
"Ijin Dan.. ini berkas yang Komandan minta" Sertu Adelina menyerahkan berkas langsung ke rumah sesuai permintaan Bang Sanca agar Fia melihat secara langsung bagaimana rupa Sertu Adelina yang membuat Fia naik pitam.
Adelina celingukan melihat ke dalam rumah mencari kiranya siapa yang ada di dalam sana.
"Terima kasih" kata Bang Sanca.
"Ini rumah yang Abang bilang? Abang tidak tinggal di mess lagi?" tanya Adel tidak secara resmi lagi.
"Iya ini rumah saya. Sementara juga masih bolak-balik mess" jawab Bang Sanca.
"Siapa Bang?" Fia langsung keluar kamar begitu mendengar suara perempuan dari luar.
"Ini Sertu Adelina. Sini kenalan" Bang Sanca berusaha mengenalkan Fia pada Sertu Adelina.
Fia mengulurkan tangannya tapi sikap Adelina tidak sehangat tadi.
"Ini siapa Bang?" tanya Adel.
"Istri Abang" jawab Bang Sanca dengan santai.
"Istri?? Aku kira pembantu Abang" kata Adel entah dengan maksud apa.
"Mbak Adel ya? Abang sudah cerita kalau mbak Adel mantannya Abang" jawab Fia dengan senyumnya.
Astaga.. kalau sudah senyum begini pasti bahaya mengancam. Niat mengenalkan baik-baik biar nggak salah paham malah timbul bencana.
"Yaaa.. begitulah. Mungkin saat ini Bang Sanca sangat menyesal pernah meninggalkan ku" kata Adel.
Jantung Bang Sanca sudah jedag jedug tak karuan melihat Adel dan Fia saling berhadapan. Ia paham betul sifat keduanya apalagi sifat Fia sudah berkerak di dasar kepalanya.
"Benar sekali itu mbak, saking menyesalnya Abang.. Abang lupa sampai menikahi pembantu. Bantu buat kopi kalau pagi, bantu dengar curhatnya, rewelnya, siapkan baju dan kebutuhannya, atur semua uangnya, yang miris mbak, kalau malam Abang ngetokin kamar pembantu, minta di bantu temani tidurnya. Kurang ajar khan mbak? Saya sampai hamil lho. Saya nggak terima mbak meskipun laki-laki ini nih, kasih semua ATM dan harta bendanya ke saya, tapi saya sakit hati mbak. Kalau mbak mau, bawa aja nih sisa saya. Makan ati pelihara dia mbak" ucap Fia lembut tapi begitu mengena.
Ya Allah.. Fia. Bisa-bisanya dia bilang begitu sama Adel. Yang makan ati tuh Abang.. Neng. Lugumu keterlaluan. Apa di kira gampang momong istri limited edition macam kamu itu dek.
Adel merasa kesal dan akhirnya memilih pamit daripada hatinya tersakiti dengan kata2 Fia.
//
"Kok iso lho ngomong sama Adel begitu. Harga diri Abang di taruh mana?" protes Bang Sanca.
"Apa Abang pikirkan Fia? selama ini Abang masih komunikasi sama Adel itu khan? Masih berbaik hati dengan mantan karena alasan pekerjaan" jawab Fia dengan kesalnya. Ia pun melempar ponselnya di hadapan Bang Sanca.
"Baca itu. Abang perhatian ke mantan khan? Bang Anjar pun masih berbaik hati memperhatikan Fia. Sekarang Abang pilih masih ingin dekat dengan Adel atau Fia yang keluar dari rumah ini?"
Bang Sanca membaca setiap pesan dari Anjar. Hatinya begitu sakit membaca setiap perhatian yang Anjar berikan pada istrinya.
Bg. Anjar : Sudah makan dek? Makan yang banyak biar dedeknya sehat? Hari ini sudah minum susu apa belum?.
__ADS_1
Me : Sudah.
Bg. Anjar : Kalau Sanca kasar dan tidak sayang padamu, bilang sama Abang. Sampai kapan pun Abang tetap menyayangimu"
Me : Itu urusan rumah tangga Fia. Terima kasih atas perhatiannya. Tapi suami Fia sudah memberi apa yang Fia butuhkan.
Bg. Anjar : Abang khan bilang 'kalau'. Tapi Alhamdulillah Sanca sayang kamu. Abang akan selalu ada di dekatmu. Jangan cemas dek.
"Sudah baca?? Kalau Abang rela istri Abang di ambil orang.. silakan Abang lanjutkan kencan dunia maya" ancam Fia.
Bang Sanca mengambil ponsel dari sakunya.
