
"Bisa-bisanya kalian berbuat onar di belakangku" tegur Bang Sanca masih merasakan sesak.
"Kalau kita beritahu Abang, pasti Abang nggak setuju dan lagi Abang nggak bisa akting.. tapi kalau Abang cemas pasti langsung buat Bu Mawir kapok" jawab Fia dengan polosnya. Ia mengunyah rujak cingur sambil mengobrol dengan Bang Sanca dan Bang Garin.
"Jangan pernah bermain-main dengan nyawa anak..!!!!" akhirnya Bang Sanca setengah membentak Fia. Dirinya terlalu cemas dan takut sampai stress bukan main memikirkan istrinya.
"Jangan marahi Fia. Ini ideku Black..!!" sambar Bang Garin.
"Tanpa kau beritau pun memang kau ini sudah salah. Apa maksudnya buat perkara di belakangku?" suara Bang Sanca semakin meninggi.
"Awalnya tengah malam Fia curhat sama Esa tentang kelakuan Bu Mawir, kemudian Esa cerita padaku. Aku tau sifatmu itu lurus-lurus saja, emosian, kaku dan dingin. Daripada kau baku hantam dengan Letkol Mawir.. jadi pagi sekali aku ke kompimu. Tak di sangka kau dan Fia datang terlambat." Bang Garin menjelaskan apa yang di lakukannya bersama Fia dan Esa.
"Terus kalian eksekusi dimana?" tanya Bang Sanca penasaran.
"Hmm.. waktu Fia sempat ke toilet waktu ada jam ramah tamah" jawab Bang Garin.
"Ya Allah.. kalian ini" Bang Sanca masih belum sehat dan mendapat perawatan di rumah sakit sedangkan Esa dan Ola sedang menikmati tahu tek.
Mata Bang Ibra mengawasi seisi ruangan. Ia cemas tapi tidak se ekstrem Bang Sanca yang sudah tidak bisa di kompromi kalau menyangkut istri.
"Kamu yang bawa istrimu dengan panik, sekarang kamu yang di rawat?" tegur senior Bang Sanca.
"Siap Bang"
"Kandungan istrimu baik-baik saja, semua sehat. Ola jauh lebih stress daripada Fia tapi kandungan Fia lebih beresiko daripada Ola. Kalian paham?"
"Siap Bang.. paham"
Tak lama rumah sakit sangat ramai karena rombongan panglima datang bermaksud mengunjungi istri Danki yang mendapat isu keguguran akibat ulah istri Letkol Mawir.
"Fia.." sapa Ibu Chyntia saat membuka ruang dahlia. Ruang VVIP perawatan ibu usai persalinan.
"Lho San?? Kenapa jadi kamu pasiennya?" tegur Om Putra, tak berbeda dengan Papa Zaldi dan Opa Rinto yang terperangah. Seharusnya panggilan Opa juga tersemat untuk Dan Putra.. tapi Opa gaul itu menolak di anggap tua.
"Saya drop om. Mual-mual terus." jawab Bang Sanca.
"Waduuuuhh.. yang hamil siapa.. yang teler siapa" Om Putra menggeleng melihat Bang Sanca di ruang perawatan ibu-ibu yang penuh gambar bunga dan kupu-kupu.
Ola menggoyang lengan Bang Ibra.
__ADS_1
"Papeda Ola mana Bang?" tanya Ola masih menagih pesanan nya.
"Ealaaahh.. masih ingat aja kamu. Sabar masih ada di mess. Belum di olah dagunya, baru matang ikannya saja." jawab Bang Ibra.
"Anak Abang nih yang minta" rengek Ola.
Mendengar kata anak seketika melemahkan Bang Ibra.
"Ya sudah Abang bilang dulu sama Indra"
...
Pesanan bumil datang di kamar rawat Bang Sanca. Di antara mereka tak ada yang heran dengan rasa Papeda karena para tentara yang sedang penugasan ke arah timur pasti sudah pernah merasakan rasanya makanan pokok khas orang timur Indonesia kecuali Ola yang memang belum pernah menikmati nya.
