Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
117. Petaka.


__ADS_3

Bang Sanca dan Bang Ibra turun bersamaan. Satu dari sisi kanan, satu dari sisi kiri.


"Yaaa.. selamat datang untuk Pak Danki dan Pak Danton..!!!" ucap Bang Garin yang kemudian di sambut tepuk tangan meriah.


Sorot lampu mengarah pada kedua komandan hingga membuat mereka terasa keki salah tingkah. Namun begitu Bang Sanca dan Bang Ibra tetap tersenyum, tak mungkin bagi mereka menunjukan wajah culun di muka umum.


"B*****t mau apa dia? Jangan sampai buat ulah" gerutu Bang Sanca.


"Perasaanku nggak enak Bang" kata Bang Ibra berbisik.


"Mari ibu komandan langsung gabung bergabung bersama ibu-ibu yang lain..! Biar Danki dan Danton bernyanyi untuk kita semua..!!!" ucap Bang Garin membahana.


"ehmmmm... mati kita" Bang Ibra menggaruk kepalanya.


"Heehh Garin.. kamu khan tau aku sedang flu. Kamu sengaja ngerjain ya?" tegur Bang Sanca.


"Tanpa di duga.. Danki bersedia..!!" kata Bang Garin yang tidak mengindahkan Bang Sanca semakin membuat Bang Sanca geram.


"Allahu Akbar.. Gariinn..!! Bener-bener ya lu"


Bang Garin malah meninggalkan Bang Sanca yang mlongo bingung karena di arahkan ke atas panggung kecil, lebih horor lagi para anggota Bang Garin sudah menatap Bang Sanca dan Bang Ibra penuh harap.


"Piye Bang?" tanya Bang Ibra bingung.


"Abang nyanyi ya, saya main keyboard..!!" kata Bang Ibra.


"Junior laknat.. Abang mau nyanyi apa? Kalau gugup begini yang ada di pikiran Abang hanya lagunya si Thomas" jawab Bang Sanca.


"Ya sudah Bang, nyanyi saja..!! Nanti saya yang ngiring"


"Oke.."


Bang Sanca berdehem melonggarkan tenggorokannya.


Naik kereta api.. Tut..Tut..Tut..


Siapa hendak turut..


Para anggota dan keluarga terhibur sekali dengan ocehan dua perwira di atas panggung padahal keduanya sungguh sedang ribut.


"Eehh Astaga Bang.. kenapa lagu itu??" Bang Ibra jadi ikut gemas di buatnya.


"Thomas itu apa?" tanya Bang Sanca.


"Kereta api"


"Ya sudah..Terus salahnya dimana??" tanya Bang Sanca lagi.


"Ayolah Bang.. saya malu setengah mati nih, bukan acara resmi.. harus nyanyi pula" gumam Bang Ibra.


Bang Sanca masih sempat bermain mata sampai akhirnya Bang Garin yang membalas littingnya itu bermain mata.


Fia pun menyadari Bang Sanca sedang menggodanya, ia menunjukan tanda love dari jarinya lalu memberi cium jauh untuk sang suami.


Bang Sanca terpesona sampai tersipu malu kemudian berbisik pada Bang Ibra.


"Hwuuu.. dasar..!!!!" gerutu Bang Ibra mendengar permintaan adik ipar.

__ADS_1


Musik berdenting nyaring.


Tembangan sepeleku


Tondo seneng marangmu


Kar'na ku terpuruk sendiri dalam hampa


Dan kau datang merubah cerita


Tepuk tangan riuh menyambut suara Danki sebelah yang begitu merdu.


Aku nemu widodari


Motomu kebak pelangi


Hadirmu dalam hidupku beriku warna


Dari kisah masa lalu yang pernah terluka


Ku pernah terjatuh, ku pernah ditinggalkan


Pupus cerita, tinggallah impian


Maha Sempurna Tuhan


Kirimkan kau untukku, kekasih yang tulus


Dan kisah kelamku, kini hilang terhapus


Yen takdire gandeng, yo bakale gandeng


Tuhan, terima kasih, hadirkan penjaga hatiku


Yang s'lalu setia menemaniku


Lagu itu terus terlantun seolah merayu sang istri dan kini pipi Fia memerah termakan lagu dari Bang Sanca.


~


Para anggota sudah mempersiapkan untuk acara malam ini.


