Anjar membantu Fia duduk.


"Biasanya ada sama Bang Sanca" jawab Fia.


Bang Anjar pergi meninggalkan Fia untuk membeli minuman.


:


Sekembalinya dari kios kecil di seberang jalan, Bang Anjar melihat Bang Sanca masih sibuk dengan dokter yang akan menangani Rhea, sedangkan di belakang punggung nya Fia sudah mulai sesak sendirian.


"Mana obat Fia?" tanya Bang Anjar menyela pembicaraan Bang Sanca dengan dokter.


"Aku nggak bawa" jawabnya singkat kemudian kembali berdiskusi dengan dokter.


Bang Anjar menarik bahu Bang Sanca kemudian langsung menghajar suami Fia.


"B******n kamu San. Kamu melarangku menghubungi Fia. Amarahmu sudah setinggi langit tapi lihat apa yang kamu lakukan. Kamu lebih mementingkan Rhea daripada Fia"


"Jangan ribut disini San.. Anjar..!!" tegur Bang Andri.

__ADS_1


"Kamu pakai ruangan saya San. Jangan gugup..!! Kamu bisa menunggu kabar Rhea disana agar istrimu nyaman..!!" kata Bang Andri pada Bang Sanca.


Bang Sanca berdiri lalu menggendong Fia masuk ke ruangan Bang Andri dan merebahkannya disana.


"Ada yang sakit? Sebentar lagi obatmu di bawa kesini. Sabar ya..!!" tangan Bang Sanca menggenggam erat tangan Fia.


"Fia marah sama Abang..!!" ucapnya manja dan kesal.


"Iya Abang tau. Balas Abang sepuasmu..!! Abang bingung bagaimana harus menjelaskannya. Abang tau kamu sakit hati" Bang Sanca mengusap perut Fia.


"Fia nggak apa-apa Bang, tapi......"


"Uuusshh.. iya.. iya.. Abang minta maaf. Nanti balas Abang sepuas hatimu.. Abang salah" ucap Bang Sanca penuh penyesalan sambil memeluk Fia.


Fia membalas pelukan itu. Bang Sanca tau Fia sedang menangis, tapi yang di lakukannya hanyalah untuk membantu sesama manusia, tidak lebih. Tidak ada perasaan apapun lagi yang tersisa untuk Rhea meskipun hanya seujung kuku. Hatinya sudah terisi penuh dengan satu nama Dinasti Kana Zafia.


"Abang punya Fia"


"Iya.. iya.. Abang punyamu sendiri, nggak akan pernah terbagi" jawab Bang Sanca.


"Kamu sudah tau Abang tidak bisa berkata-kata indah. Tapi boleh khan sekali-kali Abang bilang seperti para bocil labil di luar sana?"


Fia terdiam beberapa saat sambil terus memeluk Bang Sanca.


"Apa Bang?"


"Ai lap yu, Je t'aime, Aishiteru, aku tresno karo kowe, Abang hanya mencintai kamu.. sangat mencintaimu" ucap Bang Sanca setulus hati.


"Bisa nggak ya kalau nggak buat skenario film. Pikirannya itu nggak usah holiday. Abang yang minta ada Juno. Masa iya Abang nggak cinta" Bang Sanca berusaha keras membujuk Fia. Ia tau hati Fia pasti masih sangat sakit dengan kejadian tadi.


"Hukum Abang sepuasmu. Asal kamu lega, Abang nggak apa-apa".


Tak lama terdengar suara tangis bayi. Bersamaan dengan bunyi ponselnya. Bang Sanca segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.."


***


Rhea tertatih di aula Batalyon terduduk lemas memandangi jenazah Bang Dafa. Suaminya gugur saat sedang mengintai informasi untuk menggantikan posisi Bang Sanca dan hal itu juga memukul jiwa Bang Sanca. Rasa bersalah jelas menghantui dirinya karena tanpa sadar sudah membuat Rhea menjadi janda.


Tangis Rhea begitu sesak, ia menciumi bayinya. Bayi laki-laki yang baru kemarin ia lahirkan. Di sampingnya ada Bang Anjar yang tak pernah lelah menemani mulai dari mengadzani sang bayi hingga saat ini.


