
Bang Sanca membuka pintu kamar dengan paksa. Entah kenapa rasa sakit di hatinya tak bisa ia tahan. Pikirannya berkelana membayangkan hal yang tidak-tidak.
braaakk...
Saking emosinya, pintu kamar Fia terbuka sampai miring.
Disana ia melihat Bang Ryan sedang mengecup kening Fia dengan sayang. Kedua tangannya memegang bahu Fia dengan lembut.
Refleks Fia menoleh dan melihat Bang Sanca yang terjungkal di hadapannya.
"Abaaang.. pintu nya jadi rusak khan?"
Melihat Fia yang kesal. Bang Sanca jadi salah tingkah karena ternyata bayangannya salah.
"Aaahh.. aduuuhh.. Abang sesak dek, perut Abang melilit" ucapnya tak ada cara lain agar Fia tidak marah.
Tak sengaja Bang Garin yang sedang lewat pun meletakan galon yang sedang ia bawa.
"Ya ampun San.. Sakitmu kambuh lagi. Jangan mati sekarang San.. hutangmu masih banyak" kata Bang Garin dengan sigap membantu Bang Sanca bangun.
"Abang sakit??" tanya Fia.
Bang Ryan mengulum senyumnya. Dia tidak sepolos Fia yang mudah di bohongi.
"Tolong ambilkan air minum hangat untuk Bang Sanca.. kalau bisa di rebus saja dek...!!" pinta Bang Ryan pada Fia agar adik perempuannya itu lebih lama berada di dapur.
Fia yang memang cemas segera keluar kamar tanpa banyak bicara.
Bang Ryan pun membantu Bang Sanca untuk duduk.
"Yang mana yang sakit Bang? Perut atau hati Abang?" tanya Bang Ryan langsung tanpa basa basi.
"Kenapa kamu menemuinya diam-diam? Sampai kapan kamu akan menyimpan rasa untuk Fia???" tegur Bang Sanca.
"Apa Abang merasa tersaingi olehku? Kalau aku merebutnya dari Abang.. apa yang akan Abang lakukan??" tanya Bang Ryan.
Seketika tangan Bang Sanca meremas kerah baju Bang Ryan.
"Jangan pernah kamu sentuh wanita milik Kapten Sanca. Kesempatan hidupmu tidak akan ada dua kali Ryan..!!!!" begitu marahnya Bang Sanca sampai gelap mata ingin menghajar Bang Ryan.
"Uuhuuukk.." Bang Garin terbatuk hingga terkapar di lantai. Melihat Bang Garin yang kelojotan membuat Bang Sanca dan Bang Ryan kaget dan panik.
Mata Bang Sanca melihat kulit salak dan biji anggur berserakan di meja kamar Fia.
"Astaga.. kamu makan buah-buahan ini Gar?? Ini khan mau aku buat parcel untuk tambahan seserahan Fia besok. Bodok lu akut amat sih Gariiiiinn...!!!"
"Sebentar Bang.. Bang Garin tersedak bijinya. Kita balik badannya dulu..!!" ata Bang Ryan.
"Aaahh.. kelamaan lu, manusia macam ini nggak bisa di kasih hati. Sini aku keluarkan..!!"
__ADS_1
plaaaakk..
Biji salak itu melompat dari mulut Bang Garin.
"Uhuuukk.."
"Alhamdulillah.. aku nggak mati tersedak. Nggak gagah bener dah" gumam Bang Garin tanpa dosa.
"Heeehh.. balita saja masih pintar makan salak. Ini tua bangka masih bisa tersedak biji salak. Dungu nggak kira-kira ya lu" emosi Bang Sanca kini berpindah pada Bang Garin.
Bang Sanca menendang kursi di hadapannya lalu bersiap keluar, di saat yang sama.. Fia masuk membawa air hangat yang di minta Bang Ryan. Ia pun lemah jika berhadapan dengan Fia. Bang Sanca kembali merosot seolah-olah kesakitan lagi.
"Kalian ini bagaimana sih. Kenapa Bang Sanca di biarkan di lantai dari tadi. Kalau masuk angin bagaimana??" tegur Fia.
"Iya dek.. daritadi Abang di sia-sia" ucapnya manja pada Fia.
Mata Bang Garin dan Bang Ryan langsung melotot melihat akting Bang Sanca yang maha sempurna sampai Fia melirik mereka berdua dengan tatapan tajam dan jengkel.
"Eehh.. Abang tadi bantu dek..!!" kata Bang Ryan.
"Abang juga lho Fi.." Bang Garin pun tak mau kalah.
Bang Sanca tersenyum licik dalam dekapan dada Fia dan itu membuat kedua pria yang kini menjadi tersangka utama itu kesal.
"Sini Bang, Fia saja yang rawat Abang. Abang sudah lelah, banyak pikiran" Fia membantu Bang Sanca naik ke atas ranjang.
"Ayo Ry kita keluar. Mana menang kita berhadapan dengan buaya darat." gumam Bang Garin lalu meninggalkan kamar diikuti Bang Ryan yang hanya bisa menghela nafas pasrah.
