Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
89. Kejutan indah.


__ADS_3

Tolong ya..!! Manusia tidak ada yang sempurna. Nara menceritakan kemungkinan hal yang terjadi. Bukan menceritakan


malaikat yang tidak punya salah..!!!


🌹🌹🌹


Bang Ibra merebahkan Ola di ranjang lalu memberi alas pada ranjang itu.


"Abaaang..!!" Ola meremas lengan Bang Ibra sekuatnya.


"Sabar.. Abang hubungi mudi kantor biar bawa mobil kesini" Bang Ibra memeluk Ola sembari memijat punggung calon istrinya itu.


Ola mulai mengejan lagi. Disini perang batin Bang Ibra di mulai. Di satu sisi ia belum menjadi suami Ola, tapi disisi lain Ola sangat membutuhkan nya.


"B*****t, kemana ini orang-orang. Kenapa tidak ada satupun yang menjawab panggilan ku" umpatnya dengan emosi.


"Ya Allah.. " Bang Ibra melempar ponselnya saat melihat Ola memegangi perut bawahnya.


"Aahh sudahlah, mau kamu bilang b******k ya terserah. Hanya Abang saja yang boleh melihatnya..!!!"


"Bismillah..!! Ya Tuhan.. Ampuni hambaMU ini..!!" Perlahan Bang Ibra membuka pakaian bawah Ola sambil mencoba menghubungi Mama Arnes.


"Mamaa.. angkat telepon ku ma.. tolong aku..!!!! Aku bisa mati sesak.. Mamaaaa..!!!!" gumamnya dalam kepanikan. Bang Ibra memberi pesan suara pada Mama Arnes.


Maa.. mama dimana? Cepat ke kontrakan Ola. Ola mau melahirkan ma.. Aku gugup sekali. Kalau mama tidak cepat datang.. aku bongkar ini anak orang.


Keringat dingin mengucur deras, Ola mengatur nafasnya agar lebih teratur, ia berusaha tidak panik karena Bang Ibra sudah panik.


Bang Ibra pun berusaha keras menahan diri.


:


"Pa.. dengar khan..!! Ola mau melahirkan.. gimana ini pa??? Anak orang mau di bongkar pa..!!!!" Mama Arnes menggoyang lengan Papa Zaldi.


"Astaga.. kebiasaan buruk Ibra. Kalau panik otaknya nggak jalan. Apa dalam otaknya yang buntu itu hanya ada rocker???" gerutu Papa Zaldi sambil berjalan cepat menuju mobil.


"Cepat pa..!!"


"Ini lari mama sayang.. sudah jangan pikirkan Ibra sudah bongkar muat atau belum, yang jelas pastinya sudah gelar tikar. Nggak mungkin anakmu itu kalem aja" jawab Papa Zaldi.


:


"Pelan-pelan dek. Tarik nafas dulu, tekan yang kuat..!!" Bang Ibra mengarahkan Ola dengan sabar, air matanya meleleh juga membayangkan bagaimana beratnya perjuangan mama melahirkan dirinya.


"Nggak kuat Bang..!!" Ola hampir menyerah untuk berjuang.


"Jangan bilang begitu dek. Rata-rata wanita pasti mengalami nya. Kita coba sekali lagi ya. Abang temani, Abang bantu..!!" bujuk Bang Ibra yang sebenarnya begitu tidak sampai hati melihat kesakitan Ola.


Tak lama Mama Arnes, Papa Zaldi dan seorang bidan datang dan segera masuk ke dalam kamar dan membantu Ola.


Sekali lagi perjuangan Ola untuk mengejan. Mama Arnes menyangga kepala Ola dan memegangi tangannya. Belum sempat Bu bidan menggantikan posisi Bang Ibra.. bayi mungil sudah meluncur ringan dalam genggaman tangan Bang Ibra di hari yang sudah menjelang sore.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ya Allah..!!" ucap syukur Bang Ibra. Mata itu sempat melihat bagian bawah Ola, sadar dirinya tak begitu kuat.. ia menyerahkan bayi itu pada Mama Arnes.


"Eeeehh.. Ibraaaa..!!!"


"Paaaaa.. Ibra paaa..!!!"


"Haduuuhh.. apalagi itu anak" Papa Zaldi masuk ke dalam kamar hanya untuk menarik badan Bang Ibra yang hampir hilang kesadaran.


:


Papa Zaldi menepuk pipi Bang Ibra berkali-kali. "Ayo ngomong donk Ibraa.. jangan seperti orang gagu..!!"


"Aku sudah jadi papi" Bang Ibra bergumam lirih.


"Ya terus kenapa kalau sudah jadi papi???" tanya Papa Zaldi.


"Aku belum bisa ganti popok pa" jawabnya frustasi.


"Dehh.. kamu ini. Cepat wudhu sana. Adzani anakmu..!!" perintah Papa Zaldi.


