
Nara kangen kakak semua 🥰🥰😘😘.
🌹🌹🌹
Hari sudah malam dan Bang Garin terus mengomel. Esa memegangi selang air dan menyemprot air ke tubuh Bang Garin menggunakan selang. Sungguh bibir itu mengalahkan tiga wanita yang sedang mengocok arisan.
"Apa mulutmu itu nggak capek? Sedari tadi mengomel?" tegur Bang Sanca.
"Ini khan hari spesial ku, kenapa kau kacaukan?" protes Bang Garin.
"Laahh.. sudah tua bangka lu masih pikir acara ulang tahun. Lihat anakmu..!! Anak belum bikin acara ulang tahun.. bapaknya sudah mau tampil aja. Norak lu" ledek Bang Sanca.
Ponsel Bang Sanca bergetar. Ada telepon dari Danyon.
"Selamat malam predator menjawab. Ijin arahan"
"Saya mau buat acara di daerah mu San. Kamu amankan ya..!! Saya nggak mau ada penertiban gabungan" kata Danyon.
"Siap.. Acara apa Bang? Ijin?"
"Sudah.. kamu nggak perlu tau. Jalankan saja perintah pengamanan" ucap Danyon serasa mengambang.
"Siap..!!"
Panggilan telepon pun terputus. Bang Sanca terdiam sejenak memikirkan perintah Danyon. Ia ragu. Tapi perintah senior adalah titah yang rata-rata tidak bisa di tolak.
"Kenapa Bang?" tanya Bang Ibra.
"Danyon mau buat acara di daerah disini dan meminta pengamanan." jawab Bang Sanca.
"Acara apa Bang?"
"Itulah, aku nggak tau" Bang Sanca masih melihat layar ponselnya dengan tatapan kosong.
"Mau bagaimana juga kamu harus hati-hati pot. Kerja ya kerja. Tapi keamanan diri juga penting" kata Bang Garin mengingatkan.
"Iya pot"
***
Beberapa hari setelah itu, Bang Sanca dan beberapa anggota sudah bersiap mengamankan lokasi sesuai perintah Danyon.
"Abang mau berangkat sepagi ini? Ini pun belum subuh Bang" Fia menyiapkan susu hangat untuk suaminya.
__ADS_1
"Pagi begini minum susu eneg dek" tapi Bang Sanca tetap menghabiskan segelas susu yang disiapkan Fia.
Setelah selesai menghabiskan susunya, Bang Sanca berpamitan untuk segera berangkat kerja.
"Abang berangkat dulu. Hati-hati jaga anak..!!" pesannya pada Fia.
"Baik-baik sama Mama ya sayang. Nanti malam Papa sudah pulang..!!" Bang Sanca menciumi perut Fia.
...
Bang Sanca masih bertanya-tanya. Pengamanan apa yang harus di lakukan hingga harus memakai alat pelindung diri hingga senjata.
"Ini ada pengamanan apa sih Bang? Apa belum ada info?" tanya Bang Ibra.
"Belum. Abang juga bingung nggak ada tembusan."
Bang Ibra dan Bang Sanca hanya bisa mengarahkan anggotanya agar berjaga dengan baik.
Tak lama mobil Danyon datang bersama beberapa orang warga sipil dan tidak ada hubungannya dengan masalah kemiliteran.
Bang Sanca pun dengan sigap menghentikan mobil Danyon tersebut. Bang Sanca mengarahkan senjata di belakang punggungnya.
"Selamat pagi.. Ijin Dan. Belum ada tembusan apapun terkait kegiatan hari ini. Ijin arahan"
"Aahh sudah.. kamu jaga saja disini. Jangan sampai ada pengecekan kegiatan di kawasan ini. Saya ada tamu penting" jawab Danyon.
Jambuuuu.. iso masalah Iki.
"Bagaimana Bang?" Bang Ibra menghampiri Bang Sanca.
"Nggak ada info apapun" jawab Bang Sanca lesu. Ia melihat prajuritnya yang berjumlah tiga puluh orang dalam berbagai gaya, ada yang duduk merokok, memantau informasi di ponsel, mengobrol sampai tidur bersandar pada sebatang pohon.
"Yanto.. tolong kamu belikan sarapan untuk anggota ya di warung pagi..!! Tiga puluh lima bungkus. Di lebihkan saja, sekalian minuman dan gorengannya" perintah Bang Sanca yang merasa sedih melihat anak buahnya terlantar di pagi buta.
"Siap Dan..!!"
"Ini uangnya..!!" Bang Sanca mengeluarkan uang dari dompetnya yang berarti itu adalah uang pribadinya.
...
Para anggota usai sarapan pagi. Nampak dari kejauhan ada beberapa pihak pengaman.
"Selamat siang. Apa saya bisa bicara dengan penanggung jawab acara?" tanya kepala team bagian keamanan.
__ADS_1
"Selamat siang pak. Terus terang penanggung jawabnya tidak ada, saya hanya di tugaskan berjaga disini" jawab Bang Sanca kooperatif.
"Begini Pak. Saya dengar disini ada kegiatan penyelundupan hewan langka juga aktivitas perjudian"
Wajah Bang Sanca seketika bagai tertampar, entah dirinya yang kurang sigap atau jiwanya yang teledor sampai harus berurusan dengan pihak atas terkait penyelundupan dan perjudian.
"Jadi bagaimana Pak? Ada acara di dalam sana?" tanya ketua team pengamanan sekali lagi.
...
Tangan Bang Sanca di borgol di bagian belakang. Bang Sanca sudah memulangkan seluruh anggotanya termasuk Ibra dengan susah payah karena urusan kepemimpinan kompi tidak boleh kosong.
Tatapan mata Danyon sudah mengarah kesal dan murka tapi Bang Sanca tetap bersikap santai seolah tidak terjadi apapun padahal dalam hatinya pun terbakar rasa marah yang luar biasa.
"Bodoh kamu San. Kenapa bisa sampai kecolongan???" bentak Danyon.
"Tidak ada koordinasi yang pasti. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai militer, tidak mengurusi urusan pribadi" jawab Bang Sanca dengan santai.
Danyon hanya diam saja tak menjawab lagi ucapan Bang Sanca.
-_-_-_-
plaaakk... buugghhh..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bang Sanca. Tengah malam Papa Zaldi menemui menantunya itu. Kali ini Papa Zaldi tidak bertindak sebagai Papa mertua, melainkan sebagai komandan yang punya kewajiban menegur keras anggotanya yang sudah lalai menjalankan tugas.
"Kenapa kamu bisa seceroboh ini San???? Dimana akal pikiran mu yang harusnya bijak mengambil keputusan kritis"
"Siap salah Komandan." Bang Sanca pasrah karena memang ia pun salah, ikut andil dalam masalah ini. Ia memegangi perut dan dadanya yang terasa nyeri akibat tindakan dari Papa Zaldi.
"Baru kali ini kamu nggak berpikir panjang San. Istrimu menunggu di rumah. Kalau kamu tidak pulang tanpa kabar, bagaimana harus menjelaskannya?" kata Papa Zaldi.
Perasaan Bang Sanca tertusuk, hatinya gundah mengingat kehamilan Fia yang lumayan rawan.
"Tolong katakan saya sedang dalam tugas dan segera kembali pa."
"Proses penyelidikan ini bisa berhari-hari San.."
"Insya Allah semua akan baik-baik saja Pa" ucap Bang Sanca tenang meskipun hatinya pun resah. Tak peduli badannya yang remuk, tapi saat ini ia benar-benar mencemaskan keadaan Fia.
.
.
__ADS_1
.
.