Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
24. Pejuang.


__ADS_3

"Selipkan rambut Fia yang menjuntai. Terus cium Fiaa. Abaang iiihhh" jawab Fia cemberut.


"Ooh.. maaf dek. Abang nggak ngerti" Bang Sanca membelai rambut Fia lalu menyelipkan di belakang telinga Fia. Bibir itu pun dengan luwes mendekati bibir Fia.


"Nggak mau, sudah nggak mood." kata Fia.


"Masa sih? Kalau sudah kena Abang.. minta nambah terus kamu..!!" Bang Sanca yang sudah rindu segera menyambar bibir Fia. Ia mengurai rasa rindu dan sayangnya pada sosok gadis kecil kesayangannya itu, pada akhirnya Fia tak menolak untaian kecil rasa rindu dari pak Kapten.


Sedang asyiknya bermesraan berdua, papa Zaldi masuk dan berdehem menyadarkan Fia dan Bang Sanca yang sedang di landa rindu tak tertahan.


Bang Sanca kelabakan menghapus bekas bibirnya. Nafasnya masih terengah tak karuan menahan rasa, detak jantungnya pun belum stabil.


"Kalau sarapan di rumah saja. Jangan disini..!!" tegur Papa Zaldi.


"Papa bisa mundur lagi?? Moment langka nih istri 'minta' "


"Ooo.. semprul.." Papa Zaldi menjitak ubun-ubun menantunya yang pethakilan dan mata keranjang itu.


Papa Zaldi menyerahkan selembar surat untuk Bang Sanca dan menantunya itu segera membaca.


"Dinas luar Pa?" tanya Bang Sanca.


"Iya San. Nggak ada yang bisa berangkat menyelesaikan tugas ini kecuali prajurit pilihan yang tertunjuk"


Bang Sanca terdiam sesaat kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


"Saya tolak..!! Kalau papa paksa. Saya minta pensiun dini..!!"


"Apa-apaan kamu ini. Tugas negara tidak bisa kamu campur dengan masalah pribadi San" tegur Papa Zaldi.


"Alasannya karena Fia. Saya tidak mau meninggalkan Fia dalam keadaan apapun dan kondisi apapun"


"Tapi San...."


"Cukup pa. Saya tidak mau berdebat..!!!"


Papa Zaldi tidak bisa berbuat banyak mengingat menantunya itu memang orang yang keras dan sulit di lunakan terkecuali Fia yang membujuknya.


"Bang.. Jangan begitu donk. Ini khan tugas Abang. Fia nggak apa-apa kok Abang tinggal dinas. Fia pasti tunggu Abang. Kalau Abang cemas, nanti ada Mama dan Oma yang temani Fia. Ada Abang Ibra, Opa dan Papa yang lindungi Fia" bujuk Fia.


"Terus apa gunanya Abang jadi suamimu??? Abang datang hanya untuk menemanimu melahirkan? Atau bahkan nggak bisa melihat si kecil kita lahir ke dunia? Dengar ya.. ada tugas di balik tugas, dan kamu harus pahami itu..!!"


Fia tersenyum menggenggam tangan Bang Sanca. Memang tidak mudah membujuk suaminya itu.


"Ganteng banget ya suami Fia"


"Iyalah, mana mau kamu kalau Abang nggak ganteng"


***

__ADS_1


Pagi hari berikutnya Fia sudah di ijinkan pulang. Sugiono yang menjemput komandannya itu lumayan kerepotan karena Bang Sanca sangat tertib menjaga istri tercinta.


"Pelaan Giooo.. Jangan buat anak saya goyang dombret" tegur Bang Sanca sambil melihat ponselnya.


"Siap Dan..!!"


Fia tertidur pulas bersandar pada bahu Bang Sanca. Berkali-kali Fia hampir jatuh tapi Bang Sanca menahannya dan terus memperhatikan info di ponselnya. Keadaan di luar sana sedang genting dan segera butuh pengamanan darurat.


dddrrtt.. ddrrrtttt.. dddrrtt..


Bang Sanca melihat beberapa saat pemanggil di ponsel itu adalah nomor tidak di kenal. Bang Sanca mengangkatnya.


"Ini wakil kepala Matra. Kenapa lama sekali angkat telepon dari saya..!!!" bentak wakil kepala Matra.


"Siap salah..!!!"


-_-_-_-_-_-


plaaakk..plaaak.. plaaaakk...


