
"Pemanasan dulu. Jangan asal masuk..!!" Bang Sanca membantu Fia melemaskan otot-otot syaraf istrinya agar tidak terjadi kram di dalam kolam renang.
"Nanti masuk kolam di sebelah saja. Kolam yang ini sudah kotor, tercemar virus om-om. Gatal kamu nanti"
Bang Sanca meminta seluruh anggota kembali ke kantor lebih dulu kecuali mudi yang standby di luar kolam. Para anggota sudah paham kalau Danki mereka akan mengajari Ibu Danki berenang secara pribadi.
:
Bang Sanca membimbing langkah Fia karena takut istri kecilnya itu terpeleset di pinggir kolam renang yang licin penuh air.
"Ikuti langkah Abang. Jangan sok pinter.. ini lumut. Terjungkal ke dalam kolam.. lumayan gelagapan kamu nanti."
Fia fokus pada langkahnya. Ia juga takut karena perutnya menegang melewati pinggir kolam.
"Abang turun dulu. Nanti kamu masuk kolam tunggu Abang..!!" kata Bang Sanca yang langsung meluncur tanpa susah payah. Tangannya terjulur berniat membantu Fia.
"Bang.. Fia takut. Abang berdiri saja sampai sebatas dada, bagaimana Fia.. hanya kelihatan dahi aja donk Bang" protes Fia.
"Aahh.. lamanya kamu ini. Tenang saja.. Ada Abang" Bang Sanca menarik tangan Fia hingga istrinya itu tercebur ke dalam kolam dan gelagapan.
"Hwaaa.. Abaaaanngg.. Takut.. Fia tenggelam" ucapnya meronta di dalam air.
"Jangan panik.. ini Abang pegangi" secepatnya Bang Sanca memeluk Fia dan menaikan kedua kaki Fia pada pinggang nya.
"Nggak ada suami yang mau mencelakai istri sendiri" Bang Sanca melingkarkan kedua tangan Fia ke belakang lehernya.
Baru kali ini Bang Sanca merasakan tendangan yang begitu kuat dari perut Fia. Senyum tampannya semakin terkembang.
"Kangen papanya nih si inces. Sampai papanya di protes begini" gumam Bang Sanca sembari menatap mata Fia yang begitu menenangkan.
Posisi mereka yang sangat dekat membuat gejolak kelelakian Bang Sanca bereaksi. Ia membawa Fia ke sudut kolam.
"Dingin??" tanya Bang Sanca.
Fia menggangguk.. bibirnya menggigil padahal baru beberapa menit saja mereka masuk di dalam kolam.
"Abang panasin ya?" bisik Bang Sanca di telinga Fia. Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Bang Sanca menyambar bibir Fia penuh hasratt dan gairah. Mendiamkan istrinya selama dua bulan sudah cukup membuatnya tersiksa.
Fia yang sudah lama tidak mendapatkan belai sayang dari Bang Sanca pun ikut terhanyut dan akhirnya membalas perasaan pria yang akan kembali menjadi seorang ayah lagi tanpa ia sadari.
Lenguhan terdengar dari bibir keduanya. Bang Sanca sudah pusing setengah mati tidak bisa mengendalikan diri. Sadar sudah tidak tahan, Bang Sanca menarik diri. Ia melepas kancing seragamnya dan membuangnya asal.
"Abang mau disini?" tanya Fia.
"Mau dimana lagi sayang? Sudah nggak tahan lho Abang" Bang Sanca membuang kaosnya dan melepas ikat pinggangnya.
"Di ruang ganti saja Bang..!!"
__ADS_1
Sikap Bang Sanca sudah semakin tidak terkontrol bahkan ucapan Fia sudah bagai angin lalu.
"Jangan banyak bicara bisa nggak sih dek. Kamu tenang dan diam. Abang absen darurat"
Fia pun diam dan tidak berani banyak melawan. Ia hanya bisa memejamkan mata, merasakan dan menikmati setiap belaian hangat dari Bang Sanca.
"Egh.."
"Abang hati-hati" bujuk Bang Sanca.
:
Untuk sesaat Bang Sanca merasa terbang melayang. Seluruh tubuhnya lemas setelah kerinduan nya tersalurkan sudah.
