
Fia menyambar bibir Bang Sanca tepat sesaat suaminya itu menutup pintu kamar. Bang Sanca yang tidak siap sampai tersandar di dinding.
Beginikah Fia ku kalau sedang marah DNA cemburu, tapi Abang sangat menikmati kecemburuanmu sayang.
Bang Sanca menjitak kening Fia yang terus menyambarnya tanpa ampun.
"Aww..'' pekik Fia manyun melirik Bang Sanca.
"Abang nafas dulu..!! level pemula itu harus di ajarin sama yang pro" kata Bang Sanca sambil menghindari Fia, padahal dirinya sangat cemas luar biasa kalau sampai tidak bisa menahan diri dan akan meminta hal lebih dari Fia. Istrinya baru saja tenang dan sehat, tidak mungkin baginya untuk memadu cinta meskipun ia pun juga sangat menginginkan nya.
Bang Sanca duduk di tepi ranjang sambil melihat ponsel mengalihkan perhatiannya. Fia yang merasa di abaikan, berdiri di hadapan Bang Sanca segera melepas pengait jilbabnya dan membuang ke segala arah.
Fia ingin menyambar bibir Bang Sanca tapi pria itu menghindarinya. Dadanya bergemuruh tak karuan sampai tak berani menatap mata Fia.
"Fia cantik nggak Bang?"
"Cantik" jawab Bang Sanca datar dan Fia sangat kesal sekali mendengarnya.
"Kalau Fia open BO pasti laku donk"
Bang Sanca langsung menyentil bibir Fia.
"Aseeeem... sopo ngajari elek??? Tak tapuki lambene..!!" tangan Bang Sanca menarik Fia hingga dadanya berhadapan tepat di depan wajahnya.
"Timbang di bongkar uwong.. tak bongkare dewe. Kowe rasah aneh-aneh mancing ulo turu"
Fia pun tersenyum nakal melihat reaksi bang Sanca. Apalagi saat Bang Sanca 'membanting' dirinya di kamar dengan gemas.
"Abaaaanngg..!!!" pekik Fia.
"Tanggung jawab. Terima akibatnya kalau suka nantang suami..!!! Rem blooong"
...
Waktu sholat maghrib sudah hampir habis tapi rasanya badan Fia remuk dan hancur sedangkan Bang Sanca dengan santainya mendengkur setelah memenangkan pertempuran.
Fia menggoyang lengan suaminya tapi Bang Sanca seperti orang mati suri yang enggan hidup lagi.
"Bang.. ayolah.. bangun dulu sebentar..!!"
"Nanti lagi dek, Abang capek" gumamnya meracau tak jelas.
Apa sih Abang. Yang ada di pikirannya hanya eng ing eng aja. Waktu sholat sudah hampir habis begini, malah punggungku nggak bisa di ajak kerjasama. Abang harus di beri pelajaran.
Fia membongkar tasnya, ia melihat peralatan dan perlengkapan make up nya. Ia tersenyum licik menemukan ide jahil di kepalanya.
:
__ADS_1
braaaaakkkkk..
"Eegghh.. Abaaang..!!!!!!" pekik Fia langsung membuat Bang Sanca berjingkat. Matanya yang tadinya terpejam seketika melotot tajam.
"Ya Allah gustiiii.. mau kemana kamu?? Kenapa jadi begini" Bang Sanca panik melihat Fia jatuh di pinggir ranjang, tak lama mata itu melihat bercak darah di paha Fia.
"Allahu Akbar.. anakku???" dengan lembut Bang Sanca memindahkan Fia untuk tidur di atas ranjang.
"Abang tendang Fia sampai jatuh dari ranjang" Fia mencebik mencari perkaranya.
"Mana mungkin Abang begitu. Abang kalau tidur nggak seperti kamu.. kaki dimanaaa.. kepala dimana. Jangankan posisi tidur.. itu dressmu saja sudah tersingkap di pucuk pohon pepaya, mata Abang sampai burem lihatnya" katanya sambil mencari obat-obatan di tas.
"C*k.. ini mana sih obatnya" Bang Sanca mengobrak abrik isi tasnya hingga berhamburan sedangkan Fia sedang asyik memainkan game perang.
"Kamu kok santai saja?? Bohong ya?????"
"Salah sendiri Abang nggak mau bangun" jawab Fia.
"Kamu jangan bercanda masalah seperti ini ya dek. Abang nggak suka" nada suara Bang Sanca mulai meninggi.
Fia langsung memasang wajah cemberutnya.
"Fia bercanda seperti ini Abang marah. Abang malah pegang perempuan lain"
"Astagfirullah hal adzim.. nanti berantemnya. Sholat dulu..! Biar otakmu itu bersih, nggak ada rencana licik. Kualat kamu nanti" Bang Sanca mengangkat Fia sampai ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.
