
"Sudah puas?? Kalau Fia keguguran bagaimana??" tegur Bang Ryan pada Yuna.
"Kalau dia bukan jodohmu apa tetap akan kamu paksakan??"
"Aku tidak tau akan seperti ini akhirnya Bang" ucap jujur Yuna.
"Fia mengalami banyak guncangan, kehamilan Fia ini begitu rawan" kata Bang Ryan mengingatkan Yuna.
"Apa Bang Sanca begitu mencintai Fia? Mungkin Bang Sanca hanya merasa bertanggung jawab karena Fia terlanjur hamil. Fia hamil dalam misi kemarin khan?" tanya Yuna.
"Fia bukan gadis seperti itu. Dia gadis baik-baik"
"Lalu apa namanya gadis delapan belas tahun sudah hamil dengan seorang pria kalau bukan dia yang menggoda."
"Kalau kau tidak tau ceritanya.. diam adalah pilihan terbaikmu. Kupikir memang pantas Bang Sanca tidak memilihmu. Tidak salah jika Bang Sanca menyalurkan hasrattnya pada Fia yang memang sudah menjadi istrinya.
"Apaa? Sejak kapan mereka menikah?"
"Abang tidak tau pasti. Yang jelas Abang masih persiapan pelantikan" jawab Bang Ryan.
Yuna menunduk melihat hamparan bebatuan di depan rumahnya. Sebulir air matanya menetes.
...
Tak hentinya Fia duduk menangis di dalam kamar. Ia tak tau harus berbuat apa. Ingin tidak cemburu, tapi siapa yang bisa menahan hadirnya perasaan. Terlalu banyak menangis membuat dadanya sesak.
Bang Sanca tidak tahan lagi melihat Fia terus menangis sedih. Mau Fia menolaknya atau tidak, Bang Sanca tetap masuk ke dalam kamar.
"Fia mau sendiri Bang..!!"
"Kamu sudah terlalu lama sendiri. Apa tidak bisa kalau kita bicara berdua? Abang lelah masalah seperti ini hadir berlarut-larut.
"Apa yang mau di bicarakan? Fia sedang tidak bisa berpikir jernih. Fia nggak mau dengar apapun lagi"
Bang Sanca memeluk Fia lalu mengajaknya berbaring di atas ranjang. Ia menautkan keningnya pada kening Fia kemudian mengecup bibirnya sekilas.
"Kenapa ucapanmu tadi berbanding terbalik dengan keadaan mu sekarang? Tadi kamu terlihat begitu kuat, sekarang kamu begitu lemah"
"Fia nggak mau tau tentang masa lalu Abang dan Fia tidak ingin mencari tau apapun tentang Abang."
"Ini yang terakhir.. Abang janji.." Bang Sanca menyecap bibir manis Fia kemudian menggigit nya pelan dan memagutnya penuh cinta.
Fia menghindar menarik dirinya, tak sanggup membayangkan apa yang dilakukan suaminya pada Rhea dan Yuna.
"Luapkan rasa cemburumu itu..!! Tidak usah membayangkan yang macam-macam. Karena segala pikiran anehmu itu hanya Abang lakukan sama kamu."
"Tapi Abang bermalam sama mbak Yuna"
"Abang memang bermalam sama Yuna.. tapi kamu tanya si bodong.. dia saksinya. Dimana Abang tidur malam itu"
"Fia ingin dengar dari mulut Abang sendiri..!!"
"Lhoo.. tenan to.. Ngene iki lho marai salah paham. Ngomong nggak pengen ngerti.. tapi penasaran wae. Wes ngerti ceritane malah ngamuk. Iki mas kudu piye?"
"Aaaaahh.. Abaaang..!! Pokoknya Abang nggak boleh ngelirik yang lain"
Baru kali ini Bang Sanca mendengar rengek manja sang istri. Jika saja Fia sedang dalam keadaan fit, mungkin ia akan langsung menyambar istrinya itu tapi sekarang Fia sedang kurang sehat.. dirinya tidak ingin mengambil resiko apapun.
"Abang nggak berani. Rasanya Abang sudah mau mati apalagi kamu sampai seperti ini" Bang Sanca sesekali masih mengusap dadanya karena cemas.
"Dulu Abang memang memiliki banyak wanita.. Tapi sekarang Abang sudah punya kamu, hanya ada kamu.." Bang Sanca mengarahkan tangan Fia agar menyentuh dadanya.
__ADS_1
"Dengar nggak.. setiap detaknya ada nama Zafia" ucapnya menggombal.
"Bohong..!!"
"Abang bantu kamu biar bisa mendengar dan merasakannya..!!" Bang Sanca menelusuri setiap lekuk tubuh Fia, merambah nya hingga menggenggam tangan istri kesayangannya.
Mata Fia terpejam dan terbuai perlakuan sayang Bang Sanca. Melihat Fia begitu menginginkan nya.. Bang Sanca pun menjadi dilema.
...
"Kita jalan yuk..!! Besok khan hari Sabtu sekalian belanja dek" ajak Bang Sanca.