"Baaang..!!" Fia memercing memegangi perutnya.
"Kenapa sayang.." ucapnya lembut.
"Perut Fia kencang Bang.. Sakit"
"Haaahh.."
Secepatnya Bang Sanca membenahi pakaian Fia kemudian segera mengangkat Fia ke tepi kolam.
"Abaang toloooong.. Fia nggak kuat..!!"
"Ya Allah.. Astagfirullah.." mata Bang Sanca membulat tajam melihat ada noda di pakaian Fia.
"Hegaa..Indra.. cepat kesini..!!!!!" teriak Bang Sanca.
Om Hega dan Om Indra berlari masuk ke tempat Danki memanggil mereka berdua.
"Ijin Danki.. ada yang bisa di bantu?"
"Ambil semua pakaian saya di kolam lalu siapkan mobil. Cepaat..!! Jangan lama-lama..!!!!!!" perintah Bang Sanca.
Om Hega dan Om Indra masih ternganga belum memahami apa yang terjadi tapi sesaat kemudian, sebagai pria dewasa tentunya mereka berdua mulai memahami kemungkinan yang terjadi di tempat kejadian perkara.
-_-_-_-_-
Tante Mey menggeleng melihat Bang Sanca bertelanjang dada di ruang IGD rumah sakit.
"Siapa mau percaya kamu bilang Fia tenggelam"
Tak lama Bang Ryan masuk ke dalam IGD.
"Fiaa.. kenapa kamu dek..!!"
__ADS_1
"Ini darah? Tanda vital? Atau partus ma?" tanya Bang Ryan di sana pada Mama mertuanya.
"Persiapan persalinan Ry.."
"Ya Tuhanku.. ada apa ini Bang??" Bang Ryan panik sekali. Ia menghubungi rekannya disana sini.
"Sudah nggak apa-apa Ry, nanti mama temani adikmu. Di USG usia kandungan 30 Minggu" kata Mama Mey.
Bang Sanca diam seribu bahasa. Pikirannya kacau balau, cemas dan kalut. Tangannya hanya bisa menggenggam erat tangan Fia.
"Persalinan normal beresiko karena sebelumnya ada persalinan normal yang prematur." kata dokter yang baru saja datang setelah menghubungi dokter Fia dari Jawa.
"Persalinan Bang? Fia punya anak?" tanya Fia lirih.
"Kita bicarakan lain kali. Sekarang fokus dulu dengan persalinan mu" bujuk Bang Sanca.
"Dokter, kalau memang semua tidak memungkinkan.. tolong lakukan tindakan operasi saja. Istri saya nggak mungkin kuat dalam persalinan normal. Istri saya punya asma." pinta Bang Sanca karena nafas Fia sudah putus sambung.
"Aaaahhh Abaaaanngg..!!!!!" pekik Fia tak karuan. Kontraksi yang Fia rasakan semakin parah saja.
"Cepat putuskan dok..!!!! Atau saya obrak abrik rumah sakit ini..!!!!!" bentak Bang Sanca.
"Abang..!! Tahan emosi di rumah sakit. Banyak pasien!!" sebisanya Bang Ryan menahan emosi Bang Sanca.
"Kamu nggak usah ajari saya. Kamu boleh tidak peduli tapi Fia ini istri saya" Bang Sanca terus berteriak tak terkendali. Ia sudah mau pingsan rasanya melihat Fia kesakitan.
"Sebenarnya bagaimana tingkah Abang tadi? Kenapa sampai begini??????"
.
.
.
.
//
Karena situasi sudah semakin mencekam karena Bang Sanca mengamuk di ruang IGD. Maka di putuskan untuk memberi tindakan operasi pada Fia.
Brankar Fia sudah berjalan cepat menuju ruang operasi.
"Abang.. tungguuu..!!" Fia memegangi lengan Bang Sanca.
"Apa sayang..?"
"Fia belum dandan Bang..!!" ucapnya sambil memercing merasakan kontraksi.
__ADS_1
"Lahdalaahh.. kok yo sempet mikir dandan.. Iki jabang bayi wes siap brojol deekk..!!!!" gerutu Bang Sanca.