
Ola menggigil memeluk perut Bang Ibra.
"Kamu kenapa dek, besok ada kunjungan. Kok malah ambruk begini, piye to?
tok..tok..tok..
Terdengar Wulan mengetuk pintu kamar.
"Pak.." sapa Wulan.
"Ada apa?" Bang Ibra berucap datar.
"Ada pak Sanca mau pinjam minyak angin. Ibu Fia pingsan pak" jawab Wulan dari luar kamar.
Astagfirullah.. ini kenapa pada hancur-hancuran begini.
Bang Ibra segera menyambar minyak angin di meja nakas.
:
"Fia kenapa Bang?" tanya Bang Ibra.
"Nggak tau, lagi naik motor sama Abang tiba-tiba pingsan aja. Abang kaget.. jatuh lah Abang sama Fia." jawab Bang Sanca sembari mengibaskan punggung tangan dan sikunya yang terluka.
"Mana Fia Bang?" cemas Bang Ibra kini bertambah saat memikirkan adik dan istrinya yang kurang sehat.
"Itu masih di ruang tamu" kata Bang Sanca, ia menerima minyak angin dari Bang Ibra.
Melihat pelipis Fia yang sedikit terluka. Bang Ibra merasa tidak tega.
"Ola juga mual Bang. Di kantor.. mereka makan apa sih?"
"Hanya gorengan. Tapi kenapa sampai begini, Mana sekarang Abang yang jadi mual" Bang Sanca memijat tengkuknya yang terasa berat.
"Besok acara komandan nih Bang. Jangan semua sampai nggak maksimal" ucap Bang Ibra.
"Iya, Abang paham" Bang Sanca membuka kancing baju Fia lalu mengoles minyak angin. Tak berapa lama Fia pun sadar.
"Aahh.. kepala Fia sakit Bang"
"Ibu minum dulu" Bibi mengangsurkan minum untuk Fia.
"Bibi buatkan beras kencur untuk kaki ibu yang terkilir ya"
Fia mengangguk sambil meneguk air minumnya.
__ADS_1
"Mamaa.. mama berdarah?" tanya El.
"Nggak sayang.. anak mama yang pintar. Abang El tadi main kemana, mama cari Abang" Fia mencium wajah El lalu memeluknya.
"Alhamdulillah Ya Allah.. kamu ingat El ini anak kita?" tanya Bang Sanca.
"Ingat lah Bang. Bagaimana sih Abang" Bang Sanca ikut memeluk Fia dan El. Tangisnya pecah karena Fia akhirnya bisa mengingat kembali putra pertamanya.
"Iya.. iya.. Abang yang ngawur" Bang Sanca menghapus air matanya.
Bang Ibra membelai rambut Fia.
"Baik-baik kamu sama Abang..!! Jangan buat suamimu jantungan terus Fi" pesan Bang Ibra.
...
Bang Ibra usai mandi, ia bergegas masuk kamar dan ingin segera menyusul Ola ke kantor kompi. Tapi tiba-tiba ada wangi yang begitu akrab di indera penciuman nya. Wangi parfum Ola yang begitu menggoda. Ada rasa rindu saat wangi itu terus menusuk hidung. Mata Bang Ibra terpejam merasakan 'Ola' memeluk dan merabanya membuatnya ikut terpancing. Lenguhannya terdengar begitu menikmati.
"Akhirnya Abang tidak menolak ku"
Bersamaan dengan itu, Ola masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang begitu menyakitkan hati.
"Abaaang.....!!!!!!!!" pekik Ola menyadarkan Bang Ibra.
"Haaahh.. Astagfirullah hal adzim..!!" Bang kebingungan saat tau Ola berdiri di depan pintu dengan wajah marah nya.
"Abang mau sama dia?? Kalau Abang lebih nyaman sama dia silakan Bang. Ola nggak akan mau memaksa orang yang tidak pernah mencintai Ola" jawab Ola setenang mungkin sambil memperhatikan dengan jelas antara Bang Ibra dan Wulan.
"Kamuu.. kenapa kamu ada di kamar ini?????" bentak Bang Ibra melihat wajah Wulan. Ola melihat kemarahan suaminya yang begitu meledak-ledak. Bang Ibra mendorong Wulan ke hadapan Ola, pria itu mengacak-acak isi lemari untuk mencari pakaiannya
"Kamu keluar dari kamar ini dan lepas pakaian saya. Jangan sampai tangan saya menampar mu Wulan...!!" ancam Ola dengan tegas.