"Sini Abang suapi. Kecil saja potongnya. Ini sulit di potong pakai sendok" kata Bang Ibra sembari menyuapi Ola.
Pertama melihatnya, wajah Ola seperti tidak yakin dengan rasanya tapi saat menerima suapan pertama dari Bang Ibra, ia pun mulai menyukai rasanya.
"Hmmm... ternyata enak Bang"
"Enak lah, ya begini rasanya sagu. Tawar kalau nggak pakai kuah"
Di sudut lain terdengar suara orang tersedak. Ternyata Bang Garin tersedak Papeda karena makan dengan terburu-buru.
"Jangan kencang kalau bicara..!! Malu lah Abang, nanti di kira Abang pengen makanan bumil" jawab Bang Garin.
"Lah itu nyatanya Bang. Ola yang ngidam.. Abang yang habiskan"
Bang Garin celingukan karena disana masih ada panglima.
"Kamu lapar? Nanti makan malam sama saya ya..!!" ajak Dan Putra.
"Siap Panglima..!!" jawab Bang Garin yang tidak bisa mengelak lagi karena Panglima selalu serius.
...
"Mana saya tau kalau ini hanya akalmu saja. Saya sudah terlanjur menonaktifkan Letkol Mawir. Tapi itu semua karena tingkahnya sendiri yang sudah menampar Fia dan Ola di hadapan para anggota dan keluarganya. Itu sangat tidak pantas untuk di contoh." kata Dan Putra.
"Ijin.. itu benar Dan, untuk itu saya memberinya syok terapy. Saya juga tidak menyangka kalau istri Letkol Mawir akan menampar Fia dan Ola. Andaikan Fia tidak menyangga tubuhnya, mungkin saja Fia benar-benar keguguran" Jawab Bang Garin.
__ADS_1
"Saya tidak bisa menarik kata-kata saya. Itu adalah bagian dari konsekuensi perbuatan yang sudah di lakukan. Yang di lakukan sudah membahayakan nyawa seseorang"
...
Malam hari Bang Sanca mual hebat. Komandan tertinggi di kompi nya itu benar-benar kepayahan dan tepar tak bisa lagi merasakan tubuhnya.
"Abang belum makan. Fia suapin ya Bang" tanya Fia.
"Nggak dek. Nanti saja kalau perut Abang sudah enakan" tolak Bang Sanca.
"Tapi Abang lemas sekali padahal sudah di bantu infus"
"Biar saja. Jagoan Abang adaptasi sama papanya. Dia pengen tau kesungguhan papanya menerima dia" jawab Bang Sanca.
"Tapii.. anak Abang beneran nggak apa-apa khan?"
"Iya Bang. Anak Abang sehat kok." Fia meraih tangan Bang Sanca lalu mengarahkan tangan itu untuk menyentuh perutnya.
"Bilang sama adek.. Jangan nakal" kata Fia.
Bang Sanca hanya tersenyum, bibirnya sudah sulit untuk bicara.. tenaganya terlalu tipis.
"Makan sedikit saja ya Bang. Biar Abang punya tenaga" Fia menyendok sedikit bubur dan membiarkan Bang Sanca menyentuh perutnya.
Maaf ya le.. gara-gara papa kamu datang lebih cepat. Papa akan mengusahakan apapun, dengan cara apapun agar kamu dan mama sehat.
***
Banyak rumor yang bertebaran setelah Bang Sanca masuk di kegiatan normal. Ada yang mengira Danki adalah seorang pemabuk berat. Mereka sangat kasihan melihat Bu Danki yang kadang sampai harus menyuapi suaminya makan di jam makan siang karena Danki tidak kuat pulang ke rumah.
"Ijin ibu, apa bapak tidak pernah kasar dengan ibu?" tanya Bu Budi karena tidak banyak orang yang tau soal kehamilan Fia.
"Nggak Bu, memangnya kenapa?"
"Ijin.. Bapak khan suka mabuk nih Bu, takut kelepasan kalau sedang marah" kata Bu Budi dengan segala kekepoannya"
.
.
__ADS_1
.
.