Fia memijati tangan Bang Sanca. Setelah minum air putih hangat memang Bang Sanca jauh lebih baik. Fia merasa sangat bersalah melihat keadaan Bang Sanca, jelas sekali dari raut wajah suaminya yang begitu banyak tekanan disana sini.
"Abang nggak apa-apa. Kamu tidurlah di sebelah Abang.." pinta Bang Sanca saat hatinya sudah sedikit lebih tenang.
"Apa secemburu itu Abang sama Bang Ryan?" tanya Fia.
"Ciihh.. sejak kapan Abang pencemburu. Laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan apapun, tidak di perbolehkan berduaan. Sebagai suami.. Abang wajib mengingatkan mu" jawab Bang Sanca dengan tenang masih tetap memejamkan matanya.
"Apakah tidak ada pengecualian untuk Bang Ryan?
"kalau Janet itu bukan saudara Abang.. apa kamu bisa menerima pelukan Abang untuk dia? Kalau Abang katakan Abang akan mencintai Janet dengan cara Abang, apa hatimu ikhlas???" Bang Sanca membalikan pertanyaan Fia.
Fia menunduk meresapi perkataan Bang Sanca. Kini ia mengerti perasaan sang suami.
"Fia.. nggak bisa menerimanya Bang. Itu berat untuk Fia" jawab jujur Fia.
"Kali ini Abang masih bisa sabar, tapi tidak ada kesempatan kedua apapun alasannya. Apa yang kumiliki tak akan kubagi dan tak akan pernah berbagi. Paham atau tidak???"
"Fia ngerti Bang. Maafin Fia ya Bang..!!" Fia menunduk mencium punggung tangan Bang Sanca.
Mata Bang Sanca terbuka. Terus terang sejak kejadian itu Fia jauh lebih kalem. Mungkin efek mengandung bayi perempuan.. perasaannya pun jauh lebih sensitif.
__ADS_1
***
Bang Sanca menengadah melihat birunya langit. Ibunya tidak bisa hadir dalam pernikahannya karena bapaknya masih mendapatkan perawatan di rumah sakit hingga Om Bima dan Tante Puri yang menjadi wakilnya. Seragam upacara kebesaran sudah membalut tubuh gagahnya.
"Sudah siap Bang? Yang lain sudah siap semua" sapa Bang Ryan.
"Ayoo..!!"
...
Bang Sanca menunggu Fia yang masih berada di rumah. Hatinya tidak seberapa gelisah karena dirinya memang sudah menikahi Fia. Semua terasa datar dan Biasa saja hingga sebuah mobil datang.
Selop high heels yang tinggi menutup kaki putih mulus yang tertutup kain jarik pasangan kebaya modern yang indah berwarna semi dusty pun tak mengalihkan perhatian Bang Sanca.
"Acaranya bisa on time atau tidak?? Kenapa bisa ngaret lama sekali" gerutu Bang Sanca sambil melihat jam tangannya.
"Satu orang jemput istri saya donk..!!" kata Bang Sanca meminta pada seorang anggotanya.
"Heeehh.. itu di belakang mu siapa?" kata Bang Garin.
Bang Sanca refleks menoleh dan melihat sosok yang kesulitan membetulkan letak selopnya. Matanya masih memperhatikan dan menerka sosok yang berdiri di belakangnya.
"Fiaaa???" tanyanya tidak percaya.
"Astaga.. kenapa pakai high heels??? Ganti sandal jepit..!!!!!!" perintah Bang Sanca.
"Kita mau nikah apa mau ke WC sih Bang??" protes Fia karena Bang Sanca mulai ribet dan posesif dengan dandanannya.
"Kenapa kamu dandan seperti itu?? Mau pamer sama siapa??" wajah Bang Sanca terlihat masam. Fia nampak begitu cantik hingga hampir saja ia tidak mengenalinya. Cantiknya sang istri membuatnya tak rela Fia menjadi tontonan orang.
"Abang mau Fia pakai 'penyamaran'? Atau wajah Fia pakai 'angus'??"
"Laminating aja istrimu biar nggak di lihat orang, terus di simpan di lemari..!!" tegur Bang Garin.
Bang Sanca tak sanggup berdebat lagi. Sekujur tubuhnya rasanya menegang dan memanas memandangi Fia dari atas kepala hingga ujung kaki. Pikirannya hanya terfokus pada Fia seorang.
"Ryan mana?" tanya Bang Sanca.
"Saya di sini Bang..!! Ada apa?" jawab Bang Ryan.
Bang Sanca membisikan sesuatu di telinga Bang Ryan dan membuat dokter militer itu menahan tawanya. Ia pun balik berbisik di telinga Bang Sanca.
"Bener nih??" tanya Bang Sanca.
"Benar Bang.. Tapi hati-hati sekali, pakai perasaan ya Bang. Nanti saya mintakan dokternya Fia.." jawab Bang Ryan.
.
.
__ADS_1
.
.