Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
27. Terganggu kisah masa lalu.


__ADS_3

No hujatan. Tidak suka skip saja..!! Cerita belum usai.


🌹🌹🌹


Sepulangnya dari membeli pesanan Fia, Bang Sanca bertemu dengan Sertu Adelina.


"Abang.. itu tadi benar istri Abang??" tanya Adel mengikuti langkah Bang Sanca.


"Iyalah"


"Tapi kenapa Bang, kenapa Abang pilih dia?" Adel tidak percaya Bang Sanca sudah menikahi gadis lain selain dirinya setelah pria itu berpisah dari Rhea yang dia yakini adalah selingkuhan Bang Sanca dulu.


"Ya karena Fia jodoh saya" jawab Bang Sanca.


"Tapi perempuan itu hamil Bang. Apa dia menggoda Abang sampai Abang harus menikahi nya?" tanya Adel.


"Nggak usah mengada-ada kamu?" Bang Sanca segera meninggalkan tempat.


"Kamu nggak tau siapa dia?"


Adel menggeleng pasti.


"Fia itu Putri komandan Markas" kata Bang Sanca memberitahu.


"Komandan Markas hanya punya dua orang putra. Satu pak Ibra, dua sedang pendidikan"


"Yang ketiga adalah istri saya Fia. Jadi cukup sampai disini dan jangan membuat rumor apapun" pinta Bang Sanca dengan tegas kemudian pergi dari hadapan Adel.


...


Fia melihat ada nasi pecel dengan lauk semur daging sapi yang terpisah, peyek dan lumpia rebung.


"Puas sayangku?" tanya Bang Sanca.


"Iya.. Terima kasih ya Bang"


"Sama-sama cintaaa..!!"


Fia menatap suaminya, tak biasanya Bang Sanca menyapanya dengan panggilan sayang.


"Abang ada salah apa sama Fia sampai panggil Fia sayang?"


"Aneh kamu ini. Suami panggil sayang kok tanya ada salah apa? Apa Abang sebegitu kakunya sampai saat bilang sayang saja jadi hal langka untuk kamu?" tanya Bang Sanca.

__ADS_1


"Abang habis bertemu siapa? Rhea atau Adel?" pertanyaan Fia membuat Bang Sanca tercengang.


"Adel" Jawab jujur Bang Sanca. Percuma menyembunyikan segalanya jika Fia sudah pasti 'merasakan' ketidak beresan sebagai seorang istri.


"Abang nggak sengaja bertemu Adel di tempat pedagang lumpia. Hanya bertemu saja. Nggak ada yang lainnya"


"Fia hanya mau tau alasan kenapa pacar Abang begitu banyak? Apa suatu saat nanti Abang punya niat untuk menduakan Fia?" tanya Fia.


Bang Sanca mendekap Fia yang sedang duduk di meja makan.


"Alasannya adalah Abang dan mungkin pria-pria yang terlihat berani di luar sana, mengumpulkan para wanita itu untuk di teliti satu persatu hingga ke akarnya. Bagaimana soal imannya, akhlaknya sebagai wanita. Seperti yang kamu tau, lelaki menang memilih dan pria menang menolak. Mau kami benar atau salah, kami ini pria tetap salah, tapi yang harus kamu tau, kelakuan kami adalah untuk menjaga garis keturunan. Mana ada pria b******n menginginkan istri b******n juga. Tentunya Abang juga begitu. Abang nggak cari pacar yang hanya bisa di ajak happy-happy saja. Dia harus mau mengandung benih Abang, membantu Abang menjaganya, merawat dan mendidiknya"


"Lalu setelah Abang mendapatkannya??"


"Istri itu kedudukannya sangat tinggi karena dia pilihan. Setelah Abang mendapatkanmu.. Semua bayangan masa lalu itu sirna. Abang nggak munafik, rasa pasti pernah ada.. tapi hanya sebatas kagumnya pria terhadap fisik wanita. Setelah kami tau ya sudah, penasaran kami selesai. Berbeda rasanya saat bersama dengan istri, orang yang sah dan halal untuk Abang rengkuh.. cinta yang awalnya datar dan datang sebagai sebagai janji.. tiba-tiba hadir sebagai bukti. Abang tersadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah saat Abang telah mencoba ikhlas, menyalurkan segala perasaan dan memahami.. 'dia bagian hidupmu', baru Abang sadar.. Abang sangat mencintaimu lebih dari apapun"


Mata Fia berkaca-kaca mendengar semua ucapan Bang Sanca. Pria di hadapannya ini memang sungguh sangat berbeda. Dari semua mantannya hanya Bang Sanca yang mempunyai kesan terdalam. Suaminya itu bisa sangat garang, galak ataupun lembut pada dirinya.