:
Usai sholat Bang Sanca mengaji beberapa saat sambil mengusap perut Fia. Tak lama istrinya itu tertidur. Senyum tampan nya terurai. Ia melanjutkan lagi bait doanya hingga selesai.
Di pandangnya paras ayu sang istri lalu Bang Sanca mendekapnya.
"Tidak salah jika kamu bertanya bagaimana perasaan Abang untukmu. Jawaban itu tetap sama dan tak akan pernah berubah.. Abang mencintai kamu. Demi Allah tidak ada lagi Rhea di hati Abang. Sakit yang dia torehkan terlalu membekas lara di hati Abang. Sakit yang teramat sakit di dunia ini adalah pengkhianatan, Abang tidak bisa mentoleransi hal itu. Biar Abang menganggap dia ada sebagai manusia tapi tidak untuk mengulang kisah lama. Kamu mungkin tidak sempurna Fia sayang. Tapi kamu yang terbaik yang pernah Abang miliki" gumamnya lirih sambil mengusap rambut Fia. Bang Sanca tak menyadari, sejak suaminya mendekapnya.. ia mendengar setiap baris kata yang membuat hatinya begitu tersentuh.
Bang Sanca memindahkan Fia, naik ke atas ranjang. Seperti biasa terdengar bunyi nyaring bersahutan dari perut bumil dan Bang Sanca mulai menyadari sang istri mulai terbangun dari tidurnya.
"Mau makan apa cintaku?" Bang Sanca langsung menyapa tanpa basa-basi.
"Tanpa kata sandi. Abang juga sudah kelaparan"
"Mau nasi jotos bantal, kancing levis, sama selimut tetangga"
"Lailaha Illallah.. Jiaann tenan anak papa. Nggak tanggung-tanggung buat papa kerja keras" ucap Bang Sanca sendu.
"Nggak apa-apa le, lanang kudu sangar, kudu wani getih" sambungnya kemudian dengan garang.
"Ikhlas nggak Bang?" tanya Fia.
__ADS_1
"Ikhlas donk Bu Komandan tersayang" jawab Bang Sanca sembari melempar senyumnya"
...
Sudah jam sepuluh malam tapi yang mereka cari tak kunjung di temukan. Fia sampai hampir menangis karena perutnya sudah lapar.
"Mau cari dimana to cah ayu.. ini bukan kota. Ini di puncak. Yang ada tuh pohon kelapa, ubi, singkong. Jarang ada yang jual nasi tutug oncom" mata Bang Sanca sampai harus mengawasi sekitarnya mencari pedagang nasi tutug oncom.
"Carikan Bang.. Fia pusing, mau pingsan nih" kata Fia sudah terlihat pucat.
"Aduuh dek. Jangan donk..!! Sabar sebentar, Abang cari nih"
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Di ujung jalan ada rumah makan kecil yang lumayan ramai. Ada tulisan yang terlihat jelas 'Jual nasi tutug oncom'. Bang Sanca memberhentikan mobilnya disana.
:
Bang Sanca senang sekali melihat Fia makan dengan lahap. Apapun akan ia lakukan asalkan anak dan istrinya bahagia, tak ada yang lebih penting dari itu semua.
"Selimut tetangga Bang?" Fia menagihnya karena Bang Sanca belum mencarikan pesanannya.
"Bisa nggak kalau Abang aja selimutnya? Abang jamin anget" tanya Bang Sanca.
"Abang mau tidur sama mendoan?"
Bang Sanca baru akan menjawabnya tapi ada rambut mengibas ke arah wajah Bang Sanca. Aromanya sungguh wangi menyeruak menembus jalan nafas Bang Sanca.
Wajah Fia menoleh dan terus menatap wajah sang empunya rambut sambil terus menyantap nasi tutug oncomnya bersama kancing levis si semur jengkol.
"Hai.. aku Chelsea. Boleh kenalan?" tanyanya pada Bang Sanca.
"Abang mau rokok? Chelsea kasih"
"Cepat makannya dek, Abang risih" bisik Bang Sanca pada Fia. Selera makannya pun hilang.
"Abang ganteng sekali sih.. Makannya apa?"
"Ayoo dek.. Sumpah Abang geli iniii..!!" ajak Bang Sanca.
"Bawa aja mbak, jengkelin banget suami saya" kata Fia pada seorang waria di sebelah Bang Sanca.
"Aseem.. awas kamu ya..!!"
Tak lama Bang Sanca tersenyum licik melihat sosok di belakang Fia
.
.
__ADS_1
.
.