"Jauh sekali jalan ke kota Bang. Fia belum bertemu dengan istri anggota yang lain. Hanya Abang saja yang bertemu mereka kemarin"
"Senin saja kita adakan pertemuan. Sekarang jalan-jalan saja dulu. Kamu butuh refreshing" kata Bang Sanca.
dddrrtt.. ddrrrtt.. ddrrrtttt...
Bang Sanca melihat ada nama Garin disana. Bang Sanca keluar dari dalam kamar untuk mencari signal.
"Apaa??" Bang Sanca menjawab dengan malas.
"Temani jalan donk..!! Anjar nggak bisa nih. Rhea lagi mogok bicara"
"Memangnya mau kemana?" tanya Bang Sanca.
"Ada teman SMP ku di kota. Dia pengen bertemu"
"Laki atau perempuan?" tanya Bang Sanca lagi.
"Perempuan"
"Lu ini bener-bener ya..!! Pergi saja sendiri.. gue sudah nggak mau urusan sama yang namanya perempuan. Lihat Fia seperti tadi rasanya jantung gue mau copot. Nggak bakalan gue cari hal. Inces gue nih taruhannya" gerutu Bang Sanca.
"Apa sih Garin. Kalau mau berulah jangan ajak aku lagi. Sampai sekarang rasanya dadaku sakit memikirkan Fia"
"Bang.. Fia sudah siap" sapa Fia mengagetkan Bang Sanca.
Pandangan itu menyisir dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Tebal banget make up nya dek..!!" tegur Bang Sanca.
"Memangnya kenapa? Jangan sampai Abang lirik perempuan lain karena Fia tidak bisa memuaskan mata Abang" jawab Fia.
Bang Sanca mengambil tissue di meja lalu menghapus lipstik Fia yang tebal.
"Nanti kamu di kira habis ngunyah bayi. Warna pink saja..!! Jangan tebal begini.. nggak suka Abang lihatnya. Kalau di kamar sih terserah kamu" gumamnya sembari menghapus make up Fia yang juga terlalu tebal.
"Ini pakai dempul apa sih, tebal amat."
"Baaaangg..!!!"
"Ada Raiz di luar. Kamu mau pamer???"
"Ada Bang Raiz??????" tanya Fia.
"Panggil Om. Dia bukan siapa-siapa mu. Abang minta kamu bisa bersikap layaknya Nyonya Sanca..!!"
:
"Selamat sore Dan.. Ibu..!!" sapa Bang Raiz secara formal.
__ADS_1
"Selamat sore Dan.. Ibu..!!" sapa Prada Hega.
"Sore.. tolong antar saya ke kota..!!"
"Selamat sore om.." Fia tersenyum pada kedua anggota Bang Sanca.
"Siap..!!"
...
Senyum Fia lebih mengembang saat Prada Hega menghentikan mobil di tempat hiburan pusat kota. Danau yang indah dan ramai dengan para wisatawan sekitar.
"Suka disini??" tanya Bang Sanca.
"Suka Bang. Indah sekali" jawab Fia.
"Eehh.. itu pedagang apa ya Bang?"
"Pedagang apa itu?" Bang Sanca bertanya pada Prada Hega.
"Ijin Dan.. itu aneka seafood"
"Aduuuhh.. jangan dek. Kamu punya asma. Kamu juga nggak bisa makan beberapa jenis seafood. Yang lain saja ya..!!" kata Bang Sanca.
"Inces yang minta Bang."
"Aduuhh.. Mateng aku" kalau sudah perkara inces selalu membuat hatinya lemah.
"Fia lapar nih Bang" kedip mata Fia dengan gayanya yang bergelayut manja di lengan Bang Sanca membuat hati suaminya itu meronta-ronta tak tega..
"Sabar.. ayo jalan kesana dulu, siapa tau ada yang kamu inginkan" ajak Bang Sanca.
Mereka pun berjalan melewati pedagang kaki lima di sekitaran danau. Baru melewati sekitar lima pedagang.. Fia menggoyang lengan Bang Sanca.
"Itu boleh Bang?" tanya Fia sambil mengarahkan ekor matanya pada pedagang sate kerang.
"Kamu mau sate kerang?? Aman nggak itu sayang? Abang nggak mau ceroboh menuruti semua maumu" Bang Sanca mulai cemas.
"Sate kambing mau? Atau bebek goreng?
"Sate aja Bang" jawab Fia mengalah meskipun wajahnya nampak murung.
:
Dua ajudan Bang Sanca ikut makan disana. Bang Sanca menyadari, sedari tadi Raiz mencuri pandang ke arah Fia.
"Satu lagi ya..!! Biar inces Abang cepat gede" bujuk Bang Sanca.
"Sudah kenyang Bang" tolak Fia.
"Masih pengen kerang itu ya?"
"Nggak kok Bang" jawab Fia yang bertolak belakang dengan ekspresi wajah nya.
Ya ampuun.. Di turuti nggak nih ngidamnya bumil??.
.
.
.
__ADS_1
.