Bang Sanca beralih duduk di samping Fia dan menyuapi bumil. Tak ada kesal atau marah dengan sikap sang istri yang berubah-ubah tidak jelas. Bawaan bayi memang suka membuat sikap istrinya berubah-ubah namun semuanya tak menjadi masalah asalkan tidak sampai berakibat fatal untuk rumah tangganya, maka dirinya masih bisa memberikan toleransi.


"Jangan nangis terus lah, istri Kapten Sanca nggak boleh cengeng" bujuknya karena Fia masih terus menangis.


"Kalau mamanya cengeng nanti si Juno juga cengeng lho dek. Nangis juga tuh Juno di dalam"


***


Danyon mengabarkan bahwa nama Bang Sanca di hapuskan seiring informasi yang beredar bahwa keadaan genting sudah mereda dan dari pihak kesatuan militer hanya akan mengirimkan beberapa orang anggota untuk pengintaian dan yang akan berangkat dinas selama satu minggu adalah Bang Dafa.


"Bukannya katamu Rhea sudah masuk HPL persalinannya? Kenapa kamu tidak menolak?" tanya Bang Sanca pada Bang Dafa.


"Mau bagaimana lagi. Ini sudah ringan daripada berangkat tugas dengan rasa was-was." jawab Bang Sanca.


"Lagipula hati ku masih terasa sakit dengan kelakuan Rhea. Dia nggak jujur sama aku San. Sekarang aku jadi ragu, yang dia bawa itu anakku atau bukan" jawab Bang Dafa.


"Maaf ya Daf.. aku nggak bisa berkomentar banyak soal rumah tanggamu. Ini bukan kewenangan ku untuk membicarakan masalah ini. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Rhea. Maaf..!! karena aku.. kamu yang harus menggantikan ku" ucap Bang Sanca.


"Nggak masalah San. Santai saja, seumur-umur.. aku nggak pernah ikut perang. Aku juga pengen donk jadi prajurit sejati" senyum Bang Dafa terkembang namun ucapnya terdengar getir.


...


"Abang cepat pulang..!! Aku mau melahirkan Bang..!" kata Rhea mencoba menyentuh lengan Bang Dafa namun pria itu menepisnya.


"Abang masih marah? Ini benar anak Abang. Bukan anak Pak Jaya"

__ADS_1


"Siapa yang percaya? Sedangkan kamu sendiri mengakui bahwa kamu pernah tidur dengan lelaki b******k itu" bentak Bang Dafa.


"Aku sudah berkata jujur Bang. Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya"


Bang Dafa tak peduli dengan semua perkataan Rhea. Ia mengangkat rangselnya.


"Percaya atau tidak, aku harus tetap melakukan kewajibannya sebagai istri Abang" Rhea meraih tangan Bang Dafa kemudian menunduk dan menciumnya.


"Aku memang salah Bang. Tapi anak ini, anak Abang.. Sikapmu sudah sangat menghukumku Bang. Bolehkah satu kali saja Abang mengajaknya bicara"


"Jika Abang gagal menjadi papa nya. Abang harap kamu tidak pernah gagal menjadi ibunya. Ajari dia akhlak yang baik" pinta Bang Dafa. Bang Dafa menunduk dan mencium perut Rhea


"Jadilah kamu anak yang Sholeh. Jangan tiru kelakuan buruk papa. Jadilah anak ksatria yang berguna bagi Nusa, bangsa dan agama" kata Bang Dafa.


-_-_-_-_-


Malam harinya Bang Sanca belum bisa tidur. Ia gelisah karena Dafa menggantikannya bertugas tapi ia memang tidak bisa meninggalkan Fia begitu saja.


Bang Sanca mendengar kasak kusuk di rumah Dafa. Ternyata Rhea keluar rumah sambil membawa tas besarnya, mantan Bang Sanca itu memegangi perut besarnya dan sesekali bersandar pada mobilnya sambil mengatur nafas. Demi rasa kemanusiaan, Bang Sanca keluar menghampiri Rhea.


"Kamu kenapa Rhe?"


"Nggak apa-apa Bang" jawab Rhea menahan rasa sakitnya.


"Perutmu sakit? Apa sudah waktunya?" tanya Bang Sanca tiba-tiba cemas.


"Abaang.. apa Bang Dafa sudah beri kabar?" tanya Rhea memercing kesakitan.


"Dafa sudah sampai lokasi" jawab Bang Sanca.


Tiba-tiba Rhea memeluk Bang Sanca. Ia sedikit mengejan membuat Bang Sanca panik.


"Ya Allah Rhea.. kamu masih kuat? Abang antar ke rumah sakit ya?" saking ibanya, Bang Sanca membelai rambut Rhea.


Tak disangka Fia sedang melihat semua pemandangan itu tanpa tahu apa yang terjadi tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2