Bang Sanca berdiri di hadapan Rhea bersama Fia di sampingnya.


"Abang minta maaf. Jika saja Abang berangkat, mungkin anakmu masih bisa melihat ayahnya"


"Abaang.. aku terlalu banyak menyakiti hatimu. Selama aku bersamamu, aku tidak setia. Apa ini hukuman yang setimpal buatku atas sakit hatimu karena aku bukan wanita baik-baik?" jawab Rhea tanpa menatap Bang Sanca.


"Abang tidak salah, Bang Dafa pun hanya sedang menghukumku, dia sedang marah karena aku tidak patuh ucapannya. Tapi semoga kelahiran Anggara membuatnya tenang, wajah Anggara begitu mirip papanya"


Bang Sanca begitu tidak tega melihat Rhea yang berusaha tegar merasakan kehilangan. Bang Sanca menyentuh dadanya yang begitu sakit, ia memang menangisi Rhea.. tapi hatinya lebih sakit tak sanggup membayangkan jika dirinya yang gugur, maka tangis ini akan menghiasi wajah Fia.

__ADS_1


Rhea lemas dan tak menyadari sudah menyandarkan diri pada Bang Anjar yang terus membelai rambutnya dan menghapus air matanya.


Bang Sanca menggenggam kedua tangan Rhea.


"Maafkan Abang.. Abang memang tidak bisa mengganti rasa sedihmu. Abang berhutang nyawa pada almarhum Dafa. Apa ada yang bisa Abang lakukan untukmu?"


Jemari Rhea membelai pipi Bang Sanca. Tatapan matanya sendu penuh duka.


"Aku ingin Abang............."


Seketika melihatnya Fia pingsan dan terbanting dengan keras, dari hidung dan pelipisnya sampai mengeluarkan darah.. setengah mati jantung Bang Sanca hampir terlepas dari raga.


"Allahu Akbar.. dek..!!!!" melihat Fia tidak sadarkan diri, Bang Sanca dengan sigap membawa Fia ke ruangan darurat.


"Fia.. sayang.. Sadar dek.. jangan buat Abang takut"


Dengan cekatan petugas kesehatan segera memeriksa kondisi Fia. Papa Zaldi berlarian melihat keadaan putrinya.


"Cepat periksanya Handi..!! istriku nggak apa-apa khan?" Bang Sanca gemetar, jelas sekali wajahnya ketakutan. Pikirannya ruwet campur aduk bagai benang kusut.


Tak lama disana Bang Sanca melihat Anjar membopong Rhea masuk di ruangan yang sama dengannya. Wajah Anjar pun cemas tapi ia sama sekali tidak peduli akan hal itu.


"Ijin Dan.. denyut janinnya sedikit melemah." kata Sertu Handi sambil memasang oksigen di hidung Fia.


Bang Sanca mencengkeram kerah Handi sampai terangkat tinggi.


"Jangan macam-macam kamu Han. Periksa yang benar..!!!!!!" sangar Bang Sanca mulai muncul karena rasa cemasnya yang luar biasa.


"Sabar San.. Handi masih mendiagnosa. Kamu jangan terbawa emosi dulu" Papa Zaldi membujuk Bang Sanca. Menantunya itu memang sangat sulit di tenangkan jika sudah menyangkut tentang Fia.


"Anak dan Istrimu baik-baik saja, tenanglah..!!"


Bang Sanca sudah seperti orang gila melihat Handi kembali memeriksa Fia namun istrinya belum bereaksi sedangkan Rhea sudah sadar dari pingsannya.


Tak lama Fia tersadar. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Bang Sanca.. soal tadi aku ingin.. Abang yang memimpin pemakaman Bang Dafa sebagai penghormatan terakhir" ucap Rhea meminta tolong pada Bang Sanca.


"Iya Rhe.." jawab Bang Sanca tapi matanya terus menatap Fia.


"Bisa nggak kamu.. nggak buat Abang cemas nggak karuan seperti ini" Bang Sanca duduk dengan kasar. Kakinya terasa lemas, tubuhnya seperti tanpa tenaga.


"Kalau ada apa-apa sama kamu mending Abang mati aja dek...!!" ucapnya terdengar sesak.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2