Wulan pun keluar dari kamar karena melihat kilat marah di wajah
Ola.
"Enaak??" tanya Ola.
"Abang nggak macam-macam dek. Abang nggak sadar kalau ternyata itu Wulan. Bukan kamu" Jawab Bang Ibra sembari secepatnya memakai pakaian.
"Nggak paham gaya istri sendiri??" tegur Ola.
"Yang Abang ingat hanya kamu sayang" Bang Ibra merasa sangat menyesali kejadian ini.
plaaakk...
__ADS_1
Ola menampar wajah Bang Ibra dengan kuat.
"Dalam hidup Ola tidak akan pernah memilih dan meminta untuk menjadi janda Bang. Tapi Ola juga tidak ingin merasakan sakit lagi. Abang tau Ola memang sudah janda yang mungkin berbeda dengan gadis suci di luar sana" Ola terhuyung menyangga tubuhnya pada sisi almari.
"Dek.. Abang minta maaf, Abang sungguh nggak sengaja" Bang Ibra memeluk erat tubuh Ola.
Ola menolak Bang Ibra dan terus menangis kencang. Pikirannya begitu kalut hingga nafas pun terasa berat.
"Apa salah kalau Ola punya rasa cemburu?????"
Ola terus memukuli Bang Ibra. Di pandangnya wajah Ola yang begitu marah padanya. Suami Ola itu tidak menolak apapun yang di lakukan Ola padanya. Hingga tiba-tiba Ola berhenti dan malah memegangi perutnya.
"Kamu kenapa sayang??"
Belum sempat Ola menjawabnya.. Ola sudah tidak sadarkan diri.
Bang Ibra membawa Ola ke atas ranjang lalu segera menghubungi Bang Sanca.
//
Fia terbelalak kaget mendengar semua penuturan Wulan karena dirinya seperti melihat sosok mbak Yuna di diri Wulan dan itu kembali menyakiti hatinya.
"Jangan kamu ganggu rumah tangga Bang Ibra atau kamu akan berhadapan denganku..!!" ancam Fia.
"Jadi Bu Sanca ini juga ada hati dengan Pak Ibra?? Jaman sekarang ini tidak ada istri orang yang baik-baik saja" ucap Wulan yang sama sekali tidak tau status di antara Bang Ibra dan Fia.
"Sebaiknya bapak jaga istri baik-baik. Kalau bapak tidak pintar 'menjaganya', bisa-bisa istri bapak kabur dengan suami orang"
Tangan Bang Sanca mengepal kuat, emosinya langsung naik ke ubun-ubun tak terima Wulan mengatai Fia.
"Kau tau.. kami pun masih berfikir dua kali kalau mau mencari wanita macam kamu untuk di jadikan istri. Meskipun kami ini b******n, kami pun pasti akan memilih wanita bagaimana yang pantas untuk di jadikan istri terutama sebagai ibu dari anak-anak. Asal kau tau.. wajah cantik, body indahmu sekalipun tidak akan membuat kami tergoda" bentak Bang Sanca.
Ola baru saja keluar dari kamarnya setelah merasa lebih baik. Bang Ibra pun tak berani jauh dari Ola.
"Begitu kah? Tanyakan pada Bang Ibra.. Ada hubungan apa antara aku dan dia?" tantang Wulan.
"Lalu kenapa? Nyatanya Abang tidak menyukaimu, cantik parasmu tak bisa mengalahkan aku. Jika Abang suka padamu.. Abang pasti akan melamarmu sejak dulu. Tapi lihat posisimu sekarang. Saya tidak merendahkan profesimu.. tapi hati dan pribadi kotormu sudah membuatmu jadi sampah. Sampah yang tidak akan pernah bisa jadi barang bernilai. Sekarang angkat kakimu, bawa kopermu. Jangan pernah kembali di hadapanku..!!" Ola mengusir Wulan.
"Fia, tolong ajarkan dia jadi wanita yang tau arah jalan keluar. Kamu nggak mau khan punya kakak ipar macam dia.. atau mungkin dia sudah mencoba melirik suamimu juga"
"Enak sajaa.." Fia mengangkat koper Wulan lalu membuangnya ke teras tak peduli dengan Wulan yang mengumpat dan berteriak-teriak tak karuan. Usai membuang koper itu, Fia menutup pintu rumah Bang Ibra dengan cepat.
.
.
__ADS_1
.
.