:


Bang Ibra mencium pipi bayi mungil itu usai mengadzani nya, bayi perempuan yang membuatnya 'jatuh cinta'. Bayi mungil yang tidak pernah diinginkan oleh keluarganya.


"Maukah Abang memberinya nama?"


Bang Ibra berganti mengecup kening Ola.


"Tentu saja. Dia putriku yang berharga. Seperti nama Omanya.. dia yang lahir saat matahari mau terbenam.. Abang mau kasih nama Rindu Manik Senja.. Abang panggil dia dengan nama kesayangan.. Nasya. Kamu suka??"


"Sama-sama Mami Nasya sayang"


"Eheem.." Papa Zaldi berdehem membuyarkan adegan Bang Ibra yang sok romantis.


"Ola pulang saja ke rumah. Papa nggak mau kejadian seperti ini terjadi lagi. Selesai masa nifas nanti.. kalian segeralah menikah" kata Papa Zaldi.


"Iya pa" jawab Bang Ibra.


"Kamu segera urus berkas pengajuan nikah. Biar tidak terlalu lama membuang waktu" perintah Papa Zaldi.


"Besok aku bikin pa. Langsung selesai" kata Bang Ibra.


***


"Ini keponakanmu..!!" Bang Sanca menunjukan foto bayi cantik pada Fia dari ponselnya.


"Anak siapa?" tanya Fia yang belakangan ini kurang memonitor kabar.


"Anaknya Ibra sama Ola" jawab Bang Sanca.


"Bang Ibra??? Kapan Abang Ibra menikah?? Apa jangan-jangan..!!!"

__ADS_1


"Nggak.. sudah lah. Nanti saja kamu tanya sendiri kalau sudah ketemu Abangmu itu. Pesawat kita sudah mau berangkat" kata Bang Sanca.


Perpisahan dengan para anggota dan keluarga begitu mengharukan meskipun baru dalam hitungan bulan mereka berdua bersama.


"Kamu masuk di ruang tunggu dulu sama Garin. Abang merokok sebentar di luar"


:


"Anggota kompi kecil itu ada seratus orang. Kamu Kompi 'pertahanan' nya. Aku BS 'penyerangnya' jarak kompi kita sepuluh kilometer tapi masih satu garis lurus di sekitar pesisir. Kamu baca skep nggak bro??"


"Sorry, aku belum baca dengan teliti.. sibuk sama bumil yang ngambekan. Ada aja lah yang di buatnya.. setiap hari marah melulu. Sampai kurus nih badanku" curhat Bang Garin.


"Berat badan sampai delapan puluh kilo di bilang kurus. Sebentar lagi macam badak kau" ledek Bang Sanca.


"Begini ini masih banyak cewek yang melirik ku. Pada antri mau kenalan. Sayang sekali aku sudah nikah sama Esa" ucapnya dengan congkak.


Tak lama ponsel Bang Garin berdering. Ada nama perempuan disana.


"Naahh.. lihat nih. Kau dengar ya. Ini salah satu penggemar beratku" kata Bang Garin kemudian mengangkat panggilan telepon.


"Hai.. kenapa nih cari Abang?"


"Pak Garin mau ke Jawa hari ini ya?" tanya gadis itu.


"Iya nih.. Ada apa cantik?" jawab Bang Garin sok jual mahal.


"Uang bayar kopi di kantin kurang seratus dua puluh ribu pak"


"Naaahh.. M****s lu, bayar sono sebelum di keroyok..!!"


Bang Garin langsung mematikan ponselnya menjaga wibawanya yang runtuh seketika. Ia langsung berjalan meninggalkan Bang Sanca lalu menghampiri Esa.


"Ehmm.. dek.. Abang minta uang dua ratus donk. Abang nggak ada uang cash nih" kata Bang Garin.


"Buat apa Bang?" tanya Esa sambil mengeluarkan tiga lembar uang warna merah untuk Bang Garin.


"Itu.. Sanca pinjam dulu uang. Nggak tau mau bayar apa" jawab Bang Garin sekenanya.


Mata Bang Sanca seketika membulat besa.


"Heehh bodong..!! Itu moncong belum pernah di samber gledek ya. Buat apa aku pinjam uang sama kamu?????" kesal sekali rasanya Bang Sanca menanggapi Bang Garin yang asal bicara.


"Tadi buat isi avtur khan?" Bang Garin kelabakan menutupi rasa gengsinya di hadapan Esa.


"Memangnya gue mau berenang.. segala beli bahan bakar pesawat?. Kalau gue bisa sampai pinjam uang sama lu, hal yang pertama gue beli itu obat kurap. Gudik lu" ucap Bang Sanca saking jengkelnya.


"Heran.. bisa-bisanya pakai nama gue buat cari selamat sendiri"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2