"Kamu itu prajurit, tugasmu mengamankan negara ini. Kenapa kamu mangkir???" bentak wakil kepala Matra yang langsung datang dari pusat untuk menegur Bang Sanca.


"Siap salah Komandan" Bibir Bang Sanca sampai berdarah mendapat tamparan keras dari wakil kepala Matra.


"Tidak hanya kamu yang punya kekasih, rata-rata prajurit kita punya pasangan hidup juga punya momongan. Kamu ini belum apa-apa sudah menyerah"


"Saya sudah beristri Komandan"


Komandan melihat daftar riwayat hidup Kapten Tohpati Sanca Trengginas. Belum ada keputusan bahwa pria di hadapannya ini sudah berkeluarga.


Bang Sanca melirik Bang Hisam selaku Danyon untuk meminta penjelasan mengapa namanya belum juga naik sampai pihak atas.


"Namamu belum naik. Jadi berangkatlah..!!" perintah Komandan.


Di saat seperti ini tidak mungkin Bang Sanca berdebat dengan seniornya.


"Istri saya sedang hamil Dan. Saya tidak bisa meninggalkan istri saya..!!"


"Kamu..!!! Dimana sumpahmu untuk menjaga kehormatan wanita????"


Komandan menindak Bang Sanca dan menghajarnya habis-habisan. Danyon berusaha menjelaskan tapi Komandan yang terkenal begitu fanatik dalam soal ibadah tidak bisa menerima begitu saja alasan Danyon yang memang sudah salah aturan sejak awal.


//


Nafas Bang Sanca tersengal hampir mati. Ia sungguh mati-matian tidak mau berangkat sampai membuat Komandan jengah dan akhirnya Bang Sanca harus menerima akibat dari keras kepalanya tersebut.


"Kenapa Abang sampai begini sih. Fia sedih lihat Abang begini. Kemarin Fia masuk rumah sakit sekarang Abang yang sakit, memar di seluruh badan" kata Fia sambil mengompres dada Bang Sanca.


Bang Sanca hanya terdiam memercing, menggeliat merasakan sakitnya. Satu alasan pasti yang membuat dirinya tidak ingin pergi adalah tidak tega meninggalkan istri tercinta menghadapi kehamilan itu sendirian juga keselamatan Fia yang kini menjadi tanggung jawabnya.

__ADS_1


"Bang..!!" tegur Fia karena suaminya hanya diam dan tidak menggubris perkataannya.


"Abang malas angkat senjata, nggak ada warung kopi" jawab Bang Sanca sekenanya.


"Abang niat kerja apa niat ngopi?" tanya Fia kesal mendengar jawaban Bang Sanca.


"Ngopi.."


Fia kini paham suaminya sedang malas berdebat dengannya. Fia pun tak ingin memaksa.


"Abang mau Fia pijitin nggak?" tanya Fia.


Papa Zaldi dan Opa Rinto meninggalkan Fia dan Bang Sanca berdua di dalam kamar.


"Kalau nggak mau berangkat ya sudah, tapi nggak usah marah-marah. Si Juno kangen di elus papanya nih" kata Fia mengarahkan tangan Bang Sanca agar mengusap perutnya.


Ada rasa berkedut yang membuat Bang Sanca tersenyum gemas.


"Main apa kamu le? Mau oper bola sama papa?"


"Nggak boleh pa. Mamanya belum kuat. Nggak apa-apa ya pa?" kata Fia penuh sesal.


"Papanya juga lagi ambruk ma"


Fia membelai rambut Bang Sanca, matanya terus menatap kedua bola mata itu hingga rasa desiran nya sampai ke relung hati.


"Kalau begini, bisa di bicarakan lagi Bu komandan..!!"


:


Badan Bang Sanca langsung demam. Nampaknya selain sakit di badan, tubuhnya juga kelelahan hingga membuatnya demam seperti itu.


"Fia ambilkan obat demam sama pereda nyeri ya Bang?" Fia berdiri hendak mengambilkan obat untuk Bang Sanca.


"Jangan pergi.. peluk Abang dulu..!! Usap punggung, Aduuh.. lutut Abang ngilu. Perut Abang mual.."


"Ya ampun Abang. Ini Fia tangani yang mana dulu..!!" kata Fia dengan bingung.


Fia mengusap pipi Bang Sanca yang meringkuk di pahanya.


"Jangan paksa Abang pergi..!!" ucap Bang Sanca sebelum akhirnya tertidur.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2