"Ijin Ibu.. Bu Sanca silakan tunggu saja disana. Nanti kita makan sama-sama kalau sudah matang" kata seorang ibu pengurus ranting di Kompi Bang Garin.


"Saya disini saja ya Bu, pengen bakar ikan" tolak Fia yang menjadi sangat suka acara bakar ikan.


Bang Sanca yang mendengarnya langsung sigap mendekat.


"Duduk saja dek, nanti kamu capek lho..!!" alasan Bang Sanca padahal sangat cemas kalau sampai Fia ikut bakar ikan dan ada menu negro lagi yang terhidang di meja. Sumpah demi apapun dirinya tidak mau menghabiskan ikan Negro itu lagi.


"Bukannya Abang kemarin suka??" tanya Fia.


"Yaa.. suka sih, tapi kali ini Abang lagi nggak selera makan ikan" jawab Bang Sanca.


"Kalau begitu Fia masakin Abang aja. Tenang Bang.. Fia nggak apa-apa"


"Ya salam.. iya kamu nggak apa-apa, lambung Abang bisa sobek dek" Bang Sanca nggedumel sendiri tanpa bisa menahan keinginan sang istri yang luar biasa 'merepotkan'.

__ADS_1


Karena Bang Sanca juga tau diri. Ia langsung mendekat pada bagian pengurus senior dan meminta peralatan tersendiri dan khusus untuk Fia.


:


"Biarpun aku tidak terlalu paham cara buat ikan bakar, tapi aku nggak bodoh amat.." Fia melihat bumbu masak ikan bakar di goodle kemudian mulai menyiapkan segala bahan di depan mata.


"Aahh gampang ini. Pokoknya untuk Abang harus spesial, Abang sudah banyak kerja keras.. jadi aku harus memanjakan perutnya"


Dengan aksi tangan seribu, Fia meracik bumbu khas koki handal sambil sesekali melihat kembali catatan bumbunya yang sudah ia salin di kertas. Tak sengaja Fia menyenggol botol air air mineral hingga tumpah di atas kertas contekan.


"Aduuhh.. basah lagi. Mana cahaya lampu kurang terang" gerutunya sembari mengibaskan kertas yang basah itu.


"Halaahh nggak apa-apa, tidak ada perempuan yang tidak bisa masak.. yang ada hanya perempuan malas" gumamnya dengan bangga.


:


Bang Sanca menelan ludahnya dengan kasar. Ia ragu, takut dan cemas berkumpul menjadi satu.


"Waahh.. enak sekali Fi.. Abang tukar pakai masakan Esa ya..!!" ucap Bang Garin dengan sengaja padahal ia sudah tau hasil akhir dari rasa masakan Fia. Ia mengatakan hal itu agar Fia tidak mengajaknya makan ikan buatannya itu.


"Laahh jangan donk Bang. Ini Fia masak khusus untuk Bang Sanca" kata Fia.


"Yaaaa... padahal Abang pengen banget lho Fi.. kemarin aja ikanmu enak" lagak Bang Garin itu sangat membuat Bang Sanca jengkel apalagi Bang Ibra yang nyawanya masih terancam.


"Kalau gitu Ibra di bagi ya dek" bujuk Bang Sanca bermaksud agar tidak terlalu banyak ikan yang tertelan.


"NGGAK BOLEH..!!!" jawab Fia tegas.


Bang Ibra pun tersenyum licik.


"Ya ampun pelitnya sama Abang sendiri" sekarang Bang Ibra mulai mengikuti jejak Bang Garin yang belaga karena baru lepas dari marabahaya.


"Baiklah.. Tolong para anggotamu bersiap membaca surat pendek, terutama do'a untuk keselamatan" ucap Bang Sanca menarik nafas dengan pasrah. Tampilan bejibun biji cabai bertebaran di piring saji belum lagi bau pedas yang menyeruak sungguh terasa menakutkan.


"Dan kamu Ibra.. besok pagi ke ruangan saya..!! Guling botol..!!" Bang Sanca sudah melirik memberi peringatan.


"Siaap Abaang..!!"


Joo bojoo.. coba ada di kompi kita.. sudah Abang seret kamu pulang ke rumah.. kita adu kebatinan daripada kamu buat batin Abang kacau begini.


.


.


.


.


OM TENTARAKU ada di NT. Cek profil Nara.. Selamat membaca..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2