"Abang belum menghapus Adel karena Abang dan dia satu team. Tapi kalau memang semua ini terasa mengganjal di hatimu.. hapuslah..!! Tidak ada yang lebih penting dari anak istri. Nanti Abang bicara dengan dinas..!!" ponsel itu ia serahkan pada istrinya yang masih duduk di atas ranjang lalu menyandarkan kepalanya di paha Fia.
"Jangan duakan Abang sama Anjar. Abang lebih ganteng, lebih gagah, lebih jantan....."
"Bisa ya Abang bilang begitu. Ini bukan waktunya sombong Bang. Abang tuh harus sadar diri." tegur Fia mendengar ucapan Bang Sanca yang tiba-tiba merengek tak jelas.
"Abang sadar kok kalau Abang lebih ganteng" kata Bang Sanca.
Fia menghela nafasnya.
"Abang tidur deh. Fia stress kalau Abang begini"
"Jawab dulu ganteng siapa??" tanya Bang Sanca.
"Dedek Juno" jawab Fia kemudian pergi.
//
Bang Sanca tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling di ranjang. Daripada memikirkan masalah Adel, ia lebih kepikiran masalah Anjar yang masih mengejar istrinya. Dadanya masih terasa panas terbakar api cemburu.
"B*****t.. Aku datangi dia atau nggak nih?" gumamnya kesal. Ia tidak ingin menunjukan segala panas dan emosinya di hadapan Fia. Berusaha menjaga dan meminimalkan pertengkaran adalah usahanya saat ini.
"Apa dia tidak tau hukumnya melirik istri orang?? Duda memang bahaya."
:
"Tidak ada maksud apa-apa San. Hanya menyapa istrimu saja. Kamu jangan berlebihan..!!" kata Bang Anjar.
"Kau atau aku yang berlebihan. Bagaimana pun juga Fia adalah istriku. Wajar jika aku lebih menjaganya" Bang Sanca masih tidak terima Anjar menghubungi istrinya.
"Aku minta maaf, aku yang salah. Maksudku hanya menyapanya saja"
"Heehh.. Aku nggak pernah meremehkan duda ya. Tapi kamu sudah lama tidak merasakan belaian wanita, jangan sampai kamu mendekati istriku dan bermaksud buruk. Nggak jelas kowe Iki pot" tegur Bang Sanca.
"Sorry San.. Aku nggak bermaksud...."
__ADS_1
"Berani kau dekati Fia lagi.. kutebas leher mu" sambar Bang Sanca tak main-main. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar.
"Maaf.. aku nggak akan ulangi lagi" kata Bang Anjar.
"Baang..!!" terdengar suara Fia menyapa dari dalam rumah.
"Dalem dek.. kenapa?" jawab Bang Sanca lembut.
"Kenapa lagi nih mamanya Juno. Semoga nggak minta macam-macam" gumam Bang Sanca lalu menghampiri Fia tanpa memperhatikan Bang Anjar lagi.
:
"Salad hutan Jawa sama kripik cacar"
"Ya Allah dek, bisa nggak mintanya langsung bilang aja maunya apa. Abang nggak enak badan nih dek. Kali ini aja istri Abang yang baik hati, cantik jelita dan tidak sombong bantu Abang" pinta Bang Sanca memelas.
"Abaaang.. anak Abang yang minta. Papanya nih nggak mau berjuang" Fia langsung sesenggukan, hatinya langsung merasa tersakiti.
"Papa capek lho le." ucap jujur Bang Sanca karena merasakan badannya remuk, tapi melihat istrinya menangis tentu hatinya merasa tak tega.
"Ya sudah.. Dedek sama mama pengen apa sih, papa berangkat nih"
"Mau pecel sama peyek. Abang kok loading nya lama sih?" Fia sudah begitu kesal karena suaminya tidak menanggapinya dengan benar. Hormon kehamilannya melambungkan perasaan Fia naik dan turun.
"Dalam pendidikan Abang khan nggak pernah pelajari mana salad hutan, mana kedelai salah kodrat. Tugas Abang itu tentang penjagaan negara, bukan goreng peyek dek. Mana Abang paham" Bang Sanca segera berdiri dan mengambil jaket dan kunci motornya.
"Abaang..!!"
"Apalagiii??"
"Maafin Fia ya Bang. Fia ngerepotin Abang" kata Fia.
"Nggak apa-apa. Abang nggak keberatan, asal kamu sama anak Abang sehat"
"Kalau gitu sekalian belikan guling panda ya Bang..!!"
"?!?!?!?!?"
"Ada lagi yang lebih rumit????" tanya Bang Sanca.
.
.
.
.
__ADS_1