
Mulut Fia ternganga melihat mobil mereka berbelok ke arah hotel. Kini ia tau maksud dan tujuan suaminya.
"Abang mempermainkan Fia?" Fia melirik Bang Sanca yang sudah menahan tawanya sejak tadi.
"Sekali-kali iseng boleh lah sayang. Di rumah ramai sekali. Biasanya juga ada bibi, Abang kangen berduaan sama kamu" ucap jujur Bang Sanca.
"Tapi Bang.. belakangan ini Fia sering capek."
"Kamu tenang aja sayang. Kamu hanya tinggal terima jadi, biar Abang saja yang eksekusi" kata Bang Sanca sembari memainkan alisnya dengan nakal.
...
Fia terkapar tak bisa menggerakkan badannya lagi. Bang Sanca benar-benar telah menipunya dan sekarang malah Bang Sanca ikut-ikutan tidak bisa membuka matanya.
Panggilan telepon dari Opa Rinto tidak terjawab karena mereka berdua terlalu lelah. Bang Ibra pun tidak bisa menghubungi, ia pun tadi sempat kelabakan saat Opa Rinto mengetuk pintu rumahnya.
"Nggak bisa nih Opa"
"Aduuuhh.. kemana dia pergi? Fia itu kehamilannya masih rawan." Opa Rinto benar-benar cemas dengan keadaan Fia.
tok..tok..tok..
"Ijin Dan.. ada sebagian warga minta di kawal karena ada keributan di sekitar sawah" kata Om Indra.
"Hmm.. begini saja, berhubung Danki sedang tidak ada.. saya akan ambil alih. Bawa beberapa anggota kesana hanya untuk pengamanan dan kalian tidak ada yang ikut memihak di antara mereka." perintah dari Bang Ibra.
"Siap laksanakan Dan.. "
"Sebentar lagi saya menyusul" kata Bang Ibra.
...
Bang Sanca kelabakan saat bangun dan melihat banyaknya panggilan telepon tak terjawab dan pesan dari Opa Rinto serta Ibra. Ada kerusuhan.
__ADS_1
"Dek, sayang.. masih capek nggak? Kita pulang sekarang yuk..!!" ajak Bang Sanca. Bahkan saat ini mereka berdua masih rapi terbungkus selimut.
"Ada apa Bang? Fia masih ngantuk"
"Ada kerusuhan di dekat Kompi, Abang harus memastikan keadaan sekitar. Kuat bangun nggak? Abang gendong ya..!!" Bang Sanca membujuk Fia.
Fia mengangguk karena terlalu lelah.
"Maaf ya dek, Abang mengganggu tidurmu" Bang Sanca mengecup kening Fia.
...
Para warga sudah saling melempar batu saat Bang Sanca melewati kerumunan warga. Bang Sanca memarkir mobil.
"Kamu disini dan jangan pernah turun dari mobil. Mereka tidak akan fokus dengan mobil ini" pesan Bang Sanca menasihati Fia yang setengah tidur. Bang Sanca pun turun untuk menengahi keributan. Sedikit banyak dirinya sudah tau sumber masalahnya.
"Permisi bapak-bapak. Air ini khan mengalir dari sungai dan aliran nya lumayan deras. Kenapa tidak dari awal saja di lubangi dua, dari kanan dan kiri agar air bisa mengisi kedua belah sawah" saran Bang Sanca.
"Saya sudah sarankan begitu, tapi dari pihak sana yang serakah..!!" bentak seorang warga.
Adu mulut tak bisa di cegah, baku hantam dan lempar batu tak- terhindarkan lagi. Sampai akhirnya Bang Sanca menangkap seorang provokator di antara mereka.
Berada di dalam mobilnya,. Fia terbangun dari tidurnya dan melihat Bang Sanca sedang berada dalam kepungan orang-orang, ia mengingat kata-kata Bang Sanca tapi semua bagai angin lalu karena Fia begitu mencemaskan Bang Sanca.
Fia keluar dari mobil dan berlari menghampiri Bang Sanca yang sedang dalam masalah.
"Abaang..!!!!"
Bang Sanca pun terkejut melihat Fia tiba-tiba turun dari mobil. Saat Fia sedang berlari ke arahnya, beberapa orang sedang berlarian menghindari serangan. Tak sengaja salah seorang dari mereka menghantam Fia.
"Fiaaa..!!!!"
Seketika Fia terkapar di jalan.
__ADS_1
"Berhentiiii semuaaaa....!!!!!!!!"
Bang Sanca benar-benar murka melihat Fia terhantam dengan keras. Seketika semua orang berhenti bertingkah.
"Kalian sudah membuat istri saya sampai seperti ini. Kalian hidup dari tanah Matra kami, tanah Kompi kami, tapi karena ulah kalian.. saya akan ambil alih tanah ini dan tidak ada seorang pun yang bisa mendekati area ini..!!!!"
"Kerahkan seluruh anggota untuk menjaga wilayah ini. Serahkan pada yang berwajib jika mereka berani berulah..!!!!!" perintah tegas Bang Sanca yang penuh wibawa. Entah benar atau salah cara Bang Sanca, yang jelas para warga berhenti bertikai.
Bang Sanca secepatnya membawa Fia ke rumah sakit.
...
"Bagaimana Al????"
"Sabar Bang, saya nggak bisa mikir" jawab dokter Alle.
"Abang juga nggak bisa mikir Alle.. Abang kepikiran dua nyawa ini..!!!!!!" suara Bang Sanca semakin memekakan telinga dokter Alle.
"Kalau Abang nggak bisa diam, saya bisa salah suntik nih" ancam dokter Alle.
Bang Sanca langsung menutup mulutnya tapi sekarang tangannya yang mengganggu disana sini.. merapikan kerudung, rok, mengusap disana sini sampai membenahi bantal Fia.
"Astagfirullah hal adzim Abaang.. Abang benar-benar mau saya salah suntik obat???" baru kali ini, sebagai seorang dokter.. Om Alle bisa benar-benar emosi.
"Abang tegang Al..!!"
"Tolong ya Abang.. kalau tegang jangan disini..!!! Jangan sampai saya buat tegangnya Abang jadi melehoi....!!!!" ancam dokter Alle membuat Bang Sanca seketika berdiri di tempat seperti pasukan sedang apel karena ia pun takut bagian tegangnya jadi melehoii..
.
.
.
__ADS_1
.